
Hooaaaammmmm....
Pagi yang indah, di sambut oleh matahari pagi yang menyemangatkan hati.
Setelah aku meregangkan ototku, aku tanpa sengaja memegang tangan seorang gadis. Hummm! Aku melihat ke sampingku
Opsss!! Ternyata aku memegang tangan Sonia. Hummm, imut juga wajah Sonia saat terlelap tidur, rasanya pengen meluk tapi ehehehe....
"Sonia, Sonia ayo bangun!" Aku menggoyang badan Sonia dengan lembut.
"Sonia, nanti terlambat loh!" Aku menarik pipi Sonia hingga dia mengerang kesakitan.
"Sshhhhhhh... Sakit Ryu ..." Sonia memegangi pipinya yang hampir merah karena aku cubit. Eaa
"Ayo bangun, kamu pergi mandi duluan, biar aku yang masak ..." Aku tersenyum kepada Sonia, lalu beranjak dari tempat tidur.
"Apa kamu bisa memasak?" Sonia memandangku ragu.
"Hummm, jangan meremehkan aku.. Khukhukhu ..." Aku menaruh kedua tanganku di pinggang, sambil tertawa sombong.
"Hummm, meragukan..." Sonia menatapku dalam-dalam dengan wajah mengintrogasi.
"Cepat, mandi lalu turun makan!" Aku mendorong wajah Sonia hingga dia terjatuh di tempat tidur.
"Hooo kamu mau ngapain Ryu? Ara, sepertinya kamu berubah mesum ..." Sonia tersenyum dengan kata-kata menggoda.
"Ahh, u-udah ah aku mau ke bawah. Pokoknya cepat sebelum kita terlambat..." Dengan wajahku yang memerah, aku langsung turun dan memasak makanan terenak.
Hehehehe kalian belum tau bakatku yang satunya. Aku juga sangat jago memasak lho, karena ibuku bekerja di Cafe terkenal, dia mengajariku cara memasak dan bahan apa saja yang bisa merubah masakan yang gak enak menjadi enak. Hahahaha.
Setelah Sonia selesai mandi dan berpakaian, dia turun kebawah menungguku selesai memasak.
"Sonia, kesini sebentar ...!" Aku menatap Sonia sambil melambai ke Sonia.
"Kenapa, Ryu?" Sonia berjalan ke arahku dengan santai.
"Tolong kamu antarkan ini ke meja makan." Aku menunjuk beberapa piring dan nampan besar yang berisi buah dan beberapa jenis makanan.
"Ara-ara, kamu mau kemana Ryu?" Sonia menatapku penasaran.
"Aku mau mandi, jangan banyak tanya dan kerjakan." Aku langsung berjalan meninggalkan Sonia di belakang.
"Ara, udah jadi galak ya...?" Sonia menatapku dengan senyum miringnya.
"Bodo Amat!" Aku tetap berjalan tanpa memperdulikan Sonia
(Time Skip aja yah, gak mungkin aku ceritain di MC lagi ngapain di Kamar mandi, hahaha yang pasti udah ada sabun yang bolong pagi ini, Wahahahahaha!)
Selesai berpakaian, aku langsung turun ke meja makan. Aku melihat Sonia dari kejauhan sedang menatap makanan yang aku masak dengan mata yang ahh, aku gak tau gimana jelasinnya. Pokoknya dia kelaparan
"Maaf, udah lama nunggu yah?" Aku tertawa garing sambil menggaruk belakang telingaku.
"Oh, a~hh, gak juga... " Sonia langsung tergugup saat tau aku memperhatikan tingkahnya.
Ahhh, gimana kalau aku menggodanya dikit
"Kamu udah lapar yah?" Aku menatap Sonia dengan nada menggoda.
"Ehhh, g-gak kok hahaha!" Sonia berusaha mencari alasan.
"Benarkah?" Aku tersenyum sambil menatap Sonia dengan mata menggoda.
"Ahhh.. oh iya Ryu, apakah kamu siap di festival nanti?"
'Sial!?' aku bergumam sampai Sonia mendengar apa yang aku gumamkan.
"Ja-jadi, kamu belum siap yah?" Sonia tersenyum masam mendengar gumaman ku.
"Hummm, aku akan usahakan yang terbaik." Aku mengalihkan pandanganku dari Sonia.
Aku merasa gugup, bagaimanapun aku gak suka dengan keramaian. Coba kalian pikir, menyanyi di depan sekolah lain dengan suara jelek lebih buruk dari pada berhadapan dengan Mia dan Sonia.
"Berjuanglah!" Sonia mengangkat tangannya dengan ekspresi memberi semangat.
|Kkrrrrrruuuuuuu|
"Uhhhh..." Sonia menundukkan kepala saat perutnya memberi kode.
"Ahhh, sudahlah ayo makan" aku tersenyum sambil mempersilahkan Sonia makan.
"Haaaa.... Ittadakimashu!"
Sonia menatapku dengan mata berbinar, lalu langsung melahap semua yang ada di depannya.
Setelah selesai makan, kami langsung menuju ke sekolah. Saat sampai di sekolah, aku melihat Mia yang sedang bersandar di pagar tanda kalau sedang menunggu seseorang.
"Yaaahhh, bencana.." aku bergumam dengan perasaan yang tidak bagus.
"Kenapa Ryu?" Sonia bertanya kepadaku dengan bingung.
"Ahh, tidak ada." Aku menjawab tanpa menatap Sonia
Kami pun semakin dekat dengan gerbang.
Saat kami sampai, Mia langsung menatapku.
"Ryu~!!!" Mia berlari dan langsung menyambar badanku hingga kami terbanting ke belakang
"Mi-Mia, jangan seperti itu..." Aku langsung panik, karena semua orang menatap kami.
"Ryu, kamu kemana saja Ryu? Aku khawatir..." Mia membenamkan kepalanya di dadaku.
"Maafkan aku, aku mempunyai urusan penting. Maaf, karena tidak menghubungimu ..." Aku meminta maaf sambil melihat ke arah langit.
"Sampai kapan kalian seperti itu?" Sonia menatapku dengan tajam, dan Mia pun tersadar kalau semua orang sedang menatap kami.
"Ahhh, maaf-maaf. Aku terlalu bersemangat saat melihat Ryu." Mia tersenyum masam.
"Baiklah, aku akan duluan ke kelas, sampai jumpa Ryu ..." Sonia langsung berjalan duluan tanpa menatapku.
Aku hanya menatap Sonia dari belakang dengan bingung.
"Dasar, Ryu. Kamu gak peka" Mia menatapku dengan kesal.
Aku memang tidak tau apa-apa, jadi salahkan Sonia yang gak mau berterus terang
"Udah ah. Ayo masuk ..." Aku mengajak Mia, dan Mia langsung memegang tanganku sambil tersenyum senang.
Saat sampai di kelas, para siswa laki-laki menatap kami dengan... Biasa aja. Mereka udah terbiasa dengan sikap Mia si ratu Judes kepadaku.
"Hei-hei, man teman. Eikhe punya Berica Baryu ..." Si encong berjalan dengan semangat dengan tampang letoynya itu.
"Berita apa Bay..?"
"Pasti gosip"
"Gak penting banget ..."
Semua cowo dan cewe hanya menatap bosan kepada Bay. Bay itu sebutan untuk Encong Yaitu Cowo melambay, mereka sering memanggilnya Cobay, Bay Atau Encong.
"Ehhh, jangan salah dulu, para cewe akan bisa santai dan para Cowo Gans Gans bisa Tidur tau ..." Si encong memanyunkan bibirnya, dan menatap kami semua dengan kesal.
"Yaudah, cepat kasih tau,"
"Iya tuh. Kalau seru kami bakal senang"
"Iya, siapa tau kami bisa santai abis."
"Semoga libur, semoga libur"
Semua cowo dan cewe langsung berubah menjadi gak sabaran. Hanya aku yang mungkin duduk bersantai di kursi dengan tangan yang belum lepas dari pelukan Mia.
"Jadi, Eike mau bilang kalau para guru sedang Rapat di kantor, jadi kita sampai pulang sekolah tidak akan belajar..."
"Wahhh, bagus. Dan demi mencegah pak guru marah, bagaimana jika kita langsung mulai aja Pemilihan ketua kelas Paten"
Salah seorang cowo dengan badan agak berotot, muka tampan, dan gaya yang gagah langsung berdiri di depan kelas
"Gimana cara memilihnya?"
"Iya, pasti kalau di suruh angkat tangan gak bakal ada yang mau"
"Aku sih, gak mau, aku kerja"
"Aku juga bantuin orang tua dirumah"
Berbagai alasan di keluarkan oleh para jantan dan betina di dalam kelas. Sampai muncullah bencana yang sesungguhnya.
"Gimana kalau Ryu aja yang menjadi ketua kelas?!" Mia berdiri dengan segera, dan dengan tegas menatap lelaki kekar di depannya.
"Hummm, benar juga?" Cowo kekar itu langsung menatapku sambil menimbang-nimbang.
"Oy.. oy... Oy... Tunggu, aku gak mau." Aku langsung menyuarakan Protes ku.
"Harus!"
"Nggak!"
"Harus!"
"Pokoknya Nggak!"
"Harus...Harus...Harus!"
"Skali nggak pokoknya nggak!" Aku menatap Mia dengan marah.
"Pokoknya harus!" Mia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, sambil mengembungkan pipinya.
"Tcih... Iya-iya" Aku memalingkan wajahku kesal.
"Kamu harus terima hukumanmu karena tidak memberi kabar. Jadi kamu harus mau!"
"Iya ahh!" Aku menjadi kesal dengan Mia.
"Yeeyyyyyy, jadi kamu mau jadi ketua kelas?" Mia melompat kesenangan, sambil menatapku dengan berbinar-binar.
"Nggak!" Aku kembali menyuarakan protesku.
"Ryu... Jahatttt!" *Bugh*
"Itta-!" Aku memegang kepalaku yang di pukul Mia.
"Jadi, gimana apa kalian setuju kalau Ryu jadi Ketua Kelas kita?" Cowok kekar itu tanpa memperdulikan aku langsung bertanya ke seluruh teman-teman dikelas.
"Hummm, boleh juga?"
"Aku sih gak masalah selama bukan aku!"
"Mungkin dia bisa melindungi kita dari Waketos!"
"Humm, benar. Hanya dia yang berani melawan Waketos."
"Siapa wakilnya?"
Semua orang mulai berceloteh panjang tanpa memikirkan perasaan aku. Dasar teman *******, seandainya bunuh orang gak dosa bakal aku guncang dunia dengan seribu wanita.
"Baiklah, untuk wakilnya ada yang mau?" Cowo kekar itu bertanya lagi dan lagi-lagi semua orang diam.
"Biar aku saja. Biar aku bisa memperhatikan Ryu jika dia kabur dari kewajibannya!!!" Mia dengan kesal menatapku dengan mata tajamnya.
"Hai-Hai, Wakatta!" Aku mengangkat kedua tanganku, lalu mengendikkan bahuku.
"Baiklah, jadi mulai sekarang Hikaru Ryu sebagai Ketua kelas, dan Misanaria Clarabell sebagai Wakil Ketua Kelas."
Semua orang langsung bertepuk tangan sambil menatapku.
"Silahkan maju Ryu dan jelaskan kepada kami tentang bagaimana festival yang akan dimulai 3 hari lagi...?" Cowo sialan itu memanggilku kedepan.
Dengan langkah gontai dan lemas, aku menuju ke depan kelas dengan rasa kesal dan pasrah. Mia juga mengikutiku dari belakang.
"Hahhh, jadi bagaimana kelas kita menurut kalian tentang sekolah kita?" Aku bertanya dengan malas kepada seisi kelas
"Gimana kalau kita gak usah buat apa-apa?"
"Iya tuh, yang ada kita juga bakal kalah sama SMA Sakura"
"Iya, disana ada lelaki yang sangat pandai menyanyi. Dia juga artis terkenal!"
"Iya tuh, akhir-akhir nya juga kalah"
"""Iya-iya tuh gak usah, iya"""
Semua orang hanya berputus asa tanpa memikirkan apapun. Memang dasar orang gak guna!
"Gimana nih Ryu?" Mia menatakku khawatir.
"DIAM!!!" Aku langsung memukul papan di belakang, dan menatap mereka dengan tajam. Seketika kelas langsung menjadi suram dan sepi.
"Apa kalian sudah tenang?" Aku menatap mereka dengan tajam.
"Sudah, Ketua!" Jawab mereka serempak.
"Baiklah. Di kelas kita banyak cewe yang cantik. Dan juga cowo yang menyeramkan. Jadi kalian memilih untuk menampilkan apa?" Aku langsung menanyakan tentang penampilan antar kelas nanti.
"Siapa yang menyeramkan sialan?!" Para lelaki menatapku dengan geram.
"Ahahaha, maaf. Maksudnya kalian mau memilih apa, Maid Cafe atau Rumah hantu gitu?" Aku memegang belakang kepalaku sambil tertawa garing.
"Hummm, Maid Cafe gimana?" Para cowo setuju dengan maid cafe.
"Gak, kami gak mau memakai pakaian memalukan itu!" Para cewe menolak mentah-mentah keinginan para Cowo.
"Tapi kan kalian cantik!?" Bujuk para Cowo.
"Gak, jangan puji kami, ntar kami jadi ********. Pokoknya gak mau!"
Sementara para cewe dan cowo berdebat, aku menatap Mia yang sedang kebingungan.
"Kamu kenapa Mia?" Aku menatap Mia bingung.
"Ahh, ini pertama kali aku menjadi pemimpin walau hanya wakil. Aku sangat gugup" Mia dengan wajahnya yang kaku hanya menunduk ke bawah bukan ke atas.
"Hummm, gak apa-apa, kamu kalau salah gak bakal digigit kok, kecuali aku yang gigit" aku memegang daguku sambil menatap Mia.
"Apaan sih" Mia tersenyum sambil cekikikan menahan tawa.
"Yaudah, jangan gugup. Semangat-semangat" aku memberi Mia semangat sambil mengangkat tanganku rendah.
"Makasih Ryu, apa kamu sudah pernah menjadi ketua kelas?" Mia menatapku dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Hummm, gak juga. Ini pertama kali ..." Aku membentuk angka 1 dengan jariku di depan Mia.
"Hummm, kamu seperti udah terbiasa. Aku gak menyangka kamu gak gugup?" Mia menatapku dengan senang.
'aku lebih gugup kalau kalian telanjang didepan wajahku' aku bergumam sambil membayangkan badan bugil Sonia dan Mia di pikiranku.
"Ryu?" Mia menatapku bingung.
"Ahhh, gak. Gak apa-apa" aku langsung menggelengkan kepala menghempaskan seluruh pikiran kotor tentang Mia dan Sonia.
Aku kembali menatap kedepan, dan sekarang mereka malah saling membuang pandangan.
"Baiklah, aku yang akan memutuskan. Kita akan membuat Cafe Maid. Dan, aku akan menyiapkan beberapa Pakaian maid untuk perempuan, dan juga aku akan membuat resep makanan untuk kalian. Jadi, kalian akan mempunyai 1 hari bersantai, dan 2 hari akan di pakai buat latihan melayani dan memasak!"
"Tapi, Ryu. Kami gak mau jadi Maid" para cewe menyuarakan semua protes di depanku.
"Ayolah, apa kalian gak mau kelihatan cantik di depan para cowok? Apa kalian hanya akan menutup mata saat kelas lain menunjukkan pesona mereka? Apa kalian hanya cewe kikuk yang gak tau caranya berdandan?" Aku langsung mengejek mereka dengan kata-kata yang singkat namun pedas.
"Hei-hei, siapa yang kikuk? Siapa yang gak bisa berdandan!?" Mereka langsung menatapku dengan kesal.
"Bukannya itu kalian?" Aku menatap mereka datar.
"Hei, lelaki mana tau hahh. Tiap hari kami berdandan tau. Kalian gak tau kalau kami tetap cantik walau tanpa berdandan ..." Cewe yang satunya berkata dengan sombong.
"Benarkah? Kenapa tidak kalian buktikan dengan perbuatan, kalau hanya kata-kata, berarti kalian memang tidak bisa apa-apa?" Aku mencoba memprovokasi mereka.
"Oke! Kami akan tunjukkan kepada kalian bagaimana cara berdandan dengan cantik. Aku akan jamin kalian semua bakal terpesona." Para cewe langsung menatapku dengan tajam.
"Bagus!" Aku langsung memberikan ibu jempol kepada mereka, lalu menatap para lelaki.
"Dan untuk kalian, kita akan menggunakan gudang atas sebagai pertunjukkan untuk rumah hantu" aku menatap mereka dengan tegas.
"Gak ahhh, kami gak mau menjadi setan!" Para cowo memandangku dengan tatapan kesal dan enggan.
"Hei-hei, kalian gak tau seberapa serunya menakuti orang ya...?" Aku tersenyum miring sambil menatap mereka yang tengah kebingungan
"Bagaimana bahagianya saat melihat cewe ketakutan, ekspresi mereka yang sangat imut dan menggoda, para Cowo nakal dan kekar yang suka meremehkan kita, bakal kita takut-takuti sampai terkencing-kencing, dan yang paling membahagiakan adalah saat ada pasangan yang tiba-tiba masuk, dan kita takut-takuti. Mereka akan memeluk cewenya, dan karena kesal kita akan buat mereka berlari tanpa tau arah. Dan membuat mereka hampir mati disana, hahahaha pembalasan untuk jomblo seperti kita... Hahaha!!!"
Aku langsung bersemangat saat berbicara kepada mereka. Saat aku selesai bicara, aku melihat para Cowo yang menatapku dengan mata berbinar-binar.
"Ide bagus Ryu, gak menyesal kami memilihmu sebagai ketua kelas " Semua orang bertepuk tangan sambil menatapku.
"Dan, kamu Mia, kalau aku tiba-tiba menghilang dari festival, jangan mencariku karena aku juga mempersiapkan lomba terakhir kita" aku menatap Mia dengan dalam.
"Lomba terakhir kita?" Mia menatapku penasaran.
"Aku harus membuat sekolah kita menang, dan aku harus mengalahkan si artis sialan dari sekolah Sakura!" Aku menatap Mia dengan setengah memohon.
"Baiklah," Mia menjawab dengan senyum indah di bibirnya.
"Terima kasih Mia..." Aku langsung berterima kasih kepada Mia dan menbalas senyumannya lalu kembali ke tempat dudukku.
Aku terus terpikir tentang pria ras vampir kemarin. Mereka pasti sudah menyadari kalau gulungan yang kemarin palsu. Dan mereka pasti mempersiapkan serangan besar-besaran di festival nanti.
Aku harus mempersiapkan segala sesuatu untuk mencegah terjadinya kejadian mengerikan itu.
Aku membuka Hpku, lalu menelepon Sonia.
"Halo?" Sonia membalas telponku.
"Sonia, kamu dimana?"
"Aku berada di dalam ruang OSIS. Kenapa Ryu?"
"Kamu bisa datang ke kelasku saat istirahat?"
"Mau ngapain?"
"Ada yang mau aku bicarakan. Pokoknya penting banget..."
"Baiklah, ntar aku akan pergi kesana"
"Terima kasih, Sonia!"
"Oke, sama-sama."
|Tut-tut-tut|
Mia terus menatapku dengan penasaran sejak aku menelepon Sonia.
"Siapa Ryu?" Mia menatapku penasaran.
"Oh, Sonia" aku menjawab tanpa menatap Mia.
"Mau ngapain?" Mia semakin penasaran.
"Oh, urusan penting. Pokoknya kamu tunggu aja sampai aku kembali ke kelas!" Aku menatap Mia serius.
"Oke ..." Mia menjawab sambil menganggukan kepalanya pelan.
Saat istirahat, aku duduk di tempatku sambil menatap jam di tanganku. Gak berapa lama, Sonia datang ke kelas.
|Tok-tok-tok|
"Permisi?" Sonia mengetuk pintu kelas, dan seisi kelas menatap Sonia.
"Oh, ketua OSIS. Ada perlu apa?" Salah satu cowo di kelasku bertanya dengan mata berbinar.
"Apakah Ryu ada?" Sonia bertanya, seketika lelaki itu langsung menjadi kesal.
"Oh, dia disana ..." Dia menjawab dengan malas sambil menunjuk ke arahku.
"Halo, Ryu." Sonia menyapaku.
"Halo, Sonia"
"Ada perlu apa memanggilku?"
"Ada yang mau aku bicarakan dengan mu." Aku menatap Sonia serius.
"Di sini?" Sonia menatapku bingung.
"Jangan disini, ayo kita ke atap ..." Aku langsung menarik tangan Sonia, dan dengan terpaksa Sonia mengikutiku.
Aku terus berjalan tanpa memperdulikan Mia yang menatapku dengan sedih. Ini bukan saatnya merasa kasihan, karena nyawa sejuta Umat dipertaruhkan disini.
Sebelum sampai di atap sekolah, aku membeli beberapa cemilan dan minuman seperti cola untuk berbicara dengan santai di atap.
Kami pun saat tiba di atap langsung duduk di pinggiran atap itu.
"Jadi, kenapa mengajakku kesini tiba-tiba Ryu?" Sonia membuka percakapan.
"Sonia, apa kamu ingat dengan pria Vampir itu?"
"Iya, emang kenapa dengan mereka?"
"Aku hanya merasa akan ada hal buruk yang akan terjadi di sekolah ini."
"Kenapa begitu?"
"Kamu tau, aku rasa mereka sudah menyadari kalau gulungan itu palsu, mungkin sekarang mereka sedang menyusun strategi untuk menyerang kita. Dan yang aku takutkan mereka akan menyerang kita saat di festival nanti!"
"Hummm, kamu benar juga. Aku rasa, mereka sangat marah, karena kamu berhasil menipu mereka. Dan mereka pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkan gulungan itu."
"Apa kamu membawa gulungan itu?" Aku menatap Sonia serius.
"Iya, aku selalu membawanya kemana saja. Aku takut kalau di tinggal mereka akan membongkar rumahmu" Sonia menjawab sambil memberikan gulungan itu.
"Baiklah, biar aku yang simpan. Aku gak mau mereka akan menjadikan gulungan ini sebagai perantara untuk kehancuran dunia dan manusia" aku mengambil gulungan itu dan menyimpannya di Inventori ku.
"Wowwww... Kemana gulungan itu?" Sonia menatapku terkesan saat melihat aku menghilangkan gulungan itu di tanganku.
"Aku menaruhnya di tempat yang mustahil untuk di jangkau siapapun!" Aku tanpa menatapnya menjawab sambil membuka sekaleng cola lalu langsung meneguknya.
"Apa yang harus kita lakukan untuk mencegah mereka Ryu?" Sonia menatapku dengan serius.
"Hummm, apa kamu bisa melindungi semua murid di sekolah, aku takut nanti korbannya menjadi 2kali lipat karena kedatangan sekolah lain di sekolah kita." Aku bertanya dengan serius pada Sonia.
"Hummm, kalau sebanyak itu mustahil. Bagaimana dengan kamu Ryu?" Sonia kembali menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Hummm, kamu tenang saja. Jika mereka memaksakan untuk menyerang saat festival nanti, kita akan bertempur di luar sekolah. Kita akan memancing mereka agar mereka tidak masuk ke lingkungan sekolah ..."
Aku melayangkan senyum manisku, hingga sukses membuat Sonia memerah rona. Aku hanya menggelengkan kepala yang menunjukkan kata 'Hahaha, dasar' kepada Sonia.
"Tapi, tunggu!" Sonia tiba-tiba berubah serius sambil memegang dagunya tanda dia sedang berpikir keras.
"Kenapa Sonia?" Aku yang spontan kaget langsung bertanya dengan penasaran.
"Sebenarnya kamu siapa, Ryu? Banyak sekali hal aneh di di dekatmu. Yang pertama kamu bisa mengeluarkan pedang dengan aura mengerikan di tanganmu. Yang kedua, kamu bisa mengeluarkan uang dari sakumu bahkan itu sangat banyak. Dan yang ketiga, kamu terlihat sangat tenang saat melawan dan menipu Bangsawan vampir kemarin?"
Sonia menatapku dengan tatapan mengintrogasi. Wajahnya hanya tinggal beberapa senti dari wajahku. Aku pun menyentil kepalanya agar menjauh dariku.
"Aduh, Ryu!" Sonia mengerang sambil memegangi dahinya yang kusentil.
"Belum saatnya kamu tau siapa aku. Yang penting sekarang, pikirkan tentang kehidupan ras manusia berikutnya." Aku tersenyum kepada Sonia.
"Humm, tapi apakah kamu manusia?" Sonia menatapku serius.
"Iya, yang aku tau adalah aku manusia. Lahir dari keluarga Hikaru yang suka hidup dengan damai, dan juga mungkin ada beberapa hal ghaib yang berada di sampingku." Aku menjelaskan sambil mengangkat bahuku.
"Tapi, pedang apa yang kamu pakai waktu itu Ryu? Apakah itu warisan dari keluarga?" Sonia langsung menimpali begitu banyak pertanyaan.
"Iya, itu adalah harta keluarga ku. Di keluargaku, hanya aku yang bisa menggunakan pedang itu. Dan pedang itu sudah ada sejak Beratus-ratus tahun yang lalu" aku mengarang cerita seakan semua itu benar.
"Hummm, begitu yah. Baiklah, tapi apakah ada syarat dalam menggunakannya?" Sonia semakin penasaran.
"Tentu saja ada. Syaratnya hanya satu. Selama kamu menggunakan pedang itu untuk kebaikan, maka dia akan membantumu. Tapi, jika kamu menggunakannya dalam kejahatan, maka pedang itu akan membunuhmu tanpa mempedulikan siapa kamu!" Aku mengarang cerita lebih ngelantur lagi.
Hahahaha melihat wajah Sonia yang percaya dengan karya fiktif ku, sangat menyenangkan. Namanya aja Demon Sword. Yang ada, dia akan membunuh orang walau tanpa kehendak pemiliknya Hahahahahahahaha.... Dasar cewe bodoh.
"Baiklah, Ryu. Kita akan membahas ini nanti, aku harus kembali ke ruang OSIS untuk mendiskusikan masalah festival nanti. Apakah kamu sudah siap untuk festival nanti?" Sonia langsung berdiri, lalu bertanya dengan serius kepadaku.
"Sempurna..." Aku mengacungkan jempolku kepada Sonia.
"Baiklah, sampai jumpa lagi, Ryu..." Sonia langsung beranjak dari atap sekolah, lalu menuju ke ruangan OSIS.
Aku pun memutuskan untuk kembali ke kelas juga. Sambil berjalan, aku membeli cola di mesin penjual otomatis, dan berjalan dengan santai ke kelas.
Saat sampai di kelas, aku tidak melihat Mia di kelas. Aku pun bertanya pada orang di samping tempat duduk Mia.
"Hei, apakah kamu melihat Mia?" Aku bertanya setengah berbisik
"Aku kira dia pergi bersama kalian, aku melihat tadi Mia mengikuti kalian..." Cowo itu menjawab ku, lalu kembali ke aktivitasnya setelah aku mengangguk.
Saat aku tengah memikirkan keberadaan Mia, aku teringat jika aku mempunyai hp serba canggih yang didesain khusus oleh Rekan terbaikku Sera. Ahhh, aku teringat Sera yang selalu mengakhiri kata dengan 'Nya~' di akhir katanya.
Aku membuka Hp Real You ku, lalu mencari keberadaan Mia saat ini. Tanda hijau pun muncul di sebuah gudang yang agak sangat jauh dari sekolah. Gudang itu sudah kosong, dan sudah di kunci. Hanya saja, gudang itu mempunyai lubang kecil yang mungkin hanya seukuran anak kecil. Itu pun masuk harus menunduk.
Aku segera menuju ke gudang belakang sekolah, lalu aku pun menciptakan Skill 'Infinity Penetration' agar bisa menembus dinding.
"Mia?" Aku memanggil Mia, dan Mia menatapku dengan air mata yang mengucur deras di pipinya.
Aku mendekati Mia, lalu menyentuh kepalanya. Namun dengan cepat dia menghempas tanganku.
"Kamu kenapa Mia?" Aku sontak kaget dengan perubahan Mia yang tiba-tiba.
"Aku tidak menyangka kalau semua cowok itu sama. Hanya tau datang, memberi kebahagiaan lalu pergi. Aku benci sama semua cowo di dunia ini." Mia langsung mencurahkan seluruh isi hatinya kepadaku tanpa menatapku.
Seketika pikiranku menjadi gelap. Aku tidak tau harus melakukan apa di posisi ini. Aku tidak tau apa yang akan dilakukan para kaum cowo untuk mengatasi para kaum cewe saat sedang di kondisi seperti ini.
(Bahkan aku saja gak tau harus berbuat apa saat cewe menangis )
Diam kau!!
"Mia, apa yang terjadi? Sumpah aku tidak tau apa maksudmu?" Aku semakin kalut, dan langsung tenggelam ke dalam lautan rasa bersalah tanpa tau apa kesalahanku. Yang aku tau ini pasti bukan hal baik.
"Kamu pasti pacaran dengan ketua OSIS itu kan? Jangan berbohong, karena aku melihat kalian sangat romantis di atap tadi..." Mia semakin menunduk dan kembali menangis.
Ohhh, pantasan. Ini salah satu kelemahan cewe. Menilai dari apa yang dilihatnya bukan dari apa yang menjadi kebenarannya. Selalu mengambil fakta melalui pikirannya, tanpa memikirkan kalau semua yang dia pikirkan tentang para lekaki itu salah. Yah, untuk sekarang menenangkan Mia adalah prioritas saat ini.
"Mia, kamu salah. Apakah kamu benar-benar berpikir aku berpacaran dengan Sonia? Hahaha, gak mungkin terjadi Mia. Kami hanya teman, gak lebih." Aku langsung tertawa saat tau Mia cemburu kepadaku karena mendekati Sonia.
Yah bukan urusannya juga aku mendekati siapapun cewe manapun, kami juga gak pacaran kan?
"Tidak ada teman se mesrah itu!" Mia menatapku dengan tatapan penuh kebencian.
"Mia, jangan pernah mengambil kesimpulan tanpa mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Aku sudah berjanji pada diriku sampai aku menyelesaikan seluruh urusanku, maka tidak akan berpacaran sampai itu selesai." Aku langsung berubah serius atas penjelasan Mia yang gak jelas itu.
"Tapi... Tapi tadi..." Mia tidak meneruskan kata-katanya, lalu kembali menangis.
"Oh, ayolah. Aku gak bakal melakukan hal seperti itu. Jika aku memang ingin pacaran, kenapa dari dulu aku tidak pacaran dengan mu? Padahal kamu orang pertama yang mendekatiku setelah aku sadar. Aku hanya mempunyai 1 teman, yaitu Ayung. Dan sekarang dia pergi. Hanya kamu satu-satunya orang yang ingin aku lindungi saat ini..." Aku menjelaskan panjang lebar kepada Mia.
"...."
"Kamu akan tau siapa aku sebenarnya. Dan aku hanya berharap di saat semua itu hadir, maka kamu akan menerimaku apa adanya.." aku menghapus air mata Mia yang terus turun, dan matanya menjadi sembab akibat itu.
"Jangan menangis lagi. Aku akan semakin merasa bersalah jika kamu terus seperti ini..." Aku memeluk Mia, dan spontan Mia membalas pelukanku dan membenamkan wajahnya di dadaku.
Setelah suasana kembali tenang, Mia masih menunduk sedih. Tapi, aku berniat untuk mengembalikan semangat Mia.
"Mia, mau kutunjukkan sesuatu yang menarik?" Aku bertanya dengan semangat kepada Mia.
"Apa itu, Ryu?" Mia menatapku dengan penasaran. Namun, wajahnya masih sedih.
"Baiklah. Pegang tanganku..." Aku mengulurkan tangan kepada Mia.
Awalnya Mia tampak ragu, namun Mia langsung memegang tanganku saat tau aku tidak berbohong dan serius untuk menunjukkannya kepada Mia.
"Baiklah, 1.2.3 Teleportation!" Aku berteriak sambil berpose mengangkat tangan, dan seketika kami berpindah di luar gerbang.
"Wawwwwww.... Kenapa kita bisa berada di luar dengan cepat?" Mia bertanya dengan matanya yang berubah semangat.
"Hummm, rahasia. Tapi, itu adalah sebagian dari informasi tentang ku. Suatu hari kamu akan mengetahui siapa aku yang sebenarnya... " Aku menatap Mia dengan senang karena sudah tidak sedih lagi.
"Hummm?" Mia tampak berpikir sambil sesekali melirikku.
"Baiklah, Mia ayo kembali ke kelas ..." Aku mengulurkan tangan, dan dengan semangat Mia langsung memegang tanganku. Kami pun berjalan bersama sambil berpegangan tangan menuju ke kelas
Saat kami hampir sampai ke kelas secara tak sengaja kamu berpapasan dengan Sonia di jalan.
"Wahh, Ryu. Semakin hari kalian semakin romantis yah ..." Sonia menatap kamu dengan senyum manisnya.
"Gak usah sok tau ah" aku membuang muka dari Sonia.
"Hoho~ aku baru tau seorang Ryu bisa malu juga..." Sonia menatapku dengan tatapan mengejek.
"Bodoh ah, aku mau masuk." Aku langsung melangkah ke kelas.
"Khukhukhu... Kamu hati-hati loh, Ryu orangnya berbahaya ..." Sonia menatap Mia dengan nada menggoda.
"Ahahaha, iya aku tau, aku akan hati-hati.." Mia tersenyum canggung.
Aku berhenti, lalu menatap Sonia dengan tajam.
"Pergi atau gua pelintir lu...!" Aku menatap Sonia dengan kesal. Memang mengesalkan.
"Kyaaaaa.... Ryu-Kun menyeramkan. Kowaii..." Sonia berlari dengan wajah puas sambil berteriak gak jelas yang membuatku semakin kesal.
"Tcih!" Aku berdecak kesal menatap Sonia dari jauh.
"Hihihi..." Sonia berusaha menahan tawanya, namun masih bisa tertawa.
"Kenapa?" Aku menatap Mia bingung.
"Aku ternyata benar-benar salah sangka. Aku tidak mengira jika kalian tidak akrab..." Mia menatapku lalu kembali cekikikan.
"Au ah gelap!" Aku menarik tangan Mia dengan kesal, lalu duduk di tempat dudukku sambil menutup mataku.
"Ryu, sampai kapan tanganku di pegang terus?" Mia bertanya dengan Rona merah di pipi Chubby nya.
"Ahh, maaf. Aku khilaf. Aku kira tangan malaikat... " Aku melepas tangan Mia, lalu tidak memperdulikan wajahnya yang semakin merah, sambil menutupi wajahku dengan buku.