
Tuan Sungkono menghembuskan napas terakhirnya setelah di rawat beberapa jam di rumah sakit. Mama memeluk erat Ale sembari terisak tidak berdaya.
Ini semua salah ku! Jika saja dari awal aku tidak menikahi pria bajingan itu mungkin sekarang keluargaku akan baik-baik saja!
Ale sudah tidak ingin menangis lagi. Melihat mama hati Ale begitu sakit dan pilu. Ia termenung diam di samping jasad papanya.
Tuan Sungkono di semayamkan di pemakaman keluarga. Mama tak henti menangis bahkan sempat pingsan. Sementara Ale ia terlihat lebih tegar menghadapi semua yang menimpa dirinya.
"Saya ikut berduka, nona Alessa" Ale mendongakkan wajah lelahnya memandang seorang pria berkaca mata hitam berdiri di sampingnya. pria itu adalah Victor.
"Terimakasih tuan" jawab Ale pendek. Ia kembali terpekur memandang gundukan tanah merah tempat jasad papanya bersemayam.
"Jika kau sudah merasa lebih baik, bisakah menghubungiku? Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting tentang perusahaan ayah mu"kata Victor.
Ale mengangguk tanpa memandang Victor.
Victor berjalan meninggalkan pemakaman di iringi Ryan. Keduanya berjalan menuju mobil. Sepanjang perjalanan pulang Victor banyak terdiam, ia seperti sedang berpikir dan merencanakan sesuatu.
"Kasihan sekali gadis itu..." gumam Victor.
Ryan melirik spion memandang tuannya sembari mengangguk pelan.
"Apa rencana tuan?" tanya Ryan sembari fokus mengemudi.
"Seperti rencana sebelumnya, aku akan mengembalikan Sungkono Group pada Alessa. Setelah itu aku akan membantunya menghancurkan pria menyedihkan yang menjadi suaminya itu!"
"Apa keparat itu sudah memproses berkas cerai dengan Alessa?"
"Setahu saya sudah tuan, bahkan dia sudah tinggal bersama wanita simpanan beserta anak mereka"
"Brengsek!" Victor mengepalkan tangannya. Ia tidak tahu kenapa ia merasa semarah itu melihat Alessa menderita. Mulutnya berkata hanya merasa kasihan dan iba karena itu ia membantu Alessa. Tapi hati Victor berkata lain. Ia menyimpan ketertarikan pada gadis itu sejak bertemu pertama kali.
"Tapi untuk mengakuisisi perusahaan Sungkono apa anda siap menikahi nona Alessa?"
Victor terdiam mendengar pertanyaan Ryan. jalan satu-satunya untuk melegalkan perusahaan tersebut dan mengganti namanya adalah dengan menikahi pewaris tunggal perusahaan itu.
"Aku tidak setengah-setengah jika ingin membantu orang lain. bagiku Sungkono bukan hanya rekan bisnis tapi ia seperti guru untuk ku"
Ryan mengangguk sembari memandang lurus ke depan.
Saya harap dengan menikahi Alessa anda bisa merasakan kebahagiaan tuan. semoga suatu hari kalian bisa saling mencintai dan mendampingi sampai akhir.
***
Dua hari setelah pemakaman sang ayah, Ale pergi menemui Victor di perusahaan milik pria itu. ia mengenakan stelan sederhana berwarna hitam. rambutnya ia potong pendek, Ale memantapkan hatinya untuk menjadi wanita kuat. tidak ada waktu untuk bersedih lagi. ia harus bisa mempertahankan perusahaan yang di bangun ayahnya dengan susah payah.
"Selamat pagi, saya ingin bertemu tuan Victor" kata Ale pada resepsionis di loby.
"Apa anda sudah mengadakan janji bertemu dengan tuan Victor?"
Ale menggeleng ragu, ia lupa jika Victor adalah pria sibuk dengan segudang aktivitas kerja. tentu bertemu dengannya tidak mudah.
"Permisi tuan, anda asisten pribadi tuan Victor bukan? saya ingin bertemu dengan tuan Victor"
Ryan memandang Ale dengan senyum samar.
"Silahkan ikut dengan saya nona"
Alessa berjalan mengikuti langkah Ryan memasuki lift menuju lantai enam belas.
Ryan mengetuk pintu sebuah ruangan kerja yang besar. seseorang mempersilahkannya masuk.
"Silahkan nona, tuan ada di dalam" kata Ryan sembari membukakan pintu untuk Ale.
Ale memasuki ruang kerja Victor, ia tercengang dengan interior ruangan itu. sangat modern, bersih, rapi dan di dominasi warna putih.
Victor yang sejak tadi tampak sibuk kini ia mengalihkan perhatiannya dari laptop nya kepada gadis yang berdiri canggung di depan meja kerjanya.
"Maaf mengganggu anda" kata Alesa.
"Tidak masalah, memang aku yang memintamu menemuiku. silahkan duduk" kata Victor mempersilahkan Ale duduk di sofa berwarna putih. ia sendiri beranjak dari kursi kerjanya dan berjalan menuju sofa.
"Hmmm katakan Ale apa kau butuh bantuan ku?"
Ale mengangguk ia masih tidak berani memandang Victor yang kini sedang melihat wajahnya.
"Saya yakin anda tahu tentang permasalahan yang sedang saya hadapi dan anda satu-satunya yang bisa membantu saya"
"Untuk mempertahankan perusahaan milik ayahmu aku bisa saja membantu mu Ale, tapi untuk mengambil alih perusahaan itu dari tangan mantan suamimu aku perlu menikah denganmu"
Mata bulat Ale terbelalak mendengar ucapan Victor.
"Karena kau adalah pewaris tunggal jadi aku harus menikahimu untuk mendapat hak atas perusahan itu. tenang saja aku tidak akan mencurangimu begitu perusahaan sudah kembali padamu kita akan berpisah"
Ale terdiam, ia ******* ***** jemarinya. wajahnya terlihat gelisah. trauma pernikahan membayang di benaknya. tapi bukankah pria itu hanya menikahinya untuk sebuah kesepakatan.
"Baiklah saya setuju menikah dengan anda, silahkan tentukan harinya"
Victor mengangguk perlahan sembari tersenyum samar. ia tidak menyangka gadis di hadapannya begitu kuat dan berani.
"Baiklah semakin cepat kita melangsungkan pernikahan itu akan semakin menguntungkan untuk mu"
Ale mengangguk, ia mengulurkan tangannya pada Victor pertanda tercapai kesepakatan bersama.
Victor sempat tertawa kecil melihat tingkah Ale, ia menjabat tangan Ale.
"Ryan akaan mengurus semua surat perjanjian kita jadi kau jangan khawatir jika aku akan mengambil keuntungan pribadi dari situasi ini"
Ale kembali mengangguk lalu ia pamit dan meninggalkan ruang kerja Victor.