Brother And Sister

Brother And Sister
Episode 5



Minggu kedua di SMA. Mulai hari Senin ini akan belajar secara efektif setelah 1 Minggu ke belakang perkenalan.


Zafira sudah rapi memakai seragam putih abu² lengan panjang, juga rok yang panjang, dasi abu, jilbab warna putih sampai dada, dan tak lupa jas abu tua yang membuat penampilannya sebagai anak sekolah makin sempurna. Sedikit polesan lotion di wajahnya terasa cukup bagi Zafira.


Sampailah Zafira di gedung sekolah 3 lantai yang memiliki fasilitas yang sangat lengkap sehingga di cap sebagai salah satu SMA terbaik di kotanya. Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran yang terletak di depan sekolah, Zafira segera memasuki ruangan kelas X IPA 1 yang berada di lantai 2 sekolahnya.


Sambil menunggu bel masuk, Zafira membaca buku pelajaran yang kemarin sempat ia pinjam dari perpustakaan. Bel pun berdering, namun sebelum masuk ke ruangan kelas, terlebih dahulu dilaksanakan upacara bendera di lapangan belakang sekolah. Upacara pun berjalan dengan khidmat dan penuh penghormatan.


Zafira pun menuju kelasnya bersama Reina. Ia tidak sadar bahwa dibelakangnya ada Azhar yang akan menuju kelasnya juga di lantai 3. Saat itu Zia lewat di samping Zafira dan menabrak bahu Zafira. Zafira yang sedang tidak konsentrasi langsung terjatuh tapi ad yang memegang tangannya sehingga Zafira tertahan. Azhar dengan sigap memegang tangan Zafira. Setelah Zafira seimbang, Azhar melepaskan pegangannya "Maaf, tadi Kakak cuma nahan kamu biar gak jatoh" kata Azhar. "M...makasih kak" kata Zafira pada Azhar sambil memegangi tangannya yang memang agak terasa sakit karena Azhar memegangnya terlalu kuat.


"Yaudah kakak ke kelas dulu ya Zafira, Reina" kata Azhar pada Zafira dan Reina lalu berlalu ke lantai 3 meninggalkan mereka.


Zia menatap Reina dan Zafira dengan tajam dan sinis. "Fir, kamu ditatap nenek sihir tuh" kata Reina sambil menatap Zia. "Udah biasa kallii aku ditatap sama nek lampir" jawab Zafira santai lalu masuk ke kelasnya. Reina mengikutinya dari belakang dan duduk di sebelah Zafira. Tak lama guru pun masuk ke kelas mereka dan pelajaran pun dimulai.


"Deg!" Zafira kaget karena baru kali ini dia dipanggil ke kantor. "Positif thinking aja mungkin mau disuruh" kata Reina menyemangati. Zafira pun melangkah dengan perasaan was², lalu sampailah di pintu kantor. "Zafira langsung masuk!" suruh Pak Hermawan, guru BK. Terlihat di dalam kantor sudah ada Azhar. "Ada apa ini? kenapa aku dipanggil ke kantor sama pak hermawan? terus kenapa ada Kak Azhar?" tanya Zafira dalam hati.


"Duduk!" perintah Pak Hermawan. Lalu Zafira duduk di sebelah Azhar. "Kalian tahu salah kalian apa?" tanya Pak Her (Nama singkat Pak Hermawan) . Zafira dan Azhar kompak menggelengkan kepala. Lalu Pak Her menunjukan foto Azhar yang sedang memegang tangan Zafira, itu waktu tadi Zafira disenggol oleh Zia.


"Itu foto dari mana pak?" tanya Azhar kaget. "Ada nomor tak dikenal mengirimkan foto ini, boleh dijelaskan?" tanya Pak Her bijak.


Zafira dan Azhar pun menjelaskannya kepada Pak Her, semuanya tanpa ada yang terlewat. Dan sekarang masalahnya, nomor siapa itu? Mereka mencurigai Zia yang memiliki nomor itu. Namun ketika di chat, ia tidak menyebutkan namanya dan mengaku bukan Zia.


"Pak, boleh aku minta nomor HP orang itu?" tanya Zafira sopan. "Ya boleh" jawab Pak Her sambil menyerahkan HP nya pada Zafira. Zafira secepatnya memasukan nomor itu ke HP nya.


Azhar dan Zafira pun diperbolehkan kembali ke kelasnya.