BREATHE

BREATHE
thirty six



melihat kedekatan si kembar dengan Leta membuat devina meneteskan air matanya dan cepat-cepat ia menghapusnya.


diluar kamar si kembar..


dafin sedang berdiri didepan kamar si kembar karena ingin melihat Leta dan si kembar.


" yah..yah" kata si kembar menghadap ke arah pintu, mendengar itu Leta dan mama devina mengikuti arah pandang si kembar. bukannya masuk dafin malah pergi meninggalkan kamar si kembar.


" udah sekarang si kembar bobok ya udah malem" kata Leta sambil menepuk-nepuk pelan paha si kembar.


Akhirnya si kembar pun tertidur Dengan lelap, Leta dan mama devina pun turun kebawah


" si kembarnya udah tidur mah, Leta pulang dulu ya" kata Leta.


" ini udah malem Leta, menginaplah disini" kata mama devina.


" tidak usah mah,Leta langsung pulang aja " kata Leta tetap kekeuh.


" baiklah kalau itu mau mu biarkan dafin mengantarkanmu, dan kali ini tidak ada penolakan" kata mama devina tanpa penolakan.


" dafin, kamu mau kemana malem-malem begini?" tanya mama devina.


" keluar sebentar" kata Dafin singkat.


" bisa kamu antara Leta pulang sekalian?" tanya mama devina.


" baiklah" kata Dafin tanpa berpikir.


setelah mengatakan itu dafin pun keluar menunggu Leta di luar mobil.


" duduk lah di Depan " kata dafin yang melihat Leta yang mau duduk di belakang.


di dalam perjalanan hanya keheningan yang menyelimuti mereka. karena dafin sudah tak bisa menahan amarahnya ketika Leta terus saja mengalihkan pandangannya ketika tidak sengaja bertabrakan. hingga di pertengahan jalan dafin memberhentikan mobilnya dan menguncinya


" apa aku begitu menakutkan sehingga kau tidak mau menatapku? " tanya dafin dingin.


"jawab aku Leta ?" kata dafin yang sudah tidak bisa mengontrol dirinya.


" apa aku begitu menjijikkan di matamu! " teriak dafin di muka Leta.


karena tak kuat dengan bentakan dafin Leta pun memberanikan dirinya untuk menjawab pertanyaan dafin.


" Ya kau begitu menjijikkan di mata ku, bukan hanya menjijikkan kau juga manusia yang jahat dan sangat kejam lebih kejam dari pada Iblis. mana ada ayah yang tega membiarkan anaknya tanpa nama selama dua tahun ini, mana ada ayah yang memalingkan wajahnya saat anaknya memanggilnya, mana ada ayah yang tega menelantarkan anaknya, mana ada ayah yang tidak mau mengakui anaknya sendiri. kalo bukan ayah yang bodoh. YANG TAUNYA HANYA MEMBUAT TANPA MAU MERAWAT!" kata Leta menekankan kalimat terakhir tanpa emosi tetapi kena dihati dafin


" jika pada akhirnya kau menelantarkan anakmu begitu saja, kenapa kau membiarkannya hidup di rumah mu kenapa kau tidak membuangnya saja di pantai asuhan"


" menurutku bukan hanya Dirly yang meninggalkan mu tetapi akal sehat mu juga pergi" kata Leta menohok.


" buka pintunya, aku akan pulang sendiri saja, aku takut kau akan membuangku sama seperti kau membuang anakmu." kata Leta,


" ya memang aku akui aku memang ayah yang bodoh untuk mereka, tapi apa kamu tau aku juga ingin bisa bermain dengan mereka, aku juga ingin mereka memelukku,aku menginginkan semua itu, tetapi rasa bersalahku terus saja menghantuiku ketika aku ingin berdekatan dengan anak-anakku, aku ingin memberikan mereka nama tetapi aku merasa tidak pantas untuk memberikan mereka nama. hatiku ingin namun otak ku menolak. aku harus bagaimana Leta " kata dafin frustasi sambil memukul-mukul kepalanya.


" aku memang ayah yang tidak berguna, perkataan yang kamu katakan semuanya benar Leta kamu benar" kata dafin terus memukuli kepalanya.


melihat dafin seperti itu membuat Leta tak tega.


" sudah hentikan dafin hentikan" kata Leta sambil menahan tangan dafin.


" aku bodoh, aku mau mati saja" kata dafin yang saat ini sangat frustasi.


plak


satu tamparan mendarat dipipi dafin.


" jangan gila kamu dafin, saat ini mereka hanya mempunyai kamu, jangan membuat mereka kehilangan untuk keduakalinya" kata Leta menenangkan dafin.