Become Strong With Skill Cheat And System

Become Strong With Skill Cheat And System
Mission Completed



Episode Sebelumnya.


Aku segera melanjutkan perjalanan menuju ke ruang atas. Saat di tangga, aku dihalangi oleh 2 orang gadis kecil.


"Nee, apa Onii-Chan sekalian adalah penyusup?"


♦♦♦


"Ehh? Penyusup? Ah tidak tidak. Kami bukan penyusup"


"Lalu siapa kalian?"


"Aku hanyalah orang biasa yang datang kemari untuk menyelamatkan adikku"


"Haa??"


Kedua gadis itu saling berpandangan, lalu kembali menatapku.


"Apa Onii-Chan adalah musuh Yang mulia?"


"Ummm, mungkin"


"Baiklah, kalian akan mati."


"Huhhh... Aku gak suka memukuli anak kecil. Ayung, kamu yang bereskan."


"Lah kok aku ******!"


"Soalnya cuma kamu yang Loli Loverz disini."


"Sialan kau! Kubunuh!"


"Bodo amat."


"Shiro, kamu saja deh."


Aku berbalik menatap Shiro dengan datar.


"Baik master" Shiro membungkuk kepadaku, lalu memasang posisi siaga sambil menatap 2 gadis didepannya.


"Tunggu dulu!"


"Ehh? Kenapa?"


Aku menatap Sonia.


"Biar aku yang melawan mereka."


Sonia maju kedepan, lalu Shiro mundur dan mendekat ke arahku.


"Kalian, Lea dan Leli kan?"


"Ehh? Onee-Chan mengenal kami?"


"Hummu aku Sonia. Putri Tuan Kranata"


"Hahh... Onee-Chan sudah lama gak bertemu."


Dua anak itu berlari ke arah Sonia lalu memeluknya. Tapi aku terfokus pada sebuah pedang pendek atau belati yang dipegang gadis itu.


*Clack*


Sonia di tusuk salah satu dari gadis itu.


"Huhh... Shiro, lawan mereka!"


"Baik Ryu."


Shiro langsung maju melawan kedua gadis itu, dan aku mendekati Sonia yang terbaring bersimbah darah.


"Hahhhh.... Kamu emang gak berguna ..." Aku membuang nafas pasrah, sambil menatap Sonia yang terbaring dengan darah di perutnya dan badannya yang membiru.


"R-Ryu. Ma-maaf, tapi ini adalah perpisahan kita."


"Hai-Hai."


Aku mengangkat kepala Sonia, lalu meletakkanya di pahaku dengan posisi seiza


"Aku menyukaimu Ryu. Ahaha, wa -" *Guhaa*


Sonia memuntahkan darah sebelum menyelesaikan kata-katanya.


"Wa-walaupun aku tidak bertahan lama." Sonia tersenyum sangat manis, senyum yang belum pernah dia berikan kepada siapapun.


"Hai-Hai, tidurlah."


Aku menutup mata Sonia, lalu menatapnya sekilas.


"Cure Heal" ucapku Pelan sambil menyentuh dahi Sonia.


"Attakai..." Ucap Sonia, lalu terlelap dalam tidurnya.


Aku kembali menatap Shiro, ternyata dia sedang bermain dengan 2 gadis seusianya. Aku gak nyangka, anak kecil mainnya pisau dan belati. Kan aneh?


Kedua gadis itu berlari dari kiri dan kanan, lalu mengincar titik vital Shiro, namun Shiro melompat kebelakang lalu tanpa menahan diri, Shiro langsung berlari dan mencoba menebas perut salah satu gadis itu, namun gadis satunya memutar badannya dan berhasil menghindari serangan Shiro walau setipis kertas.


"Shiro, mundur. Biar aku yang melawan mereka"


"Baik master!"


Shiro mundur, dan memutar dengan gaya Backflip ke arahku dan mendarat dengan sempurna.


Aku pun maju ke depan kedua gadis itu, lalu berdiri dengan malas didepan mereka.


"Ohh, Onii-Chan ternyata kuat juga yah"


"Begitu kah?"


Aku menatap ke atas, sambil berfikir. 'Benarkah aku kuat?'


"Jadi, Onii-Chan kapan kita bertarung?" Gadis sebelahnya bertanya kepadaku.


"Eh? Bertarung? Ah tidak tidak, kita tidak akan bertarung." Ucapku sambil melambaikan kedua telapak tanganku kedepan mereka.


"Lalu, kenapa Onii-Chan maju kedepan?"


"Oh, itu. Aku hanya ingin bilang, 'tidurlah'"


Saat aku mengatakan tidur di akhir kalimat, mereka berdua langsung terjatuh dan aku kembali ke arah Sonia dan menatap Sonia yang masih tertidur dengan pulas.


"Ryu, biar aku yang menggendongnya"


"Enak aja!"


Wahyu langsung berubah lesu saat aku menolak mentah-mentah keinginan Wahyu. Yah, dia hanya mencari kesempatan dalam kesempitan, agar bisa meraba-raba badan Sonia.


Aku menggendong Sonia di pundak ku, lalu berjalan lagi ke depan. Semakin kami naik, semakin kuat aura yang terpancar.


"Selamat datang, manusia"


Aku berhenti saat ada seorang kakek-kakek dengan pakaian ala abad pertengahan mencegat kami.


Auranya sangat kuat. Walaupun dia lebih lemah dariku, aku khawatir dengan yang lain.


"Biar aku yang melawannya!"


Ayung tersenyum miring, sambil berjalan mendekati kakek itu.


"Ahahaha. Anak kecil. Ternyata kamu berani juga"


"Makasih kakek, jangan mati yah"


*Syuuuuuhhhhh*


Ayung dengan cepat melesat ke arah kakek itu, dan kakek itu hampir kehilangan momentum. Kakek itu berhasil menjaga keseimbangannya dan melakukan Black Flip.


"Nih kakek jago akrobat juga"


"Mungkin dia mantan pemain sirkus"


Aku dan Wahyu tertawa terbahak-bahak, dan kakek itu menjadi marah.


"Beraninya kalian menghinaku. Rasakan kemarahan ku, 'OverBoost' 'limited Breaker' dan terakhir, 'Soul Fire' "


Tubuh kakek itu menjadi agak besar dan kekar, lalu menatap Ayung dengan seringai.


"Infinity Booster"


Hanya dua kata, tubuh Ayung bersinar merah, dan Ayung menatap kakek itu.


Ayung dan kakek itu bersamaan melesat, dan saling bertukar pukulan dengan cepat. Gerakan mereka saking cepatnya, bahkan flash saja tidak mampu mengikuti.


"Terima ini, jurus colok mata!!!"


"Arrgghhhh mataku mataku mimisan!"


*Bugh*


"Itu hidung Kon***"


Ayung langsung marah karena kakek itu tidak tau perbedaan hidung dan mata. Yaelah, gitu aja marah namanya juga kakek Cabul.


Kakek itu masih memegangi matanya, dan ternyata matanya berlubang.


"Tega kamu Yung, buat mata kakek itu buta"


"Biarin, biar dia gak jadi Generasi Sugiono. Cabul dari Sononya!"


"****** kau. Padahal kamu selalu nyari kesempatan agar bisa nyentuh Sonia. Awas aja kalau lu nyentuh Shiro."


"Ya-ya gak ba-bakal lha Ryu ..."


"Shiro, jika dia menyentuhmu, keluarkan kekuatanmu yang sebenarnya. Biar dia tau rasa!"


"Baik, Ryu..."


"Yaelah... Kejam kau Ryu."


"Biarin. Dari pada gua dapat temen pedo nying!"


Aku menatap Ayung dengan tatapan jyjyk.


"Yaudah, kita gak usah temenan dah!"


Ayung menatap ku sambil memanyunkan bibirnya.


"Yaudah Gpp. Kita sahabat aja!"


"Iya!"


"Ummhhh..."


Saat aku dan Ayung sedang perang sahabat, Sonia mulai bangun. Bangun dan duduk sambil memegang kepalanya.


"Hahh... Apa kalian juga udah mati?"


"Iya, kami dah mati..."


Aku memasang wajah sedih, dan Ayung juga berlagak kek menangis.


"Emak... Aku mau makan ayam goreng emak untuk terakhir kali. Emak!!!"


Ayung emang jago akting. Bahkan, dia nangis kek benar aja. Aslinya bikin kesal karena terlalu nyata. Makanya, aku iri karena ekspresinya mendukung kalau di filmnya dia jadi penjahat.


"Hahh... Akhirnya aku bisa pacaran sama Ryu..."


Sonia menatap keatas dengan wajah bahagia. Aku yang mendengar itu jadi salah tingkah cuy. Coba aja, kalian pasti tau gimana rasanya jadi Jones selama 26 Tahun? Nyesek kan!


*Plok*


"Yosh, kita hidup kembali. Ayo kita lanjutkan menyelamatkan Mia!"


Aku menepuk tangan, dan seketika Ayung cekikikan menahan tawa.


Aku langsung meninggalkan Sonia yang masih dalam lamunannya.


"Ryu... Bantuin. Aku gak bisa berdiri..."


Sonia berpose manja, sambil mengulurkan kedua tangannya minta di gendong.


"Aku aja!"


Ayung segera memegang tangan Sonia, tapi langsung di tepis Sonia dengan kasar.


"Nggak. Aku maunya Ryu!"


Sonia langsung memalingkan wajahnya dari Ayung.


"Yaudah. Jalan ndiri!"


Ayung langsung meninggalkan Sonia yang tinggal sendirian menatap kami tidak percaya. Btw kalau Shiro dah ikut aku duluan saat aku pergi.


"Ryu, kasihan lolimu."


"Hummm...?"


Aku menatap Sonia, kini dia menunduk sedih sambil menatap kakinya. Yah, aku tau kakinya pasti kebas kebas karena efek penyembuhan. Yah, tidak ada sihir yang sempurna.


"Aku aja Ryu"


Ayung langsung mendekati Sonia lagi.


"Mau gak. Aku gak bakal minta 5 kali!"


"2 kali ******! Tapi iya deh ..."


Sonia terlihat enggan, tapi mau gimana lagi. Tapi, aku melihat Sonia yang terpaksa juga merasa gak enak melihat loli secantik Sonia di pegang oleh Pedo. Aku pun mendekati Sonia yang berusaha meraih bahu Ayung.


"Biar aku saja ..." Aku langsung mengangkat badan Sonia didepan, kayak tuan putri.


Dengan wajah datarku, aku menatap Sonia yang wajahnya udah memerah kek tomat dengan senyum manis di bibirnya.


"Kenapa?"


"Ummm"


Sonia langsung menunduk dengan wajahnya yang memerah malu.


Kami berjalan ke atas, dan aku melihat seseorang yang paling aku benci. Yaps dia adalah si setan tampan yang menculik Mia.


"Leon anjing!"


"Itta-"


Aku tanpa sadar melepas Sonia, dan Sonia jatuh dengan pantat mendarat sempurna.


"Hidoii!"


"Maaf-maaf!"


Aku langsung sadar saat Sonia menatapku kesal dengan mata berkaca-kaca sambil mengelus pantatnya yang sakit.


Leon berteriak kepadaku, dengan jari manis tengah mengarah kepadaku.


"Lu yang ******* anjing!"


Aku membalas jari tengah Leon dengan kesal.


"Gua Vampir ****** bukan anjing!"


Teriak Leon makin kesal.


"Au ah. Yok Gelud!"


Aku langsung berpose kek Genjay yang akan bertarung dengan resezawa.


"Ayok!"


Leon memasang kuda-kuda juga, dengan pedang yang mengeluarkan Aura hitam dengan sangat kental. Ayung dan Shiro langsung maju kedepan ku, karena aku sedang kembali menggendong Sonia yang gak sengaja gua jatuhin.


"Mau apa kau vampir rese?"


"Lah, gua mau bertarung sama Ryu. Kalian siapa?"


"Kami adalah teman Ryu."


""Bukan""


"Eh?"


Aku dan Shiro menyela dengan cepat, dan Ayung langsung menatap kami dengan heran.


"Aku bukan teman Ryu. Aku adalah bawahan Ryu."


"Kamu itu bukan temanku, tapi sahabat aku!"


"Iya yah. Benar juga. Walau salah dikit sih?"


"Lah? Salah gimana?"


"Kamu itu udah kayak saudara aku."


"Gak Sudi!"


Aku menjawab dengan wajah jyjyk, dan Leon yang menonton pertikaian kami, hanya cekikikan tertawa.


"Oy pucat kenapa kamu tertawa hahh!"


Ayung langsung mengeluarkan jari tengahnya kepada Leon.


"Lah, emang kenapa anjing! Gelud aja kita!"


Leon semakin Emosi, lalu kembali membalas jari tengah Ayung dengan Emosi Santuynya.


"Lah, ayok!"


Ayung juga dengan emosinya, menyibak kedua lengan bajunya dengan gaya Ikemen bgst.


"Omae Wa Mo Shindeiru!"


Wahyu menundukkan kepalanya, ala-ala anime yang lagi melihat sapi di sawah.


"Nani...?"


Teriak Leon dengan Terkejoed mesra.


"Lah, Ryu. Kok bukan mata aku yang merah malah matanya?"


Ayung menatapku heran, lalu menatap Leon yang kebingungan dengan tingkah konyol Ayung.


"Itu lu yang ****** Anying!"


*Plak*


Aku memukul kepala Ayung dengan kesal, karena kebodohannya yang melebihi kebalikan Einstein itu.


"Yok Gelod Kora!!!"


Leon langsung berteriak, lalu maju menyerang kami. Leon mengayunkan pedangnya yang merupakan Magic Sword langka di dunia.


Aku dan Ayung langsung melompat mundur, saat pedang Leon hampir mengenai kepala kami yang jika kena dipastikan Benjol.


"Yung, biar gua yang hadapin Leon. Lu jadi penonton setia aja, biar gua bisa motong tangannya yang berani nyentuh tubuh molek nan indah Mia..."


Aku dengan marahnya menunjuk Leon.


"Serah Luh dah ..."


Ayung menatap kesamping dengan malas.


"One! Punch! Mek!"


Aku langsung melesat, dan memberi pukulan One Hit kepada Leon, dan alhasil Leon langsung terbujur kaku tanpa ada suara sedikitpun. Mungkin dia langsung Hijrah ke Neraka.


"Ryu, itu bukannya One Punch Man yah?"


Wahyu menatapku dengan wajah bingung bin aneh.


"Emang iya. Mang kenapa?"


Aku kembali bertanya dengan wajah Bodohku.


"Di akhir katamu, kamu malah Nyebut Me***! Gitu lho?"


"Oh, salah yah?"


Aku memasang wajah bodoh, sambil memandang ke bawah seolah-olah berpikir kalau itu benar atau salah.


"Wahai matahari yang memberi kekuatan yang besar, kuberikan Engkau tumbal untuk memberikan Saya Keabadian. Ambillah, dan berikan aku kekuatanmu yang agung!"


Sebuah suara terdengar dari atap, yang kayaknya dia belum pernah belajar tentang Planet sekalipun. Aku dan Wahyu yang mendengar itu, mulai cekikikan menahan tawa.


"Ayo kita ke atas!"


Sonia langsung memanggil kami menuju ke atap, dan kami pun juga berlari mengikuti Sonia dari belakang.


Saat sampai di atas, aku melihat Mia yang sedang di baringkan dengan di atas sebuah tempat tidur batu, dengan corak aneh yang terukir di batu itu. Dan satu lagi, Batunya menyala.


"Oy! Perkedel Aksara, lepaskan Mia, atau gua pulang nih!"


Wahyu langsung mengeluarkan Ancaman Khas miliknya. Yaitu, ancaman lucu namun menakutkan, karena semua akan benar-benar dia lakukan.


"Siapa kalian, oy? Beraninya mengganggu ke happy-an ku!?"


Tanya orang itu, dengan sebuah Mahkota yang menempel di jidatnya.


"Kamu gak perlu tau siapa kami, karena kami adalah ..."


"Ryung! Ryu dan Ayung!"


Kami dengan pose saling membekakangi, dengan tangan di dada di lipat, berlagak kayak Ultraman habis keracunan Tahu bulat.


"Itu gaya apa njirr?"


Sonia menatap kami dengan wajah bodoh plus jyjyk yang tersangad.


"Ini adalah gaya kami yang tersangar dan terbaik di seluruh dunia!"


Aku memberitahu Sonia dengan pose percaya diri, dan dengan sombongnya tertawa jahat. Ha...ha...ha.


"Oy, sudah selesai main-main nya?"


Raja Vampir itu memotong pembicaraan tak masuk akal kami, dengan raut wajah kesal dan malas.


"Oy, Raja Vapor! Lu tau gak tentang Pelajaran IPA SD?"


Aku menatap Raja Vapor itu dengan serius.


"Vampir oy! Dan juga kenapa, mau adu pintar denganku?"


Raja itu menatapku dengan sombong, dan dengan percaya dirinya, membiarkan Mahkotanya miring udah kayak manusia lagi belajar pake Kopiah.


"Ayok!"


Aku dengan percaya diri, menerima tantangan si Raja bodoh itu dengan percaya diri.


"Oke, pertanyaan pertama!"


"Shinde!"


Saat Raja itu mengacungkan jari telunjuknya, Ayung langsung maju ke depan, dan menonjol si Raja bodoh itu dengan one hit die. Alhasil, kepala raja itu pecah dan berceceran di mana-mana.


"Nice Timing!"


"Sipp ..."


Aku mengacungkan ibu jariku, sambil mengedipkan mata, dan Ayung juga membalas acungan jempolku dengan mengedipkan matanya.


"Dasar manusia sialan, beraninya kalian menipuku!"


Kepala raja yang hancur itu, tiba-tiba mengeluarkan suara, dan Ayung langsung bergidik ngeri.


"Ryu, kepalanya bicara Cok. Gimana nih?"


Ayung langsung berlari kebelakang ku, dan bersembunyi.


"Tenang saja, aku akan mengakhirinya. [Instant Dead]"


Aku menenangkan Ayung, lalu mengeluarkan Skill yang auto membuatnya mati seketika. Tubuh raja itu langsung menghitam, dan terkelupan kayak terbakar Bulan, lalu menghilang.


Aku, Ayung, Shiro dan Sonia pergi ke arah Mia yang sedang pingsan di batu bercorak unik itu.


"Oh yeah!"


Ayung menatap tubuh Mia yang telanjang tanpa busana di atas tempat tidur itu, dengan hidung yang mimisan.


"Tutup matamu, Sialan!"


*Bughh*


Sonia langsung memukul perut Ayung, hingga melayang meriah di atas langit, lalu jatuh di belakang kami, dengan mata yang berputar-putar.


"Cure Heal, Forced" Aku langsung merapatkan Skill penyembuh dan penyadar paksa, agar Mia bangun. Dan Mia, perlahan membuka matanya, lalu menatapku dengan sayu.


"R...Ryu?" Mia menatapku dengan sayu, dan air matanya perlahan menetes di pipinya.


"Syukurlah, kamu sudah sadar!" Aku langsung memeluk tubuh Mia dengan erat, dan Reuni Akbar itu terjadi dengan sangat menyedihkan. Menyedihkan memang...


"Ryu, aku takut!" Mia juga membalas pelukanku, sambil menangis sesenggukan. Tak kusangka, air mataku juga menetes.


"Maafkan aku, karena tidak bisa menjagamu dengan baik ..." Aku merasa semakin bersalah, karena membiarkan Mia di tangkap oleh si ******* mesum Leon.


"Tidak apa-apa, Ryu. Aku baik-baik saja." Mia menatapku, sambil tersenyum dengan air matanya yang masih mengalir.


"Ayo pulang," aku menatap Mia sambil tersenyum manis kepada Mia.


"Umn!" Mia mengangguk, lalu mengulas senyuman termanisnya.


"Ugh, dadaku sakit!" Aku mengerang kesakitan, sambil memegangi dadaku


"Kamu kenapa Ryu!?" Mia langsung menatapku dengan khawatir.


"Apa kamu gak apa-apa, Ryu. Kamu terlalu memaksakan diri." Sonia juga mendekatiku, dengan wajah khawatirnya.


Ayung menatapku dengan malas, sambil membuang wajahnya dariku.


"Diabetes ku naik" Ucapku sambil memegang dadaku yang sebenarnya hanya bohongan. Yah, diabetes ku naik karena senyuman Mia, ehehehehe...


"Sudah kuduga, ******* kayak kau gak boleh di percaya ..." Ayung dengan kesal mengucapkan kata-kata legendnya, tanpa menatapku.


"Ehehehehe... " Aku tertawa garing, sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Ayo kita turun, " aku memandang mereka, sambil tersenyum.


"Baiklah, ayo." Sonia juga menatap kami satu persatu sambil tersenyum.


"Tapi, aku tidak bisa berjalan. Kakiku mati rasa ..." Mia menunduk sedih, sambil memegangi kaki mungilnya yang terkena efek Skill pelumpuh milik si raja sialan itu.


"Ehh...!?" Aku langsung menggendong Mia ala Tuan putri, lalu menatap mereka semua.


"Ayo kita turun. [Teleportation]..." Aku mengajak mereka turun, sambil membuka gerbang teleportasi, dan akhirnya kami kembali ke rumah tua yang berhantu tadi. Hantunya Sonia sih.


Saat kami sampai di rumah itu, kami berempat saling berpandangan.


"Jadi, kita akan berpisah disini yah," ucap Sonia dengan sedih, tapi memaksakan untuk tersenyum. Hahhh onnanoko nee...


"Kita akan ketemu lagi di sekolah kok ..." Aku membalas perkataan Sonia dengan datar.


"Hei-hei! Jangan lupakan aku lho!" Ayung langsung protes karena merasa dirinya gak di anggap.


"Oh iya, kita kan berlima. Ehehehe" Sonia tertawa garing, sambil menggaruk kepalanya.


"Baiklah, Shiro kalian berdua kembalilah kerumah, sebelum Ayah dan Ibu mencari kalian." Aku menatap Shiro dengan senyuman hangat ku, lalu menatap Ayung juga sambil tersenyum jelek.


"Chidori versi 2.5" Ayung mengarahkan skill editan gak jelasnya kepadaku, dan aku tersetrum oleh listrik tegangan 1000 Volt, sambil joget-joget gak jelas


"Itu hadiah untukmu, karena memukul kepalaku!" Jelas Ayung, sambil mengacungkan ibu jari nya


"Sialan!" Aku menatap Ayung kesal, sambil mengeluarkan api hitam dari tanganku.


"Kabur!!! Teleportation!" Ayung langsung membuka teleportation, dan sialnya dia berhasil kabur dasar Anjing berkepala naga


"Master, aku kembali dulu. Sampai ketemu lagi master." Shiro juga tersenyum kepadaku, lalu perlahan badannya menghilang. Shiro kembali kerumahnya, yaitu rumah Ayung di Amerika.


"Baiklah, Sonia. Kamu akan pulang juga?" Aku menatap Sonia yang sejak tadi kebingungan.


"Ahhh, sebenarnya aku cuma ngekos. Tapi, kos-nya udah tutup karena udah telat malam, ehehehe..." Sonia tertawa garing, sambil menggaruk kepalanya.


"Terus, kamu mau tidur dimana?" Aku menatap Sonia yang dari tadi murung.


"Mungkin aku akan tidur di sekolah, di ruangan OSIS mungkin..." Sonia menjawabku dengan santai, tapi bagaimanapun aku gak bisa biarin perempuan tidur di sekolah malam-malam sendirian.


"Gimana, kalau tidur di rumahku aja?" Aku menawarkan kepada Sonia, dan semoga dia mau.


"Ehh, bo-boleh?" Sonia menatapku dengan ragu, dan aku hanya membalasnya dengan senyuman.


"Makasih, Ryu..." Sonia membalas senyumanku, lalu aku pun menatap Mia yang sedari tadi hanya diam saja. Ternyata, dia tertidur sambil tersenyum gak jelas. Apa ini efek dari skill?


"Teleportation!" Kami langsung berteleportasi ke kamarku, lalu meletakkan Mia di tempat tidurku.


"Kalian berdua tidur di sini, biar aku yang tidur di sofa." Aku menatap Sonia dengan datar, lalu berjalan menuju sofa yang ada di kamarku.  Biasanya, sofa itu adalah tempat tidur keduaku, saat aku sedang nonton bo*** ataupun main game.


"Apa, tidak apa-apa?" Sonia menatapku dengan ragu lagi.


"Udah, gak apa-apa. Aku udah biasa kok..." Aku tersenyum kepada Sonia, sambil berusaha meyakinkan nya.


"Baiklah, terima kasih Ryu ..." Sonia menunduk kepadaku, lalu pergi berbaring di samping Mia yang sedang terlelap tanpa menghilangkan senyumnya sama sekali.


"Yosh, Mission Completed. Dan besok, tinggal mempersiapkan Festival dari awal lagi.