Bidadari is Wasted

Bidadari is Wasted
Episode 22



*


*


*


🍁🍁🍁📖 Selamat Membaca 📖🍁🍁🍁


*


*


*


-------- -------- -------- --------


Sesuai dengan apa yang dikatakan Taehyung kalau hari ini adalah hari pertama Sohyun kuliah di Hanyang.


Begitu mobil Taehyung terpakir Sohyun langsung membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil dengan senyum merekah seakan dunia hanya dia yang menepati. Segitu bahagianyakah dirinya bisa menjadi salah satu mahasiswi di Hanyang?


Setelah menarik nafas dalam-dalam Sohyun langsung berjalan dengan wajah berseri meninggalkan Taehyung yang masih duduk dikursi kemudi.


"Aiisshh. Apakah kuliah membuatnya begitu bahagia sampai dia melupakan ku yang masih duduk di dalam mobil?" Gerutu Taehyung setelah melepas sabuk pengamannya. Taehyung lalu membuka pintu mobil dan keluar dari mobil mewahnya.


"Ya! Sohyun-ah! Tunggu aku!" Teriak Taehyung sembari menutup mobilnya kembali.


Saat mereka sampai di koridur kampus semua mata tertuju pada dua insan itu. Terutama para cowok yang menatap Sohyun kagum akan kecantikan yang dimiliki gadis itu.


Para cowok yang menatap Sohyun berilusi seakan cahaya keluar dari tubuh Sohyun dipadukan dengan taburan bunga-bunga surgawi yang harum semerbak menaburi setiap langkah kaki jenjang seorang Kim Sohyun.


Taehyung dapat menyadari tatapan para cowok yang menatap Sohyun kagum membuatnya tidak nyaman dan sebel sendiri.


Para gadis yang memandang Sohyun sinis dan penuh tanya karena ia berjalan dengan cowok paling populer, kaya dan tampan di Hanyang. Berbagai pertanya pun muncul dalam diri para gadis itu.


"Siapa dia? Apakah dia kekasih Kim Taehyung? Atau apakah dia adiknya?"


"Baru pertama kali ini aku melihatnya. Apakah dia mahasiswi baru disini?"


"Jika dia pacar Taehyung hatiku patah bagaikan rating pohon yang terinjak kaki gajah. Sangat sakit bukan?"


Itulah kalimat yang muncul dari para gadis yang melihat Sohyun berjalan bersama Taehyung. Namun ada beberapa gadis yang mengagumi Sohyun dan tidak mempersalahkan kedekatan mereka.


"Jikapun mereka benar-benar pacaran aku sangat setuju. Taehyung tampan dan cewek itu sangatlah cantik bagaikan bidadari."


"Daebak! Bagaimana ada gadis secantik itu disini? Bahkan kulitnya bersinar, halus dan seputih dadih susu. Kapan ya aku bisa memiliki kulit seperti itu?"


"Taehyung sangat beruntung. Aku iri dengannya. Aku harap cewek itu adiknya. Ini kali pertama aku melihat cewek secantik itu?


Kurang lebih seperi itulah pujian yang terlontar dari mulut para cowok dan para gadis untuk Sohyun.


Sohyun yang bisa mendengar ucapan mereka tersenyum sembari mengakat rambutnya kebelakang sengaja. Alhasil itu mampu membuat para cowok yang mengaguminya seakan pingsan ditempat.


Taehyung yang menyadari hal itu meraih jemari Sohyun dan menariknya untuk mempercepat langkah mereka. Sohyun kaget. Bahkan jantungnya berpacu sangat cepat hanya karena jemarinya dipegang Taehyung.


"Kim Sohyun-ssi! Ingat tujuanmu kuliah disini. Bukan untuk ttp (tebar-tebar pesona) dengan para cowok itu. Selain itu, kamu juga harus ingat kalau aku ada disini. Mengerti!" Bisik Taehyung di telinga Sohyun.


Tzuyu baru datang dari arah berbeda dengan Taehyung dan Sohyun. Pun secara tidak sengaja ia mendengar bisik-bisik para tetangga tentang Taehyung dan Sohyun.


Seketika Tzuyu geram. Tangannya pun sudah terkepal di bawah sana sambil menatap punggung Taehyung dan Sohyun yang semakin menjauh dari tatapan tajamnya.


Telinga Tzuyu semakin panas melihat Taehyung masih memegang jemari Sohyun. Beberapa detik setelah itu, hal aneh terjadi. Tiba-tiba para mahasiswa/i itu terdiam bagaikan patung. Sesaat setelah Tzuyu meletikan jarinya.


Tzuyu tersenyum dengan senyum smriknya lalu melanjutkan langkah kaki jenjangnya lagi. Disaat Tzuyu berlalu dari koridur para mahasiswa/i yang diam mematung tadi langsung kembali bergerak seperti sedia kala.


Sebelum masuk kelas Taehyung membawa Sohyun ke direktur kampus. Setelah itu mereka ke ruang administrasi. Baru setelah itu mereka ke kelas.


"Kapan aku akan ke perpustakaan?" Tanya Sohyun pada Taehyung yang sudah tidak sabar ingin mencari buku yang dicarinya.


"Waeyo?!"


"Kartu identitasmu diperpus Hanyang belum jadi. Jadi, bersabarlah dulu."


Taehyung dan Sohyun sudah sampai di depan kelasnya. Begitu mereka sampai di pintu masuk tiba-tiba sebuah tulusan "Selamat datang Kim Sohyun" terlontar dari atas pintu di depannya.


"Surprise!"


Kata Jaehyun dan Jimin berbarengan sembari menaburkan bunga untuk menyambut kedatangan Sohyun di kelas mereka. Berlebihan memang!


Tapi Taehyung dan Sohyun tetap bisa tersenyum dibuatnya.


"Selamat datang Sohyun-ssi." Lanjut Jaehyun dan Jimin dengan senyum tulus mereka.


"Ide siapa ini?" Tanya Taehyung.


"Ini idenya Jaehyun." Jawab Jimin. Jaehyun tertunduk malu seketika Taehyung langsung berhenti tersenyum. Tapi tidak dengan Sohyun yang langsung mendekat ke sisi Jaehyun.


"Terima kasih atas ide baiknya menyambutku di kelas ini."


Kata Sohyun berdiri tepat dihadapan Jaehyun dengan senyum cantiknya. Hal itu mampu membuat wajah Jaehyun merah padam.


*


*


*


Ini Aku Kim Taehyung!


Kelas terakhir diisi oleh nuna Moon Chae Won. Begitu kelas berakhir kami pun langsung keluar.


Sampai di depan pintu Nuna Chae Won memanggilku dan mengajak ku ke ruangannya.


Karena ini bersangkutan dengan Sohyun aku tidak mungkin mengajaknya untuk ikut bersama ku. Aku kemudian menyuruh Sohyun berjalan duluan bersama J2 meski awalnya dia menolak dan tetap ingin bersamaku.


"Ini buku yang kamu cari." Kata nuna Chae Won sambil menyodorkan buku fiksi itu padaku.


"Apakah cerita di buku ini benar-benar terjadi adanya?"


"Hahahhahahah. Cerita ini hanya fiksi yang aku buat sendiri. Terkait dengan perbedaan masa kehidupan para dewa/i di kayangan atau alam lainnya dengan kehidupan manusia dalam fiksi ini bisa dikatakan benar bisa juga tidak."


"Berapa perbedaan masa kehidupan itu?"


"Jika masa kehidupan di Kayangan 1 hari itu bisa dikatakan 1 tahun kehidupan manusia di Bumi. Bahkan itu bisa saja lebih tergantung masanya atau tingkatan dewa/i itu berada."


"Lalu? Bagaimana ending fiksi yang ada dalam buku ini?"


"Kamu ingin tahu endingnya? Kamu bisa baca sendiri fiksi ini."


Aku keluar dari ruangan Moon Cae Won dengan wajah sendu mengingat perbedaan waktu di alam Sohyub berbeda. Jika satu hari di Surga itu artinya satu tahun kehidupan manusia di bumi.


Itu artinya hukuman Sohyun di bumi selama satu tahun. Jika demikian terhitung dari waktu dia terdampar ke bumi saat aku menemukannya berarti dia dibumi masih tersisa enam bulan lagi.


Haruskah dia pergi meninggalkanku secepat itu. Andwe! Aku belum siap ditinggalnya secepat itu. Lalu apa yang harus aku lakukan agar dia tetap bertahan bersamaku di bumi?


Apa aku harus membaca buku ini? Siapa tahu aku bisa mendapatkan petunjuk agar bisa membuatnya bertahan bersamaku. Sepertinya iya. Jika dia tetap tinggal di bumi itu artinya dia tidak akan bisa kembali ke alamnya dan bertemu Dewa Langitnya itu bukan?


Haruskah aku egois? Tapi aku ngak mau kehilang orang yang aku sayang untuk kedua kalinya. Perasaanku saat ini sangat jauh berbeda dengan gadis yang aku sukai sebelumnya. Kali ini aku benar-benar tidak sanggup kehilangan Sohyun. Hidup tidak berarti tanpa Sohyun.


------- ------- ------- -------


Tbc,____