Black Tears

Black Tears
Bab 8



"Kenapa tidak bilang kalau kamu pergi ke rumah mama dan papa?" Hendra pulang ke rumah lebih dulu di banding Alesa.


"Maaf mas tadi aku telepon mas tapi tidak di jawab"


Wajah Hendra langsung berubah, ia ingat jika Ale menelponnya beberapa kali tapi ia abaikan karena sedang sibuk dan juga sibuk dengan Marisa.


"Yasudah bikinkan teh hangat"


"Iya mas"


Alesa meletakan kantung bingkisan dari rumah mama. tadi ia membawa banyak. makanan dan camilan dari rumah mama.


"Ini mas teh nya"


"Hendra melepas kemejanya dan mengenakan kaos putih. ia duduk di ruang tengah menikmati teh dan camilan yang di suguhkan istrinya.


"Mas aku mau membuka usaha boleh nggak?"


"Usaha apa sayang?" Hendra nampaknya sudah tidak marah lagi pada Ale ia sudah melembutkan kata-katanya.


"Buka kafe"


"Buka kafe? bukannya kamu suka desain baju kenapa nggak buka butik?"


"Itu nanti aja mas masih Ale pikirin, kayaknya pangsa pasar lebih menjanjikan kafe"


"Dimana kamu mau buka kafe?"


"Di dekat Sungkono Group di pusat kota"


"Bagus juga disana pasti ramai, konsepnya sudah dipikirkan dengan matang?"


"Sudah mas, tadi Ale juga diskusi sama mama dan papa"


"Mas setuju aja, kalau kamu perlu bantuan mas kamu bilang saja ya"


"Siap..."


"Oh ya tadi di rumah mama dan papa ada acara apa?"


"Oh cuma makan bersama mama dan papa sama satu kolega papa"


"Kolega papa? main ke rumah?"


"Iya katanya dia orang penting yang memiliki saham di Sungkono Group"


"Siapa?" Hendra mengerutkan keningnya. Jika dia pemilik saham Sungkono Group pastilah Hendra kenal.


"Victor?" Alesa mengangguk. Hendra lantas terdiam. Victor memang salah satu kolega paling penting Sungkono Group. orang itu bukan orang sembarangan. Dia kaya raya dan memiliki beberapa perusahaan dan saham di perusahaan lain.


"Mas kenal?"


"Ya cukup tahu, apa kamu ngobrol sama dia?"


"Enggak lah mas, dia tamu nya papa mana berani Ale ngobrol"


"Sayang udah malam yuk istirahat" Hendra meraih lengan Ale dan menggandengnya menuju kamar.


Ale membersihkan riasan dan mandi air hangat. Selesai mandi Ale mengeringkan rambutnya dan berganti pakaian tidur yang tipis.


Hendra Yangs sibuk dengan ponselnya segera mengalihkan perhatiannya pada istrinya.


Alesa sangat cantik dan tubuhnya sintal menggoda. kulitnya putih bersih. kenapa aku harus menyia-nyiakan dia?


"Mas..." suara Ale membuyarkan lamunan Hendra.


"Iya sayang, kemarilah mas mau peluk Ale"


Dengan wajah malu Alesa meringsek kedalam pelukan Hendra yang nyaman.


"Bagaimana hari ini di kantor mas?"


"Ya seperti biasa pekerjaan menumpuk"


"Marisa bagaimana kerjanya?"


"Marisa? emmm dia..aduh mas kurang tahu sayang karena kita beda divisi".


Hendra menyentuh wajah mulus Alesa. Ia menatap istrinya dengan pandangan yang sulit di jelaskan. Ale pasrah saja.


Tangan Hendra sudah menjelajah ke bagian dadanya. Bibir Hendra mematut bibir Alesa hingga ke dagu Ale.


"Alesa sayang ...." bisik Hendra di sela ciumannya yang membara. Ia meraih tali piama tipis Ale dan segera menghempaskan ya ke lantai.


"Kamu cantik sekali sayang, tubuhmu wangi dan menggoda ku" gumam Hendra sambil membuka resleting celana panjangnya.


Ale hanya tersenyum pasrah di bawah tubuh hendra yang menegang.


Hendra stik bermain-main dengan tubuh Alesa. Di rabanya bagian-bagian sensitif hingga Ale mengerang dan menggigit bibirnya. Ia malu mengeluarkan suara.


Malam itu menjadi malam panjang untuk Ale dan Hendra. keduanya berharap segera memiliki momongan karena itu Ale juga tidak menunda kehamilannya.


Sementara Hendra berpikir jika ia memiliki anak dengan Alesa maka akan mengukuhkan keberadaannya di keluarga Sungkono yang kaya.