BROTHER HUG

BROTHER HUG
Amarah Seorang Zevan



Bell waktu pulang telah berbunyi. Para mahasiswa dan mahasiswi sudah keluar dari kelasnya hanya Zevan dan Alvan yang masih di dalam kelasnya.


Saat mereka hendak melangkahkan kakinya keluar kelas, tiba-tiba mereka berdua dihadang oleh kelompok Monsta x yang diketuai oleh Yoga Hamlet.


"Hei, lihat kita mendapatkan mangsa nih!" seru Tobby.


"Enaknya kita apakan mereka ya?" tanya Aric.


"Mau apa kalian, hah?" bentak Alvan.


"Kami hanya ingin bersenang-senang saja dengan kalian," jawab Arsha.


"Sudahlah, Van. Lebih baik kita pergi dari sini. Jangan ladeni mereka," ucap Zevan yang berusaha untuk tidak ribut dengan kelompok Lion.


Zevan dan Alvan pun melangkahkan kaki mereka pergi meninggalkan kelompok Lion, tapi kelompok Lion tetap mencegat langkah mereka berdua.


"Kalian tidak akan bisa pergi kemana pun sebelum bermain-main dengan kami," kata Kinza yang langsung mendorong tubuh Zevan ke dinding dan punggungnya menghantam kuat dinding tersebut.


"Aakkhh." Zevan meringis kesakitan.


"Zevan!" teriak Alvan.


Saat Alvan ingin berlari menuju Zevan tangannya ditahan oleh Celio dan Yuan.


Kinza mendekati Zevan yang sedang kesakitan bagian punggungnya. "Bagaimana, hah?! Kau masih tidak mau mematuhi perintah kami?" tanya Kinza.


"Memangnya kalian siapa? Kenapa aku harus mematuhi perintah kalian yang tidak bermutu itu," jawab Zevan sinis.


Bugh..


Kinza melayangkan satu pukulan ke wajah Zevan. Tapi Zevan hanya tetap diam dan tidak membalas sama sekali, karena menurutnya tidak ada gunanya membalas mereka.


Disisi lain Alvan juga bernasib sama. Walaupun Alvan berhasil memukul dua dari mereka, tapi tetap saja kalah. Melihat jumlah mereka. Enam lawan satu.


"Hei, Zevan. Kau dengar ya. Kau bukan apa disini. Jadi kau menurut saja!" bentak Kinza.


"Aku tidak peduli siapa kau? Baik kau anak dari pemilik kampus ini bahkan sekalipun kau anak presiden, aku tidak akan sudi mematuhimu, brengsek!" bentak Zevan tepat di depan wajah Kinza.


Bugh..


Pukulan kedua yang diterima Zevan tepat di perutnya.


"Aakkhh." Zevan memegang perutnya.


"Kau memang brengsek, Zevan! Apa susahnya mematuhi keinginanku, hah! Kau dan keluargamu itu pecundang. Aku dengar kau tidak diakui oleh keluargamu. Bahkan mereka tidak menganggapmu. Apa itu benar? Dan aku juga dengar kalau kau yang menyebabkan kedua orang tuamu meninggal dalam kecelakaan. Waah! Jungkook ternyata kau seorang pembunuh," ucap Kinza dengan aksen mengejeknya.


"Zevan, jangan kau dengar kata-katanya!" teriak Mingyu.


Bugh..


"Aakkhh!" Alvan meringis kesakitan.


"Zevan! Orang tuamu itu lebih baik mati. Mereka tidak pantas untuk hidup di dunia ini. Mereka itu menyusahkan saja. Oh ya! Siapa nama kakak tertuamu itu? Eemm... aku ingat namanya Kevin Addison, bukan? Aku sarankan untuk dia mundur dari kursi jabatannya sebagai pemilik Perusahaan ADS Corp. Suruh dia datang dan bersimpuh padaku. Dia itu tidak lebih dari laki-laki brengsek," tutur Kinza sambil tertawa dengan keras.


Lalu detik kemudian, Kinza merasakan tendangan yang kuat di perutnya.


Duuaagghh..


Zevan menghantam perut Kinza dengan sangat kuat dan membuat Kinza Jatuh tersungkur tak berdaya.


Zevan mendekati Kinza yang sudah tak berdaya dan menendang perutnya bahkan menginjaknya dengan kuat.


"Jangan coba-coba menyentuh keluargaku apalagi menyakitinya. Aku sudah muak mendengar semua bualan yang kau lontarkan. Kau pikir aku takut denganmu, hah! Aku tidak pernah takut sedikitpun denganmu!" teriak Zevan.


Di sisi lain Alvan berusaha melepaskan diri dari kelompok Lion dan berlari menuju Zevan.


"Zevan tenang! Lepaskan dia... lepaskan Zevan. Kau bisa membunuhnya. Kau pikirkan kakak-kakak kamu. Mereka akan sedih melihatmu seperti ini," hibur Alvan.


"Dia sudah menghina keluargaku, Van. Dan aku tidak terima itu. Walaupun kakak-kakakku selalu menyakitiku, tapi aku tidak bisa diam saja saat keluargaku dihina." Zevan menjawab perkataan dari Alvan.


"Ya, aku tahu! Aku tahu Zevan. Kau sangat menyayangi mereka. Tapi tidak begini juga caranya. Aku mohon lepaskan dia."


Yoga berteriak dari arah lain. "Zevan! Lepaskan adikku brengsek!" bentak Yoga.


"Kalau kau berani mendekat, aku pastikan dia akan kehilangan nyawanya. Hari ini juga!" ancam Zevan saat injakan kakinya berpindah ke leher Kinza sehingga membuat Yoga membelalakkan matanya.


Melihat apa yang dilakukan oleh Zevan membuat Yoga dan kelompoknya mundur.


"Jangan lakukan itu. Tolong berhenti dan Lepaskan adikku. Apa yang kau mau, aku akan turuti?" mohon Yoga pada Zevan.


Zevan tersenyum menyeringai.


"Kenapa? Kalian takut. Bukannya tadi kalian yang bilang padaku ingin bermain-main denganku dan Alvan. Sekarang kenapa kalian memintaku berhenti. Permainan baru dimulai. Dan aku baru saja menikmatinya," jawab Zevan.


Zevan menggerakkan sedikit kakinya yang ada di leher Kinza dan membuat Kinza berteriak kesakitan.


"Tolong hentikan aku mohon," ucap Yoga yang sudah bersimpuh di hadapan Zevan.


Zevan kemudian melepaskan pijakannya dari leher Kinza dan mundur beberapa langkah. "Jangan pernah menggangguku lagi atau pun Alvan sahabatku. Kalau kalian tidak mau bernasib seperti dia. Dan jangan pernah menganggap remeh seseorang. Belum tentu orang itu takut dan lemah. Bisa saja orang itu yang akan membunuh kalian," ucap Zevan.


Setelah mengatakan itu, Zevan dan Alvan berlalu pergi meninggalkan kelompok Lion.


"Kau tidak apa-apa, Van?" tanya Zevan.


"Ya, aku baik-baik saja, Van!" jawab Alvan.


Baik Zevan maupun Alvan saling memberikan tatapan masing-masing. Setelah itu, keduanya tertawa.


"Hahahaha."


Mereka berdua tertawa karena nama belakang mereka sama-sama berakhiran 'Van'.