Black Rose

Black Rose
Aku Bella bukan Rose



sudah 1 bulan Bella berada di Kanada.


Bella mengerjapkan matanya saat cahaya matahari mengenai wajahnya, dia bangun lalu meregangkan tubuhnya dan berjalan ke teras. Terlihat orang yang berlalu-lalang di bawah sana, jalanan yang ramai karna ia tinggal di sebuah rumah susun yang memiliki banyak penduduk.


"Kehidupan yang seperti ini juga tidak buruk, aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan di sini" Bella tersenyum lalu berjalan menuju kamar mandi.


kini ia berdiri menatap cermin, lalu berbalik badan dan melihat tato mawar hitam yang ada di punggungnya.


"Disini tidak akan ada yang memanggilku rose, di Indonesia hanya orang terdekatku yang memanggilku Bella, sekarang semua orang memanggilku Bella. Baiklah waktunya menikmati keindahan yang ada di negara ini"


Setelah bersiap, kini Bella memakai rok hitam pendek dan kemeja merah lengan pendek. Ia meraih ponselnya lalu memasukkannya ke tas yang ia bawa. Bella berniat menikmati segelas kopi terlebih dahulu, ia berkeliling kota mencari caffe dengan bintang lima yang ada di maps. Setelah menemukan salah satu caffe yang tidak terlalu ramai, ia kemudian memarkir mobilnya lalu segera memesan kopi.


"good morning, what would you like to order?" ucap seorang pegawai di caffe tersebut.


"what is the most delicious menu in this cafe?" ucap Bella sambil tersenyum


"all good miss, but i would suggest coffee with milk chocolate mix"


"ok i ordered it" ucap Bella lalu duduk di kursi yang berada di ujung ruangan.


Bella membuka ponselnya, lalu menghubungi Ken.


"Halo kak"


"Halo Bell, kau ada dimana? bisa-bisanya kau menitipkan map itu pada Azka lalu menghilang"


"Tenanglah kak aku melakukan ini agar Aiden tidak menemukan ku, map itu sudah kakak berikan pada tuan Graham?"


"Tentu saja Bell, baiklah jawab pertanyaanku, kau ada dimana saat ini?"


"Aku di Kanada kak, dengan bayaran tuan Graham, aku sepertinya akan berlibur selama beberapa bulan"


"Lakukan apapun yang kau inginkan Bell, tapi berhati-hatilah karna Aiden bisa saja sedang mencari informasi tentang dirimu saat ini"


"Tidak masalah kak, dia tidak akan menemukanku aku sudah mengganti identitas ku"


"Baiklah Bell"


setelah beberapa saat, kopi pesanan Bella pun datang.


Dia tersenyum pada pelayan yang membawa pesanannya. Bella memikirkan hal apa saja yang akan dia lakukan hari ini, lalu membuat list di ponselnya.


"Baiklah, setelah ini aku akan mencari restoran dengan menu makanan laut" ucap nya, lalu tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


"Halo?" ucap Bella lalu hendak meminum kopinya


"kau terlihat bahagia rose"


Saat mendengar suara tersebut, Bella kembali meletakkan cangkir kopi miliknya.


"Suara ini adalah suara Aiden, apa dia sedang melihatku?"


"Aku memang selalu bahagia, siapa kau?"


"Jadi kau sudah melupakan ku ya, kurasa ingatanmu akan kembali setelah melihatku"


"Dengar aku tidak mengenalmu, dan tidak berminat untuk bertemu denganmu"ucap Bella lalu menutup telepon.


"sial, apa Aiden sudah menemukanku? aku harus segera pulang dan pergi ke tempat lain"


Bella memutuskan untuk menikmati kopinya sebelum pulang. Sementara itu, Aiden berada di luar caffe sedang memperhatikan Bella yang sedang meminum kopi. 2 Minggu setelah kepergian Bella, Aiden mencari tahu mengenai Bella hingga mengetahui keluarganya, termasuk apa sebenarnya pekerjaan Bella.


"Apa anda tidak ingin menghampiri nona rose"


"Baik tuan"


Setelah menikmati kopinya, Bella berniat untuk pulang, namun dia merasa sayang jika tidak melakukan semua kegiatan yang sudah ia list, setelah berpikir panjang, akhirnya ia memutuskan untuk melakukan hal yang sudah ia list.


"Baiklah, pertama aku akan mencari restoran makanan laut, setelah itu ke toko senjata dan ke pantai"


Setelah melakukan semuanya, kini Bella berada di tepi pantai melihat matahari yang hampir hilang.


"Aku berhasil lari dari Reyhan, aku hanya perlu melakukan hal yang sama pada Aiden. Semuanya akan baik-baik saja, aku hanya perlu lari darinya"


kini Bella berada di lift, setelah sampai di lantai 6, ia kemudian membuka tasnya dan hendak mengambil kunci pintunya, namun saat ia meraih kenop pintu, dia sadar bahwa pintu rumahnya telah rusak. Bella kemudian membuka pintu itu secara perlahan lalu masuk tanpa suara. Rumahnya gelap, namun ia tidak berniat menyalakan lampu.


Bella memasuki kamarnya, dia melihat seseorang duduk diatas kasur, dengan jendela yang terbuka sinar bulan memasuki ruangan tersebut. Bella meraih pistol yang telah ia beli di toko senjata.


"Kau sudah pulang? aku menunggumu sejak tadi"


"Aiden?" Bella berjalan mendekat sambil mengarahkan pistol ke arah Aiden.


"Setelah mencuri, dan menipuku, sekarang kau ingin membunuh ku? kau menyembunyikan begitu banyak hal dariku rose""


"Apa yang kau inginkan?"ucap Bella yang masih menodongkan pistol pada Aiden


"Aku sudah tahu semuanya, aku memberimu kesempatan untuk meminta maaf karna telah menipuku"


"Jangan bercanda, kau tidak mungkin mendatangiku hingga ke Kanada hanya untuk mendengar ucapan maaf"


Aiden berjalan mendekat ke arah Bella, ia tersenyum manis.


"Jangan mendekat atau aku.."Aiden tiba-tiba menarik Bella hingga berbaring di atas kasur, kini Aiden berada di atas Bella, kedua tangan Bella ditahan oleh Aiden, dan pistolnya di lempar ke lantai.


"Sudah kukatakan, aku memberimu kesempatan untuk meminta maaf dan tentunya sebuah ucapan tidak akan cukup untuk menebus semuanya"


"brengsek, lepaskan aku, kau marah karna aku mencuri dokumen itu? asal kau tahu saja, orang yang memintaku mencuri dokumen itu adalah kakek mu!"ucap Bella


"Apa kau pikir aku hanya peduli tentang hal itu? sikapmu yang seolah-olah mencintaiku adalah kesalahan terbesarmu!"


Bella terdiam, dia menelan ludahnya saat Aiden menatapnya dengan amarah. Aiden mengatur nafasnya, lalu melepaskan kedua tangan Bella secara perlahan.


"Sialan, bagaimana dia bisa menemukanku secepat ini, aku harus segera lari darinya"


"Kau sedang berfikir untuk lari dariku bukan? teruslah berfikir rose, karna kemanapun kau berlari, aku akan menemukanmu"ucap Aiden lalu mencium kening Bella


Bella tiba-tiba menemukan rencana, untuk lari dari Aiden.


"Nama asliku adalah Bella, aku hanya menggunakan nama rose saat sedang bekerja, kau bisa memanggilku Bella mulai saat ini"


"Baiklah Bella, berapa banyak yang ditawarkan kakek ku hingga membuatmu berani menggoda ku?"ucap Aiden tiba-tiba yang membuat Bella kembali terdiam.


"Ada apa? kau pikir aku akan membiarkan diriku di tipu untuk kedua kalinya? sikapmu yang seolah-olah peduli dan menginginkan ku sudah bisa ku tebak rose"


"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"


"Aku menginginkanmu, terlepas dari semua hal yang kau lakukan padaku, aku akan membuatmu berada di sisiku"


"dengarkan aku Tuan Aiden, anda tidak mungkin sebodoh itu bukan? anda ingin saya berada disisi anda setelah semua yang saya lakukan?"


"Akan kubayar 2 kali lipat dari bayaran kakek ku, bukankah ini pilihan terbaik?"


"Tidak, terimakasih" Bella tiba-tiba mendorong Aiden dan hendak lari. namun saat ia sampai di pintu kamar, Aiden menahan pintu tersebut agar tidak terbuka.


"Aku sudah memberimu kesempatan, tapi kau menyia-nyiakan kesempatan itu Bella"