Black Tears

Black Tears
Bab 1



Rumah mewah keluarga Sungkono terlihat ramai sejak pagi hari. orang sibuk dengan tugas masing-masing. putri tunggal keluarga itu akan menikah.


Ruangan di hias dengan sedemikian mewah untuk pesta pernikahan yang akan di gelar besok malam. .


Tuan dan Nyonya Sungkono terlihat bahagia menyambut hari pernikahan putri tunggal mereka yaitu Alesa Sungkono.


Alesa akan menikah dengan pria pujaan hatinya yang berpacaran dengannya sejak di bangku sekolah menengah. pria itu adalah Hendra Baskoro yang berasal dari keluarga sederhana.


"Kamu sudah siap untuk pernikahan mu besok?" tanya seorang gadis yang sedang menyisir dan menata rambut Alesa. ia adalah Marisa sahabat dekat Alesa yang sudah dia anggap saudara.


"Tentu saja aku siap, kami menantikan hari ini tiba. Kamu tahu sendiri bukan perjalanan cintaku dengan Mas Hendra cukup panjang"


"Benar aku tahu Lika liku kalian, aku ikut senang dengan ending ini"


"Terimakasih Marisa sayang, kamu yang paling mengerti kami, oh ya setelah aku dan Mas Hendra menikah kamu tetap akan sama pada ku bukan? kita tetap seperti biasanya?"


"Iya tapi yang jelas kita sudah tidak bisa menginap bersama karena pasti mas Hendra akan menemani mu" kata Marisa sambil tersenyum.


"Ah tapi aku bisa memintanya tinggal di kamar sebelah kalau kamu akan menginap"


"Benarkah? apa boleh hal seperti itu terjadi?"


"Boleh jika Alesa yang mau"


"Sudah selesai kamu cantik sekali Ale" Marisa sudah selesai menata rambut Alesa dan di sanggul.


Pagi itu untuk acara pingitan Alesa akan mengenakan kebaya modern. kebetulan tema pernikahannya menggunakan acara adat jadi ada beberapa ritual yang akan di langsungkan sebelum akad besok.


"Oh ya kenapa mas Hendra belum menelpon ku?" Alesa sibuk mengutak Atik ponselnya.


"Mungkin ia juga sedang sibuk sama seperti mu, mas Hendra juga perlu persiapan untuk besok" kata Marisa.


"Kamu benar, ayo kita turun aku mau menemui mama dan papa"


🖤🖤🖤


Hendra tampak sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Ia masih belum bersiap untuk pernikahannya yang tinggal menghitung jam.


"Hei kawan kau akan menikah besok, sebaiknya kau pulang lebih awal" kata teman sekantor Hendra.


"Ya tinggal sedikit lagi aku akan pulang"


Besok dia akan menikahi wanita pujaan hatinya yang di pacarinya sekian lama.


Alesa Sungkono sebentar lagi kita akan terikat, tapi....


ponsel Hendra berbunyi ada panggilan telepon dari Alesa.


"Ya sayang.."


"Mas kamu ada dimana sekarang?"


"Aku...di rumah"


"Di rumah?"


"Iya aku kan juga harus siap-siap untuk acara kita besok sayang"


"Oke mas aku sudah tidak sabar mau bertemu dengan mu mas"


"Aku juga Ale, oh ya bagaimana persiapan di rumah? apa semua sudah selesai?"


"Semua sudah di handel WO dengaan baik jadi mas Hendra dan keluarga tinggal datang besok"


"Oke sayang, oh ya sudah dulu ya, mas juga ada yang mau di persiapkan"


"Iya mas bye...muah"


Hendra mematikan ponselnya karena malas jika Ale terus menelponnya dan membombardir dengan segala persiapan untuk besok.


Hendra melihat jam tangannya dan memutuskan pulang kerumah.


Sesampainya di rumah orang tuanya semua terlihat biasa saja. tidak ada persiapan yang istimewa.


Ayah Hendra sudah lama tidak ada, ia tinggal bersama ibunya saja. Ibu Nitha.


"Hendra kamu baru pulang? oh ya bagaimana persiapan buat besok?"


"Seadanya saja Bu seperti yang sudah kita siapkan di awal"


Hendra tampak lelah dan masuk kedalam kamarnya, Bu Nitha tidak berani mengganggu anaknya yang baru saja pulang bekerja.