
*
*
*
🍁🍁📖 Selamat Membaca 📖🍁🍁
*
*
*
-------- -------- -------- --------
Suasana yang terjadi di apartemen Taehyung terlihat berbeda dari sebelumnya.
Dimana Taehyung dan Sohyun terlihat canggung satu sama lain di sofa ruang tamu. Ada apa dengan mereka? Apa mereka bertengkar lagi?
Tak lama setelah itu bel apartemen Taehyung berbunyi. Pertanda ada yang datang. Reflek Sohyun ingin membuka pintu namun di cegah oleh Taehyung.
"Biar aku saja yang membuka pintu. Kamu cukup diam duduk manis di sini."
Sohyun dengan senyum mengembang dan wajah bersemu duduk kembali di kursi. Kata-kata Taehyung mampu menggetarkan hati Sohyun.
Taehyung membuka pintu! Ternyata yang datang jasa pengatar makanan. Itu artinya Taehyung memesan makanan untuk sarapan. Taehyung kembali dengan 2 kotak makan di tangannya.
"Ayo kita sarapan." Ajak Taehyung begitu sampai di ruang tamu. Pun Sohyun langsung beranjak dari duduknya.
Tunggu?! Sebutan Taehyung dan Sohyun berubah menjadi kata kita? Apa jangan-jangan mereka sudah pacaran? Benarkah? Kapan? Apa kemaren? Bisa jadi.
Lihatlah! Bahkan saat makan Taehyung memperlakukan Sohyun seperti ratu. Selesai sarapan Taehyung siap-siap ke kampus.
"Jika Tzuyu datang lagi jangan pernah membukakannya pintu. Kalau pun dia memaksa ingin masuk segera hubungi aku dengan ponsel yang sudah aku beli kemaren untukmu."
Sohyun mengangguk paham.
"Aku pergi." Lanjut Taehyung dengan senyum termanisnya. Pun Sohyun membalasnya dengan senyum malu.
*
*
*
Taehyung dan Jaehyun sedang duduk disalah satu kursi taman. Mereka terlihat sedang belajar nyanyi. Taehyung yang nyanyi Jaehyun yang main gitar.
Beberapa menit setelah itu Jimin datang dengan muka di tekuk Taehyung dan Jaehyun menghentikan kegiatan mereka.
"Kamu kenapa?"
Tanya Jaehyun pada Jimin yang sudah duduk diantara mereka. Bukannya menjawab Jimin malah menangis di bahu Jaehyun. Membuat Taehyung berdecak heran.
"Ya! Bantet. Kalau kamu menangis karena patah hati jangan disini. Aku masih marah pada mu karena kamu sudah memberi tau Tzuyu alamat apartemenku!" Sinis Taehyung.
"Ya Alien Jupiter! Aku menangis disini karena aku menganggap hanya kalianlah teman ku. Apakah aku salah memberi tau Tzuyu alamat apartemenmu disaat kamu sendiri mengakui sudah berkencan dengannya." Jawab Jimin tidak terima.
"Itu tidak benar! Itu hanya akal-akalan ku saja untuk membuat Sohyun cemburu."
Jaehyun langsung memasang muka datar akan pernyataan Taehyung.
"Kamu jatuh cinta pada Sohyun?!" Kaget Jimin
"Dari bentuk wajahmu seperti iya. Bukankah kamu menganggap dia seperti adikmu ya?" Lanjut Jimin dengan tanya.
"Aku dan Sohyun tidak lahir dari rahim yang sama." Tegas Taehyung.
"Omong-omong kamu menanangis karena apa? Apa Saeron memutuskanmu?" Lanjut Taehyung mengalihkan pembicaraan.
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Aku hanya menebak."
"Aissshh!" Kesal Jimin.
"Kalian tahu?!" Jimin menjeda ucapannya.
"Saeron memutuskan hubungan kami secara sepihak." lanjut Jimin membuat Taehyung dan Jaehyun saling lihat.
"Wae? Bukankah hari ini tepat 5 bulan kalian pacaran?" Tanya Jaehyun.
"Iya! Aku tahu itu. Makanya niatnya hari ini aku ingin memberi dia kejutan dengan mengajaknya jalan keluar. Tapi dia malah bilang aku tidak ada hubungan dengannya. Dan yang membuat hatiku tercabik cabik lagi dia tidak mengakui hubungan yang kami jalani selama 6 bulan ini. hwua aaaa aaaaa."
Jawab Jimin dan tangisnya pun langsung pecah. Jimin kembali bersandar tapi bukan pada bahu Jaehyun melainkan bahu Taehyung.
Taehyung hanya bisa geleng-geleng. Tapi apa benar Saeron tidak menganggap keberadaan Jimin selama 5 bulan ini? Aneh sih? Semenjak camping Saeron jadi senang didekatin Jimin. Padahal biasanya Saeron selalu menghindar jika di dekati Jimin. Itulah yang ada dibenak Taehyung saat ini.
Tzuyu sedari tadi terus mencari keberadaan Taehyung. Tzuyu kemudian berjalan ke arah taman. Sebab hanya tempat itu yang belum ia datangi untuk mencari keberadaan Taehyung.
Tiba-tiba ia berhenti dan satu detik setelah itu?
Senyum mengembang dibibir gadis bersurai panjang itu kala melihat Taehyung di taman bersama Jimin dan Jaehyun. Dengan wajah ceria dan langkah lebar Tzuyu berjalan mendekat ke arah tiga pria itu berada.
"Dengar-dengar Sohyun akan kuliah ya? Apa itu benar?"
Tanya Jimin setelah selesai dari aksi tangisnya sembari menegakan kepala dari bahu Taehyung. Taehyung dan Jaehyun geleng-geleng dibuatnya. Mereka tidak habis pikir kok mood temannya itu begitu cepat pulih.
"Hemmm!" Jawab Taehyung hanya dengan deheman.
"Tunggu?! Dari mana kamu tahu?" Lanjut Taehyung bingung. Bagaimana bisa si bantet itu tahu padahal dia belum cerita pada siapapun.
"Dari mana aku tahu? Itu semua tidak penting."
"Apa Sohyun yang menginginkannya?" kali ini Jaehyun yang bersuara.
"Iya."
"Terus apa dia sudah kalau dia bisa kuliah disini?" Suara Jimin.
"Dia belum tahu."
"Why?" Kata Jaehyun dan Jimin berbarengan
Jimin dan Jaehyun mengangguk paham.
"Aaaaa, Bukankah dari kemaren kamu mencari fiksi fantasi yang berkaitan dengan masa hukuman seorang Dewi dari surga yang kesasar ke Bumi?"
Tanya Jaehyun bertepatan saat langkah kaki jenjang Tzuyu terhenti. Tzuyu mendengar pembicaraan mereka. Taehyung mengangguk mantap sebagai jawaban.
"Kamu bisa menanyakannya pada Noona Moon Chae Won. Karena dia fakar fiksi disini." Lanjut Jaehyun.
"Sejak kapan kamu tertarik dengan cerita fiksi. Apa menjadi Alien belum membuat mu puas dan sekarang kamu berhayal ingin menjadi bagian dari para dewa/dewi itu?" Celetuk Jimin tiba-tiba.
Taehyung langsung menyoyor kepala Jimin.
"Ini bukan karena aku tertarik dan ingin menjadi bagian dari mereka. Aku mencarinya karena Sohyun ingin mengetahui hal itu."
Tzuyu seketika membeku dan bertanya-tanya? Apakah Sohyun benar menanyakan hal itu? Pikirnya.
"Wae? Kenapa Sohyun ingin tahu hal itu. Apa mungkin menurutnya cerita fantasi itu benar-benar ada?" Lanjut Jimin.
Tzuyu saat ini terlihat marah bahkan tangannya sudah terkepal di bawah sana. Entah kenapa dia malah berbalik enggan menghampiri Taehyung yang sedari tadi ia cari keberadaannya. Ada apa dengannya? Apa yang membuatnya mengurungkan niat untuk mendekat?
"Bukan begitu bantet. Dia hanya senang baca cerita fiksi." Bohong Taehyung.
*
*
*
Ini Aku Kim Taehyung!
Hari ini aku pulang agak sore sebab aku harus mampir ke toko tas, toko sepatu, toko buku dan lain sebagainya untuk membeli keperluan kuliah Sohyun.
Aisshhh! Aku sedikit ke walahan membawa barang-barang ini. Jika aku tahu akan seberat ini aku memilih keluar bersamanya tapi jika iya maka dia akan bertanya ini itu. Otomatis ini tidak akan menjadi kejutan untuknya.
Begitu lift terbuka aku langsung berlari ke arah lift dan aku melihat ada pria tampan yang masuk lift itu. Anni! Aku lebih tampan darinya. Benarkan?
Begitu masuk aku sedikit menunduk dan tersenyum padanya. Bukannya membalas senyum ku dia malah menatap barang belanjaanku dengan wajah datarnya tanpa ekspresi.
Tunggu! Aku seperti pernah bertemu dengannya? Dimana? Aaa! Bukankah dia pria yang aku tabrak kemaren di loby?
"Kamu pria,___"
Pintu lift tertutup! Ucapan ku pun jadi terpotong. Reflek Aku ingin menekan angka 40 tapi aku sedikit kewalahan dengan barang belanjaanku. Akhirnya tanpa ku duga tangan pria itu bergerak cepat dan menekan angka 40 untuk ku.
Aku kemudian berterima kasih padanya sambil menampakkan senyum kotak khas ku. Anehnya dia tetap diam. Aku bingung! Apa dia terbuat dari robot atau batu ya? Kenapa wajahnya bisa kaku seperti itu. Dasar! Atau dia marah karena kemaren aku mengabaikannya walau aku yang salah. Bisa jadi!
"Aku minta maaf karena sudah menabrakmu kemaren."
Dia melihatku!
"Kemaren aku sangat buru-buru makanya aku tidak sempat minta maaf lebih dulu."
"Tidak masalah. Lagian aku sudah melupakannya."
"Sungguh?"
Dia tersenyum. Tampaklah gigi kelincinya.
"Apa kamu orang baru di sini? Soalnya aku tidak pernah melihatmu sebelumnya."
"Iya."
"Lantai berapa?"
"40"
"40? Sama dong." Aisshhh! berarti tadi dia menekan angkan 40 bukan untuk ku. Melainkan untuk dirinya sendiri.
"Kok lantai apartemen kita bisa kebetulan sama ya? Kalau begitu perkenalkan nama Kim Taehyung. Lalu namamu siapa?"
"Nama ku,___?"
Ternyata kami sudah sampai lantai 40. Otomatis ucapan pria itu jadi terpotong. Begitu lift terbuka dia langsung keluar. Pun aku menyusul keluar. Tiba-tiba dia berbalik!
"Nama ku Jeon Jungkook." Katanya datar lalu berjalan menuju apartemennya yang entah berada di nomor berapa.
Aku kenudian masuk apartemen ku dan melihat Sohyun sedang nonton drama kesuakaannya di ruang tv.
Setelah aku meletakan barang belanjaanku aku mendekat ke sisi Sohyun dan duduk disamping kanannya.
Aku menyengol bahunya. Tapi dia hanya menolehku sebentar dan kembali fokus pada drama yang ditontonnya.
"Ya! Kim SoHyun!!!" teriakku lantang di dekat telinganya.
"Ya!!! Kamu pikir aku budek eoh!!!"
Teriaknya balik sembari menutup telinganya dan jangan lupakan tatapan tajamnya padaku saat ini.
"Makanya lihat aku! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Penting."
"Ada apa sih?! Kalau mau ngomong, ya ngomong . Aku bisa mendengarmu tanpa harus berhadapan denganmu kan? Iisss! Mengganggu saja! Lihat! Gara-gara kamu aku tidak bisa menyaksikan adegan itu. Jadi, cepat katakan sekarang."
Heol! Anak ini. Berani-raninya membentak ku. Yang punya apartemen siapa? Dia atau aku? Untung dia sudah bertahta di hati ku. Kalau tidak! Aku pastikan, aku sudah menendangnya jauh-jauh dari sini.
"Mulai besok kamu sudah bisa kuliah."
"Nde?!" kaget Sohyun.
"Besok kamu sudah bisa kuliah." Ulangku.
"Jinjja?!!!" Teriaknya senang.
"Hemmmm." Jawabku sambil mengangguk.
Seketika Sohyun langsung memeluk ku dan mencium pipiku berulang kali.
Aku kaget dibuatnya dan jangan lupakan jantungku..... Jantungku seakan lepas dari tempatnya sekarang. Astaga sepertinya perasaan ini akan semakin dalam untuknya. Bagaimana ini?
------- ------- ------- ------- ------
Tbc,____