Black Rose From Fans

Black Rose From Fans
Capter 12 Telpon



"Ha..ha.. ha takut kan lo sama gue, jadi jangan sok-sokan untuk ngelawan gue"(Guman Rendi dalam hati)


karena tak mendengar suara Rendi yang menerima kata maaf dari Rose, Rose ketakutan sambil bersuara lagi karena dia sangat memahami pemudah itu kalau sedang murka.


" Ren kamu maafin' aku kan?"


Rendi yang mendengar suara Rose tersadar dari lamunannya dan segera menjawab


"Iya gue dengar, okey kali ini gue mafin' tapi mulai besok lo harus bawain sarapan gue dan jangan sampe telat kalau sampai lo telat, lo terima hukuman yang lebih berat dari pada kemarin"


Sesunggunya Rendi tidak marah, namun ia sengaja untuk mencari alasan agar Rose semakin sering bersamanya.


"Okey Ren aku janji bakal bawain kamu sarapan. aku tutup dulu ya telponnya, hujan nya mulai berhenti aku mau pulang ke rumah"


Rose segera ingin mengakhiri telpon dengan Rendi dan segera melanjutkan motor matic untuk pulang ke rumah, karena tubuhnya sangat lelah dengan kegiatan hari ini.


"Iya gue juga ada urusan"


Setelah telpon Rendi berakhir Rose segera keluar dari toko buku dengan membawa buku yang ia perlukan dan segera menuju motor matic untuk melaju ke rumahnya.


( Sementara disisi lain)


Setelah ke pergian Rose dari toko buku, Rey masih setia di tempat. Ia memandang Rose yang berjalan pamit untuk mengangkat telpon sampai selesai hingga Rose pergi dari toko buku tak luput dari pandangan Rey,Sambil berbicara di dalam hati.


"Kenapa saat aku melihat mata gadis itu, aku melihat seseorang yang selama ini aku rindukan hingga membuat aku kembali ke kota ini."


"Tapi apakah benar dia adik cantik ku?"


"Kalau memang benar dia, kenapa dia menjadi seperti itu?


"Aku tak tau, tapi perasaan ku mengatakan bahwa dia seseorang yang sangat ku rindukan, meskipun ia memang benar suatu saat dia terbukti adalah Rose yang ku cari selama ini"


"Aku akan dengan senang hati bersamanya seperti dahulu"


"Aku tak peduli dengan keadaan fisiknya dengan nya hidup ku menjadi berwarna dan selalu tertawa lepas"


"Sesungguhnya aku sedikit kecewa saat dia tertimpa masalah yang berat dan tak berbicara padaku, melainkan meninggalkan ku"


"Karena perasaanku yang sedikit kecewa, aku meninggalkan kota ini untuk menenangkan pikiran ku dan ketika aku kembali lagi aku tak tahan menahan rindu serta cinta yang semakin besar ini"


"Namun apakah dia masih mengingat diri ku?"


"Apakah dia tak akan menghindari ku?"


"Apakah dia juga merindukan ku?"


"Dan apakah dia masih menyukai hal yang sama seperti dahulu"


" Aku harus mencari tau gadis itu, jika dia terbukti adalah adik cantik ku maka aku akan mendekati dirinya dengan diam-diam"


"Tunggu aku adik cantik ku, aku yakin pasti banyak yang kau alami saat aku tidak ada di samping mu"


"Namun sekarang tak akan ku biarkan orang membuat mu menderita dan saat waktu yang tepat kelak aku akan membaut mu seperti sediakala"


Setelah berbicara di dalam hati Rey segera berjalan untuk keluar dari toko buku dan segera menuju mobilnya untuk berjalan meninggalkan toko buku.


(Sementara disisi lain)


Setelah menutup telpon, Rendi langsung membaringkan lagi tubuhnya di atas kasurnya dengan mata yang mengarah ke atap-atap langit dan senyum yang tak pernah luntur pada bibirnya, sambil terus berguman di dalam hati.


"Andai aja Rose itu adik cantik pasti gue bahagia banget dan ngak akan gue biarin dia pergi di hidup gue apa lagi sampe jadi milik orang lain"


"Tapi dia kan bukan gadis kecil cantik itu, kira-kira cantik di mana ya sekarang?"


"Pasti sekarang tambah cantik dan pasti bakalan susah biar ngebuat dia jadi milik gue, tapi gue ngak akan nyerah "


"Dia harus jadi milik gue"


Dengan pikiran yang berkecamuk dan hati yang masih bimbang, namun kebimbangan itu seketika lenyap saat mendengar mamanya mengetuk pintu dan bersuara agar Rendi segera turun untuk makan malam bersama.


"Ren bagun nak, turun dulu kita makan malam bareng di meja makan ayah kamu udah nungguin"


Rendi yang mendengar suara mamanya yang mengetuk sambil memberi perintah agar turun untuk makan malan bersama segera bersuara.


"Iya ma, bentar lagi Rendi turun"


"Rendi mau mandi dulu ya ma, kalau mama sama papa mau makan dulu ngak apa-apa entar Rendi makan sendiri ma"


Mama Rendi yang mendengar ucapan dari balik kamar segera bersuara untuk pergi


"Ya udah, kami makan dulu ya Ren kasian papa udah lama nunggu di meja makan"


"Nanti kalau kamu udah mandi turun aja gabung sama mama dan papa"


Rendi menjawab suara mama dan segera berjalan untuk mengambil handuk dan langsung berlari ke kamar mandi.


"iya ma"


Setelah mendengar suara putranya mama Rendi segera turun dan menuju ke ruang makan, di sana papa Rendi telah menunggu sang anak dan putra satu-satunya. Namun saat sang istri sudah ada di ruang makan papa Rendi binggung mengapa hanya istrinya saja kemana putranya, hingga sang suami bertanya kepada istrinya.


"Kok mama sendirian?"


" Bukan nya mama tadi bilang mau pergi untuk ngajak Rendi makan malam bareng?"


Sang istri yang mendapat pertanyaan beruntun dari suami mengelah nafas dalam-dalam sabelum akhirnya menjawab pertanyaan sang suami.


"Hu... iya tadi Rendi bilang mau mandi dulu, Entar dia nyusul kita ke meja makan untuk makan malam"


Sang suami menganguk dan langsung berbicara agar segera makan malam.


"Ya udah kita makan duluan saja"


Mereka berdua segera makan malam dengan keheningan, setelah 15 menit Rendi turun dari tangga menuju ruang makan untuk makan bersama.


Rendi sudah sampai di ruang makan dan segera menarik kursi untuk bergabung, setelah semuanya selesai menikmati makan malam mereka melanjutkan aktivitasnya masing-masing.


(Sementara disisi lain)


Rose sudah sampai di rumah yang telah di tempuh sekitar 30 menit dari toko buku, Rose segera mamarkirkan motor matic dan masuk dalam rumah yang lansung menuju ke kamarnya, ia sangat lela karena kegiatan hari ini.


Rose segera mandi, 15 menit Rose sudah rapi dengan pakaian tidur dan segera membaringkan tubuhnya ke atas kasur untuk beristirahat. Tak lama Rose sudah masuk ke alam mimpi tanpa makan terlebih dahulu karena tubuhnya sudah sangat lelah.


Keesokan harinya Rose terbagun saat mendengar alarm ponselnya berbunyi, dengan mata masih terpejam Rose segera meraba-raba meja yang ada si sebelah kasur dan melihat keara ponselnya jam berapa sekarang dengan mata yang sedikit mengantuk.


Ponsel Rose menunjukan jam 6 pagi, sebenarnya Rose masih ingin tidur namun karena dia berjanji kepada Rendi untuk membuat sarapan dan membawanya.


Mau tak mau Rose bangkit dari atas kasurnya dengan langkah gontai Rose masuk ke kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci wajah dan mengosok gigi serta rambutnya yang telah diikat asal-asal.