
Setelah mendapat teguran dari Bu Weni mereka bertiga pamit, sebelum mendapat hukuman.
"Maaf' Bu kami permisi dulu"
Bu Weni mejawab dan mempersilahkan kepada Dinda the geng untuk undur diri, dari hadapan Bu Weni
"Ya silakan"
Mereka yang telah di perbolehkan untuk pergi, Segera untuk meninggalkan Rose dan Bu Weni. Rose yang melihat kepergian Dinda the geng sedikit lega, sebelum akhirnya Bu Weni mulai bersuara.
"Rose kenapa kamu masih berdiri di sini?"
Rose yang mendapat pertanyaan Bu Weni dengan tiba-tiba gelabakan dan mulai bersuara, dengan sedikit menunduk.
"Saya di keluarkan dari mata kuliah Pak Bagas Bu"
Bu Weni mulai bertanya lagi, mengigat kalau Rose merupakan salah satu mahasiswa yang berprestasi.
"Kok bisa kamu di keluarkan dari mata kuliah Pak Bagas?"
Rose yang mendapatkan pertanyaan seperti itu binggung untuk menjawab, mau jujur atau bohong. Setelah berpikir untuk beberapa saat akhirnya Rose menetapkan diri untuk jujur, meskipun kedepannya bisa mendapat masalah . Dengan tidak mendapat besiswa dari kampus lagi.
"Saya lupa mengerjakan tugas Bu"
Rose menjawab sambil meremas jari-jari tangan, yang menanda kan bahwa dia sangat gugup.Bu Weni yang mendengar pernyataan dari Rose, hanya menghela nafas. Karena itu sudah dapat di tebak kalau Rose bukan tidak membuat tugas namun, itu ulah mahasiswa dan mahasiswi yang jahil mengambil atau menyembunyikan tugas Rose.
Sebelum akhirnya Bu Weni mulai bersuara lagi
"Ya sudah, kamu pergi ke perpus kampus saja"
Rose menganguk dan berpamit kepada Bu weni
"Ya buk, Saya permisi dulu"
Bu Weni menjawab perkataan Rose sambil tersenyum.
"Ya silahkan"
Setelah di persilakan oleh Bu Weni,Rose meninggalkan tempat dan berjalan menuju koridor perpus kampus. Setelah ke pergian Rose, Bu Weni berguman dalam hati.
"Kasian sekali kamu Rose, tak ada yang mau berteman ataupun hanya menyapa"
"Karena fisik mu yang tidak sempurna, dan sering ku lihat kau menangis di bawah pohon besar yang ada di belakang kampus ataupun hanya berdiri termenung di taman belakang kampus"
"Dengan menyembunyikan wajah di antara tangan mu"
"Semoga kelak kamu mendapatkan kebahagiaan dan seseorang yang dapat menerima kamu apa adanya"
Rose yang sudah sampai di depan pintu masuk perpustakan kampus, hanya melangkah kaki dengan gontai. Sambil menghela nafas dan berbicara sendiri melihat sekeliling perpustakan, yang hanya berisi buku-buku dan beberapa mahasiswa.
"Hem.... sudah sampai juga akhirnya aku di tempat di mana aku bisa menghabiskan waktuku, tanpa seorang teman ataupun sahabat"
Tak butuh waktu lama Rose larut dalam kesedihan, akhirnya Rose mengambil satu buku novel. Yang berjudul langit mekah berkabut merah oleh Gedurrahman El-Misharry, menceritakan seorang gadis desa yang bekerja sebagai tkw di kota mekah,mendapat hukuman cambuk karena di tuduh berzina dengan seorang majikan nya.
Lembar demi lembar Rose baca dengan fokus hingga pada lembar yang terakhir, membuat Rose menagis.Yang berisi curahan hati si gadis, Di sampaikan dalam bentuk puisi dan sebelum akhirnya gadis itu meniggal setalah hukuman cambuk di tiang gantung.
"Aku rela berkoban demi orang yang aku sayangi,meskipun tubuh ku berlumur darah"
"Tangan-tangan besi yang meyiksa tubuh ku ini, tanpa perasaan aku tetap tegar dalam pendirian ku"
"Meskipun tangan ini tak mampu lagi menopang tubuh ku, dengan cambuk tanpa henti di layangkan di sekujur tubuh dan tak sedikitpun belas kasian yang mereka berikan terhadap ku"
"Meskipun darah yang mengalir bagaikan ombak di lautan yang di tuangkan oleh air laut"
"Yang mengisahkan perih yang tak tertahankan"
"Meskipun aku harus menahan sakit atas hinaan dan perlakuan, seorang iblis yang menyerupai manusia"
"Seribu belatih yang menusuk-nusuk hati ku"
"Tak mampu aku membelah diri dan tak ada satupun yang membela ku untuk mendukung kebenaran ini"
"Mereka menghakimi ku, karena bukan kesalahan ku dan tatapan yang merendahkan ku"
"Mereka menatap ku tanpa sedikitpun rasa iba terhadap ku"
"Dan seakan-akan aku paling hina disini"
"Oh Tuhan jika benar pertolongan itu ada maka tunjukanlah"
" Jika benar kesalahan ku tak dapat di ampuni maka hukum lah aku, dengan kekuasaan mu bukan mereka yang tak berhak menghakimi kesalahan ku"
"Oh langit apakah engkau mendengar raungan diri ini yang berlumur dengan darah dan tetesan air mata?"
"Oh Awan apakah engkau merasakan apa yang ku rasakan?"
"Yang bukan kesalahan ku dan biarlah aku menemui mu dengan tersenyum di bibir ini, walapun diriku tak pantas lagi.
"Karena tubuh ini sudah kotor dan berbau, oleh parah bajingan yang memuaskan nafsu birahi nya kepada ku"
"Langit Mekah yang berkabut merah menjadi saksi kehancuran ku, sebelum akhirnya aku menutup mata untuk selama-lamanya"
Dengan membaca kata-kata itu Rose mulai menitihkan air mata dan menagis, hingga terdengar isak tagis. Setelah cukup lama Rose merasa dirinya lebih tenang, mencoba mengambil nafas sebanyak-banyaknya dan membuang secara perlahan.
"Huu...Hu..."
Setelah itu Rose bangkit dari tempat duduk, dan segera mengembalikan buku novel tersebut ke rak buku.
Tak terasa waktu cepat berlalu akhirnya jam perkulihan sudah usai, semua mahasiswa dan mahasiswi segera berhamburan untuk pulang ke rumah. Begitu juga dengan Rose yang sudah berjalan melewati koridor kampus menuju parkiran, sesampainya di parkiran kampus Rose segera menghampiri motor matic kesayanganya untuk melaju meninggalkan kampus yang sudah cukup sepi.
Ditengah perjalan sambil melajunya motor, Rose selalu melihat kearah jalan yang di lewati dengan bersenandung lagu favoritnya, yang berjudul "terendap laraku" yang di nyayikan oleh naff.
"Resa jiwa ku menepi"
"Mengigat semua yang terjadi"
"Saat kau masih ada di sisi"
"Mendekap ku dalam hangatnya cinta mu"
"Lambat sang waktu berganti"
"Endapkan lara ku di sini"
"Coba 'tuk lupakan bayangan diri mu"
"Yang selalu saja memaksa tuk' merendu"
"Sekian lama aku mencoba"
"Menepikan diri ku dirudupnya hati ku"
"Letih menahan perih yang kurasakan"
"Walau kutau kumasih mendambah mu"
"Lambat sang waktu berganti"
"Endapkan laraku disini"
"Coba' tuk lupakan bayangan diri mu"
"Yang selalu saja memaksa' tuk merindukan mu"
"Sekian lama aku mencoba"
"Menepikan rinduku di redupnya hatiku"
"Letih menahan perih yang ku rasa"
"Walau kutahu kumasih mendambakan mu"
"Lihat aku di sini"
"Melawan getirnya takdirku sendiri"
"Tanpamu aku lemah dan tiada berarti"
"Sekian lama aku mencoba"
"Menepikan diriku diredupnya hatiku"
"Letih menahan perih yang kurasakan"
"Walau kutahu kumasih menambakanmu"
"Sekian lama aku mencoba"
"Menepikan diriku diredupnya hatiku"
"Letih menahan perih yang kurasa"
"Walau kutahu kumasih menambahmu"
Sambil menyanyi, Rose teriingat masa lalunya dengan seorang teman serta cinta pertama Rose. Yang kini entah di mana dia berada, karena saat mereka berpisah Rose masih sangat kecil dan keluarga Rose mengalami bencana.
Sehingga mengharuskan Rose pergi meninggalkan tempat yang penuh dengan memori,yang sangat menyenangkan bersama dengan orang yang paling penting di hidupnya.