Black Tears

Black Tears
Part 20



Tuan Sungkono terlihat panik di ruang kerjanya. perusahaannya di ambang kebangkrutan. ia tidak tau menahu soal tender besar yang di permainkan Hendra.


"Bagaimana ini bisa terjadi?!" bentak tuan Sungkono pada Hendra.


"Tidak perlu membentak ku seperti itu pak tua! aku bukankah sudah bilang padamu akan memajukan perusahaan ini? memajukan waktu kehancurannya lebih cepat!"


Tuan Sungkono terduduk di kursinya sembari memegang dadanya yang terasa sesak. jantungnya berdebar begitu keras.


"Hahaha! kenapa? kau jantungan?!"


"Setelah perusahaan ini hancur aku akan menceraikan Alesa Puteri kesayangan mu itu lalu aku akan meninggalkannya dengan wanita lain!"


"Berengsek dasar kau penjahat! aku akan melapor pada polisi!"


"Percuma saja, ini urusan keluarga mana ada polisi yang mau turun tangan, lagipula aku tidak terbukti melakukan pelanggaran apapun. jika tender perusahaan gagal itu bukanlah perbuatan kriminal!"


"Sejak awal aku dan istriku tidak setuju Ale menikah dengan pria tidak tahu malu seperti mu!"


"Tenang saja sebentar lagi anak tercintamu itu akan aku tinggalkan. aku juga akan memulai hidup baru dengan istri dan anak kami nanti"


"Persetan dengan rencanamu!" tuan Sungkono semakin kepayahan.


"Oh ya anakku dengan perempuan lain justru diasuh oleh Alesa saat ini, dia adalah Mikhaela yang baru saja Ale adopsi menjadi anaknya! hahaha!"


Tuan Sungkono tumbang dan jatuh pingsan. Hendra yang tidak berperasaan itu meninggalkannya dengan sengaja tanpa menolongnya. ia malah mengunci pintu dari luar ruang kerja tuan Sungkono.


Ale yang di datangi Marisa terkejut karena Mikha mengenali Marisa sebagai ibunya.


"Apa maksud semua ini?" tanya Ale gemetar.


"Maksudnya adalah Mikha adalah anakku dengan Hendra" jawab Marisa sinis.


"Hahaha Alesa jangan terlalu polos jadi orang, kau pikir Hendra benar-benar mencintaimu begitu? sejak sekolah aku dan Hendra diam-diam sudah menjalin hubungan. lalu aku melihatmu menyukai Hendra dan aku memaksanya untuk memacarimu sampai kalian menikah. dan kamu tahu Ale saat ini bahkan Hendra sudah menghancurkan perusahaan ayahmu. tinggal tunggu jam saja kamu dan keluargamu akan jatuh miskin Ale"


Air mata Alesa berlinang deras membasahi pipi mulusnya.


Ia tidak pernah menyangka jika Hendra pria yang dicintainya melebihi dirinya tega berbuat keji dan bekerja sama dengan Marisa yang juga adalah sahabatnya.


"Kamu tidak tahu bukan jika selama ini Hendra selalu meenmuiku hingga kami memiliki satu anak?"


Bak disambar petir Alesa terduduk di lantai hatinya hancur berkeping. ia menangis menjerit merasakan penipuan yang di perbuat oleh suami dan sahabatnya sendiri.


"Marisa! apa kamu pikir kamu akan bahagia bersama Hendra?" kata Ale lirih.


Sebenarnya selama ini Alesa sudah curiga dengan Marisa dan Hendra tapi ia mencoba berpikir positif dan ternyata hatinya tidak berbohong jika memang ada sesuatu diantara keduanya.


"Tentu saja kami akaan bahagia dengan keluarga kecil kami dan kami Ale selamat meratapi hidup barumu. oh ya Hendra sudah mengurus surat perpisahan kalian kamu tinggal tanda tangan saja. mulai hari ini dia tidak akan pulang ke rumah ini lagi"


Alesa menangis terisak di lantai, ia seperti tidak memiliki tenaga secara tiba-tiba Marisa mendatanginya dan langsung mengungkapkan semua kebohongannya bersama Hendra.


Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa aku bisa seperti ini mama, papa..


Di tengah kepiluannya mama menelpon jika papa masuk rumah sakit karena jantungnya bermasalah.


Ale seperti terjatuh di timpa tangga bertubi-tubi. ia bergegas ke rumah sakit menemui mamma dan papanya..


Setibanya di rumah sakit mama dengan. terisak menjelaskan semua, apa yang terjadi dengaan papa dan Sungkono Group.


Ingin menangis lagi pun Ale sudah tidak sanggup rasanya. ia ahanya terdiam sembari memeluk mamanya.


Victor yang memperoleh informasi dari Ryan segera bertindak. ia mengupayakan penyelamatan Sungkono Group dengan diam-diam mengakuisisi dan mengubah nama perusahaan.