Black Rose From Fans

Black Rose From Fans
Capter 11 Siapa Dia ?



(Sementara disisi lain)


Rose masih setia di dalam toko buku untuk mencari buku yang akan iya gunakan dan ketika Rose sedang mengambil buku, di rak buku yang paling atas. Namun tiba-tiba petir besar bersuara menyambar pohon yang masih agak kecil yang berada tepat di jendela. Sehingga Rose terkejut dan badannya linglung kebelakang untungnya ada tangan seseorang menahan badannya yang hampir jatuh kelantai.


Rose yang memejamkan mata cukup lama karena terkejut dan merasa tubuhnya tidak sakit, melainkan ada rasa tangan yang kekar di pinggangnya dan hembusan nafas halus terdengar di telinga Rose, 5 menit kemudian Rose segera membuka matanya secara perlahan dan segera melihat siapa pemilik tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Betapa terkejutnya Rose, saat matanya telah terbuka sempurna. Seorang pemuda tampan di depan mata dan masih setia melingkarkan tangannya di pinggang Rose. Hingga Rose beradu pandang dengan pemuda yang bermata coklat tua itu, pemuda itu sama seperti seseorang yang selalu iya rindukan .Dan sudah belasan tahun yang lalu hilang tanpa kabar.


Tatapan menenangkan hati Rose dan sorot mata itu sangat dia kenal. Namun tak mungkin bagi Rose mengatakan bahwa di depan matanya sekarang adalah Rey sahabat dan cinta pertama yang terpisah karena satu alasan yang harus membuat mereka berpisah.


Hanya karena pemuda itu berwajah tampan dan memiliki mata yang sama seperti Rey, jujur saat melihat mata itu dan wajah tampannya ada rasa yang terbesit dihati dikala Rose bersama Rey dahulu hingga sekarang tak ada yang bisa membuat Rey tersingkir di hatinya sebagai posisi pertama setelah ayah dan ibunya.


Rose masih terpaku dengan pemuda yang masih masih melingkarkan tangannya di pinggang Rose, dengan tatapan yang tak pernah berhenti memandang pemuda yang bermata coklat tua, dengan debaran jantung yang tak karuan.


Namun lamunan dan tatapan matanya terhenti saat suara bas pemuda itu berkata dengan nada yang lembut kepada dirinya.


" Kamu tidak apa-apa ?"


Rose terlonjat kaget dengan suara pemuda yang di depanya dan segera berdiri dari posisi untuk menetralkan detak jantungnya, serta menjawab pemuda yang telah menolongnya.


"Aku baik-baik saja, terima kasih telah menolong ku sehingga tubuh ku tak terbentur di lantai"


Dengan senyum yang paling manis iya tampilkan


"Iya tidak usah sungkan lain kali hati-hati"


Dengan senyum manisnya


Beberapa saat setelah pembicara singkat suasana kembali hening, serta hujan yang masih deras seakan menandakan pertemuan kembali kedua insan yang saling mencintai


Setelah belasan tahun berpisah tanpa tau kabar satu sama lain, namun keheningan tak cukup lama sampai Rey bertanya kembali kepada Rose untuk mencairkan suasana yang canggung.


"Kamu kuliah jurusan bisnis ya?"


Rey bertanya dengan Rose dengan posisi mata yang melihat buku yang di ambil oleh Rose, dengan susah payah dan hampir terjatuh untungya pemuda yang di depan matanya kini yang menolongnya mengambil buku tersebut.


Rose akhirnya bersuara dan juga menoleh dengan lawan bicaranya namun dengan mata yang masih menunduk melihat lantai karena tak tahan menahan debaran jantungnya.


"Iya, kamu masih kuliah atau sudah kerja?"


"atau kamu di sini ada urusan bisnis ya?"


Rey ingin mejawab sebenarnya kalau dia datang kesini untuk mencari cinta pertama yang telah hilang karena sebuah alasan, namun keinginannya hanya agan -agan karena Rey tak ingin orang yang baru kenal mengetahui masalah pribadinya.


"Aku belum tamat kuliah dan aku disini melanjutkan kuliah ku agar lebih baik lagi dari universitas sebelumnya"


Rey tidak berbohong, meskipun ada alasan lain kenapa dia kembali lagi ke kota ini, Rose menganguk untuk mengisyratkan bahwa dia mengerti.


Namun belum sempat Rey bersuara untuk mengajak berkenalan satu sama lain, ponsel gadis itu berbunyi dan gadis tersebut mengangkat telponnya kemudian dia berpamitan kepada Rey.


"Aduh maaf' ya ngak bisa lanjutin lagi ngobrolnya, karena ada yang telpon"


Rose meminta maaf' sebelumnya karena suara yang baru ingin di keluarkan oleh Rey terhenti mendengar ponselnya berbunyi.


"Oh ya ngak apa-apa lain waktu kita lanjutin lagi"


Dengan sedikit pengertian Rey berbicara agar Rose tidak merasa tidak enak.


"Okey deh , aku pergi dulu ya angkat telponnya"


masih menunggu balas Rey


"Okey, hati-hati di jalan"


Setelah di perbolehkan pergi, Rose segera jalan sedikit menjauh untuk mengangkat siapa yang menelpon, dengan ponsel yang masih di dalam tas.


Setelah merasa sudah sedikit jauh dengan segera dia mengambil ponsel yang ada di dalam tas dan melihat siapa yang menghubunginya. Rose terkejut saat melihat siapa yang menghubunginya dan mulai bersuara untuk menjawab sebelum yang menelpon akan marah besar.


Rose mengangkat telpon dari Rendi dengan sebuah pertanyaan


"Ngak apa-apa"


Rendi hanya ingin mendengar suara Rose


"Oh"


Rose menjawab pertanyaan Rendi sangat singkat


"Kenapa lo hanya balas"oh" ?"


"lo gak mau ngak suka gue telpon?"


"lo merasa terganggu ?"


Merasa Rendi yang mulai ingin marah Rose sengera menjawab agar Rendi tidak marah, karena saat Rendi marah bisa mendapat hukuman lagi.


"Ngak kok Ren, cuman binggung aja?"


Rendi tak mengerti alasan yang di buat oleh Rose


" kenapa binggung ?"


Rose segera menjawab pertanyan Rendi


"Kan kamu biasanya kalau nelpon aku pasti ada maunya"


Rendi awalya juga binggung kenapa perasaannya sangat ingin mendengar suara Rose


"Aku ngak tau kenapa aku pengen banget dengar suara kamu"( Gumannya di dalam hati)


Rendi segera menjawab setelah tersadar dari lamunannya agar Rose tak curiga


"Ngak juga si, aku nelpon pengen tau kamu udah nyampe rumah belum, karena aku ngak mau besok kamu ngak bisa jadi pembantu dengan alasan sakit akibat terkena hujan"


Rose hanya mendengarnya peryataan Rendi dengan perasaan kesal


"Aku emang belum pulang, karena aku ke toko buku dulu sebelum mau pulang"


"Namun saat ditengah jalan awan menjadi mendung beruntung hujan deras setelah aku sampai di toko buku dan aku juga ngak bakalan hujan-hujanan sampai sakit, karena aku bukan anak kecil"


"Jadi kamu ngak usah hawatir kalau aku sakit besok"


Rendi yang mendengar kekesalan Rose hanya tertawa di dalam hati


"Ha..ha..ha lucu juga ya kalau buruk rupa kesal yang suaranya menahan marah"(Gumannya dalam hati)


Rose bersuara lagi dengan nada yang semakin kesal karena tak ada respon dari seorang yang berada seberang sana.


"Hallo Ren, kamu masih ada di situ atau udah pindah ke planet lain"


Rendi mendengar perkataan Rose segera menetralkan suaranya, untuk menjawab pertanyan seseorang yang berada di seberang sana


"Masihlah, udah berani lo ya sama gue sampe nyumpahin gue jadi alien gue ganteng-ganteng gini di bilang alien"


Rose sebenarnya sedikit takut mendengar suara Rendi yang dingin di dalam telpon, namun segera iya tepis dengan suara yang agak lembut


"maaf' Ren aku gak bermaksud untuk nyumpahin kamu, aku cuman bercanda aja biar kamu gak marah-marah sama aku terus"


.