
Kini Bella duduk di sebuah sofa sembari memasukkan kue coklat ke mulutnya, Ken menatap Bella dengan serius.
"Bell apa kau baik-baik saja?"
ucap Ken
"Apa maksudmu kak? apa aku terlihat sakit atau sekarat?"
ucap Bella
"Bukan begitu bell, kau sudah bertemu dengan Aiden kan? siang tadi Alex bercerita padaku"
"Hum, yaa aku bahkan datang bersamanya malam ini, dengar kak, aku baik-baik saja. Kakak tidak seharusnya memberiku pekerjaan ini jika tidak yakin padaku"
"Maaf bell, aku percaya padamu tapi aku benar-benar tidak tahu bahwa targetmu adalah cucu tuan Graham. Aku tidak mengerti mengapa tuan Graham ingin mencuri dokumen dari cucunya sendiri"
"Itu bukan urusan kita kak, aku hanya perlu mencuri dokumen itu dan kabur dari Aiden Cullen"
Ken agak khawatir dengan adiknya, tapi mustahil baginya membatalkan pekerjaan ini, lagipula tuan Graham tidak bisa ia hubungi sejak kemarin.
"Baiklah bell, aku hanya ingin tahu kabarmu setelah bertemu Aiden, maaf mengganggu pekerjaanmu"
"Tidak masalah kak, sekarang aku harus kembali ke Aiden"
Saat Bella hendak membuka pintu, Ken tiba-tiba memanggil Bella
"Tunggu bell"
Bella berbalik ke arah Ken, lalu menaikkan sebelah alisnya.
"Ada apa kak?"
"Jika sesuatu terjadi, segera hubungi aku"
"Baiklah"
Bella keluar dari ruangan Ken, sebelum kembali ke Aiden dia menuju toilet. Reyhan yg sejak tadi menunggu Bella keluar dari ruangan Ken segera mengikuti Bella dari belakang.
Kini Bella berada di toilet wanita, dia baru saja selesai buang air kecil. dia sedang mencuci tangannya, saat dia menatap cermin di hadapannya, dia melihat sepasang bola mata sedang menatapnya tajam. Bella mematikan keran air yg ada di hadapannya. lalu berbalik ke arah pria di belakangnya.
"Rey? ini toilet wanita!"
ucap Bella
"Aku sudah mengunci pintunya"
ucap Reyhan
"itu bukan jawaban yang kuinginkan! kau tidak seharusnya berada di sini Rey! cepat keluar!"
"mengapa sejak kita bertemu kembali, kau hanya terus menerus mengusirku? dulu kau tidak seperti ini bell"
"oh **** man!! listen to me, wanita yang dulu kau temui itu adalah salah satu karakter baik hati yang kugunakan untuk membodohi mu!"
Bella menahan amarahnya sambil menunjuk wajah Reyhan.
Reyhan tidak peduli dengan teriakan Bella di hadapannya, dia menatap bola mata Bella yg terlihat indah saat dia marah. Reyhan tiba-tiba mengangkat Bella ke wastafel, lalu mencium bibir Bella, Reyhan memperdalam ciuman saat Bella mendorong lengannya.
"uh..****.."
ucap Bella saat Reyhan melepaskan ciuman di bibir lalu turun ke leher Bella.
Reyhan menyeringai, dia membuat kissmark di leher Bella. Setelah beberapa menit berciuman, Reyhan menghentikan kegiatannya. dia menatap Bella yg sedang mengatur nafas.
"Rasanya masih sama? apa perlu kita melanjutkannya?"
ucap Reyhan sembari membersihkan bekas Slavina di sudut bibir Bella.
"Cukup! Menjauhlah dariku Rey!!"
Bella mendorong Rey lalu segera keluar dari Toilet tersebut.
***
Aiden masih duduk di tempat yang sama, dia benar-benar hanya menunggu Bella untuk kembali.
Bella menghampiri Aiden dengan wajah masam.
"Ada apa rose? temanmu mengacaukan suasana hatimu?"
ucap Aiden lalu menggiring Bella untuk duduk di pangkuannya.
"Tidak, aku baik-baik saja"
sialan, si Rey brengsek itu tiba-tiba menciumku
"sepertinya ada banyak orang yang mengenalmu di bar ini, mereka terus-menerus melirik kita"
"mungkin karna aku sering ke bar ini, jangan hiraukan mereka"
"rose, kurasa bartender itu ingin menyampaikan sesuatu padamu"
Bella menoleh ke arah bartender yg dimaksud Aiden, dia melihat Alex yg sedang tersenyum padanya sembari memberi isyarat agar ia kesana.
"kau benar, dia ingin aku kesana"
Bella mencoba untuk berdiri, namun ditahan oleh kedua lengan kekar Aiden.
"Kau akan meninggalkan ku lagi? jangan bercanda rose!"
Bella masih duduk di pangkuan Aiden, dia menatap manik mata Aiden yg terlihat tidak suka jika dia berusaha untuk pergi.
"Dengar Aiden, Dia salah satu temanku di bar ini, kau tidak perlu cemburu padanya"
lagipula kenapa dia cemburu? aku hanya salah satu dari banyaknya wanita yang dia permainkan
"Kalau begitu, biarkan aku ikut denganmu dan mendengarkan apa yang ingin dia sampaikan"
Aiden mengangkat Bella ke samping kirinya lalu berdiri dan menghampiri bartender.
Melihat Aiden yang menghampiri Alex secara langsung, Bella segera berdiri dari duduknya dan berlari mengikuti Aiden dari belakang.
setelah keduanya duduk di hadapan Alex, Bella meminta minuman keras dengan kadar alkohol yang rendah.
"Kalian sudah menjadi sepasang kekasih?"
ucap Alex
ucap Aiden
"Tidak"
ucap Bella
setelah bersamaan menjawab, Alex menaikkan sebelah alisnya tidak tau mana jawaban yang benar
"baiklah jadi siapa yang perlu kupercayai?"
ucap Alex
"Kami bukan sepasang kekasih, kau tahu Alex! aku bertemu dengan Aiden kemarin"
ucap Bella
"Apa yang salah dengan itu? orang-orang bisa menjadi sepasang kekasih hanya dengan menghabiskan malam bersama!"
ucap Aiden
"Hey tidak perlu berdebat, sepasang kekasih ataupun bukan sejujurnya tidak terlalu penting bagiku. Tapi ada seorang pria yang menanyakan itu padaku"
ucap Alex
"Siapa pria itu?"
ucap Bella
Aiden menatap Bella saat Bella bertanya.
"pria yang sedang berdiri di lantai 2 dengan menggunakan kemeja biru tua"
ucap Alex
Bella dan Aiden mengarahkan pandangannya ke lantai 2, disana ada seorang pria yang sedang menatap ke arah mereka.
"Dia lumayan tampan"
ucap Bella lalu menatap ke arah Aiden.
"Kau yakin?"
ucap Aiden lalu mengecup bibir Bella sekilas.
"Ya, dia tampan"
ucap Bella
mendengar itu, Aiden menarik pinggang Bella lalu ******* bibirnya.
Alex yang masih berdiri di hadapan keduanya lebih memilih membalikkan badannya dan melayani pelanggan yang lain.
pria yang berdiri di lantai 2 masih menatap Bella dan Aiden yang sedang berciuman di bawah sana, pria itu sesekali meneguk wine yang dia pegang.
***
Kini Bella dan Aiden menuju Kediaman Cullen. Bella tertidur di pangkuan Aiden dalam perjalanan. tak lama kemudian, mereka tiba namun Aiden tidak ingin membangunkan Bella, dia memilih menunggu wanita itu untuk bangun sendiri.
"Tuan kita sudah sampai"
ucap sang supir
"Aku tahu, turunlah lebih dulu, katakan pada pelayan untuk menyiapkan baju untukku dan Bella"
Tak lama setelah Supir Mobil itu turun, Handphone milik Aiden berbunyi.
"Halo ada apa Mark?"
"Selamat malam Tuan Aiden, maaf mengganggu waktu istirahat Anda, saya ingin mengingatkan bahwa ada perubahan pada jadwal anda"
ucap Mark di seberang telepon
"Baiklah, kirim jadwa terbaru sekarang juga"
ucap Aiden
"Baik Tuan"
ucap Mark.
Setelah mematikan telepon, Aiden menyenderkan kepalanya lalu mengusap kepala Bella. Saat hendak menutup matanya, tiba-tiba terdengar suara handphone yang berbunyi.
"sial! apalagi ini?"
ucapnya lalu menatap layar ponselnya
Aiden mengerutkan keningnya saat mendapati tidak ada panggilan masuk di ponselnya. Ternyata bunyi handphone itu datang dari tas Bella, Aiden meraih tas Bella lalu mengeluarkan ponsel yang terus-menerus berbunyi itu.
"Azka?"
ucap Aiden membaca nama kontak yang menggangu ketenangannya. Aiden segera mematikan telepon tersebut, tapi tak lama kemudian handphone tersebut kembali berbunyi.
Aiden yang tidak sabaran menjawab panggilan tersebut.
"Apa yang kau inginkan?"
ucap Aiden
di seberang telepon,
Azka yang mendengar suara pria, reflek mengecek layar ponselnya.
"nomornya benar, maaf anda siapa?"
ucap Azka
"dengar! aku kekasih rose, berhenti mengganggu kami di waktu istirahat!"
ucap Aiden agak marah
dia menyebut Bella rose? dia bukan Bryan ternyata. Setahuku Bella memang punya kekasih dan namanya Bryan, meskipun tidak pernah bertemu dengan Bryan, Bella sering bercerita tentangnya, dan setahuku Bryan tidak tahu Bella punya nama rose.
"Kau bukan kekasihnya! berikan ponsel itu pada rose! katakan padanya tunanganmu ingin bicara!!"
ucap Azka dengan nada keras