Black Tears

Black Tears
Bab 3



Bulan madu adalah kata yang jauh dari harapan Ale. Sejak menikah belum lama ini Hendra semakin sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak ada waktu untuk pergi berbulan madu.


Hendra dan Alesa masih tinggal di rumah ibu Nitha. Seminggu lagi renovasi baru selesai dan mereka baru bisa pindah ke rumah barunya.


Selama tinggal di rumah ibu Nitha, semua terasa berbed tidak sama saat Alesa tinggal di rumah mama dan papanya.


Alesa yang terbiasa bangun sedikit siang harus mulai bangun pagi hari untuk menyiapkan sarapan Hendra sebelum ke kantor. Ia juga membantu mencuci piring, membereskan rumah dan memasak.


Tak jarang Alesa melakukan kesalahan yang membuat Bu Nitha marah.


Seperti pagi itu sewaktu mencuci piring Alesa tidak sengaja menjatuhkan mangkuk kesayangan Bu Nitha.


"Ale apa yang kamu lakukan?!"


"Maaf Bu Ale tidak sengaja"


"Ini kan mangkuk kristal kesayangan ibu!"


"Iya Bu Ale minta maaf Bu"


"Yasudah jangan di ulangi lagi"


Rasanya Ale sudah tidak tahan berada di rumah itu seminggu lagi. mengadu pada Hendra pun percuma pasti Hendra tidak akan menggubrisnya.


Siang itu Alesa memutuskan keluar rumah untuk ke cafe bertemu Marisa. Ia tidak meminta izin pada Bu Nitha ibu mertuanya.


"Jadi kamu merasa tidak betah di rumah mas Hendra?"


"Bukan begitu Sya mungkin aku yang belum terbiasa dengan kehidupan di luar keluarga ku"


"Tapi kalau aku jadi kamu mungkin juga tidak betah, secara apa-apa di rumah kamu serba di layani dan sekarang kamu harus melayani"


"Aku tidak sabar ingin segera pindah ke rumah baru kami"


Di tengah obrolan Alesa dan Marisa ponsel milik Alesa berbunyi. Hendra menelponnya untuk segera pulang.


"Mas Hendra sudah di rumah, jadi aku harus segera pulang"


"Baiklah, sampai jumpa" setelah cipika cipiki dengan Marisa, Ale segera menuju mobilnya dan bergegas pulang ke rumah ibu mertuanya.


"Ale darimana saja sayang? kenapa tidak pamit pada ibu?" Ale hanya terdiam saat Hendra bertanya padanya.


Ale berjalan menuju kamar melewati ibu Nitha yang tengah duduk di sofa membaca majalah.


"Sabar lah Bu, Ale mungkin jenuh berada di rumah"


"Maksud kamu dia bosen ada di rumah ibu?"


"Sudahlah Bu Hendra lelah" Hendra bergegas masuk ke dalam kamarnya menyusul Alesa yang tengah duduk diam di atas ranjang.


Hendra terlihat panik saat tahu Ale sedang telpon dengan mamanya.


"Sayang aku mau bicara sebentar saja" kata Hendra mencoba mengalihkan agar Alesa tidak mengadu pada mamanya.


"Iya mas" Ale mematikan telepon dan mendengarkan Hendra.


"Sayang besok rumah baru kita sudah siap di tempati jadi kita bisa mulai pindah secepatnya"


"Benar mas?"


"Iya sayang"


Wajah Alesa yang tadinya muram kini berubah cerah dan senang. ia tidak sabar untuk tinggal bersama Hendra di rumah barunya.


"Sayang kalau sesekali ibu ku berkunjung ke rumah kita boleh kan?"


"Boleh mas...Alesa senang saja kalau ibu mau berkunjung sesekali"


Hendra mengecup kening Ale dengan mesra. Sepertinya keduanya malam ini tidak akan tidur awal.


Ale bersiap dengan baju tidur sexy nya dan Hendra sudah selesai mandi.


Tiba-tiba pintu kamar di ketuk. Ibu Nitha menahan sakit asam lambungnya kambuh.


"Ale tolong ibu..."


"Ibu kenapa? ibu kesakitan?"


"Perut ibu sakit Ale"


"Mas kita bawa ibu ke rumah sakit saja"


Hendra dan Alesa bersiap membawa Bu Nitha ke rumah sakit. malam itu tidak terjadi apa-apa pada pengantin baru itu karena menjaga ibu mereka yang sedang tidak enak badan.