Black Rose From Fans

Black Rose From Fans
Capter 2 Dinda The Geng



Setelah kepergian Rendi, Rose hanya diam cukup lama dan berguman dengan kesedihan di dalam hati.


"Aku yakin suatu hari nanti Ren, kamu akan menyesal telah menyiksa ku"(Gumam Rose dalam hati)


Dan melangkah meninggalkan tempat untuk menuju kariodor kampus yang sudah mulai sepi karna sebentar lagi ada jam kelas.


"Eh lo buruk rupa"


Rose menoleh dengan orang yang memanggilnya buruk rupa.


"Iya, kenapa ya Din?"


"Sini lo bantuin gue buat tugas dari pak bagas"


Rose menolak dengan cara halus kepada Dinda


"Aku gak bisa Din aku aja belum selesai"


Mendengar penolakan Rose, Dinda segera memangil gengnya.


"Hey guys lihat ni buruk rupa cari masalah sama kita, gimana kalau kita kasih dia pelajaran"


Jesika dan Yuni segera meyetujui ide dari Dinda yang merupakan ketua geng mereka.


"Gaskenlah, gimana kalau kita siram dia pakai air bekas ngepel atau kita kunci dia di gudang yang banyak tikusnya"


Rose yang mendengar kata-kata dari jesika dan Yuni langsung berdiri dan memohon kepada Dinda.


"Aku mohon Din, jangan"


Dinda tersenyum dengan penuh kemenangan dan melemparkan buku tugas ke wajah Rose dengan kasar.


"Ni maka nya jadi orang itu jangan belagu kerjakan secepatnya"


Dengan cepat Rose mengambil buku Dinda yang ada di lantai tanpa memikirkan baju yang sudah kotor dan basah karena ulah Rendi yang menuangkan 2 cap caffe latte.


"Iya Din".


Mereka bertiga tertawa melihat Rose yang mengikuti perkataannya.


"hahaahaahaa................"


Tertawa mereka terhenti saat pak Bagas datang kedalam kelas.


"Okey semuanya kita akan memulai materi kita hari ini, tapi sebelumnya kalian kumpulkan terlebih dahulu tugas minggu lalu"


"Baik pak"


Semua penghuni kelas menjawab dengan kompak, sehingga Pak Bagas mulai bersuara lagi.


"Bagi yang tidak mengumpulkan tugas silahkan berdiri ke depan"


Rose nenuju depan karena belum selesai membuat tugas dari Pak Bagas, dan semua penghuni kelas senang dengan penderitaan Rose.


"Rose kamu tidak membuat tugas saya lagi, apa kamu tidak mau mengikuti mata kuliah saya?"


Dengan wajah yang marah Pak Bagas berkata sambil menghadap Rose.


"Ngak pak, bukan begitu. saya lupa"


Pak Bagas yang mendengar kata-kata Rose semakin marah.


"Alasan saja kamu itu, setiap pelajaran saya kamu jarang sekali mengumpulkan tugas."


"Apa kamu nantang saya, karena alasan kamu selalu sama maka semseter ini kamu tak usah mengikuti mata kulia saya"


"Tidak Pak jangan keluarin saya dari mata kulia Bapak, nanti saya bisa mengulang kelas Bapak semester depan"


"Saya tidak peduli. kamu keluar dari mata kuliah, kalau kamu tidak mau keluar biar saya saja yang keluar"


Mendengar ancaman Pak Bagas semua penghuni kelas semakin ricuh dan menyuruh Rose untuk pergi dari kelas.


"Woy buruk rupa pergi deh lo dari kelas ini kami gak mau, gara-gara lo kami gak ikut mata kuliah selama satu semester dan ngulangi mata kuliah Pak Bagas semester depan sama kaya lo"


Rose yang mendengar kemarahan semua penghuni kelas berjalan keluar dengan langkah gontai. Karena tak bisa mengikuti mata kuliah dia duduk bawah pohon besar yang ada di belakang kampus sekolah untuk sekedar menjernihkan pikiran dan mengistirahatkan kebisingan yang ada.


Namun ketenangan yang ia rasakan tak bertahan lama karena sekelompok penggangu datang untuk mengacau.


Dinda berbicara yang di ikuti oleh guyonan kedua teman nya.


"Rasain tu makanya jadi orang jangan sok-soan deh mau nantang kita, tau rasakan lo"


Rose yang mendengar guyonan Dinda the geng hanya membalas dengan diam, karena tak ada jawaban dari Rose. Dinda mulai berbicara lagi.


"Ternyata selain buruk rupa lo juga bisu ya"


Dengan nada dan tatapan yang mengejek


"Kenapa si kalian ganguin aku, apa salah aku dengan kalian ?"


Rose bertanya dan menatap Jesika,Yuni,dan Dinda.


"Lo masih nanya kenapa kami gak suka sama lo, karna lo itu buruk rupa dan juga mahasiswa yang mendapat besiswa, masak orang seperti lo dapat tunjangan dari negara bisa hancur negara kalau yang mimpin orang seperti lo"


Dinda menjawab dengan tatapan mengejek dan di ikuti oleh guyonan teman-temannya.


"Benar tu Din, kan malu negara gara-gara ada orang seperti dia"


Jesika menimpal kata-kata Dinda diikuti oleh gelak tawa Yuni


"Hahahaha........ benar banget tu, kan kasian uang negara habis gara-gara lo."


Rose yang mendengar hinaan demi hinaan dari Dinda the geng hanya bisa menunduk dan menjawab, sebagai layangan protes terhadap perkataan Dinda the geng.


"Apa harus orang yang cantik, berkulit putih, yang bisa dapat besiswa dari negara?"


"Apa penilaian kemampuan seseorang harus berdasarkan penampilan fisik?"


"Apakah kami yang mempunyai fisik tidak sempurna, tidak mempunyai kesempatan untuk menunjukan bakat yang ada pada diri kami ?"


Dinda the geng yang mendengar perkataan Rose hanya menatap jengah dan membalas secara bersamaan.


"Emang semua gak harus si, Tapi gue heran aja sama pihak kampus yang memberikan besiswa dari pemerintah untuk lo."


"Padahal kalau dilihat-lihat dari sudut mana aja lo tu gak masuk, cuman otak lo aja yang lumayan pintar"


"Na bener tu Din, kalau penampilan gak ada bagus-bagusnya udah kumel, dekil, buruk rupa lagi"


"Iya tu kan malu-maluin anak fakultas bisnis, masak orang yang menjalani bisnis penampilan gak ada bagus-bagus.


Rose yang mendengar hinaan yang di layangkan Dinda the gang hanya bisa menundukan wajah dan sambil berguman dalam hati, sebagai kata-kata semangat untuk diri sendiri.


"Sabar Rose, ada saat nanti kamu akan membalas kelakuan serta hinaan yang diucapakan oleh orang-orang yang ada di kampus"(Guman Ros dalam hati).


Dinda yang melihat Rose hanya menunduk tanpa melayangkan protes lagi, hanya binggung dengan sikap Rose yang tidak seperti sebelumnya yang sangat berani membantah. Namun kali ini hanya melirik ke bawah dan meremaskan jari-jari tangannya.


"Kenapa lo diam?, tadi aja lo sok-sokan mau ngelawan kita"


Jesika dan Yuni juga menimpal kata-kata Dinda .


"Entah tu orang, mikir kali ya kalau yang dikatakan itu ada benarnya"


"Hahaahaaha........... iya tu makanya jangan sok jago, kalau lo gak bisa apa-apa yang hanya menang tampang polos aja lo, tapi aslinya licik"


Karena mendengar keributan dan suara gelak tawa yang keras, Bu Weni wakil Dekan.Yang melintas di koridor kampus melangkahkan kaki mencari asal suara.


Tak lama Bu Weni sampai ketempat asal suara yang bising dan melihat 3 mahasiswa yang sedang membully satu mahasiswa.


"Kalian ngapain disini bukannya mata kuliah pak Bagas belum selesai di kelas kalian"


Dinda yang mendengar pertanyaan dari Bu Weni menoleh kepada temannya memberikan isyarat, Yuni dan Jesika melihat isyarat dari Dinda segera menjawab pertanyaan Bu Weni.


"Itu Buk kami mau ketoilet, karena kebelet"


Jesika dan Dinda juga menimpal jawaban Yuni


"Nah iya Buk, sekalian mau beli pena yang sudah habis"


Dinda menoleh Jesika agar lebih meyakinkan


"Iya benar Bu"