Black Rose From Fans

Black Rose From Fans
Capter 8 Alasan



Rendi yang lebih tenang dari sebelum nya langsung membuka pintu gedung dan melangkahkan kakinya untuk masuk kegedung yang telah bersih. Rendi merasa kagum atas kerja Rose yang membuat gedung kotor dan menjijikan menjadi rapi dan bersih. Suasana di dalam gedung tersebut mulai memunculkan aura kehidupan kembali.


Tampa Rendi sadari sebuah lengkungan tercipta di wajahnya dan memuji Rose di dalam hati.


"Bagus juga kerja Rose, benar-benar calon istri idaman tapi sayang fisiknya ngak bagus dengan pekerjaanya"(Guman Rendi dalam hati)


Detik selanjut Rendi tersadar dari lamunannya, sambil menggerutukan diri sendiri, bisa-bisanya dia berpikir untuk menjadikan Rose sebagai daftar salah satu istri idaman.


"Ahh.... udah gila kayanya gue, bisa-bisa gue mikirin siburuk rupa"


"Dahlah yang penting lanjutin cari mereka"


"Dari pada di sini sendirian makin kayak orang gila gue"


Dengan melangkah kaki menaiki anak tangga, Rendi berjalan dengan gaya sombongnya serta tak lupa dengan wajah yang dingin. Hingga sampailah Rendi di sebuah ruangan yang paling akhir, disana terdapat kedua sahabatnya dengan gaya seorang bos, yang sedang memerintah Rose. Rose yang melihat sandiwara kedua sahabat Rendi hanya diam, sebelum akhirnya Rendi mulai bersuara dengan gaya yang dingin untuk berpura-pura menanyakan pekerjaan Rose.


"Gimana kerjaan si pembantu gue?"


Ze dan Zian saling mengisyaratkan satu sama lain lewat tatapan dan menjawab secara bersamaan agar Rendi tidak curiga kalau mereka sedang bersandiwara.


"Lumayan lah Ren"


Rendi mulai bertanya lagi seakan-akan ia belum mepercayai kata kedua sahabatnya dan mencari kesalahan Rose, namun dalam hati Rendi menahan gugup karena melihat wajah Rose yang terus menunduk.


"Dia ngak buat masalahkan?"


"Aduh gimana? gue pengen banget nanyain sama Rose apa yang dilakuin oleh kedua teman laknat gue, dia ngak macam-macamkan"


"Apa Rose diancam?"


"Kenapa Rose dari tadi sering menunduk?"


(Guman Rendi dalam hati)


Kedua teman Rendi menjawab dengan pasti untuk meyakinkan Rendi.


"Ngak kok Ren, mana berani buruk rupa buat masalah sama kami"


Rendi menggangukkan kepala dan menjawab dengan senyum kepada kedua sahabatnya, namun dengan mata yang masih melihat Rose.


"Bagus kalau gitu, kalau dia tau diri"


Rose yang mendengar interaksi dari mereka hanya diam dan sebelum akhirnya Rose bersuara sambil mengakat kepala untuk menghadap Rendi. Sambil meremas jari-jari tangan secara kasar dan nenghadap wajah datar Rendi yang tepat di hadapannya.


"Ren kan hukaman aku udah, jadi aku bolehkan pergi dari sini?"


Rose yang melihat wajah Rendi yang tiba-tiba berubah menjadi sedikit tidak senang dan semakin datar hanya bisa menundukan kembali wajahnya, Rendi mulai bersuara untuk menjawab pertanyaan Rose.


"Ngak boleh"


Jawab Rendi singkat, masih dengan wajah datarnya.Rose yang binggung bertanya kembali.


"Kenapa Ren? bukannya hukuman yang kamu berikan sudah aku kerjakan"


Rendi binggung menjawab pertanyaan Rose, karena jujur saja Rendi tidak tau alasan apa yang membuatnya tidak rela untuk membiarkan Rose pergi.


"Gue ngak tau Rose, kenapa gue gak bisa biarin lo pergi ada rasa gak rela di hati"( Guman Rendi dalam hati)


Rose yang masih menatap Rendi dengan menunggu alasan apa yang membuat Rendi tidak mengizinkan dia pergi.


Rendi yang melihat Rose menatap kearah dirinya untuk menunggu jawaban akhirnya bersuara.


"Karena menurut gue gedung ini masih belum bersih semuanya"


Rose yang mendengar pernyataan Rendi terkejut dan juga kedua sahabatnya, mereka bertiga menatap Rendi dengan tatapan heran. Sebelum akhirnya mereka bersuara bersama dengan pertanyaan yang beruntun.


"Mana Ren yang belum bersih?"


"Lo sakit Ren?"


" Lo ngak rabunkan Ren?"


Rendi yang mendapat pertanyaan berutun, sengera mengelak agar tidak disalahkan dan di curigai.


"Kalian semua kalau nanya satu-satu kan jadinya gue binggung mau jawab yang mana duluh"


Rose yang mendengar jawaban Rendi yang tertuju kepadanya, akhirnya Rose mejawab dengan penuh pembelaan.


"Kan kamu bilang tadi cuman gedung Ren bukan semuanya yang ada di sekitar gedung juga"


Rendi yang mendapat jawaban bantahan dari Rose, mulai bersuara agar tidak disalahkan


"Suka-suka gue la mau ngerubahin hukumannya, yang disini jadi majikan.


" gue bukan lo!!"


Ze dan Zian melihat tingkah Rendi yang sedikit aneh dari biasanya mulai bersuara lagi.


"Benar kata Rose, Ren kan lo cuman suruh bersiin gedung bukan semuanya yang ada di sekitar gedung"


Zian juga menimpal perkataan Ze


" Nah benar banget tu kata Ze Ren, biasnya lo ngak pernah kaya gini"


Zian bertanya dengan tatapan penuh selidik, Rendi yang menyadari tatapan kedua sahabatnya langsung menetralkan keterkejutnya.


"Iya kok bisa-bisa gue begini"(Guman Rendi dalam hati)


Rendi mulai bersuara setelah pikiran mulai jernih agar kedua sahabatnya tidak curiga.


"Ngak kok gue biasa aja, kalian aja yang sotoy"


Dengan tatapan yang dingin untuk menutup kegugupan yang ada dalam hati, karena tak ingin meninggalkan kecuringan yang jelas akhirnya dengan berat hati. Rendi memperbolehkan Rose untuk pergi meninggalkan Gedung.


"Dah,, karena hari ini gue lagi baik lo gue izinkan pergi dari gedung ini dan ingat kalau sampai sekali lagi lo berbuat kesalahan yang sama gue akan hukum lo yang lebih berat.


Rose yang medengar perkatan Rendi telah mengizinkan untuk pergi maka langsung mengangkat kepalanya keatas sambil tersenyum dan tak lupa pula mengucapkan terimakasih.


"Makasih ya Ren, udah memberikan keringanan hukuman untuk aku"


"Aku janji ngak akan telat datang lagi"


Rendi melihat senyum dan kata "terimakasih" kepada Rose terpesona seketika.


"Manis"( Guman dalam hati)


Sebelum akhirnya Rendi sadar dari lamunannya


" iya, awas lo telat lagi"


"Ngak Ren aku ngak akan telat lagi, ini pertama dan terakhir kalinya aku telat datang semasa jadi pembantu kamu"


Rendi menganguk dan Rose mulai melambaikan tangan sambil berkata dengan ketiga pemuda di belakang.


"Dah ... sampai ketemu lagi semuanya"


Setelah kepergian Rose mereka bertiga duduk dan mulai berbicara serta dihiasi dengan candaan


(Sementara disisi lain)


Rose mulai mengambil ponsel yang ada didalam tasnya dan langsung membuka aplikasi taksi online, 15 menit kemudian taksi yang ditunggu sampai didepan gedung. Pak taksi mulai bertanya dengan sopan kepada pelanggannya.


"Dengan mbak Rose?"


Rose menganguk sambil berbicara.


"Iya pak"


Setelah Rose naik keatas taksi yang ia pesan secara online,taksi melaju dengan kecepatan sedang. Rose hanya membuka kaca mobil taksi sedikit, sambil melirik kota jakarta yang tidak terlalu macet.


Sudah 10 menit taksi berhenti tepat didepan kampus Rose, dengan cepat Rose membuka pintu taksi sambil sedikit berlari di koridor kampus untungya saat itu karidor kampus sudah sepi. Dengan nafas yang tersenggal-senggal Rose berhenti tepat didepan pintu kelasnya, sambil mencoba mengatur nafas dan mengambil nafas.


"Hu....hu ..hu..hu"


Dengan cepat Rose mengambil nafas dan membuangnya secara perlahan, Setelah merasa lebih teratur Rose melangakah masuk didalam kelas.


"Syukur aku ngak telat mata kuliah kedua, walaupun mata kulia Pak Wisnu aku ngak ikut"


(Guman Rose dalam hati dengan sedikit kecewa diraut wajanya).