
Mama cukup terkejut dengan keputusan Ale tapi ia segera menerima begitu tahu rencana di balik pernikahan Ale dan Victor.
"Mama juga lebih setuju kamu sama tuan Victor"
"Ma jangan bawa perasaan, pernikahan ini hanya sebuah kesepakatan" kata Ale. ia tidak ingin mamanya berharap berlebihan lalu kecewa.
"Ya bisa saja nanti kalian saling suka"
"Ma itu mustahil, dia itu pria dewasa usia kami terpaut belasan tahun. Ale rasa gadis tipe Victor bukan yang seperti Ale"
"Memang kamu tahu dari mana kalau kamu bukan tipe nak Victor?"
"Nak Victor?" Ale mengerutkan keningnya mendengar mamaanya memanggil Victor sekaran itu dengan sebutan nak.
"Iya nak Victor, kan sebentar lagi dia akan menjadi menantu mama"
"Terserah mama deh" Ale menggelengkan kepalanya.
Sementara di apartemen Marisa dan Hendra terlihat sedang minum bersama. keduanya merayakan keberhasilan mereka menghancurkan keluarga Sungkono.
"Apa Sungkono Group berhasil kamu kuasai sayang?" tanya Marisa sembari mengusap wajah Hendra.
"Tentu saja, tidak ada yang bisa menumbangkan ku dari Sungkono Group!"
Hendra tertawa senang sembari menuang minuman kedalam gelasnya. sementara si kecil Mikha melihat orang tuanya sedang mabuk-mabukan. anak itu merindukan Ale yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Mikha mau kemana?! Marisa meneriaki anaknya yang berjalan menuju kamar.
"Sudah biarkan dia, kenapa kamu membentaknya?!" kata Hendra sembari menyesap minuman di gelasnya.
***
Hari pernikahan Victor dan Alessa dilangsungkan dengan sederhana. keduanya sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Ryan mengurus berkas perjanjian yang harus di tanda tangani Victor dan Ale.
"Kau akaan ikut tinggal denganku agar tidak menimbulkan kecurigaan" kata Victor pada Ale.
Hari itu Ale ikut ke rumah Victor. ia tinggal disana tapi berbeda kamar dengan sang suami.
"Kamar ku ada di sana dan kamar mu di lantai satu" kata Victor sembari melepas jasnya dan memberikannya pada Ryan.
Ale meraih jas itu dan membuat Victor serta Ryan terkejut.
"Biar aku saja yang mengurus ini, meski tidak ada dalam perjanjian tidak masalah. saya akan laundry jas dan pakaian kotor anda mulai sekarang"
Victor semakin terkejut. ia tidak menyangka gadis manja itu akan melakukan pelayanan padanya. .
"Di rumah ini banyak pelayan, kau tidak perlu repot"
"Tidak apa tuan, terimakasih sudah banyak membantuku. yang kulakukan ini hanya bagian kecil dari apa yang anda lakukan untukku"
Ale bergegas memasuki kamarnya sembari masih membawa jas milik Victor.
"Ryan apa seperti ini wajar?" tanya Victor sembari menaiki anak tangga.
"Mungkin tuan"
Victor berjalan menuju kamarnya, ia cukup lelah mengurus pekerjaannya dan Ale secara bersamaan.
"Ryan kau bisa pulang aku ingin beristirahat"
"Baik tuan"
Ale di kamarnya terlihat memandang foto ayahnya di layar ponsel miliknya.
"Pa Ale janji akan merebut Sungkono Group dari mas Hendra! dia tidak pantas untuk Ale dan perusahaan kita pa" isak tangis Ale pecah. ia merasa benar-benar sakit dengan semua perlakuan Hendra dan Marisa.
Sekarang Ale jauh dari mama untuk sementara jadi ia leluasa jika ingin menangis. Ale sengaja tidak ingin menunjukan kesedihannya pada mama.
Ia berbaring di ranjang sembari memeluk ponselnya yang memperlihatkan wajah sang ayah. karena lelah Ale tertidur melupakan sejenak semua beban yang sedang membelit dirinya.