
Aiden dan Mark berada di ruang rapat, sedangkan Bella berada di ruangan Aiden. Merasa bosan, Bella akhirnya menelfon Ken, berharap Ken akan mengetahui kabar mengenai Azka.
"Halo..selamat siang"
"halo Bell? apa ada masalah?"
"aku ingin minta bantuan mu kak, nomor Azka tidak bisa dihubungi sejak pagi tadi"
"baiklah Bell, aku akan menyuruh seseorang mengunjungi Azka, aku akan menghubungimu secepatnya"
"baik kak"
Bella menutup telfonnya, lalu berjalan menuju meja kerja Aiden. lihat ini, dia bahkan tidak tersenyum saat berfoto, ucap Bella sambil memegang foto Aiden. Bella berbaring di sofa karna tidak ada hal yang bisa ia lakukan di ruangan itu.
"Bagaimana jika Aiden benar-benar melakukan sesuatu pada Azka? aku seharusnya lebih berhati-hati, kenapa aku malah lupa mengganti ponselku sebelum melakukan tugas ini"
Bella menatap ponselnya yang berada di atas meja.
beberapa menit kemudian, Bella tertidur di atas sofa.
Tanpa ia sadari, Aiden sejak tadi mendengarkan apa yang dikatakan Bella, vas bunga yang berada di atas meja ternyata sebuah penyadap yang sengaja dibuat oleh Aiden, agar tidak lupa dengan ucapan klien bisnisnya. Aiden menggunakan headphone bahkan sebelum rapat dimulai, Sekarang ia sadar bahwa Bella memang mendekatinya untuk sebuah tujuan.
Aiden duduk berhadapan dengan sofa yang Bella tempati, dia menunggu Bella terbangun.
"Mark, Rose tidak akan ikut ke China" ucap Aiden sambil menatap Bella
"Baik tuan" Mark tidak berani bertanya mengenai alasan Aiden mengubah keputusannya, karna sejak tadi suasana hati Aiden benar-benar buruk, dia bahkan tiba-tiba meninggalkan ruangan rapat sebelum rapat selesai.
beberapa menit kemudian
"Tuan, kita harus berangkat ke bandara Sekarang" ucap Mark sambil menatap jam dinding
"Baiklah, panggil seseorang untuk menjemput rose, setidaknya dia harus pulang meskipun aku tidak disana"
Aiden berdiri meninggalkan ruangan kerjanya. Bella masih terlelap dalam tidurnya.
1 jam kemudian, Bella terbangun, dia melihat seseorang berdiri di dekat pintu.
"kau siapa?"
"saya pelayan yang akan menjaga anda selama 2 hari ke depan nona, tuan Aiden sudah berangkat ke China 1 jam yang lalu"
"benarkah? kalau begitu ayo kita pulang, aku ingin beristirahat"
"baik nona"
Saat Bella memasuki ruang tamu, ia melihat Reyhan duduk di sana, seolah sedang menunggunya pulang.
Bella mondar-mandir di dalam kamar Aiden, terus memutar otaknya karna hari itu, dia tidak menemukan mal yang ia cari di ruang kerja Aiden.
"di rumah yang sangat luas ini, dimana Aiden menyimpan map itu?"
setelah berjam-jam berfikir dan menggeledah kamar Aiden. Bella menatap sebuah lukisan singa berwarna emas, tepat di samping Pengharum ruangan. Bella mendekati lukisan besar itu, ia melihat ada sesuatu yang aneh, saat dilihat dari dekat, ternyata lukisan singa tersebut memakai kalung berwarna biru yang terbuat dari batu safir. Bella memencet batu safir tersebut, dan senyum indahnya muncul saat melihat lukisan itu tiba-tiba bergeser ke kiri dan kini terlihat sebuah brangkas mini di hadapan nya.
"Akhirnya, aku akan keluar dari rumah ini"
Bella membuka brangkas itu dengan mudah, tentu saja dengan pengalamannya bertahun-tahun, membuka sebuah brangkas hanyalah masalah kecil baginya.
"Ini dia, map yang diinginkan kakekmu sendiri, setelah kupikir-pikir dengan kepergian Aiden ke China, aku akan lebih mudah menghilang dari hidupnya. kurasa aku memang sangat beruntung hari ini"
Bella menunggu waktu fajar saat pergi dari rumah itu, ia meminta kunci mobil dari seorang pelayan dengan alasan ingin menemui seorang temannya di luar kota, makanya berangkat pagi. tentu saja tidak ada yang mengira bahwa Bella tidak akan pernah kembali ke rumah itu.
Bella tersenyum sembari menyetir mobil, lalu membuka ponselnya dan hendak menghubungi Ken.
"Halo Bell, ada apa menelfon di pagi hari? oh iyaa mengenai Azka, dia baik-baik saja, dia bekerja seperti biasa"
"baguslah kalau Azka baik-baik saja, aku menghubungimu karna tugasku sudah selesai kak, map yang diinginkan tuan Graham sudah kudapatkan"
Ken bangun dari tidurnya, lalu mengusap wajahnya
"benarkah Bell? kau sudah mendapatkan Map itu?"
"iya kak, aku akan membawanya padamu, Aiden sedang berada di China saat ini, ia akan kembali besok pagi, aku harus keluar negeri dan menghilangkan jejak ku sebelum dia menyadari kepergianku"
"baiklah Bell, kita bertemu di hotel adios siang ini"
Bella berhenti di dekat terminal bus, memarkir mobil yang ia gunakan, dia meninggalkan mobil itu begitu saja lalu naik bus menuju hotel yang dimaksud Ken.
Setelah sampai, dia menuju lantai 99, yang merupakan lantai tertinggi di hotel tersebut. disana ia melihat Azka yang sedang meminum segelas kopi. bella menghampiri Azka dan duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
"Percuma saja aku khawatir dengan mu" ucap Bella, lalu meletakkan map yang ia pegang.
"haha.. harusnya kau bilang padaku bell, pekerjaanmu kali ini berkaitan dengan Aiden Cullen, untung saja, orang yang dia bayar untuk mencari informasi tentangku adalah langganan sekretarisku"
"Apa Ken sudah memberitahu mu? kami membuat janji untuk bertemu disini"
"Tidak, lagipula sejak kapan kalian bertanya terlebih dahulu sebelum datang kesini"
Azka menatap Map yang berada di meja
"Map itu adalah dokumen yang kucuri dari rumah Aiden, Ken akan datang menjemputnya"
"Ini dokumen yang membuatmu menggoda Aiden Cullen? oh iyaa, malam itu, dia terdengar marah saat kukatakan kau tunanganku"
Azka tersenyum pada Bella.
Azka merupakan Pemilik Hotel Adios, dia merasa bosan terus menghadiri rapat dan mengurus hotel ini, karna itulah dia bekerja sebagai pembuat tato di sebuah studio kecil, dia menjadikan pekerjaan sampingannya sebagai healing saat pusing.
Beberapa saat kemudian, ponsel Bella berbunyi. tertulis nama Aiden di layar ponselnya. Azka menaikkan alisnya dan bertanya
"ada apa Bell?"
"Aiden sepertinya sudah menyadari kepergianku, tolong berikan map ini pada Ken, aku harus segera kabur ke luar negeri"
"Kau akan kemana lagi Bell? kenapa kau harus lari darinya? hadapi dia, katakan bahwa kau punya pasangan"
"Berbohong hanya akan menciptakan kebohongan yang lain, dia tidak akan melepaskan ku begitu saja, menyadari bahwa dia ditipu, dia bisa saja menghancurkan semuanya, selamat tinggal Azka"
Bella berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu.
"Tunggu Bella, negara mana yang akan kau tinggali ? berapa lama ?"
tepat saat Bella memegang kenop pintu, dia berbalik sejenak lalu hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Azka.
"Baiklah, waktunya menyembunyikan diri"
Kini Bella berada di pesawat, sebelumnya dia hanya pulang ke rumah untuk mengambil berkas baru mengenai biodata dirinya. paspor baru, kewarganegaraan baru dan menuju tempat tinggal yang baru. Setelah sampai di Kanada, Bella memesan kamar di sebuah hotel untuk beristirahat.
***
Kini Aiden berada di rumah, ponselnya berada di lantai sejak ia menelfon Bella puluhan kali tapi tidak diangkat, dia melempar ponsel tersebut. ia berdiri menatap lukisan singa yang tidak terlihat simetris.
"Jadi ini yang kau inginkan rose? sudah kuduga, kau pasti meninggalkanku setelah mendapat yang kau inginkan" Aiden membuka brankas di belakang lukisan singa tersebut dan tidak dia temukan map miliknya. Ia tertawa, dia benar-benar tidak menyangka seorang wanita yang menipunya dengan mudah.
"Baiklah rose, permainan baru saja dimulai"