Black Tears

Black Tears
Bab 4



Alesa dan Hendra mulai menempati rumah baru mereka. Ale membeli beberapa perlengkapan dapur dan perlengkapan lain yang ia dan suaminya butuhkan.


Alesa membereskan dapur barunya yang cukup luas dan mewah. Ia menata alat dapur yang di dominasi warna hijau muda karena Ale suka warna hijau.


Tak lupa Ale menyelipkan dua buah buku resep masakan ke dalam laci dapur. Ia sengaja membeli buku itu karena pasti nanti akan memerlukannya.


Hendra sedang memasang lemari pakaian besar kedalam kamar mereka di bantu beberapa orang pekerja yang sengaja di panggil datang ke rumah.


"Sayang ini teh nya" kata Ale dengan wajah sumringah.


"Iya sayang" Hendra terlihat meletakkan alat bor di atas meja. Ia menyeruput teh hangat dan memakan camilan yang di suguhkan istrinya.


"Enak sekali pisang goreng nya"


"Ale bikin sendiri mas"


"Pintar sekali istriku ini..."


Alesa tersenyum puas, pagi yang indah dan cerah sama seperti pernikahannya dan Hendra.


"Oh ya Mas katanya Minggu depan Marisa mulai bekerja di Sungkono Group"


"Benarkah?"


"Iya mungkin se-kantor sama mas Hen"


"Nanti coba mas lihat apa Marisa jadi masuk ke Sungkono Group atau tidak"


"Iya mas"


Setelah berbincang sejenak Alesa kembali membereskan rumah, ia menata baju yang ia keluarkan dari koper dan meletakkannya di lemari barunya.


Ale mengganti bad cover dengan warna krem agar lebih adem. selesai membereskan kamar Ale menuju ruang tengah menata taplak meja dan vas bunga. untuk bunga Ale lebih suka hiasan bunga hidup yaitu anggrek bulan. Ale memasang beberapa hiasan di dinding ruang tengah tidak lupa foto pernikahan berukuran besar juga di gantung di ruang tengah.


Hendra terlihat sibuk dengan ponselnya. Ia seperti sedang membaca pesan di ponselnya sembari tersenyum.


"Ada apa mas kok Ale perhatikan mas senyum-senyum?"


"Oh ini sayang masalah pekerjaan"


"Iya sayang, yuk kita berbenah lagi" Hendra memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.


Malam hari selesai dengan urusan rumah baru mereka, Hendra dan Alesa bersantai di ruang tengah menikmati coklat hangat dan camilan.


Keduanya menonton film di televisi sambil mengobrol tentang masa depan.


Hendra memandang lekat wajah cantik Alesa. Ia mendekatkan bibirnya ke bibir Alesa.


"Kamu cantik sekali Ale, aku sangat beruntung mendapatkan wanita seperti dirimu"


Alesa tersenyum manis sambil menyentuh lembut wajah Hendra. ia membelai rambut Hendra yang tebal dan nyaris menjambaknya ketika bibir Hendra menelusuri ceruk leher Ale.


Kulit leher yang putih, halus dan wangi membuat Hendra mabuk kepayang. ia mengangkat tubuh Ale menuju kamar mereka.


Perlahan Hendra menurunkan Ale di atas ranjang.


"Kau sudah siap?" bisik Hendra di telinga Ale.


Ale tidak menjawab dan hanya mengangguk perlahan sembari memeluk Hendra.


Malam yang menjadi panjang dan sibuk untuk Alesa dan Hendra. keduanya sudah menuntaskan tugas malam pertama. pancaran kebahagiaan nampak di raut wajah Ale ketika bangun tidur.


Hendra sudah bangun lebih dulu karena harus bersiap ke kantor.


Alesa tak kuasa memandang wajah Hendra ketika suaminya itu keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk di pinggangnya.


"Pagi sayang" Hendra mengecup pipi Ale sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Kenapa mas tidak membangunkan ku?" kata Ale dari balik selimutnya.


Hendra hanya tersenyum dan mengusap rambut Alesa.


"Aku mau mandi dulu mas setelah itu kita sarapan"


"Hendra mengangguk sambil menciumi pipi Ale yang memerah. Ia yakin Alesa malu karena masih terbayang kejadian semalam. Hendra tersenyum dan meraih kemejanya yang sudah di setrika. Ia berpakaian rapi karena pagi ini akan ada pengukuhan resmi jabatan barunya sebagai wakil CEO Sungkono Group.