Black Tears

Black Tears
Bab 12



Hendra menenangkan Marisa padahal dirinya sendiri juga kebingungan dengan kabar kehamilan Marisa.


Itu berarti Marisa tidak boleh lagi bekerja di Sungkono Group. Orang pasti akan tahu perut buncit Marisa sedang ia belum menikah.


Kalau tidak tahan gunjingan Marisa pasti akan membongkar semua dan itu sungguh berbahaya bagi Hendra dan masa depannya.


Hendra mengeluarkan saputangannya dan membersihkan keringat di keningnya.


"Marisa untuk sementara kamu harus menghilang dulu sayang sampai kamu melahirkan anak kita"


"Menghilang bagaimana?"


"Mas akan carikan kamu tempat tinggal di luar kota, kamu harus secepatnya pindah dari sini. jangan sampai orang-orang di luar sana tahu kamu hamil"


"Tapi aku takut Hen, aku harus kemana?"


"Kemana saja sesuai yang kamu mau"


"Tapi kamu janji akan bertanggung jawab pada anak ini kan?"


"Iya sayang"


"Kalau kamu berani berkhianat maka aku akan membongkar semua rahasia kamu pada Alesa dan keluarga Sungkono!" ancam Marisa.


Wajah Hendra langsung memucat ia menutup mulut Ale dengan telapak tangannya.


"Jangan gila Ale! hati-hati kalau bicara! baiklah aku pasti bertanggung jawab dengan kaami dan anak ini"


Jadilah Hendra menyusun rekayasa pengunduran diri Marisa dari Sungkono Group. ia juga mengirim email pada Alesa dengan menggunakan alamat email Marisa yang menerangkan jika Marisa berpamitan akan pergi jauh untuk sementara waktu karena ingin bekerja di kota lain.


Alesa yang membaca email panjang Marisa sedikit bingung dengan keputusan mendadak sahabatnya itu.


"Mas...sini deh" Alesa memanggil Hendra yang sedang sibuk dengaan ponselnya.


"Ada apa sayang?" Hendra berjalan mendekati Ale dan mengecup pipi Ale.


"Ah mas Hen, aku serius coba lihat ini email dari Marisa. kog aneh ya?"


Hendra berpura-pura membaca email itu lalu mengerutkan keningnya.


"Oh jadi Marisa resign?"


"Mas nggak tahu sayang, lagi pula mas jarang bertegur sapa dengaan Marisa"


Alesa mengangguk paham, memang Hendra nampak tidak begitu mau dekat dengan Marisa padahal Marisa adalah sahabat dekat Ale. itu dari segi sudut pandang Alesa.


"Iya sih, apa Marisa menyembunyikan sesuatu ya?"


"Menyembunyikan apa?"


"Masalah gitu misalnya, kenapa dia nggak cerita sama Ale kalau punya masalah?"


"Itu tandanya Marisa tidak punya masalah, dia baik-baik saja. toh di email Marisa sudah menjelaskan mau pindah kota untuk mengejar karirnya"


"Iya sih mas tapi kenapa mendadak"


"Mas nggak tahu sayang" Hendra lantas pergi ke kamar mandi untuk menghindari berbagai kecurigaan Alesa pada Marisa.


Tidak mudah juga membohongi Alesa, Ia gadis pintar Hendra harus berhati-hati jangan sampai keceplosan pada Ale.


Malamnya Ale menceritakan pada Hendra hasil pemeriksaan ya ke dokter kandungan tadi pagi.


"Tuh kan mas bilang juga apa, Ale terlalu tergesa-gesa"


"Iya mas"


"Terus kamu dapat vitamin nggak dari dokter?"


"Dapat mas, kok mas tahu kalau dokter ngasih vitamin?"


"Oh ..itu..anu biasanya kan kalau periksa dapat vitamin atau obat gitu. mas tadi siang sempat nyari info di internet"


"Oh.."


"Yuk tidur sayang mas ngantuk, lelah hati ini pekerjaan menumpuk"


"Ayo mas, Ale juga ngantuk banget ini"


Hendra menunggu Alesa terlelap dan ia mencuri kesempatan untuk menelpon Marisa. Hendra ingin memastikan Marisa tidak akan nekat melapor pada Alesa soal semua yang sudah terjadi.


Hendra lega karena ternyata Marisa sudah berangkat ke kota yang di tuju dengan penerbangan malam tadi.