
Hendra mengecup bibir Marisa sebelum berpamitan kembali ke kantor. ia meraih ponsel dari dalam saku jasnya dan melihat panggilan telepon dari Alesa sebayak sepuluh kali.
Alesa kenapa dia meneleponku sebanyak ini? Aku sudah bilang kalau ingin ke rumah orang tuanya tinggal datang saja!
"Sayang ada apa?" Hendra menelpon Alesa.
"Mas katanya mas sedang tidak di kantor memang sedang kemana?"
Ah sial, kenapa dia malah ngecek ke kantor segala?
"Mas meeting di luar sayang, tadi ada vendor yang harus mas temui di restoran dekat sama cafe AleStar kok"
"Oh aku kira mas kemana, yasudah ini aku sudah di rumah papa dan mama mas"
"Oke sayang, salam ya dan sampaikan permohonan maaf mas untuk papa dan mama karena tidak bisa datang"
"Iya mas"
🌵🌵🌵
Di rumah papa dan mama sudah ramai ternyata ada beberapa kolega papa yang di undang untuk makan malam nanti. semua undangan hadir sebelum jam makan malam karena mereka akan meeting dulu dengan papa di rumah.
Alesa sibuk membantu mama menyiapkan hidangan tambahan. Mikha sibuk bermain di Semani seorang pelayan.
"Selamat siang" sebuah suara bernada bariton menyapa Alesa dan mama.
Ale melihat ke arah suara itu berasal. seorang pria tinggi tegap dengan mata sipit dan senyum menawan berdiri di ambang pintu utama.
"Silahkan masuk tuan Victor" kata Ale menyambut.
Victor terdiam menatap Ale dengan sorot mata yang sulit dijelaskan. wajahnya sedikit mirip dengan aktor Ricard Gere.
Ale mengantarkan Victor ke ruang meeting yang terletak di samping rumah. ruangan itu terbuka dengan pemandangan hijau dan kolam ikan koi. disana terlihat papa sedang memimpin meeting.
Ale kembali ke dapur bersama mama..
"Ma tuan Victor itu berkarisma sekali ya" kata Ale.
"Iya coba kamu belum menikah sama Hendra"
"Ih mama ngawur deh, masa Ale sama tuan Victor. usia kita terkait cukup jauh ma"
"Ya itu juga banyak mam"
"Victor itu lebih mapan, kaya dan tampan dibanding suami kamu itu"
"Mama jangan membandingkan begitu ah tidak baik"
"Mama bicara kenyataan Ale. suami kamu tidak pernah datang kalau mama dan papa mengundangnya bukan?"
"Itu karena mas Hendra sibuk ma"
"Halah itu cuma alasan dia saja Ale, mama curiga sama suami kamu itu"
"Curiga kenapa mam?"
"Jangan-jangan dia punya Wil"
"Wil?!"
"Iya wanita idaman lain"
"Mama udah deh jangan terlalu sering nonton sinetron, mama jadi begini kan"
"Terserah kamu Ale mama cuma memberitahu kamu saja"
Tiba-tiba Ale terngiang perkataan mamanya. jangan-jangan Hendra punya Wil alias wanita idaman lain.
Ale langsung menepis pikiran buruknya pada Hendra. ia bergegas ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. sebentar lagi kolega papa akan bergabung untuk makan malam bersama.
Ale mengeluarkan sebuah gaun berwarna pink yang terlihat anggun dan cantik. setelah mengenakannya ternyata gaun itu tidak muat lagi di badan Ale.
Ale akhirnya dengan susah payah melepas gaun pink yang sudah terlanjur masuk di badannya. ia menggantinya dengan sebuah gaun hitam yang tidak berlengan. tapi setelah bercermin Ale tidak percaya diri karena lengannya terlihat sedikit besar.
Akhirnya pilihan terakhir Ale menjatuhkan pada baju terusan berwarna biru yang tertutup dan berlengan panjang.
"Huft untung masih muat" gumam Ale di depan cermin. ia bergegas merapikan rambutnya dan keluar dari kamar.
Saat menuruni anak tangga rupanya kolega papa sudah. duduk rapi di meja makan yang panjang dan lebar. Ale jadi salah tingkah karena jadi pusat perhatian saat ia berjalan mendekati meja makan.
Hanya seorang pria dari kolega papa yang tidak memandang Ale. Dia adalah Victor yang acuh saja. padahal tadi siang pria itu terlihat seperti Ricard Gere yang ramah dan tampan. sekarang ia terlihat seperti....entahlah Ale bingung mendeskripsikan orang itu.