
"Mas kalau besok aku periksa ke dokter kandungan boleh nggak?" tanya Alesa setelah ia selesai melakukan hubungan dengan Hendra.
"Kenapa sayang? kamu hamil?" Hendra terkejut dan langsung memandang wajah Alesa yang bersandar di dadanya.
"Justru karena aku belum hamil juga mas, aku mau periksa. boleh ya?"
"Iya boleh sayang, tapi kita menikah juga belum ada satu tahun kamu santai dulu"
"Ale ingin secepatnya memiliki momongan mas"
"Mas juga sayang, ingin segera dapat keturunan dari kamu"
🌵🌵🌵
Paginya sebelum ke cafe Ale memutuskan untuk membuat janji dengan dokter kandungan. Ia akan memeriksakan dirinya lebih dulu baru jika dokter meminta Hendra untuk periksa juga Ale akan mengajak suaminya.
"Hati-hati ya sayang, jangan khawatir mas yakin kita bisa memiliki keturunan secepatnya" kata Hendra sebelum berangkat bekerja. Ia mengecup kening Ale yang pagi itu juga sudah tampil rapi dan wangi.
"Iya mas"
"Sayang kamu minta di antar supir saja ya"
"Aku pergi dengan mama mas, nanti kita pakai supir kok"
"Ya sudah nanti telepon mas ya kalau kamu sudah tiba di rumah sakit"
"Iya mas"
Hendra menjalankan mobilnya meninggalkan rumah.
Sementara Ale segera menelpon mamanya minta untuk segera di jemput.
"Ma Ale udah siap" kata Ale di telepon.
"Iya sayang, mama jalan sekarang" sahut mamanya.
Ale menunggu sembari membuat teh dulu. sebenarnya ia suka minum kopi tapi karena takut mengganggu kesuburan jadi Ale berhenti minum kopi untuk sementara.
Tidak berapa lama mama tiba di rumah Ale. keduanya bergegas menuju rumah sakit tempat Ale janjian dengan dokter kandungan.
"Ale mama yakin kamu subur kok, kenapa harus periksa segala?"
"Ah mama, Ale mau check biar tahu kenapa belum juga hamil. Ale sudah empat bulan menikah dengan mas Hendra ma"
"Empat bulan itu belum lama Ale bahkan ada yang sampai bertahun-tahun"
"Ya karena itu jangan sampai bertahun-tahun mam, Ale takut kehilangan mas Hendra kalau Ale nggak bisa hamil. Mas Hendra sangat ingin memiliki keturunan ma"
Nyonya Sungkono terdiam, ia sebenarnya tidak masalah kalau Hendra pergi meninggalkan Ale. Lagi pula ia tidak begitu suka dengan menantunya itu terasa seperti ada yang mengganjal di hatinya.
"Ma...kok diam?"
"Itu perasaan mama saja, mas Hendra conta banget kok sama Ale ma"
"Iya..iya semoga itu hanya feeling mama saja"
"Mama jangan bandingkan seperti mama dan papa dong kalau papa kan bucin sama mama"
"Hahaha kamu benar Ale papamu memang bucin, penyayang, baik hati dan hangat"
Nyonya Sungkono hampir terharu membayangkan kebaikan suaminya selama ini dan ia berharap Alesa juga bisa di cintai sepenuh nya seperti papa dan mamanya.
Mobil berbelok di pelataran parkir rumah sakit. Alesa dan mamanya segera menuju ruang praktik dokter spesialis kandungan.
Prosedur pemeriksaan tidak bisa di lakukan hanya sekali. perlu beberapa kali lagi untuk menganalisa dan mengambil kesimpulan.
Dokter sebenarnya juga mengatakan jika masih terlalu dini untuk Ale terlalu khawatir. karena usia pernikahannya yang juga masih seumur jagung.
"Tuh kan mama bilang juga apa? dokter juga bilang kan kamu terlalu tergesa-gesa, dokter bilang kamu jangan sampai stress Ale nanti malah mengganggu kesuburan kamu karena hormon mu tidak stabil"
"Iya mama ku sayang, yuk sekarang kita ke AleStar"
"Ayo lah mama juga pingin minum kopi"
"Tapi Ale nggak ngopi ya mam"
"Iya"
Ale dan mama nya pergi ke cafe setelah selesai pemeriksaan di rumah sakit.
🌵🌵🌵
"Kamu hamil?!!" Hendra tercekat dan langsung pucat mendengar Marisa mengatakan jika dirinya hamil anak Hendra.
"Kenapa sayang? harusnya kamu senang dan bertanggung jawab pada anak ini nanti"
"Marisa tapi ini terlalu tiba-tiba"
"Tiba-tiba? memangnya kamu tidak menghitung berapa kali kita berhubungan?"
"Marisa bagaimana jika Ale tahu?"
"Ceraikan dia dan nikahi aku!"
"Kamu gila Marisa! mana mungkin aku menceraikan Alesa?! kamu mau makan apa nanti? kamu mau hidup mu sengsara?"
"Apa maksud kamu?"
"Marisa kamu tahu sendiri bukan aku menikahi Ale karena harta keluarganya. setelah aku dapatkan baru kita akan bersama. kalau aku belum mendapat apa-apa kamu juga akan rugi!"
"Lalu bagaimana Hendra?! aku hamil aku malu hamil tanpa suami" Marisa terisak sedih. Hendra menenangkannya dan memintanya bersabar. ia akan mencari solusi terbaik untuk mereka bertiga.