
"Hallo ayah kenapa ayah menelpon Rey?"
Rey bersuara untuk bertanya kenapa ayahnya menelpon.
"Ayah hanya ingin tau kenapa sampai sekarang kamu belum sampai di perusahaan ?"
"Apa ada masalah yang serius dengan urusan kepindahan kuliahmu?"
Ayah Beno terus bertanya kepada Rey tanpa membiarkan sang putra menjawab, hingga Rey yang sudah bosan mendapat pertanyaan terus- menerus akhirnya bersuara agar sang ayah tidak khawatir lagi.
"Aku baru selesai bertanya kepada rektor apa saja berkas yang kurang dan harus di tambahkan".
"Dan tidak ada masalah yang serius ayah"
"Ayah sudah dulu ya telponnya, soalnya aku mau pulang ke rumah dan juga pergi keperusahan ayah"
"Iya rey, hati hati dijalan nak".
kemudian Rey menuju arah mobilnya dan masuk kedalam mobil. kemudian Rey langsung menyetir dan pergi menuju rumah hanya berganti pakaian untuk keperusahan ayahnya karena ia tau ayahnya sudah menunggu.
selang 35 menit perjalanan akhirnya Rey sampai diperusahaan ayahnya dan langsung menuju ruangan ayahnya.
"Hai ayah"
sapa Rey yang sambil memberi senyuman kepada lelaki paruh baya tersebut.
"kamu kesini jalan kaki ya, lama sekali sampai-sampai ayah tertidur menunggumu". ucapnya sambil menguap
"Bukan begitu yah, tapi tadi aku rumah dulu untuk mengganti pakaian dan macet sehingga tidak bisa segera datang kesini".
"Iya iya, ya sudah kamu duduk dulu saja. ada yang ingin ayah bicarakan"
"Tentang apa ayah"
"Tentang indentitas gadis yang kamu bicarakan"
"Ada apa dengan gadis itu ayah ?"
"Dan apakah anak buah ayah sudah selesai menyelidiki identitas gadis itu ?"
"Iya ayah sudah tau identitas gadis itu"
"Anak buah ayah sudah memberikan identitas gadis itu"
"Mana ayah dokumen identitas gadis itu ?"
"Ini kamu baca sendiri"
Ayah Beno menyerahkan dokumen identitas Rose kepada putranya dan langsung di sabun uluran tangan Rey, Rey mulai membaca identitas itu gadis tersebut dengan pikiran berkecambuk.
Isi Dokumen
Nama: Pertty Rose
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/ tanggal lahir : Bogor, 17 Mei 1999
Tempat tinggal : Jl. Nangka Jakarta Selatan
Ayah : Putra Mahendra
Ibu : Wenanti Rose
Umur : 22 tahun
Makanan kesukan : Ayam panggang
Minuman kesukan : Jus lemon
Hobi : Membaca dan menanam bunga mawar
Lagu Favorit : Terendap laraku (Naff)
Bunga favorit: Semua jenis mawar, namun paling yang di sukai mawar hitam
Keterangan : Seorang mahasiswa yang mendapat biasiswa penuh dari universitas indonesia, mempunyai telenta berbisnis dan mahir dalam menulis. Namun dia juga pernah mengenyam pendidikan di universitas Bandung.
Rey yang melihat biodata yang di berikan oleh ayahnya langsung terkejut
Beno menatap binggung anaknya yang tiba-tiba seperti orang terkejut dan langsung bertanya.
"Ada apa Rey dengan identitas gadis itu ?"
Mendengar pertanyaan dari ayahnya, Rey langsung menoleh ke sumber suara untuk menjawab.
"Ayah ini adalah Rose gadis cantik Rey, yang Rey cari anaknnya sahabat Ayah, anak Om Putra"
Dengan mata yang memancarkan kebahagian, Rey menatap ayahnya. Beno yang melihat kebahagian Rey juga ikut senang dan mengucapkan kata-kata semangat agar sang putra semakin bersemangat untuk memperjuangkan cintanya kembali.
"Syukur kalau itu memang Rose, ayah juga merasa bahagia"
"Tapi ingat kau harus menepati janji mu, untuk selalu mendungkung dan membantuhnya dalam memperjuangkan hak yang seharusnya menjadi miliknya"
Rey yang mendengar nasihat ayahnya hanya mengagukan kepala dan menjawab perkataan Beno.
"Rey juga tidak akan pernah lagi membiarkan Rose menagis dan bersedih karena ketidak adilan dari orang yang serakah"
Beno yang mendengar perkataan Rey tersenyum sambil mengucapkan kata-kata yang memuji keberanian Rey.
"Bagus kau memang anak ku, yang selalu membuat ayah bangga"
Rey yang mendengar pujian dari Beno mengucapkan terimaksi.
"Terimaksi ayah atas pujiannya dan bantuan"
"Ya sama-sama"
Tak lama mereka berbincang ada seorang pegawai mengetuk pintu
"Tok..tok..tok"
Mendengar ketekuan pintu yang berasal dari luar, mereka berdua segera menoleh dan mempersilakan pengawai tersebut untuk masuk ke ruangan.
"Siapa"
"Maaf pak ini saya Rina"
"Oh.. Rina silakan kamu masuk saja pintunya tidak di kunci"
Rina segera membuka kenop pintu dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang tersebut.
"Maaf' Pak ini berkas yang bapak minta"
"Okey taruh aja disana kamu boleh pergi"
"Baik Pak saya permisih duluh"
Setelah memberikan berkas yang Beno minta, Rina segera keluar dari ruangan tersebut. Dan tak lama kemudain Rey mulai bersuara untuk pamit.
"Ayah aku pamit pergi"
Mandengar penyatan Rey, Beno bersuara mengapa putranya cepat sekali untuk pamit dari perusahan.
"Mau pergi kemana kamu Rey ?"
"Rey mau pulang ayah, karena besok Rey harus masuk kampus baru dan mempersiapkan diri untuk mencari cara untuk mendekati Rose."
Mendengar pernyataan Rey, Beno hanya mengeleng-geleng kepala dan langsung menjawab perkataan sang putra.
"Ya sudah hati-hati di jalan dan ingat jangan sia-siakan kesempatan ini lagi"
Denga tangan yang seperti memberikan hormat
"Siap komandan lakasanakan"
Ayah yang melihat tingkah konyol Rey hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepala, sedangkan Rey sudah berjalan membuka kenop pintu sambil bersuara untuk menggoda ayahnya.
"Jangan tetawa terus ya"
"Nanti ayah di kirain gak waras karena kelaman sendiri"
Setelah mengucapkan itu Rey langsung menutup kenop pintu dan pergi berlari memasuki mobil.
(Sementara disisi lain)
Rose yang sudah menyelsaikan mata kulianya, keluar dari ruangan kelas untuk berjalan menuju taman. Yang berada di belakang kampus, dengan di hiasi oleh berbagai macam bunga serta kupu-kupu. Namun semua yang ia lihat tak mengembarkan isi hatinya.
Pikirannya selalu berkecambuk dan matanya melihat sekeliling taman berharap bisa mendapat ketenangan serta kedamaian walaupun hanya sesat.
Rendi yang melewati belakang taman kampus untuk mencari teman-temanya tak sengaja melihat Rose berjalan-jalan di taman sedirian dengan pandangan kosong.
"Mengapa ia berjalan sendiri dan diam saja?"
"Matanya menatap ke arah bunga, namun dapat ku lihat pikirannya berkecamuk entah kemana"
"Apakah Rose sakit hati dengan perkataan ku saat sarapan tadi pagi ?"
"Tapi aku tidak salah, karena aku berbicara kenyataannya"
"Agar dia sadar diri dan bisa merubah diri menjadi lebih baik"
"Sudah la coba aku hampiri dia saja agar dia tidak melamun lagi, nanti bisa kerasukan dia"
Rendi berjalan mendekati diri ke arah Rose, sampai di samping Rose hanya diam dan juga tidak merespon keberadaan Rendi. Hingga Rendi mengikuti arah mata yang dilihat Rose.
Rose yang tak sengaja menoleh terkejut melihat keberadaan Rendi yang ada di sampingnya dan reflek berteriak dengan cukup kencang.
"Ah...ahhhh....ahhh"
Rendi yang mendengar teriakan Rose seketika reflek membukam mulutnya Rose mengunakan tangan sambil membisikan sesuatu agar Rose diam dari teriakannya.
"Diam jangan teriak-teriak, lo mau orang-orang pada keseni di kirain kita ngapa-ngapin dan di suruh nikah paksa"
Rose yang mendengar perkataan"nikah paksa" seketika menutup mulut rapat-rapat dan langsung diam, setelah merasa Rose sudah tenang Rendi menarik tangannya yang menutupi mulut Rose agar ia bisa bernafas.
"Hu...hu...hu"
Rose mengambil nafas banyak-banyak dan langsung membuangnya secara perlahan.