
Dia berjalan ke arah jendela dengan mata yang masih setia menatap hujan. Hujan sangat deras di luar, namun pikirannya bukan ke arah hujan tapi melayang memikirkan mimpi dan masa lalunya. Hingga membuat ia berubah menjadi sekarang, ia berbicara di dalam hati pikiran dan perasaannya kembali seperti dulu saat melihat Rose.
Namun ada sedikit rasa benci di hatinya, saat melihat wajah Rose. Yang tidak dia ketahui apa penyebab dari kebencian Rendi sampai sekarang.
"Aku tak tau mengapa saat ini pikiranku mengingat mimpi masa kecil ku, yang bertemu dengan gadis cantik itu"
"Awalnya aku hanya ingin berkenalan dengannya saja dan bermain bersama, namun gadis cantik itu tak mau berkenalan dengan ku"
"Hingga membuat ku marah dalam rasa sakit hati karena sifat sombongnya yang tak mau berkenalan dengan ku"
"Aku bertanya dengannya, namun dia tidak merespon ku hingga dengan hati yang terluka dan dikuasi amarah.
"Aku menyuruh Zeo agar mengambil barang yang ada di tangannya, sehingga akhirnya dia mau berbicara pada ku"
"Meskipun ada rasa tak tega melihatnya menangis dan ketakutan tapi aku tepis semua pemikiran itu"
"Melihat dia bebicara dengan suara ketakutan membuat aku tersenyum dengan rasa penuh kemenanga,bagi ku semakin dia ketakutan suaranya bertambah lucu serta merdu di telingga ku, membuat ku semakin menggila untuk memilikinya"
"Namun semua kesenangan itu hanya sementara dan hilang saat kedatangan seorang anak kecil dan ayahnya, yang menolong gadis cantik ku"
"Gadis cantik itu mencuri-curi pandang kepada sosok anak laki-laki itu, ada rasa sakit di hati ku melihat dia mencuri-curi pandang dan tangan ku yang ku gepal sagan keras menahan amarah"
"Meskipun dalam posisi masih menunduk,aku melihat jelas matanya melirik anak laki-laki itu, karena aku tak tahan lagi melihat gadis cantik ku curi-curi pandang.
" Aku menyuruh Zeo untuk segera melepaskan dan pergi dengan perasaan tak rela di dalam hati"
"Hingga aku berkata bahwa kelak aku dan dia akan bertemu lagi dengan perasan yakin, aku akui laki-laki kecil yang seusiaku itu memang jauh lebih tampan dari pada aku"
"Semenjak kejadian itu aku terus mencari dirinya di taman itu aku menunggu setiap hari, kehilangannya membuat aku seperti orang gila"
"Sampai suatu hari hujan deras melanda seakan merasakan kesedihan dan kesakitan yang ada di hati ku."
"Sambil berusaha mencari gadis cantik itu aku juga mulai untuk merubah penampilan ku, agar lebih serasi bersanding dengannya"
"Semua ku lakukan demi gadis cantik itu, dari mulai olaraga,diet,dan banyak lagi"
"Namun lagi-lagi aku kecewa karena sang pujaan hati ku tak pernah datang lagi ketaman bunga mawar itu, di dalam keputus asaan ku aku mulai berubah menjadi anak liar."
"Karena aku telah berubah menjadi tampan dan di dukung kekayaan yang ada pada orang tua ku, semua gadis yang mendekatiku dengan tujuan popularitas dan uang ku"
" Ku jadikan iya sebagai alat untuk bersenang-senang dan saat ku bosan, maka dengan senang hati teman-teman ku menerima gadis cantik dan seksi itu untuk bersenang-senang dengan mereka "
"Aku tak peduli sama sekali apapun yang di perbuat teman-teman ku kepada gadis yang ku berikan kepada mereka, yang ada di pikiran ku"
"Saat ini masih sama gadis cantik yang ada di masa lalu ku,sudah hampir 13 tahun aku mencari keberadaannya, sampai pada suatu sore aku berjalan melintasi taman bunga mawar yang pernah menjadi pertemuan ku dengan gadis cantik, aku melihat ada seorang gadis yang duduk di kursi taman dengan membawa sekuntum buang mawar hitam."
"Aku mulai merasa senang karena ku pikir dia gadis cantik yang ku tunggu-tunggu kehadiranya, aku mendekati gadis itu dan bertanya padanya. Sambil menyentuh bahunya dia bertanya kepada ku"
"Siapa ya?"
Aku mulai bersuara untuk menyapanya
pertanyaan ku terpotong saat dia menoleh kepadaku dengan wajah terkejut aku reflek mendorong dirinya ke atas rumput, hingga dia meringis.
Itu awal pertemuan ku dengan Rose, hingga keesokan harinya aku melewati koridor kampus yang sudah heboh dengan kedatangan mahasiwa baru yang katanya buruk rupa.
Awalnya aku tak percaya dengan perkataan mereka, karena ku pikir mereka hanya iri dengan mahasiswa baru pindah dari kota Bandung .Mendapat beasiswa penuh padahal mereka yang sudah lama berkuliah di sini hanya mendapatkan setengah dari pembayaran.
Aku masih sibuk dengan berjalan di koridor kampus tanpa memperdulikan perkatan mahasiswa dan mahsiswi, tapi ada seorang mahasiswa yang paling heboh bersura dengan berkata.
"Woy.. kalian semua tau gak ?"
Semua mengeleng
"Kalau anak baru yang buruk rupa itu masuk Fakultas bisnis"
Semua yang ada di sana makin heboh
"kok bisa?"
"Hancur ni nama anak bisnis?"
"Aduh kasian ya anak bisnis entar kena virus"
"Ha...ha..ha untung gue bukan anak bisnis"
"Nah benar baget tu"
Dan masih banyak lagi kata-kata kasar yang mereka ucapkan, karena aku penasaran aku menguping pembicaraan mereka dengan masih berjalan pelan agar tidak terlalu tampak kalau aku juga penasaran.
Karena rasa penasaran ku dan juga kelas ku dekat dengan Fakultas bisnis akhirnya aku mencari sosok yang menjadi perbincang panas di kampus, mata ku membulat sempurna saat melihat orang yang kemarin bertemu dengan ku yang menjadi pembincangan semua mahasiswa dan mahasiswi dengan tatapan yang jijik serta kebencian termasuk pada ku.
Namun ada rasa yang sulit ku artikan saat melihat dirinya ada di depan mata ku dan satu kampus dengan ku, 3 bulan berlalu aku dan teman-teman ku selalu menyuruh gadis-gadis di kampus yang menyukai ku untuk membuatnya menderita.
Iya pun tau kalau aku la penyebab semua yang terjadi, 2 hari yang lalu dia tak sengaja menabrak ku yang berjalan berlawan arah. Langsung saja aku marah padanya dengan nada yang meninggi sambil mencaci maki dirinya dengan wajah yang ketakutan dan tubuh yang bergetar, ia mengikuti arah langkah kaki ku yang menuju ke arah toilet yang paling kotor dan bau.
Aku memberi peritah untuk masuk toilet dengan suara yang tinggi, sehingga ia menurut perintah ku dengan tubuh bergetar dan kemudian aku mengunci pintu toilet. Dengan hati yang senang aku mendengar suara ketakutanya sambil mengucapkan kata maaf'.
"Suara ketakutan itu mengigatkan ku pada gadis cantik, namun segera kutepis pemikiran itu"
Hingga dia menawarkan kesepakatan kepada ku dan aku meyetujui dengan cara membuka pintu toilet itu, pintu toilet terbuka aku langsung memberikan perintah dengan nada ancaman, dia ingin melayangkan protes namun aku melirik jam tangan ku untuk mengingatkan waktu.
Setelah iya sampai dengan pesananku, namun aku marah karena dia telat hingga aku mengambil pesananku dari tangannya dan menuangkan 2 gelas coffe latte itu kepada kepalanya.
Aku dengan sengaja datang lebih awal dan memberikan hukuman, namun saat aku melihat hukuman yang ku berikan di selesaikan dengan rapi aku berdecak kagum.
Entah dari mana pemikiran itu aku mengatakan dalam hati bahwa dia daftar istri idaman dan saat dia mengatakan ingin pergi aku langsung menjawab "Ngak Boleh" ada perasaan tak rela melihat dia pergi.
Namun saat aku melamun aku baru menyadari bahwa Rose semakin hari semakin sama dengan gadis cantik masa lalu ku, aku segera tersadar dari lamunan ku saat ada suara petir yang diikuti hujan yang lebih lebat.