Black Tears

Black Tears
Bab 2



Acara pernikahan Alesa dan Hendra akan segera di mulai. Pagi itu semua keluarga inti sudah berkumpul.


Terlihat perbedaan yang begitu mencolok diantara dua keluarga.


Keluarga Alesa terlihat sangat bahagia dan menikmati prosesi pernikahan itu. sementara keluarga Hendra terlihat biasa saja termasuk Hendra yang juga terlihat antara bahagia atau biasa saja.


Selesai acara akad dilanjutkan dengan resepsi mewah. Banyak teman dan kolega dari keluarga Sungkono hadir. dan di acara itu pula sekaligus tuan Sungkono mengumumkan sesuatu yang fantastis bagi Hendra.


"Hendra Baskoro sekarang adalah menantu saya, karena itu ia akan saya beri jabatan sebagai wakil CEO di Sungkono Group"


Seketika wajah Hendra terlihat senang tak terkira. Berbeda sekali saat akad dan resepsi tadi ia nampak biasa saja.


Beberapa kolega berbisik membicarakan kualitas Hendra yang mendadak diangkat sebagai wakil CEO perusahaan besar.


"Silahkan Hendra kamu beri sambutan pada para hadirin" kata tuan Sungkono.


"Baik pa..." Hendra dengan penuh percaya diri menaiki podium dan segera memberi sambutan. Tepuk tangan terdengar riuh di ruangan itu.


Alesa merasa senang dengan posisi baru Hendra di Sungkono Group.


Marisa berdiri di sudut ruangan memandang Hendra yang terlihat bahagia dengan keberhasilannya menduduki peran penting di perusahaan besar seperti Sungkono Group.


"Selamat sayang" Alesa mengecup pipi Hendra begitu suaminya itu berjalan mendekatinya.


"Iya sayang, ini berkat papa" kata Hendra. ia senang mertuanya pengertian jadi dia tidak perlu bersusah payah meyakinkan mertuanya untuk memberinya posisi penting di perusahaan.


Setelah selesai acara resepsi pernikahan, nyonya Sungkono terlihat mengajak bicara suaminya.


"Pa kenapa papa langsung memberikan posisi penting itu pada Hendra? apa dia mampu pa menjadi wakil CEO?"


"Ma Hendra itu sekarang menantu kita, setelah menikah Alesa akan tinggal bersama Hendra. Papa mau Alesa terjamin hidupnya dan apa mama mau punya menantu yang masih seorang karyawan biasa?"


"Iya juga sih pa"


"Sudahlah mam jangan cemas..."


Sehari setelah pernikahan Hendra mengajak Alesa ke rumah orang tuanya sembari menunggu rumah baru mereka siap di tempati.


Rumah baru mereka adalah hadiah dari tuan Sungkono. Rumah itu berada di komplek elite dan harga tanahnya mahal.


"Ale mama pasti kesepian setelah kamu ikut Hendra" kata Nyonya Sungkono sambil menata baju Alesa kedalam koper besar.


"Ma, sekarang Ale sama seperti mama yang bertugas mendampingi papa kemanapun pergi. nanti mama bisa berkunjung ke rumah Ale dan Ale juga bisa pulang ke sini kapan pun mama dan papa mau"


Nyonya Sungkono mengangguk tapi tetap terlihat sedih.


"Sudah siap sayang?" Hendra masuk kedalam kamar dan mengangkat koper milik Ale ke dalam mobil.


"Ma ..pa Ale pamit dulu ya"


"Hendra jaga Ale ya " kata tuan Sungkono yang diam-diam menahan kesedihannya.


"Pasti pa, Hendra akan menjaga Alesa dengan sebaik mungkin"


Mobil Hendra melaju menuju rumah ibu Nitha. sepanjang perjalanan keduanya mengobrol dan bercanda. Hendra memang jarang bercanda dan lebih terlihat kaku tapi sekarang karena moodnya sedang bagus ia meladeni semua omongan Alesa"


"Sayang yuk, ibu sudah menunggu kita"


"Ayo"


Bu Nitha menyambut menantunya yang baru saja tiba di rumahnya.


"Maaf ya Ale rumah ibu tidak sebagus dan senyaman rumah orang tua kamu"


"Nggak apa Bu, yang penting Ale nyaman kok tinggal sementara di rumah ibu"


Ale tidak tahu apa yang akan dia hadapi kedepannya nanti. Ale pikir tinggal di rumah suaminya sama seperti saat ia berada di rumah orang tuanya.