Black Rose From Fans

Black Rose From Fans
Capter 7 Kegundahan



Tak terasa sudah 20 menit berlalu, pekerjaan Rose sudah hampir selesai dan hanya mengumpulkan sampah serta membuangnya. Namun betapa terkejutnya Rose melihat ruang yang ditempati oleh kedua sahabat Rendi,seperti kapal pecah. Dengan nada suara tinggi Rose berbicara dengan orang yang di depannya.


"Hey kalian berdua, bisa ngak si, ngak usah ngotorin ruangan ini lagi"


"Aku itu capek beresin dan kalian malah sibuk ngotorin"


Mereka berdua menoleh sebentar dari ponselnya, kemudian menghadap Rose dengan tatapan yang menantang.


"Emang masalah buat lo? kami ngak peduli dengan nasib lo"


Mendengar jawaban dari kedua sahabat Rendi, yang ngak ada akhlaknya. Rose menatap mereka dengan tatapan sinis yang menahan marah. Ze dan Zian menyadari tatapan Rose, mulai bersuara sambil menatap mata Rose dengan tatapan yang tak kalah menantang.


"Ngapain lo?? ngak senang dengan tingkah kami"


"Sini kalau lo berani"


Rose yang sudah tak tau lagi bagaimana menghadap mereka berdua, hanya menghela nafas dan mencoba bersuara dengan sedikit lembut.


"Ngak kok, aku bukan ngak suka sama kalian tapi aku mohon belas kasihan kalian"


"Jangan diberantakin lagi ruangan ini"


Dengan tatapan memohon dan tangan yang ditangkup menandakan bahwa ia meminta belas kasian. Mereka berdua melihat Rose yang menatap dengan nada memohon tertawa dengan penuh kemenangan.


"Ha..ha..ha...ha mimpi aja lo, dapat belas kasihan dari kami"


"Ingat lo ya kami ngak akan biarin lo, dengan gampang menyelsaikan tugas dari Rendi"


Rose mendengar perkataan Ze dan Zian hanya melihat dengan tatapan bertanya, hingga akhirnya Ze bersuara untuk menjawab tatapan Rose.


"Karena kami ngak suka sama lo, yang baru jadi pembantu aja udah mulai diperhatiin sama Rendi"


Zian juga menimpal perkataan Ze.


"Nah benar tu Ze, kita aja yang sahabat Rendi ngak pernah tu diperhatiin kayak dia"


"Butuh waktu lama biar Rendi perhatian dengan kita, bahkan kami harus tunjukin dulu bukti kesetiaan kami"


Rose yang binggung dengan maksud kata "perhatian" yang diucapkan oleh kedua sahabat Rendi yang sedang berbicara tersebut.


"Maksud kalian perhatian apa?"


Ze mulai bersuara dengan tatapan yang tak suka.


"Masa lo yang jadi pembantu, ngak boleh kami apa-apain biasanya juga Rendi ngak pernah tu ngelarang kita"


Zian menimpal perkataan Ze dengan tatapan setuju


"Nah benar baget tu Ze, bahkan Pacar Rendi aja boleh kami apa-apain"


Ze bertanya dan menatap Rose dengan tatapan yang penuh selidik


"Lo apain sahabat gue?, sampai dia gak tega sama lo"


Zian bertanya dengan pertanyaan yang ngak masuk akal


"Apa lo guna-guna ya?"


"Atau lo kasih dia sesuatu biar dia ngak tegaan sama lo"


Rose yang mendapat pertanyaan dari kedua sahabat Rendi, hanya menghela nafas dan menjawab dengan tenang.


"Aku ngak ngapa-ngapain sahabat kalian, dan masalah katanya Rendi perhatian sama aku. Kalian salah, sebenarnya Rendi ngak perhatian sama aku tapi dia hanya ngak mau terlalu cepat penderitaan aku berakhir, jadi kalian ngak usah iri sama aku dan mikir macam-macam"


"Malahan disini aku iri sama kalian"


Ze dan Zian menatap Rose dengan tatapan bertanya, hingga akhirnya Rose menjawab tatapan mereka.


"Kalian bisa bertiga terus, selalu ngelindungi, dan ada teman disaat kalian mau berkeluh kesah"


"Kalian mau iri sama aku dengan apa?"


"Wajah?, ngak mungkinkan sedangkan aku buruk rupa"


"Kaya?, ngak mungkin juga kan karena aku aja cuman tinggal dirumah yang sederhana dan kuliah aja aku pakai biaya pemerintah"


"Terus kenapa kalian menyalahkan semuanya kepada aku"


"Aku lelah tau ngak?? jalanin semuannya!!"


"Aku capek ngejalanin semua ini, aku ngak minta kalian untuk berteman same aku tapi tolong hargai kehadiran aku"


Rose berbicara kepada sahabat Rendi dengan tatapan yang menyiratkan kesedihan dan terluka. Mereka yang melihat Rose menitikan bulir air mata hanya diam tanpa berkutik dan ada rasa sedikit bersalah dengan kedua sahabat Rendi itu.


(Sementara disisi lain)


Sudah 20 menit Rendi mengikuti mata kuliah Pak Bagas,Namun pikiranya berkelana dengan memikirkan Rose dan kedua sahabatnya.


"Kira-kira mereka lagi apa ya di sana?"(Guman Rendi dalam hati)


"Apakah Ze sama Zian ngak macam sama Rose?, awas aja kalau dia macam-macam bakal gue buat mereka menyesal "


Tanpa Rendi sadari, dia mulai memikirkan Rose dengan pemikiran yang ingin melindungi. Namun lamunannya buyar seketika, karena Pak Bagas bertanya kepada Rendi.


"Hey..Rendi kamu lagi ngelamunin apa?


Rendi yang mendapat pertanyaan dari Pak Bagas, yang tertangkap basah sedang melamun dan ia mulai mencari alasan agar tidak mendapat hukuman.


"Ngak kok Pak saya ngak lagi melamun, tapi saya hanya berpikir dengan apa yang Bapak jelaskan"


"Ya sudah kalau begitu kita lanjutkan saja materinya"


"Baik Pak"


Rendi segera memfokuskan diri kepenjelasan yang Pak Bagas jelaskan, hingga tak terasa sudah 5 menit berlalu setealah peristiwa Rendi tertangkap basah sedang melamun memikirkan Rose.


Jam mata kuliah Pak Bagas sudah usai, semua mahasiswa dan mahasiswi berhamburan untuk meninggalkan kelas. Begitu juga dengan Rendi yang telah berjalan melewati karidor kampus menuju parkiran, Setelah beberapa menit Rendi sampai didepan mobilnya dan langsung masuk untuk menyalahkan mobil menuju gedung yang tak terawat serta menjijikan itu.


Diperjalanan Rendi selalu berusaha fokus kejalan, karena pikiran Rendi tak fokus kejalan. Karena selalu memikirkan apa yang di lakukan oleh kedua sahabatnya terhadap Rose di gudang yang tak terawat serta menjijikan itu.


"Aduh gimana ni kalau sampe mereka apa-apain Rose kaya cwek-cwek yang pernah gue titipin sama mereka dan kalau mereka ngelakuin yang lebih dari itu"


"Gimana kalau Rose nanti di bawak ketempat perdagangan manusia"


Masih banyak lagi pertanyaan dibenak Rendi yang tidak masuk akal dan tak mungkin di lakukan oleh kedua sahabatnya tanpa persetujuan Rendi.


(Sementara disisi lain)


Rose dan kedua sahabat Rendi masih terdiam dengan pemikirannya masing-masing, setelah terjadinnya insiden cekcok. Keheningan terjadi diantara mereka, namun tak lama kemudian terdengar deruman mobil Rendi yang telah masuk di pekarangan gedung, kedua sahabat Rendi menyadari bahwa itu mobil Rendi langsung gelagapan dan menolong Rose membuang sampah agar tak terjadi keributan.


Sementara Rose yang masih tidak menyadari kedatangan Rendi terdiam ditempat. Sampai Ze dan Zian membuka suara untuk membuyarkan lamunan Rose.


"Hei lo cepetan beresin ini jangan bengong aja, tu Rendi udah didepan mau masuk gedung. lo mau Rendi marah dan nambahin hukuman lo"


Rose menjawab pertanyaan dengan suara yang sedikit gagap karena kanget


"Iii.... iya"


Rose segera membantu mereka dengan kecepatan penuh untuk membersihkan sisa sampah.


(Sementara disisi lain)


Hampir 10 menit Rendi mengendarai mobil dengan pikiran kacau, akhirnya Rendi sampai di pekarangan gedung yang di dalamnya ada kedua sahabatnya dan Rose. Rendi memarkirkan mobil tepat didepan pintu utama gedung namun sebelum Rendi masuk gedung dia menghela nafas dan berguman didalam hati agar tidak gugup.


"Hu... hu"


"Sabar Ren, lo jangan gugup entar kelihatan kalau lo lagi nerves, bisa besar kepala Rose"