Black Rose From Fans

Black Rose From Fans
Capter 15 Kecurigaan



"Benar kata ayah jika Rose cacat atau meninggal maka ia tak akan bisa memimpin perusahaan"


"Nah dengan kondisi keturunan Renata Rose yang menghilang, Pamannya akan berusaha mengalihkan aset dari keluarga Renata Rose yang merupakan Paman akat Rose"


"Ayah kenapa bisa tau banyak tentang keluarga Rose ?"


"Panjang ceritanya tapi antara ayah dan ayahnya Rose kami bersahabat semenjak SMP, namun kami terpisah demi melanjutkan pendidikan"


Rey yang mendengar pernyataan dari ayahnya hanya menganguk bertanda bahwa dia paham apa yang di sampaikan oleh ayah, namun satu hal yang Rey binggung sampai sekarang kenapa ayahnya tak pernah mengungkit keluarga dari sang mamanya.


Setelah pembicaraan yang cukup lama di ruang makan, mereka berdua melanjutkan sarapan pagi dan ayah Rey yang pamit untuk pergi kekantor.


"Rey, ayah pamit ke kantor dulu ya, ingat setelah kamu makan nanti kamu ke kantor ayah"


"Iya ayah siap"


Ayah Beno selasai sarapan bangun dari tempat duduk untuk meninggalkan ruang makan, sedangkan Rey masih sibuk dengan sarapanya.


(Sementara disisi lain)


Rendi dan Rose yang telah selesai dengan acara sarapan romantisnya, segera berjalan menuju ke kelas masing-masing. Namun sebelum pergi, Rendi memperingati Rose untuk berjalan di belakangnya saat dirinya sudah cukup jauh.


"Eh... lo ingat yah. lo harus jalan saat gue udah cukup jauh dari tempat ini dan juga jangan sampai satu kampus tau kalau kita punya hubungan"


"Kenapa Ren ?"


"Bukannya kita cuman mempunyai hubungan sebagai majikan dan pembantu ?"


"Iya walaupun cuman hubungan majikan sama pembantu, tapi gue malu orang-orang tau hubungan gue sama lo"


"Masa si cwok seganteng gue harus dekat-dekat dengan sama cwek buruk rupa kaya lo, bisa-bisa satu kampus ilfil sama gue"


"Dan lo harus ingat ya setelah kesepakatan kita berakhir, jangan pernah lo dekat-dekat sama gue atau bahas tentang masalah ini"


"Cukup masalah ini jadi rahasia buat lo sama gue"


"Gue yakin deh selamanya ngak bakalan ada orang yang tulus suka samo lo"


"Kalau sarapan berdua tadi lo anggap gue suka sama lo, lo jangan geer deh"


" Itu bukan tanda gue suka sama lo tapi itu cuman solidaritas aja"


Mendengar perkataan Rendi yang sangat kasar, Rose hanya diam serta mencerna semua apa yang dimaksud Rendi saat berada di bawah pohon dengan kata-kata yang lembut dan nada khawatir. Rendi yang melihat Rose diam saja tanpa ada niat untuk menjawab kata-katanya mulai bersuara lagi.


"Ngerti ngak si lo apa yang gue omongin tadi ?"


Rose yang mendengar suara Rendi lagi namun dengan nada yang bertanya dengan segera tersadar dari pemikirannya dan mulai menjawab dengan sedikit terbata-bata.


"Iii..iya Ren, aku ngerti aku akan turutin apa yang kamu katakan"


"Bagus kalau lo ngerti dan sadar diri, jadi gue ngak perlu untuk jelasin lebih banyak lagi agar lo sadar diri"


"Dah gue mau pergi dulu, enek gue lihat muka lo"


Rose menatap punggung Rendi yang semakin menjauh dari tempat ini dengan tatapan mata yang menahan rasa sakit di hatinya, tanpa terasa air mata Rose jatuh kepipinya.


"Kenapa si kalian gak mau dekat dengan aku bahkan sebagai pembantu aja kalian malu ?"(Gumannya Rose dalam hati)


"Apa segitu buruknya aku di mata kalian?" (Guman Rose dalam hati)


"Apa kalian ngak merasa bersalah setelah mengucapkan kata-kata itu?"(Gumannya Rose dalam hati)


"Andai aja Rey ada disini pasti dia ngak akan biarin aku nangis atau sedih kayak gini, tapi aku ngak tau sekarang Rey dimana?"(Gumann Rose dalam hati)


Setelah menghapus sisa air mata dan melihat Rendi yang sudah cukup jauh berjalan di koridor kampus,Rose segera meniggalkan tempat itu dan berjalan di koridor kampus sendirian dengan wajah yang masih setia menunduk untuk menutup kesedihannya.


Setelah 15 menit Rendi sudah sampai di dalam kelas yang telah di sambut oleh kedua sahabatnya yaitu Ze dan Zian dengan sejuta pertanyaan di lontarkan kepada Rendi.


"Dari mana aja lo Ren dari tadi gue nyariin lo, ngak ada dimana-mana"


"Iya tumben lo telat ?, biasanya lo ngak pernah telat kalau masuk mata kuliah"


Rendi yang mendengar pertanyaan dari kedua sahabatnya hanya menatap dengan malas sambil menjawab dengan nada malas.


"Dari sama Rose"


Kedua teman Rose sambil pandang dan beberapa detik kemudian lansung tersadar, serta langsung bersuara dengan nada terkejut.


"Apa?? lo ngak lagi sakitkan"


"Apa lo suka sama dia Ren"


Kedua teman mereka menatap Rendi dengan penuh selidik, Rendi yang mendengar perkatan kedua sahabatnya yang bersuara dengan volume yang sedikit berteriak menjadikan mereka pusat perhatian oleh mahasiswa dan mahasiswi di dalam kelas.


Dengan segera Rendi menutup mulut mereka berdua dan langsung bersuara, untuk mejawab pertanyaan kedua sahabatnya sebelum mereka salah paham.


"Lo dengarin dulu perkataan gue, jangan asal nyimpulin mentang-mentang gue bilang abis sama Rose kalian mikir macem-macem"


Kedua sahabat Rendi menganguk untuk menunggu jawaban yang akan Rendi bicarakan.


"Gue sama Rose abis sarapan karena mulai hari ini dan seterusnya, Rose hanya bukan jadi pembantu gue yang bisa gue suruh-suruh aja tapi dia harus bawain gue sarapan yang harus di masak oleh dia sendiri"


Kedua sahabat Rendi bengong melihat Rendi yang berbicara dengan nada antusias dan di iringi senyum yang tak jelas, Ze dan Zian mulai bersuara karena dia takut terjadi sesuatu dari Rendi.


"Lo sehat kan Ren ?"


"Apa karena lo sarapan masakan Rose yang udah di campur obat ?"


Mendengar kedua pernyataan Ze dan Zian, Rendi mulai bersuara agar sahabatnya mengerti kenapa dia bisa senyum-senyum sendiri.


"Gue masih waras kali"


"Kenapa gue senang dan senyum dari tadi, karena masakan Rose"


Ze mulai bersuara karena binggung apa hubungan senyum-senyum dengan sarapan dengan wajah polosnya.


"Emang apa hubungan ya sarapan yang di buat Rose dengan senyum"


"Ada,, lah"


"Apa hubungannya emang dengan sarapan dan senyum"


"Karena sarapan yang di buat Rose itu lucu dan yang paling buat gue bahagia nasi goreng siput buatannya itu enak banget,rasa nya sangat pas baunya khas dan bentuknya lucu"


"Terus kalau enak banget, kenapa lo ngak bagi sama kami nasi gorengnya kami kan juga pengen nyobain masakan Rose"


"Enak aja lo juga pengen, ngak ada ya. masakan yang di buat Rose hanya untuk gue"


" Kok sekarang lo pelit amat si sama kita?"


"Biasanya aja lo gak pernah pelit sama kami, la kok masakan Rose aja lo pelit amat si dan seperti gak rela"


Kedua sahabat Rendi memandang tatapan curiga, namun yang di tatap hanya menapilkan wajah biasa saja tanpa berniat untuk membela diri di depan Ze dan Zian.