Black Tears

Black Tears
Part 18



Alesa sedang menjalani program diet ketat. ia tidak makan karbohidrat dan hanya memakan sedikit sayuran tanpa bumbu.


Setiap pagi Ale pergi ke pusat kebugaran untuk membentuk otot perutnya agar lebih ramping dan tidak menunjukan tonjolan lemak.


Melihat perubahan sikap Hendra padanya Ale merasa berkecil hati karena itulah ia ingin kembali menarik simpati dan cinta Hendra.


Jika aku kembali langsing mas Hendra pasti semakin mencintaiku ...


Ale tiba di tempat gym yang cukup terkenal. disana ia disambut instrukturnya.


Ale sempat melakukan pemanasan ia akan menjalani latihan untuk membakar lemak perut.


Belum mulai setengah latihan Alesa gemetaran. instruktur menghentikan latihan dan meminta Ale untuk duduk dulu. wajah Ale pucat dan berkeringat dingin ia hampir pingsan.


"Ada apa ini?" suara bariton seorang pria terdengar di telinga Ale. ia mendongakkan wajahnya dan mendapati Victor yang merupakan kolega papanya ada di tempat itu.


Sepertinya Victor juga baru saja akan memulai aktivitas gym nya pagi itu. tapi karena melihat Alesa dari kejauhan ia mengurungkan niatnya dan mendekati Ale.


"Tuan Victor? anda disini?" gumam Ale tidak jelas.


"Ada apa dengannya?" tanya Victor pada instruktur yang melatih Ale.


"Sepertinya ia tidak makan apa-apa tadi sebelum latihan, jadi saat mulai latihan ia hampir pingsan"


"Baiklah liburkan saja dulu latihan mu hari ini" kata Victor pada Ale.


"Tapi aku harus melakukan latihan untuk..." Ale menahan ucapannya karena tidak mungkin menjelaskan pada pria itu jika ia sedang diet ketat untuk menarik simpati suaminya lagi.


"Ikut denganku" kata Victor.


Ale segera mengenakan jaketnya dan meraih tas hitamnya. ia berjalan tergesa mengikuti langkah Victor keluar dari tempat gym.


"Masuklah" kata Victor sembari membuka pintu mobil.


"Tapi kita mau kemana?" tanya Ale ragu.


"Ikut saja, aku tidak akan menculik mu aku kenal baik ayahmu" kata Victor.


Ale menurut saja , ia duduk di mobil sport berwarna hitam disampingnya ada Victor yang sedang mengemudi.


Mobil itu berbelok ke sebuah rumah makan yang tidak terlalu mewah. tapi disana antri banyak pembeli.


"Pasti kamu belum pernah kesini?" tanya Victor sembari tersenyum.


Rumah makan itu bertuliskan Nasi Rames dan Pecel komplit. Ale mengerutkan keningnya, ia tidak tahu kalau pemilik perusahaan seperti Victor menyukai makan di rumah makan sederhana seperti itu.


"Duduklah aku akan pesan, kamu mau apa? pecel? nasi rames atau bubur ayam juga ada" kata Victor yang sudah hafal dengan menu di warung itu.


"Makanan seperti apa itu? hanya sayur saja?"


"Bukankah sayur lebih sehat?" tantang Ale.


"Baiklah kalau begitu"


Tidak berapa lama pesanan datang, sang pemilik rumah makan sendiri yang mengantarkannya ke meja Victor dan Ale. pemiliknya sudah ibu-ibu paruh baya tapi masih terlihat cantik dan bersih.


"Silahkan tuan, tumben sekali kemari mengajak istrinya" kata pemilik rumah makan.


Apa?! istri? sembarangan sekali ibu ini ...-Ale-


Victor tersenyum tidak menjawab apapun ia malah asyik menyendok makanannya. sementara Ale di hadapannya hanya ada sepiring kecil sayuran tanpa bumbu kacang dan lainnya.


Victor sendiri memesan pecel komplit dengan gorengan, telur dadar dan kerupuk.


Ale heran darimana badan sebagus itu Victor miliki kalau cara makannya saja bar-bar seperti itu.


"Kenapa tidak makan?" tanya Victor menghentikan kunyahannya.


"Enggak cuma heran saja anda biasa makan seperti ini?"


"Iya, kenapa?"


"Tapi kenapa tubuh anda bisa sebagus itu? seperti tidak berlemak" tanya Ale polos.


Victor menahan tawanya, ia menyeruput teh tawar di depannya.


"Aku suka kuliner yang enak, kalau soal badan bukankah ada gym?"


"Tapi...."


"Sekarang aku tanya kenapa kamu hanya memakan sayur seperti itu saja? kamu sedang diet atau sedang menyiksa dirimu? jika tadi benar-benar pingsan bagaimana?"


Alesa terdiam mengamati sayuran di hadapannya. ia begitu ingin makan enak tapi kali ini Ale harus menahan hasrat makannya.


"Apa kamu takut gemuk karena suamimu?"


Ale tersedak air putih yang ia minum dari botol langsung.


"Wanita terpelajar sepertimu seharusnya bisa bertindak lebih baik bukan bersikap ceroboh dengan diet yang menyengsarakan seperti itu"


Victor menghabiskan makanannya, lalu mengantarkan Ale pulang.


Hendra yang kebetulan libur dan baru bangun melihat mobil Victor berhenti di depan rumahnya.