Brother And Sister

Brother And Sister
Episode 23



Masih sibuk dengan acara sekolah dan makin akrab dengan Davi. Ya itulah Zafira. Entah mengapa mereka bisa akrab semudah dan secepat itu padahal baru beberapa hari kenal. Mungkin karena Davi memiliki sifat yang baik dan ramah juga mudah berbaur dengan semua orang tanpa melihat umur.


Malam ini adalah malam terakhir sekaligus malam puncak pementasan. Akan ada drama kerajaan yang akan ditampilkan oleh guru² dan murid dari kelas XII.


Azhar sedang menelpon papa nya. Davi tidak bisa datang karena ada pertemuan dengan klien di sebuah cafe malam ini.


"Kenapa kak?" tanya Zafira tiba tiba


"Papa gak bisa dateng, ada pertemuan sama klien nya" jawab Azhar sambil mengantongi HP nya.


"Mama aku juga gak bisa dateng" kata Zafira


"Kenapa? ada pasien?"


"Berkas numpuk, mau ngerjain berkas berkas dulu"


"Ohhhh"


***


Diana telah sampai di sebuah cafe tempat ia mengerjakan berkas berkas penting. Diana sudah terbiasa mengerjakannya di cafe ini karena menurutnya di cafe lebih enak.


Diana pun duduk sendiri lalu mengeluarkan berkas berkas yang akan dikerjakannya. Setalah memesan cappucino, Diana mulai berkutat dengan laptopnya.


Dari pintu datanglah Davi. Ia sedang mengangkat telpon.


"Apa? di cancel? kenapa kamu gak bilang dari tadi kalau pertemuannya di cancel? saya kan jadi bisa ke acara sekolah anak saya, yaudah gak papa, kapan ² kalau ada acara meeting atau pertemuan seperti ini, jadwalnya harus bener supaya gak gini lagi"


Ternyata pertemuan Davi dengan klien nya malam ini batal. Davi pun memutuskan untuk pergi ke sekolah Azhar. Tetapi sebelum ia putar balik, ia melihat seorang perempuan yang sepertinya ia kenal. Davi pun menghampiri meja perempuan itu dan terkejut ternyata perempuan itu adalah Diana.


"Diana!!!! kamu Diana kan?" tanya Davi spontan


Diana yang sedang fokus dengan laptop nya terkejut dan langsung menoleh.


"Papa!!!!" kata Diana kaget. Diana masih memanggil Davi dengan sebutan itu walaupun sekarang sudah menjadi mantan suaminya.


Davi duduk di depan Diana tanpa diminta


"Kamu benar Diana?" tanya Davi memastikan


"Iya aku Diana, kamu kapan pulang dari London?" tanya Diana balik


"Aku sudah hampir setahun disini, kamu bukannya tinggal di Bandung?"


"Eh sampai lupa nanya kabar kamu gimana? Zafira dimana?"


"Kabar aku baik, Zafira sekarang sedang ada acara di sekolahnya"


"Aku sangat ingin menemui Zafira" kata Davi sambil membayangkan wajah Zafira dulu ketika ia meninggalkannya


"Aku juga ingin bertemu Azhar, sekarang dia dimana?" tanya Diana juga


"Azhar ada dia baik² saja, sekarang sedang mengikuti acara di sekolahnya"


"Apakah Azhar sudah memiliki ibu baru?" tanya Diana ragu


"Tidak akan, kamu sendiri sudah dapat penggantiku?"


Diana hanya menggeleng. Mereka berdua masih sama sama mencintai dan tidak berniat memiliki pendamping baru.


Sesaat mereka terdiam.


"Apakah Zafira tau ia memiliki seorang Kakak?" tanya Davi memecah keheningan


"Tidak, gimana dengan Azhar?" tanya Diana balik


"Azhar juga tidak tau tentang itu, tapi Azhar sangat ingin bertemu denganmu Diana"


"Aku juga sangat ingin menemui Azhar, tapi jika aku bertemu dengan Azhar, Zafira juga harus bertemu dengan kakak nya" Kata Diana mulai sedih


"Ya aku juga ingin bertemu Zafira, putri kecilku dulu mungkin sekarang sudah besar dan aku tak tau wajahnya"


"Apa mungkin kita siap mempertemukan Azhar dan Zafira?" tanya Diana


"Apa yang membuatmu tidak siap mempertemukan mereka?" tanya Davi bingung


"Aku takut nanti ketika mereka sudah nyaman bersama, kita akan berpisah lagi dan itu akan menyakitkan. Mereka tidak akan mau berpisah untuk yang kedua kalinya, begitu juga dengan aku tidak ingin berpisah lagi dengan Azhar" jawab Diana


"Bagaimana jika kita ngobrol² banyak dulu tentang rencana pertemuan mereka, jangan dulu dipertemukan" saran Davi


"Iya aku setuju"


Mereka berdua tukeran nomor HP dan obrolan mereka akan berlanjut. Dulu mereka berpisah bukan karena pertengkaran, tapi karena campur tangan dari orang tua Diana. Sekarang orang tua Diana sudah tidak ada yang menjadi salah satu alasan Diana memilih pindah ke Jakarta dan mengurus panti peninggalan orang tuanya itu.