Black Rose From Fans

Black Rose From Fans
Capter 5 Alarm Sialan



Seorang gadis cantik, tengah duduk di kursi taman sambil membawa boneka dan sekuntung bunga mawar hitam. Namun tiba-tiba ada segerombolan anak-anak nakal yang melintas di depan gadis tersebut, dan menggangu gadis yang duduk di taman sendiri.


"Hai adik manis, bolehkah kakak kenalan dengan mu ?"


Salah satu dari mereka yang memiliki tubuh paling besar bertanya dengan Rose, yah mungkin dia ketua gerombolan anak tersebut. Rose hanya diam dan tak menjawab perkataan anak itu.


"Hai.. apakah kamu menolak berkenalan dengan ku ?"


Dengan nada yang sudah mulai sedikit meninggi anak tersebut berbicara, karena gadis yang berada di depannya tak kunjung menjawab pertanyaannya. Rose yang mendengar suara yang mulai meninggi hanya diam, dengan meremas-remas jari tangan secara kasar. Akibat menahan takut dan gugup.


Karena tak kunjung mendapatkan jawaban akhirnya anak bertubuh paling besar tersebut, menyuruh anggotanya untuk mengambil boneka dan bunga mawar hitam. Ditangan gadis itu.


"Zeo ambil boneka dan bunga mawar yang ada ditangan adik manis itu, agar dia mau berbicara"


Zeo yang mendengar perintah dari ketua, langsung segera merebut paksa bunga mawar hitam dan boneka teddy yang ada di tangan gadis kecil itu. Melihat anak kecil laki-laki yang tubuhnya lebih kecil dari pada yang di depan mata, berjalan menghampirnya. Gadis tersebut mulai mengeratkan pegangan dan menggam dengan sekuat tenaga, maka terjadilah aksi tarik menarik diikuti isak tangis gadis tersebut yang tangannya sudah mengalirkan darah. Akibat goresan dari tangkai bunga mawar yang berduri.


"Hu...hu..... jangan kak aku mohon"


Dengan tangan yang masih menarik boneka dan setangkai bunga mawar hitam, gadis itu memohon sambil menangis. Melihat gadis manis yang tak mau bicara kepada dirinya, menangis sambil memohon. Anak kecil yang bertubuh paling besarpun tersenyum penuh kemenangan dan mulai berbicara lagi


"Aduh... gadis cantik kok nangis, sini sama kak"


Mendengar perkataan seorang anak yang bertubuh paling besar, menawarkan diri untuk membantunya dengan senyuman menakutkan.


"Ayo sini manis, kok gak mau sih"


Anak yang bertubuh gempal itu semakin mendekat, sampai gadis kecilpun berteriak dan minta tolong.


"To.....long, to....long, siapapun yang ada disini tolong aku"


Dengan suara bergetar dan masih terdengar suara isak tangis, gadis kecil yang menahan ketakutan dan tangan yang sudah banyak mengeluarkan darah.


(Sementara disisi lain )


seorang anak laki-laki tampan yang sedang bermain di taman, dengan membawa sepeda untuk mengitari sekeliling taman. Namun di saat dia melewati taman bunga mawar, terdengar suara seseorang yang meminta pertolongan.


Karena penasaran dan kasihan mendengar suara tolong anak kecil yang bernada ketakutan, akhirnya anak laki-laki tersebut memberanikan diri, untuk mengajak ayahnya mencari asal sumber suara, hingga sampai lah mereka di tempat sumber suara tersebut berasal.


"Ayah...ayah, lihat itu ada adik kecil yang menangis sambil memegang setangkai bunga mawar hitam dan boneka teddy, dengan wajah ketakutan dan tangannya berlumuran darah"


Ayah anak kecil itupun mencari arah pandangan mata putranya.


"Dimana sayang ?"


Beno bertanya lagi kepada anak semata wayangnya


"Itu ayah, di bangku taman mawar itu"


Anak laki-laki tersebut menunjuk kearah segerombolan anak-anak nakal, dan seorang gadis cantik yang tengah menangis. Beno hanya termenung beberapa saat melihat kejadian itu, sebelum akhirnya. Suara putranya membuyarkan lamunan Beno dan menarik tangan kearah gadis kecil dan segerombolan anak nakal tersebut.


"Ayo.... ayah kita tolong adik kecil yang manis itu"


"Eh... ya..ya"


(Sementara disisi lain)


Gadis kecil tersebut, semakin ketakutan dan tubuhnya mulai tak seimbang.Karena terlalu banyak menangis dan diikuti darah segar mengalir digoresan tangan, yang membawah setangkai bunga mawar hitam.


Hingga datanglah Beno dan putranya, Beno mulai bersuara untuk mengusir segerbolan anak-anak nakal.


"Hei kalian, mengapa kau gangu putri saya ?"


"Apa kalian mau saya memberi tahu kelakuan, kalian kepada orang tua kalian ?"


"Atau kedua orang tua kalian, mau saya tuntut atas kelakuan kalian ?"


Mendengar pernyataan dari ayah Beno, anak yang paling besar tersebut memberikan perintah untuk mundur dan pergi dari tempat gadis cantik itu. Namun sebelum kepergiannya, dia berbicara bahwa kelak kita akan bertemu lagi.


"Dah lah pergi aja dari sini, by by adik cantik" sambil melambaikan tangan.


"Ingat urusan kita belum selasai cantik, kelak kita akan bertemu lagi"


Setelah berbicara seperti itu, anak yang paling besar dianatara yang lain memberikan perintah untuk Zeo segera pergi dan melepaskan gengamannya pada adik yang malang itu.


"Dah Zeo, lepasin aja adik cantik itu sekarang, nanti juga kita akan bertemu lagi sama sicantik"


Setelah kepergian anak nakal itu, putra dan Beno mendekati gadis yang masih ketakutan.


Beno berbicara dengan nada yang lembut dan memperhatikan penampilan gadis itu.


"Saya tidak apa-apa om, makasi om telah membantu saya"


Dengan masih menunduk


"Adik cantik kamu, tidak apa-apakan ? "


Gadis itu mulai mengangkat sedikit kepala nya, karena mendengar suara anak kecil yang sedikit lebih tua dari padanya.


"Aku gak apa-apakah makasih ya kak"


Dengan tersenyum manis kepada anak laki-laki yang menolongnya.


"Iya sama-sama cantik, tangan kamu masih mengeluarkan darah"


"Apakah masih sakit"


"Tidak kak, hanya sedikit perih"


Anak laki-laki itu, semakin cemas mendengar kalau gadis kecil di depannya menahan sakit. Akhirnya dia meminta ayahnya untuk membantu gadis kecil pulang.


"Ayah ayo antarkan adik cantik ini pulang, kasihan ayah tangannya mengeluarkan darah"


Ayah Beno hanya pasrah dan menggaguk, apapun kemauan putranya. Di perjalanan pulang seorang anak laki-laki itu bertanya siapa nama adik kecil cantik didepannya.


"Adik kecil nama kamu siapa ?"


Gadis kecil itu menjawab pertanyaan anak laki-laki di sampingnya.


"Nama ku pretty Rose kak, kalau nama kakak ?"


Rose kembali bertanya dengan seorang anak laki-laki, yang menjadi sosok penyelamat bagi hidupnya.


"Nama ku Rey Pratama Yonata"


Rey mulai bersuara lagi, setelah keheningan terjadi beberapa saat yang lalu


"Kamu mau gak jadi sahabat aku bidadari ?"


Rose yang mendengar Rey berbicara bidadari di hadapanya binggung.


"Kakak ngomong sama siapa ?"


Rey tersenyum mendengar pertanyaan Rose, dengan wajah yang binggung.


"Sama kamu cantik, Bolehkan aku panggil kamu bidadari ?"


Rose yang mendengar pernyataan Rey seketika tersenyum dan menjawab dengan atusias.


"Bolek kok kak, karena kakak panggil aku bidadari"


"Bolehkan aku panggil kak pangeran"


"Karena bidadari pasti bersatu dengan pangeran"


Rey tersenyum dengan perkataan Rose dan menjawab dengan pasti.


"Boleh, karena kita akan selalu bersama selamanya"


Rose mengangkat jari kelingking kehadapan Rey, agar Rey berjanji dengan jari kelingking.


"Janji selamanya, meskipun kelak kita berpisah pangeran akan cari bidadari agar kembali kesisi pangeran"


Setelah kejadian itu mereka selalu menghabiskan waktu bersama, Sampai insiden yang membuat mereka terpisah selamanya.


"Mama, Papa, Rose takut disini gelap"


kobaran asap dan api semakin tebal, hingga Rose terjebak dan membuat kulit Rose mengalami kerusakan secara berkala, tapi entah kapan kulit itu kembali seperti dulu.


Alarm ponsel Rose membangunkan Rose dari mimpi masa lalu Rose, dengan pangeranya hingga Rose mau tak mau bangun dari mimpi indahnya.


Dan berteriak karena kesal


"Ah.. alarm silan gangu aku lagi mimpi pageran"