Black Tears

Black Tears
Part 19



Ale tidak menyangka Victor yang biasanya terlihat pendiam dan tidak peduli ternyata sangat ramah pada Ale.


"Sayang kenapa dia bisa mengantar mu pulang?" tanya Hendra sembari mengejar langkah Alesa menuju kamar.


"Tadi tidak sengaja bertemu di tempat gym mas, terus aku hampir pingsan jadi tuan Victor mengantarku pulang"


"Kamu hampir pingsan?! kenapa tidak menelpon mas?"


"Ah nggak papa kog mas, lagipula Ale nggak pingsan cuma hampir pingsan saja"


"Ale lain kali kalau kamu mau ke tempat gym kamu minta di temani sopir ya, kalau ada apa-apa kan tidak perlu merepotkan orang lain"


"Iya mas, Ale mandi dulu ya gerah" Ale tidak memperdulikan Hendra lagi. ia segera menuju kamar mandi dan membersihkan diri.


Bayangan Victor yang menasehati Ale kembali muncul di benak Ale.


Kenapa aku jadi berpikir tentang orang itu terus? dia itu misterius sekali terkadang baik terkadang jutek!


🖤🖤🖤


"Cari tahu siapa CEO baru di perusahaan Sungkono, aku sedikit ragu dengan kinerja CEO baru mereka" Victor meminta sekretarisnya untuk mencari tahu tentang Hendra.


"Baik tuan akan segera saya cari tahu tentang CEO baru Sungkono Group"


Tidak berapa lama sang sekretaris kembali membawa seorang pria muda yang biasa memberi informasi pada Victor. namanya Ryan.


"Tuan, selamat pagi" sapa Ryan dengan sopan tapi tetap cool.


"Pagi Yan, bisa kau informasikan tentang orang itu?"


Ryan mengeluarkan smartphone miliknya dan membuka sebuah file dari ponsel itu.


"Namanya Hendra, usia dua puluh delapan tahun. menjabat sebagai CEO Sungkono Group setelah menikah dengan Alesa Sungkono yaitu pewaris tunggal harta keluarga Sungkono. kinerja dari Hendra belum terlihat sampai sejauh ini tuan, ia saat ini sedang memegang tender besar dengan biaya fantastis. tapi sepertinya tender itu tidak berjalan mulus"


"Lanjutkan..."


Senyum Victor mengembang mendengar perkataan Ryan barusan. ia sudah menduga jika Hendra hanyalah sampah.


"Hmmm, apakah Sungkono dan putrinya tahu soal anak itu?"


"Tidak tuan, saya kebetulan sempat mencaritahu tentang perempuan yang merupakan ibu dari anak itu yang bernama Marisa. ia sempat memiliki hutang besar pada saudara saya dan tanpa sengaja saya mendapat info tentang dia dan Hendra"


"Dimana perempuan itu sekarang?"


"Ada di kota ini tuan, di sebuah apartemen kelas menengah"


"Lalu dimana anak mereka?"


"Saat ini di bawah pengasuhan nona Alesa Sungkono"


"Hahaha! benar-benar sampah! dia licik sekali!"


"Berapa lama kontrak kerja sama ku dengan Sungkono Group?" Victor bertanya kembali pada sekretarisnya.


"Akhir tahun ini selesai tuan, apakah saya perlu membuat kontrak baru lagi dengan Sungkono Group?"


"Tidak perlu akan aku lihat dulu jadi apa perusahaan itu dengan CEO mereka"


"Ryan, kau awasi pergerakan Hendra jika terjadi sesuatu pada perusahaan dan pada anak wanita tuan Sungkono segera laporkan padaku"


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi"


Tender besar yang di gawangi Hendra akan segera menghancurkan Sungkono Group. ia sudah menyiapkan perusahaan barunya dan tentu saja kehidupan barunya bersama Marisa dan Mikhaela.


Hendra bahkan diam-diam sudah membeli rumah baru untuk tempat tinggalnya bersama keluarga barunya nanti.


Sementara Alesa yang malang tidak mengetahui kelicikan dari rencana suaminya. ia polos saja tetap melayani Hendra dan mencintai pria itu sepenuh hatinya.