
30 menit kemudian Rose sampai di depan rumah, dengan cepat dia di masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya yang sudah sangat lelah. Rose menatap lagit-langit kamarnya dan berguman dalam hati.
"Mengapa dia mirip sekali dengan Rey sahabat ku ya"( Guman Rose dalam hati)
Namun dengan cepat Rose mengelengkan kepalannya dan meyakin bahwa pemuda yang ada di danau itu bukan Rey sahabatnya.
"Ahhh.... gak mungkin dia Rey sahabat ku"
Rose mengerang frustasi dan langsung menutup matanya hingga terlelap ke alam mimpi.
(Sementara Disisi lain)
Rey masih tersenyum dengan menatap langit-langit kamarnya.
"Aku bahagia karena bisa ngobrol sama Rose lagi, walaupun aku bohong"( Guman Rey dalam hati)
"Tapi aku gak nyesel bohong sama Rose karena kalau aku jujur sama dia bisa-bisa dia menjauh dari aku"( Guman Rey dalam hati)
Namun lamunan Rey seketika buyar karena mengingat kalau besok pagi dia mulai berkuliah di kampusnya Rose dan ia belum membuat surat untuk Rose.
"Astaga... aku lupa besokan aku udah masuk ke kampusnya Rose"
Rey segera bagun dari tempat tidur dan langsung mengambil binder untuk menulis surat di atas balko kamar.
"Apa ya yang harus aku tulis untuk Rose"
Rey berpikir sambil mengenggam pena, hingga dia memutuskan untuk menulis puisi di surat pertamanya untuk Rose.
Untuk: Bidadari ku
"Kerinduan Ku"
"Angin malam menghiasi ke rinduan ku"
"Rasanya diingin, senyap, dan sepi mulai menusuk"
"Sama seperti perasaan ku saat ini"
"Semenjak perpisahan itu"
"Hati ku sunyi, senyap , dan sepi yang menusuk"
"Aku selalu mencari mu"
"Sampai aku menemukan mu kembali"
"Di kota kenangan kita"
"Izinkan aku mengagumi"
"Jika tak bisa seperti dahulu"
"Izinkan aku melihat senyum mu"
"Meski dari jauh"
"Izinkan berada di sisi mu"
"Meskipun kau tak menyadari kehadiran ku"
"Percayalah aku datang kembali untuk melindungi mu"
"Kau adalah pelita hidup ku"
"Yang menerangi aku dalam kegelapan malam"
"Semangat selalu aku bersama mu"
"Aku akan mengihiasi hari mu"
"Tampa kau sadari"
"Teruntuk kau sayang ku"
Dari: R.P.Y
Setelah selesai menulis surat Rey memasukkan surat kedalam amplop pink dan memberikan sedikit pita di ujung amplop agar lebih terlihat manis dan romantis.
(Sementara disisi lain)
Rendi masih saja memikirkan perkataa siang tadi kepada Rose, di taman kampus dan cemas karena dari tadi Rose tak bisa di hubungi.
"Aduh... gimana ni Rose gak bisa di hubungin"
(Guman Rendi dalam hati)
"Aku wa gak di balas dan ig Rose gak aktif dari siang"(Guaman Rendi dalam hati)
Karena terus menerus memikirkan Rose, Rendi tak bisa tidur semalam dengan keadaan kacau Rendi bagun dari tempat tidur dan menuri anak tangga untuk berangkat kuliah. Mama Rendi yang melihat Rendi sangat kacau mulai bertanya dan binggung, mengapa hari ini putranya bagun pagi dan sudah rapi untuk kuliah tampa harus di bagun, tidak seperti biasanya yang selaluh bangun kesiangan, namun dengan wajah yang sangat kacau.
"E.hh Ren kok pagi ini cepat baget kamu bagun ?"
Rendi yang mendengar pertanyaan dari mama hanya diam tanpa berniat untuk mejawab perkatan mama, karena sekarng tubuh Rendi sang lelah dan pikiran Rendi masih kacau. Mama yang melihat Rendi tidak menjawab pertanyaannya, bertanya kembali.
"Kamu sakit Ren"
Rendi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan menjawab dengan lesu.
" Gak kok ma aku gak sakit"
Mama Rendi mulai bertanya lagi kepada putranya
"Kalau kamu gak sakit kenapa wajah kamu kacau ?"
"Kenapa suara kamu lesu ?"
"Ngak seperti biasanya"
Rendi yang mendapat pertanyaan beruntun dari sang mama hanya menghela nafas dan mulai bersuara agar mamanya tidak khwatir.
"Aku gak sakit aku sehat dan wajah Rendi gak kacau kok ma bisa aja"
"Cuman ke lelahan aja ma"
Mama Rendi hanya mengaguk mengerti karena ia tau bahwa sang putra sibuk dengan urusuna kuliahnya. Papa Rendi yang baru datang dari arah masuk ruang makan bertanya kepada sang istri.
"Kenapa Rendi hari ini bagun pagi baget ma ?"
Mama Rendi yang melihat kedatang suami terkejut dan sebelum akhirnya mama Rendi menjawab.
"Gak tau tu pa, Rendi kesambet apa hari ini dia bagun pagi tampah dibangunin duluh, bisanyakan dia gak akan bagun kalau aku gak bangunin"
Papa Rendi mengaguk setuju dan menatap Rendi dengan penuh selidik sebelum akhirnya bersuara karena melihat kondisi Rendi yang wajahnya sangat kacau.
"Kamu kenapa Ren"
Rendi yang mendengar pertanyaan dari papa hanya diam tanpa mau memberikan jawaban.
"Ren kamu kenapa ?"
Papa Rendi bertanya kembali kepada Rendi, namun kali ini mendapat Respon.
"Aku ngak pa pa kok pa"
Dengan suara yang sangat halus seperti bisikan, kedua orang taunya yang mendengar suara Rendi yang tadi cukup keras semakin lama semakin mengcil binggung dan menatap satu sama lain. Hingga terjadilah keheningan dianatara mereka, namun keheningan tak berlangsung lama karena sang mama mulai berakting kepada papa untuk membuat kejutan ulangan tahun suami.
"Mas aku kamaren lihat kamu jalan sama perempuan cantik dan seksi"
Sambil menapilkan wajah sedihnya
"Kamu bilang apa si ma ?"
"Papa gak ngerti"
"Kamu gak usah bohong mas"
"Kamu jahat mas udah selingkuhin aku "
Papa yang tidak mengerti sandiwara istrinya panik karena sang istri menagis sampai terisak-isak, Rendi yang melihat mamanya yang menagis mendekap sang mama dan memeluk nya sambil menatap mata papanya dengan tatapan membunuh.
"Papa gak selungkihin mama"
"Mamakan tau kalau papa itu cinta mati sama mama"
"Papa bohong kalau benar papa cinta mati sama aku kenapa papa jalan sama prempuan lain dan jalan menuju hotel"
Dengan suara tagisan yang semakin kencang di pelukan sang anak, Rendi yang tidak menyadari sandiwara sang mama karena ingin mengerjai mereka di hari ulang tahun papa. Mulai melangkah maju di depan papanya dengan tatapan dinginya dan dengan suara yang sedikit meninggi.
"Apa benar pa yang di kata mama ? "
Denagan kilatan marah sang anak bersuara sedikit meninggi karena tak tau rencana sang mama
"Ngak Ren papa gak mungkin selingkuin mama kamu"
Dengan suara yang sedikit ketakutan dan wajah yang telah panik mengahadap sang anak dan istrinya
"Bohong kamu mas"
Denagan suara tagisan yang lebih kencang sang istri sengaja untuk mengerjain mereka berdua karena ia ingin melihat kedua orang yang di cintai sebatas mana menanamkan kepercayaan antara anak dan papa. Rendi yang melihat mamanya menagis semakin menahan marah kepada papanya dan bersuara untuk menanyakan kebenaran 1 kali lagi.
"Pa jawab yang jujur apa papa benaran selingkuh dengan prempuan lain"
Papa Rendi yang merasa tidak melakukan perselingkuhan menjawab dengan sedikit tenang untuk meyakinkan anak dan istrinya.
"Aku ngak mungkin selingkuh dari kamu sayang dan aku gak mungkin mengecewakan kamu Ren"
"Kamu taukan papa itu sangat sayang sama kamu dan ngak bisa menduakan mama"
Dia mentap mata papanya untuk mencari kebohongan namun ia tak menemukan kebohongan, hingga Rendi percaya dan bersamaan datanglah keluarga besar Rendi membawah Kue ulang tahun.