Bidadari is Wasted

Bidadari is Wasted
Episode 3



📖Selamat Membaca📖


💫💫💫💫💫


Dewi Lotus!


"Butuh bantuan?" Tawarku pada namja yang aku yakini adalah manusia.


Kalian tahu hukumanku? Aku diasingkan ke dunia manusia selama 1 hari hanya karena sebuah apel emas itu ada diranjangku. Menyebalkan bukan?!


Lebih menyebalkan lagi aku harus menerima hukuman yang tidak aku lakukan sama sekali dan aku tidak tahu apakah waktu 1 hari akan sama di dunia manusia?


Sudahlah!


Biarkan waktu yang menjawabnya. Kata dewa hakim, jika masa hukuman ku habis maka aku akan menghilang dengan sendirinya dari alam manusia.


Aku sedih!


Aku tidak terima jika harus di hukum seperti ini!! Apalagi kepergianku ke alam manusia tanpa memberi tahu dewa langit terlebih dahulu.


Okey! Cukup tentang curhatku. Sekarang kita kembali ke manusia tadi.


Manusia itu masih menatapku dengan mata lebar dan mulut terbuka. Aku yakin dia terpana akan kecantikanku bukan karena takut padaku, buktinya dia hanya diam tanpa berkedip sedikitpun.


"Ehemm!" dehemku menyadarkannya.


"Nuguya!" Tanyanya gugup setelah sadar dari lamunannya.


"Aku... Aku Dewi Lotus." Jawabku jujur sedikit gugup.


Aku harus jujur sama manusia ini saja,  siapa tahu dia akan memberiku tumpangan untuk tinggal bersamanya selama aku di bumi. Namun????


"Hahahahaahhahaahhaahahahah"


Manusia itu tertawa sambil berdiri dengan membiarkan botol itu mengapung di permukaan air sumur.


"Kamu pikir aku percaya denganmu, eoh!" Lanjutnya sambil terus tertawa seakan tiada henti.


Dasar manusia menyebalkan! Ternyata dia bukan manusia yang gampang percaya dengan hal gituan. Bagaimana caranya agar dia bisa percaya padaku ya?


Ahaha, Kekuatan? Inikan di alam manusia bukan di alam Catumaharajika. Jadi, apa salahnya aku menggunakannya. Aku menggunakan juga hanya untuk  membuktikan agar manusia ini percaya padaku. Aku janji hanya akan menggunakannya seperlunya saja terutama hanya di depan makhluk aneh ini.


"Apa perlu aku membuktinya agar kamu percaya padaku?"


"Silahkan!" Tantangnya sambil tersenyum tidak percaya.


Tanpa menunggu lama-lama aku langsung.....


"Cling!"


"Cling!"


"Cling!"


Aku bertelepati pindah ke seberang sungai, lalu ke atas pohon dan kembali lagi tepat di belakang manusia itu.


"Bagaimana? Apa sekarang kamu percaya padaku?"


Tanyaku sambil menyentuh bahunya dari belakang dan anehnya tidak ada rasa takut sedikitpun di wajahnya.


"Tidak... Aku masih tidak percaya. Bisa jadi kamu manusia jadi-jadian atau hantu yang terobsesi menjadi Dewi Lotus! Atau....... Kamu hanyalah seorang cewek halu?!! "


Aku tertawa hambar mendengarnya. Bagaimana bisa ia mengatakan aku adalah manusia jadi-jadian? Hantu?? Dan apa katanya tadi? Halu? Wah! Penghinaan ini! Aku meniup anak rambutku kesal.


"Ya! Gadis secantik aku kamu bilang aku manusia jadi-jadian, hantu dan halu?!"


Sarkasku tidak terima sambil menunjuk diriku kemudian beralih padanya.


Manusia itu tampak bingung memikirkan apa yang aku katakan.


"Lalu apa maumu? Kenapa kamu harus membuktikannya padaku? Bukankah seharusnya kamu menyembunyikan identitasmu dari manusia seperti aku?"


"Aku menunjukannya padamu, supaya kamu bersedia memberiku tumpangan tempat tinggal selama aku tinggal di alam manusia ini!" Jawabku  jujur.


"Sorry! Aku tidak bisa membiarkan seorang cewek tinggal di rumahku." Imbuhnya sambil jongkok menenggelamkan botol itu kembali ke dalam sumur.


"Baiklah jika kamu menolak membantuku maka aku akan menenggelamkanmu ke sungai itu!" Ancamku.


"Coba saja kalau kamu bisa! Aku tidak takut sama sekali!" Katanya tanpa gemetar sedikitpun.


Menyebalkan! Benar-benar menyebalkan! Ini manusia atau Alien sih? Kok dia ngak ada takutnya sedikitpun.


"Baiklah jika itu maumu. Jadi, jangan salahkan aku jika besok kamu hanya tinggal nama!" Gertakku. Namun, ia tetap tidak bergeming sedikit pun.


Aku pun mulai beraksi. Aku mengangkatnya sampai di atas sungai. Aku melihat dia mulai takut itu tergambar ketika dia meronta dan meminta aku melepaskannya. Tapi sayangnya tidak semudah itu sebelum aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Selain itu, aku ingin sedikit bermain-bermain dengannya sebagai hukuman karena dia meragukanku sebagai Dewi Lotus.


"Baik.... Baiklah aku... aku akan memberimu tumpangan, sekarang lepaskan aku!" Teriaknya dengan nada gemetar ketika ujung kakinya sudah akan menyentuh air.


"Janji!"


"Iya, aku janjji!" Katanya dengan nada panik.


Yess! Aku berhasil meyakinkannya. Setelah itu aku membawanya ke tempat semula.


Aku lihat dia mengelus dada lega karena tidak jadi mati. Aku tertawa di dalam hati. Aku bukanlah dewi yang sejahat itu. Jika aku ketahuan membunuh manusia bisa-bisa aku akan langsung lenyap dengan sendirinya dari alam Catumaharajima.


"Karena kamu sudah memberi aku tumpangan, maka aku akan membantumu" Tawarku.


"Kalau begitu selesaikan hukumanku dengan cepat," Mintanya setelah napasnya kembali normal.


"Hukuman? Bagaimana bisa kamu dihukum?" 


"Ceritanya panjang. Lebih baik kita kembali ke tenda." Katanya berjalan melewatiku. Aku mendekus lalu mengekorinya.


Sampai tenda yang di maksudnya!


"Sekarang kamu isi penuh ember ini dengan kekuatan yang kamu miliki." Katanya memerintahku seenak jidatnya setelah kami sampai tenda.


"Tapi sebelum itu, kamu harus janji padaku."


"Apalagi?!"


"Kamu berjanji kalau kamu tidak akan pernah membocorkan identitasku pada orang lain. cukup kamu yang tahu. Awas jika kau membocorkannya!" Ancamku. Bukan menjawab dia malah diam.


"Baiklah jika kamu tidak mau, maka aku pun tidak akan membantumu dan aku akan mencari orang lain yang bisa membantu ku dengan ketulusan hatinya." Kataku memutar badanku hendak meninggalkannya.


"Baiklah." Katanya mengintrupsi langkahku.


"Aku janji! Tidak akan menceritakannya pada siapapun. Sekarang isi ember ini sampai penuh!" Lanjutnya. Aku tersenyum mendengarnya. Aku harap ia menepati janjinya.


Aku langsung menggunakan kekuatanku untuk mengisi penuh ember itu.  Aku perhatikan dia kagum dengan kemampuanku. 


"Ada apa dengan wajahmu eoh? Apa sekarang kamu mengakui kelebihanku?" Tanyaku menyadarkannya.


"Anniyo!" Jawabnya gugup sambil melangkah pergi.


"Ya! Kamu mau kemana?" Teriakku sambil mengejarnya.


"Syotttt." Katanya sambil membekap mulutku. "Jangan berisik! nanti ada yang bangun!" Lanjutnya.


Tbc,--