Black Tears

Black Tears
Bab 5



Di kantor pusat Sungkono Group sedang diadakan meeting untuk mengenalkan Hendra sebagai wakil CEO baru.


Di ruangan itu semua bertepuk tangan dengaan riuh menyambut menantu sang owner perusahaan. Beberapa orang mencibir Hendra yang bisa menduduki posisi penting karena bantuan mertuanya.


Tapi apapun kata orang di luar sana Hendra tidak peduli. yang penting ia sudah berhasil mewujudkan ambisinya satu persatu.


Selesai meeting Hendra kembali ke ruang kerjanya. Tidak sengaja ia melihat Marisa yang sedang berdiri sambil mengangkat telepon. Keduanya bertatapan cukup lama.


Hendra terdiam dan segera keruangan kerjanya.


Hari pertama sebagai wakil CEO pekerjaan Hendra tergolong menumpuk. ia sibuk dengan berkas dan dokumen yang harus ia pelajari.


Email masuk juga harus ia baca satu persatu dengan teliti supaya tidak terjadi kesalahan. Hendra sadar posisinya saat ini banyak yang mengincar dan ada berapa orang yang pasti berusaha menjegalnya.


Untung aku adalah menantu keluarga Sungkono jadi bagi kalian yang akan mendepak ku dari perusahaan ini siap-siap jika kalian sendiri yang akan tersingkir.


tuk...tuk...


Pintu ruang kerja Hendra di ketuk dari luar.


"Masuk"


"Siang pak" Marisa muncul di ambang pintu. Ia terlihat cantik siang itu dengan stelan kerjanya. tubuhnya yang ramping dan tinggi semampai sangat pas di balut dengan blazer warna maroon dan rok ketat di atas lutut. rambut panjangnya tergerai indah.


"Hai sayang..." Hendra tersenyum ke arah Marisa sambil mengeringkan matanya.


"Ssttt...jangan memanggilku dengan sebutan sayang. ini perusahaan! dinding pun punya telinga untuk menguping kita!" kata Marisa cemas..


"Tenang lah, ada apa?"


"Ini ada dokumen penting yang harus kamu pelajari, aku mengambilnya dari gedung arsip perusahaan"


"Wow hari pertama mu bekerja di Sungkono Group kamu sudah berani menyelinap ke gedung arsip. hebat sekali Marisa"


"Sudah baca saja, aku permisi dulu"


"Tunggu nanti malam kita jadi makan malam bersama di apartemen mu?"


"Tentu saja jadi, kita akan merayakan keberhasilan kecil ini oke?"


"Siap sayang..."


Alesa terlihat menata ruang kerjanya di rumah. Ia berniat mengembangkan bakat menjadi desainer sembari menjalani tugasnya sebagai ibu rumah tangga.


Sejak menikah, Hendra melarangnya bekerja agar mereka bisa segera memiliki anak. Hendra tidak mau Alesa kelelahan sehingga mempengaruhi hormonnya.


Alesa memulai membuka laptopnya dan melihat beberapa desain yang ia buat.


Drttt...drttt..


Ponsel Alesa bergetar ada panggilan telepon dari mama.


"Halo ma...." jawab Ale


"Ale mama jemput ya kita makan siang terus shoping. sudah lama kita tidak shoping berdua"


"Iya ma, Ale siap-siap dulu ya"


Alesa menutup telepon dan bergegas mengganti bajunya. Hendra tadi sudah memberinya kabar jika akan pulang terlambat karena ada banyak pekerjaan.


Jadilah Alesa bisa sedikit bersantai dan pergi hangout bersama sang mama.


Sementara Alesa pergi bersenang-senang dengan mamanya, Hendra dan Marisa pulang bersama menuju apartemen Marisa.


Hendra memarkir mobilnya dan membuka bagasi. ia menurunkan hasil belanjaan Marisa untuk makan malam.


Setibanya di apartemen, Marisa segera mengganti bajunya dengan dress pendek di atas lutut.


"Sexy sekali sayang?" kata Hendra yang duduk di sofa sambil menikmati minuman kaleng.


"Apa istrimu juga sexy? apa yang sudah kalian perbuat?" tanya Marisa menyelidik dengan wajah cemburu.


"Sayang aku melakukan semua ini demi masa depan kita"


"Benar kamu tidak menyukai Ale? sama sekali tidak mencintainya?"


"Cintaku hanya untuk dirimu sejak dulu tapi kamu yang memaksaku memacari Alesa"


"Seperti yang kamu bilang sayang, ini demi masa depan kita. setelah Sungkono Group bisa kita ambil alih segera tinggalkan Alesa!"