
Siang itu acara syukuran cafe Alesa telah di mulai. tamu berdatangan dari teman sampai saudara dekat. Beberapa kaum sosialita teman-teman ibu Ale juga datang.
Ale juga tak ketinggalan mengundang sahabatnya Marisa.
Marisa datang setelah Hendra tiba di cafe itu. ia menaiki taxi online dari kantor menuju cafe karena jarak yang tidak begitu jauh.
"Hai Ale selamat ya" kata Marisa sambil menyerahkan bingkisan pada Ale. keduanya cipika cipiki dan terlihat bahagia.
Hendra memperhatikan kedekatan Alesa dan Marisa. Ia sedikit canggung ketika ada Marisa di dekatnya dan Ale.
"Hai mas Hendra .." sapa Marisa sambil mengulurkan tangan pada Hendra.
"Hai Mar..." jawab Hendra canggung.
"Oh ya ayo silakan kamu ambil minuman dan camilan dulu Marisa, disana ada cake buatan mama juga, enak sekali" kata Ale menawarkan.
"Iya deh, aku ambil minum dulu ya" Marisa berjalan menuju meja berisi gelas minuman sementara Hendra meras sedikit lega karena Marisa dan Ale sudah berjauhan.
"Selamat sayang" tuan Sungkono baru saja tiba karena harus meeting dulu. ia memeluk anak semata wayang nya dan memberikan selamat atas usaha baru anaknya.
"Makasih pa...Ale udah cemas takut papa nggak bisa hadir"
"Mana mungkin papa tidak hadir di pembukaan usaha Ale? papa pasti hadir sayang"
Hendra tersenyum basa basi pada mertuanya.
Oh ya Hendra nanti kamu ada meeting dengan Victor ya" kata tuan Sungkono.
"Iya pa"
"Ah papa jangan ngomongin kerjaan di sini dong, nanti aja" rengek Ale.
"Oh iya papa lupa, ini kan hari bahagia Ale. mama mana?"
"Tu lagi sama teman sosialitanya pap"
Tuan Sungkono segera menghampiri istrinya dan sedikit menyapa para nyonya sosialita teman dari istrinya.
Hendra merangkul pundak Ale dan berjalan untuk memberi sambutan pada tamu yang hadir.
"Terimakasih semua sudah berkenan dan menyempatkan diri untuk hadir di pembukaan cafe Alesa ini, lain kali mampir ya....Oh iya cafe ini Ale beri nama Cafe AleStar"
Marisa memandang tingkah Hendra dan tersenyum mencibir.
Setelah memberi sambutan Ale berjalan menghampiri Hendra dan memeluknya.
🍒🍒🍒
Marisa menendang meja kecil di ruang tamu apartemen nya. ia mulai cemburu dengan melihat Hendra dan Alesa romantis seperti tadi.
Marisa kesal rasanya ia ingin menyudahi semua permainan ini dan memiliki Hendra seutuhnya.
Setiap hari membayangkan Hendra bermesraan dengan Alesa saja sudah membuat Marisa kesal.
Tiba-tiba Marisa merasa mual, kepalanya pusing seperti berputar-putar.
Ia berjalan meraba dinding dan pergi ke kamar mandi.
Marisa melihat kalender di ponselnya. ia ternganga karena sudah dua bulan ia tidak haid.
Apa aku hamil?...
Besok aku akan ke dokter untuk memastikannya. atau aku beli alat tes kehamilan lebih dulu baru ke dokter?
Diantara rasa kebingungannya Marisa merasa senang jika dirinya hamil anak Hendra itu berarti Hendra akan lebih memilihnya di banding Alesa.
Tapi bagaimana jika Alesa juga hamil?
"Tapi aku tidak peduli Hendra harus bertanggung jawab karena ini anaknya. Jika perlu ia harus menceraikan Alesa"
Marisa tertatih menuju kamarnya dan meraih ponsel dari dalam saku celana jeans nya.
Ia menelpon Hendra untuk memberitahu jika sepetinya ia hamil dan Hendra harus mulai menjaga jarak dengan Alesa.
Tapi sayang sekali telepon Marisa tidak di jawab oleh Hendra.
"Angkat Hendra kamu sedang apa sih?!"
Marisa mencoba menelepon sekali lagi dan sama seperti tadi, Hendra tidak menjawab telepon Marisa.