
"Adopsi? kenapa tidak menunggu anak kandung kalian saja?" tanya mama.
"Ma tidak mengapa kalau Ale dan Hendra mengadopsi anak itu sembari menunggu kehamilan Ale nanti" kata papa Sungkono.
"Tapi pa...." mama masih belum yakin.
"Ma Mikhaela ini cantik banget ma, lucu sekali Ale senang ma sama Mikhaela, ayolah ma boleh ya Ale dan mas Hendra mengadopsi Mikhaela?"
"Yasudah kalau kalian maunya begitu" mama akhirnya luluh juga dan tidak tega melihat anak nya bersedih.
Ale memandang Hendra tersenyum sembari mengangguk yakin untuk menjemput Mikhaela dari panti asuhan.
"Ayo mas cepat" kata Ale tidak sabar saat perjalanan menuju panti.
"Iya sayang sabar mas harus berhati-hati membawa mobilnya"
"Iya tapi Ale nggak sabar mas"
Hendra tersenyum dalam hatinya kembali merasakan kelegaan.
"Mas kenapa ya kok Ale langsung bisa suka dan jatuh hati sama anak itu?"
"Ya kan Ale bilang kalau anak itu lucu dan menggemaskan"
"Iya tapi seperti ada sesuatu yang lain gitu"
"Sesuatu seperti apa sayang?"
"Entah kenapa aku merasa anak itu ada kemiripan wajah dengan Mas Hendra"
"Dengan ku?"
"Iya mungkin cuma perasaan ku saja ya mas karena ingin sekali memiliki anak dari kamu"
Hendra mengusap rambut Ale yang duduk di sampingnya.
Tidak berapa lama akhirnya keduanya tiba di panti asuhan untuk menemui ibu panti.
Ibu panti mengajukan persyaratan dan surat untuk adopsi.
Persyaratannya cukup mudah bagi Ale.
Calon ibu yang mengadopsi anak tidak boleh seorang perokok, peminum, wanita yang terlalu sibuk di luar rumah, mampu merawat anak dan lainnya.
Ale menyetujui dan menandatangani surat itu bersama Hendra. sejak hari itu Mikhaela di bawa pulang ke rumah Alesa dan Hendra.
Hari-hari Alesa berbeda sejak ada Mikhaela. ia terlihat lebih bersemangat dan kembali energik seperti sedia kala.
Karena Mikha sudah berusia dua tahun jadi ia bisa makan apa saja dan tidak rumit untuk membuatnya. Alesa selalu menikmati momen ketika ia menyuapi Mikha.
"Sayang dimana dasi mas?"
"Iya mas sebentar" Ale berlari ke kamarnya meraih dasi dari dalam lemari dan memakaikannya pada Hendra.
"Mas jadi terabaikan nih" kata Hendra sembari merangkul pinggang Alesa.
"Maaf ya mas soalnya Ale senang banget ada Mikha" wajah Ale terlihat berbinar.
"Iya deh asal kamu bahagia mas juga bahagia" Hendra mengusap lembut pipi Alesa.
🌵🌵🌵
Siang itu Hendra mengunjungi seseorang di sebuah apartemen mewah. ia mengetuk pintu apartemen dan seorang wanita membuka pintu menyambut kedatangan Hendra.
Keduanya berpelukan seolah melepas rindu.
"Beres sayang kamu tenanglah" kata Hendra pada wanita itu yang ternyata adalah Marisa.
Marisa sudah kembali dari persembunyian selama ia hamil dan melahirkan hingga usia anaknya dua tahun.
"Jadi Ale tertarik dengan Mikha?"
"Iya Mar bahkan Alesa sangat menyayangi Mikha"
"Bagus Hendra sayang selanjutnya kamu pastikan kalau Mikha akan menjadi pewaris harta keluarga Sungkono"
"Tenang Marisa terlalu dini membicarakan itu, kita atur strategi lagi nanti"
"Apa tuan dan nyonya Sungkono tidak mencurigai Mikha?"
"Tidak, mereka tahunya Mikha memang berasal dari panti. tadinya nyonya Sungkono yang kurang setuju tapi setelah Alesa merengek akhirnya ia luluh juga" kata Hendra sembari tertawa.
"Tapi sayang aku rasa kita harus waspada dengan ibu mertua mu itu"
"Iya sih, mungkin mama akan mencari tahu soal Mikha di belakang ku dan Ale. tapi kamu tidak perlu cemas aku sudah atur semua"
"Oh ya aku sudah bilang sama kamu kalau seminggu sekali bawa Mikha ke apartemen ku, aku juga mau bertemu dan bermain dengan anakku"
"Iyaaaa...."
.