Become Strong With Skill Cheat And System

Become Strong With Skill Cheat And System
Rescue mission



Di tengah kekacauan, Sonia hanya terduduk dengan kaki lemas menatap seluruh festival yang tadinya indah, malah terlihat seperti India yang sedang lempar warna.


Semuanya merah, dan yaps merah kental tapi yang ini manis juga? Ahhh ini kan syrup *******. Ae ae Wae


"Sonia, apakah kamu mau ikut menyerang Kastil kerajaan bersamaku?" Tanyaku kepada Sonia yang masih terduduk dengan wajah penuh dengan kesedihan.


"Apakah kita akan menang?" Tanya Sonia dengan wajah sedih.


"Hummm... Aku akan memanggil temanku dulu"


Aku menutup mataku, dan mulai memanggil Shiro.


'shiro, apakah kamu mendengarku?'


'Iya, Master. Ada yang perlu saya bantu?'


'Aku akan mengirim Koordinasi tempat ku, dan kamu dan Ayung berteleportasi lah kemari'


'di mengerti Master'


Saat aku sudah memberitahu Shiro, aku pun tidur di sebuah Ruangan yang kami gunakan untuk membuat rumah hantu.


Aku membuat semua orang yang ada disekolah tertidur. Kecuali Sonia, karena dia sudah mengetahui diriku yang sebenarnya.


Saat aku menutup mataku, aku pun mulai terlelap dalam tidur. Dan aku memasuki ruangan yang sangat aneh. Sejauh mata memandang, hanya gelap yang aku lihat. Lalu sebuah layar yang sangat besar muncul di depanku.


Dalam mimpiku, aku melihat seseorang yang sangat mirip denganku. Hanya saja, rambutnya berwarna Silver, dan tengah menangis dengan tangisan yang sangat mengiris hati.


Di depannya, ada 3 wanita dan 2 laki-laki dengan sayap yang sangat indah dan luar biasa murni.


Tapi satu gadis yang membuat aku ikut menjatuhkan air mata adalah gadis yang bernama Nagisa. Kenapa aku menangis? Marganya juga sama, Hikaru Nagisa. Tapi kenapa aku menangis menatap wanita itu?


Aku merasakan sesak dalam hatiku. Perasaan pedih yang mengiris hati. Kenapa aku menangisi seseorang yang tidak aku kenal? Tapi aku merasa kenal dengan gadis itu. Tapi siapa?


Saat aku tengah menatap pria dengan wujud sama sepertiku, pria itu bangkit dengan amarah yang sangat mencengkam. Aku menatap pria itu seperti ada dendam tersirat. Tanpa sadar aku ikut terbawa emosi, seolah aku tau apa yang dia rasakan.


Aura yang sangat besar mulai keluar dan mulai membesar setiap menitnya. Pria itu mulai mengeluarkan 4 sayap berwarna putih, lebih putih salju dan ada sedikit taburan warna emas di ujung bulunya.


Tapi, ada sebuah tanduk di atas kepalanya, tanduk hitam yang agak pendek, lalu sebuah Halo berwarna hitam keemasan muncul di kepalanya.


Dari langit, juga muncul pria dengan jubah putih dan sayap putih memandang pria itu. Mungkin ada sekitar ratusan ribu malaikat, dengan posisi siap tempur sambil mengarahkan senjata mereka kepada pria itu.


Pria itu dengan air mata masih mengalir, menatap para  malaikat itu dengan aura membunuh yang pekat. Lalu dia menebaskan tangannya secara asal ke atas, dan...


Seketika aku terbangun.


"Ryu, kamu kenapa?" Sonia menatapku dengan sedih dan khawatir.


"Ehhh? Kenapa? Emang aku kenapa?" Aku balik bertanya karena tidak mengerti apa yang di katakan Sonia kepadaku.


"Kamu menangis ..." Sonia memegang tanganku, lalu menatapku dengan sendu.


"Aku menangis? Ahh... Aku hanya bermimpi. Maaf" aku menghapus air mata di pipiku. Dan benar saja aku menangis.


Aku masih teringat, mimpi seaneh itu, kenapa bisa muncul kepadaku. Aku malah heran, karena muncul wajah yang sangat mirip denganku, tapi memiliki kekuatan yang melebihi seluruh malaikat tadi.


Tapi, yang membuat aku tecengang adalah ada malaikat dengan sayap hitam dan halo hitam juga memakai jubah hitam. Aku menebak itu pasti Lucifer.


Dan juga malaikat dengan Rambut putih agak panjang, dengan sayap putih memakai jubah putih dan Halo Emas di kepalanya. Itu pasti Michael. Mereka adalah eksistensi yang saling bertolak belakang. Dan juga musuh bebuyutan. Tapi kenapa mereka bersama? Apakah pria yang mempunyai wajah sama sepertiku itu lebih kuat dan lebih berbahaya dari mereka?


Memikirkannya malah membuat aku sakit kepala, maka BODO AMAT!!!


"Ryu!!!" Sonia mengguncang badanku kembali dengan kuat sambil berteriak.


"Ehh ahhh... Eh?" Aku malah tidak tau apa yang harus dikatakan?


"MOU.. kenapa kamu malah menghayal?!" Sonia mengembungkan pipinya sambil menatapku dengan kesal


"Ah, itu maaf. Aku hanya teringat dengan mimpiku tadi?"


"Mimpi seperti apa?"


"Mimpi yang sangat aneh."


"Ceritakan dong!"


"Nggak. Ayo bersiap, kita akan berangkat ..."


Aku mendorong pipi Sonia, lalu Sonia mengembungkan lagi pipinya sambil memalingkan wajahnya dariku.


Tidak berapa lama, lantai di depan kami bercahaya. Sonia langsung kaget, dan langsung memakai sikap tempurnya di depanku seolah melindungiku.


"Siapa kalian?" Sonia berteriak kepada sosok didepan Sonia yang perlahan mulai keluar dari cahaya.


"Saya Shiro Desu" Shiro menunduk, lalu Sonia perlahan menurunkan penjagaannya, tapi masih dalam posisi bersiaga.


"Tapi, kenapa kamu menyandra orang?!" Sonia kembali menatap tajam Shiro, karena melihat sorang lelaki yang tertidur di sebelahnya.


"Yoo ..." Aku mengangkat tangan kananku kepada gadis di depan Sonia yang tidak lain adalah Shiro.


"Menjauh Ryu, gadis ini berbahaya. Lihatlah dia berani menyandra lelaki itu sampai mulutnya keluar ludah. Pasti dia manipulasi dengan skill ilusi!" Sonia mendorongku, dan masih menatap Shiro dengan tajam


"Salam, master." Shiro menundukkan kepala kepadaku.


"Shiro, Ayung kenapa?"


"Master Ayung sedang tidur, dan aku sedari tadi membangunkannya namun tidak ada respon. Jadi aku Teleportasi saja master Ayung dengan posisi seperti ini" Shiro dengan nada polosnya menjelaskan kepadaku.


"Ryu, ka- kamu kenal dia?" Sonia menatapku dengan gugup.


"Iyalah, kenapa aku tidak kenal dengan gadis seimut dia?"


"Makasih master ..." Shiro kembali menundukkan badannya.


Hahhhh... Senangnya Shiro sangat misterius. Aku tidak tau dia marah atau senang.


"Imut?" Sonia malah bingung sambil menatapku dengan kepalanya yang dimiringkan.


Ahhhhh... Aku lupa kalau Shiro memakai jubah putihnya dengan penutup kepala yang dihiasi telinga kucing. Tapi dia beneran imut dengan jubah putih itu. Tapi jangan salah sangka Bro. Itu adalah jubah yang dilengkapi dengan Barier tingkat menengah dan Magic Absorb. Hadiah terakhir ku untuk Shiro. Tapi, tampilannya menipu.


"Shiro, buka saja jubahmu, hanya ada kita disini"


"Baik master" Shiro membuka jubahnya, dan tiba-tiba aku merasakan ada aura pink yang berbunga-bunga di sampingku.


"Kawaii!!!" Sonia tiba-tiba menatap Shiro dengan wajah yang memerah  dan langsung berlari memeluk Shiro sambil mengelus leher Shiro seperti kucing.


"Dia siapa master?" Shiro sambil menikmati elusan Sonia, bertanya kepadaku.


"Ahhh... Dia temanku. Dan hati-hati" aku berkata dengan malas sambil memalingkan wajahku.


"Baik master, aku akan memukulnya kalau dia macam-macam" ucap Shiro dengan polos


"Apa maksudmu Ryu. Aku tidak semasokis dirimu!" Sonia menatapku dengan tajam.


"Heeee.... Kok aku" aku memandang Sonia kesal sambi menunjuk diriku sendiri


"Iyalah ..."


"Kodok bakar ..."


Wahyu bergumam dalam tidur, dengan senyum di bibirnya. Yaelah nih anak tidurnya menakutkan.


"Yung, Yung? Bangun Yung. Yung?" Aku mengguncang tubuh Ayung dengan kasar.


"5 menit" Ayung membalikkan badannya


"Sialan! Shiro, ambil air!" Shiro menunduk, lalu keluar mencari air.


"Ini master" Shiro menyerahkan air setengah gelas di atas meja, dan langsung *Byarrrr* ke wajah Ayung.


"Tsunami... Tsunami... Tsunami!!!" Ayung langsung berlari ke bawah meja, dengan ekspresi takut.


Aku berjalan ke arah Ayung dengan tanganku yang mengepal.


"Tsunami biji lu 9!"


|Pletak|


"Aduh!" Ayung memegang kepalanya yang aku pukul.


"Cepat berdiri, kita harus cepat-cepat!"


"Mau kemana? Emang udah ada anime update yah?"


"Anjing!"


|Pletak|


"Aduh!! Kenapa sih" Ayung memegang kepalanya yang kini udah benjol sambil menatapku dengan kesal


"Mia di culik Oon. Kita harus segera pergi sebelum malam!"


"Hahhh... Benarkah. Sialan dimana, siapa yang menculik Mia?!"


"Telat Yung. Reaksimu telat.." aku menatap Ayung malas.


"Ahahaha" Ayung tertawa masam sambil menggaruk belakang palanya.


"Jadi, kamu siapa?" Sonia menatap Yung bingung.


"Saya Wahyu Paputungan. Salam kenal ..." Ayung menyodorkan tangannya kepada Sonia.


"Aku Sonia, salam kenal ..." Sonia bersalaman dengan Ayung.


Setelah itu, Sonia mencium bau di tangannya dengan teliti, lalu di wajahnya tersirat kalau dia sedang bosan. Yah, Sonia sedang bosan.


"Kenapa, Sonia? Tanganku bau yah?" Ayung menatap Sonia yang sedari tadi menciumi bau di tangannya.


"Hummmm... Kok bau tanganku kayak bau sayur bambu muda yah?" Ucap Sonia sambil menciumi bau tangannya terus menerus.


"Kamu habis **** ya!" Aku berteriak sambil menunjuk Ayung.


"Eh ... Gak eh. Itu anu?" Ayung tergagap malu saat aku meneriakkan kegiatan mesumnya itu.


"Ihhhhh, menjijikkan ANJINGGG!!!" Sonia dengan cepat menyapu tangannya dengan tisu basah, dengan wajah yang sangat sangat jijik


Menjijikkan memang -_-


"Kamu gak apa-apain Shiro kan!" Aku menatap Ayung dengan tajam.


"Gak lah dasar brengsek. Dia cuma pemicu. Humm, humm, pemicu" Ayung mengangguk angguk paham.


"Anjing, dasar lu hentai!" Aku memukul Wahyu hingga terpental ke dinding.


"Sialan kau Ryu, mau Gelud hahhh!!" Ayung balik menatapku dengan tajam.


"Sialan Genheeyaaahhh!" Aku berlari memukul Ayung.


"Urrraaaaaa!" Ayung balas berteriak, lalu berlari ke arahku.


Aku memukul Ayung dan kembali terpental, lalu dengan cepat dia bangun dan menendangku hingga aku terlempar dan menabrak dinding.


"Koroshu!" Aku berteriak kembali lalu mulai memukul Ayung  tapi Ayung berhasil menghindar dari pukulan ku.


"Hahaha... Omoishiroi Ryu-Kun!" Ayung tersenyum, dan memutar badannya lalu memukul wajahku.


Aku juga melompat kebelakang, dan Ayung juga maju memukulku.


Kami saling bertukar pukulan, dan Sonia juga terlihat panik. Shiro hanya memandang perkelahian kami dengan datar.


"Hei kalian berhentilah!" Sonia berteriak kami, namun tak kami hiraukan.


"Hei berhenti! Shiro bantu aku!" Sonia menatap Shiro penuh harap, namun Shiro hanya memandang Sonia sebentar lalu kembali menonton perkelahian kami


"Hoi  Berhenti!!!" Sonia berusaha melerai kami, namun kami tetap saling memukul.


"Menyingkir, Sonia jangan ganggu pertempuran suci kami!" Ucap Ayung berusaha menggapaiku.


"Iya, Sonia. Karena ini adalah jalan ninjaku" ucapku juga sambil berusaha menarik  Ayung.


"Kamu kira ini Naruto Sialan!" Ucap Ayung dengan tangannya yang memegang kerahku.


"Terus kenapa dasar lolicon akut!" Aku juga menarik kerah Ayung.


"Hentikan!"


|Pletak|


"Itta-" aku dan Ayung langsung menunduk sambil memegangi kepala kami bersamaan.


"Hentikan dasar Bocah sialan!" Sonia menatap kami dengan matanya yang menjadi merah merah terang.


"Ryu, lihat Ryu dia marah. Coba lihat matanya udah kayak kena laser ..."   Ayung cekikikan menahan tawa melihat Sonia.


"Aku gak tau dia itu vampir atau Aedes?" Aku juga menatap Sonia sambil cekikikan.


"Siapa yang kalian hina barusan hahh!" Aura membunuh Sonia semakin merembes, dan aku merasa jika Sonia sudah kesal banget.


"Oke-oke. Berhenti!"


|Tak|


Aku menyentil dahi Sonia  dan seketika Sonia langsung sadar.


"Ke-kenapa aku di sini?"


"Yaelah nih anak belum pernah di sepak Pogba ya!?"


" Oh iya, jangan berkelahi!" Sonia kembali memegangi kami.


"Iya jangan berkelahi" aku langsung mendorong Ayung dan Sonia seakan-akan mereka sedang bertengkar.


"Heeee!" Sonia menjadi bingung.


"Hahahahahahahaha!!!" Aku dan Ayung tertawa sangat keras, hingga air mata Sonia jatuh lalu Sonia duduk menangis di sudut ruangan.


"Yah, kamu membuatnya menangis"


"Hehhh... Aku. Bukannya kamu yang mulai!"


"Kok aku!"


"Iyalah, kamu yang buat Sonia menangis dasar lolicon!"


"Hei-hei jangan hina aku dong dasar om-om"


"Kamu lebih om-om *******!"


"Apa! Mau Gelud?!"


"Oke!" Aku dan Ayung kembali memasang kuda-kuda.


"HENTIKAN!!!" Sonia menatap kami dengan air mata yang masih berlinang.


"Maaf ..." Aku dan ayung sama-sama menunduk.


"1.6.1.1.0.2 ..." Aku mengucapkan kode Pengaktifan Shiro, dan secara langsung Shiro langsung pingsan.


"Shiro-Chan, kamu kenapa?" Sonia refleks berlari ke arah Shiro.


"Kamu mau apain Shiro?"  Tanya Ayung kepadaku.


"Tenang aja" aku mengedipkan mataku kepada Ayung sambil tersenyum.


Aku mendekati Shiro, lalu memegang bahu Sonia mengisyaratkan untuk menjauh. Sonia menjauh dengan wajah khawatir, lalu aku memegang kepala Shiro.


"Transfer Soul ..." Setelah aku mengucapkan nama Skill, tiba-tiba ada sesosok putih terang masuk ke dalam tubuh Shiro. Dan tiba-tiba Shiro bangun sambil terbatuk-batuk.


Tubuh Shiro tidak lagi dingin, karena sekarang Shiro mempunyai roh ciptaan milikku. Aku memberikan Shiro Jiwa, agar dia bisa merasakan kehidupan di dunia ini. Dan Shiro terbangun sebagai manusia sekarang. Tapi manusia terkuat ketiga setelah aku dan Ayung.


"Master?" Shiro menyebut namaku, dan perlahan mulai membuka matanya.


"Bagaimana perasaan mu, Shiro?"


"Aku baik-baik saja, master"


"Baiklah. Mulai sekarang, panggil aku Ryu. Bukan master" aku menatap Shiro dengan senyuman seperti pertama kali. Yaitu senyuman yang sangat tulus.


"Ta-tapi ..." Shiro menatapku dengan ragu.


"Tidak ada tapi tapi, dan ini perintah .." aku mengelus kepala Shiro, dan Shiro tersenyum kepadaku.


"Baiklah, Ryu-Sama" angguk Shiro kepadaku.


"Baiklah, ayo kita segera berangkat,"


"Baiklah ayo." Ucap mereka bersama, lalu kami mulai keluar dari gudang ruang hantu yang aku buat pertunjukkan.


Tapi, saat aku keluar, suasana masih seperti pertama. Aku pun mempunyai rencana yang mungkin bisa memulihkan ini dari awal.


"Ah, teman-teman. Aku mau ke toilet sebentar" ucapku sambil tertawa kering.


"Huhhh... Baiklah, kami akan menunggumu di gerbang. Cepatlah" Ayung menghela nafas, lalu berlalu meninggalkan aku.


Aku pergi kebelakang sekolah, dan mulai merentangkan tanganku.


"Time Leap - Create" aku merasakan ada sesuatu yang masuk, lalu aku kembali menciptakan Skill.


"Recovery and Hypnosis - Create"


Aku merasa, kekuatanku bertambah. Aku pun mulai menutup mataku lalu merentangkan tangan.


"Hypnosis, Recovery - Time Leap"


Cahaya yang menyebar ke seluruh sekolah mulai menjadi terang. Lalu, cahaya naik ke atas lalu menghilang seperti cincin yang di angkat keatas.


Diperjalanan, aku tersenyum karena mereka kembali melakukan aktivitas dan kegiatan festival seperti biasa.


Overpower emang sesuatu banget Bro!!!


…………………………………………....


Saat ini, kami sudah sampai di sebuah pagar yang sangat tinggi, dan aura mencekam bak Hutan Angker.


Kami sampai disini berkat arahan dari Sonia, yah walaupun itu tidak diperlukan, karena aku bisa menggunakan Smartphone canggihku sebagai penunjuk jalan. Tapi, gak apalah...


"Apa kalian siap?" Aku menghadap kepada mereka semua.


"Humm!" Angguk mereka dengan semangat.


"Yosh...  Ayo!"


Aku berlari dengan semangat, lalu melompati pagar yang tinggi itu, diikuti oleh Ayung dan lainnya.


Di depan, banyak sekali Serigala dan hewan-hewan yang sangat mengerikan. Apalagi dengan anjing yang mempunyai semacam tentakel berwarna merah di punggung mereka yang siap mencincang kami.


"Biar aku yang mengurus mereka!" Ucap Sonia langsung berlari dan menebas serigala itu dengan tangannya.


Kami lanjut berlari ke hutan, dan disana aku menemukan sebuah rumah yang sangat tua dan menyeramkan. Aku rasa seperti ada yang aneh dengan rumah itu.


Kami mendekati rumah itu, dan langsung memasang mode waspada tingkat dewa.


"Hati-hati, lihat sekeliling kalian, jangan sampai ada Prank di sini" ucapku dengan nada serius.


"Lu kira ini Prank settingan yang kita pura-pura gak tau apa?"


"Bodo amat!" Aku mengalihkan pandanganku dari Ayung.


Kami memasuki rumah itu, dan dengan perasaan gugup aku merasa seperti ada yang memperhatikan kami.


"Hei kalian!"


"Huaaaaa!!!" Aku berteriak sambil meringkuk ketakutan. Aku lebih baik melawan 1000 orang dari pada 1 hantu. Menyeramkan Cok.


"Ryu, kamu kenapa?"


"Iya kenapa?"


Sonia bertanya kepadaku dengan khawatir, dan Ayung sok-sokan bertanya agar tidak malu di depan Sonia.


"******* kau.. bukannya tadi kau hampir kencing di celana!" Aku menatap Ayung dengan tajam.


"Bapak kau terbang setengah. Emang kamu kira kek Kau yang meringkuk di bawah meja!" Balas Ayung yang juga mengeluarkan aura hitam.


"Kenapa mau berantem hahh!" Aku memasang kuda-kuda di depan Ayung.


"Ayo!" Ayung juga memasang kuda-kuda nya.


"Hureyaaaaa!"


"Koroshu. Kon yarou...!" Ayung berlari dan memukulku.


Aku menghindari semua pukulannya dengan santai. Ayung semakin geram, dan langsung merentangkan tangannya.


"Lightning Thunder!"


"Gawat"


Aku langsung menghindari petir hitam Ayung, tapi tak sempat karena petir itu mengenai tanganku, dan badanku tersetrum.


"Sialan kau...!!! Dark fire!"


"Hentikan kalian berdua!"


Teriak Sonia kepadaku, tapi tak ku hiraukan


Api itu mengenai baju Ayung, dan Ayung langsung melepas bajunya sembarang hingga robek


"Hampir saja... Guhak"


Aku langsung memukul perut Ayung saat lengah, tapi Ayung juga memutar tubuhnya dan memberikan tendangan cambuk ke wajahku. Kami pun mundur sambil memegangi bagian yang sakit


"Hentikan!"


"Itta-"


Aku dan Ayung memegang kepala kami, karena Sonia langsung memukul kepalaku.


"Ayo cepat kita pergi!" Sonia langsung berjalan duluan meninggalkan kami.


Kami pun mengikuti Sonia, dan saat sampai di kastil, aku terkagum dengan kastil yang sangat besar dan megah di hadapanku.


Saat aku melihat Ayung, sepertinya dia sama terkejutnya denganku bahkan mulutnya menganga sambil melihat ke atas.


Kami perlahan memasuki Kastil itu, tapi di depan pintu ada sekitar 10 prajurit yang memakai Jubah hitam, dengan sebuah pedang katana di sebelah kiri dan kanan mereka.


"Apa di antara kalian ada yang bisa membunuh mereka dengan cepat?" Aku menatap mereka satu persatu.


"Saya bisa master ..." Shiro dengan polosnya menjawab pertanyaanku dengan mengacungkan tangan.


"Benarkah?" Aku menatap Shiro sambil memegang daguku.


"Kamu jahat, Ryu. Menyuruh Shiro melakukan hal berbahaya itu .." Sonia menatapku dengan kesal.


"Oy, oy. Jangan salah sangka, dia tidak selemah kamu!" Ucapku menatap Sonia dengan cekikikan.


"Apa maksudmu hahhh!!!" Sonia berkacak pinggang dengan mata merah menyalanya.


"Ahhh.. ma-maksudku, dia lebih kuat dari kamu lho" aku melambaikan tanganku di hadapan Sonia, lalu memalingkan kepalaku.


"Sialan"


"Ittai"


Aku memegang kepalaku yang di pukul Sonia untuk kesekian kalinya. Dasar wanita gak guna, taunya mukul kepala cowo.


"Baiklah, ayo kita pergi!"


"Eh?"


"Eh!?"


Sonia dan Wahyu sama-sama terkejut dengan apa yang aku katakan. Aku pun dengan santai menunjuk ke arah para prajurit yang sudah terbunuh.


"Ap-" Sonia dan Wahyu menjadi sangat terkejoet dengan apa yang mereka lihat.


Iyalah, siapa yang tidak kaget, melihat sorang gadis imut berumur 12 tahun membunuh 10 orang ksatria Vampir dengan mudah bahkan melebihi assassin.


Bisa dibilang, kalau iklan dokter diganti maka akan seperti ini. 'Hati-hati loli dapat membunuhmu' atau 'Jika tingkahmu berlanjut ku bunuh kau'


Kejam memang....


Aku memasuki Kastil itu, dan benar saja. Kastil ini mirip seperti kastil raja iblis di Anime yang biasa aku tonton. Hanya ada beberapa desain yang berbeda.


Aku pergi ke kastil berdua dengan Shiro, karena Sonia dan Wahyu masih di dalam lamunannya. Aku jadi pengen teriak "****** KALIAN ANJING!!"


Yah, malah teriak.


Seketika Sonia dan Wahyu tersadar, dan berlari menyusulku yang ada di kastil.


"Kejam kau Ryu' meninggalkan seorang gadis cantik di luar ..." Sonia menatapku sambil mengembungkan pipinya.


Aku mencubit pipinya, dan lalu berbalik menatap ke depan. Ruangan yang luas, dan sangat menyeramkan. Ini lebih mirip kuburan dari pada kastil.


Saat aku berjalan pelan kedepan, aku merasakan ada yang sedang memperhatikan kami.


"Ghuaaakkk"


Shiro tiba-tiba terlempar, dan ada lubang besar di perutnya. Darah keluar dari perutnya, lalu Sonia dan Wahyu berlari ke arah Shiro dengan panik.


"Shiro, kamu gak apa-apa"


"Jelas dia apa-apalah ******. Liat perutnya lubang"


"Biarkan saja" ucapku dengan malas.


""Eh"" Ucap Wahyu dan Sonia bersamaan.


Lalu, Shiro berdiri seperti tidak kenapa-kenapa, lalu dengan wajah datarnya dia berjalan ke arahku.


"Master, kamu gak apa-apa?" Tanya Shiro dengan datar.


"Aku gak apa-apa. Lalu, apa kamu merasa sakit?" Aku menatap Shiro juga lebih datar.


"Iya, master. Aku seperti mau pingsan tapi aku tahan master!"


"Ohh..."


"Kejam kau Ryu. Aku gak nyangka kamu teman seperti itu!"


"Iya, Ryu. Kamu lebih jahat dari Iblis"


"Ehhh... Kok aku?" Aku menunjuk diriku sendiri sambil menatap Wahyu dan Sonia.


"Aku nyesel sumpah." Wahyu dengan kesalnya.


"Shiro, kemarilah." Panggilku kepada Shiro.


"Baik master"


Shiro mendekatiku, lalu aku memegang perut Shiro yang luka itu. Aku pun menatap Shiro dengan datar.


"Apa kamu beneran kesakitan?"


"Tidak master"


"Lain kali jujurlah. Dan juga, kamu tidak akan mati semudah itu"


Wahyu dan Sonia hanya menatapku dengan bingung. Perlahan Luka di perut Shiro, dan menutup seperti sedia kala.


Aku ingat memberi Shiro kekuatan terakhir kali, dan Shiro juga adalah boneka yang mempunyai tubuh manusia. Shiro terbilang abadi karena mempunyai Regenerasi.


Aku kembali menatap kedepan, lebih tepatnya ke arah tiang besar, ada seseorang yang memakai skill menghilang.


"Sampai kapan kalian bersembunyi disitu? Apa kalian hanyalah orang lemah yang taunya bersembunyi!"


Aku memprovokasi mereka, dan rupanya mereka terpancing. Mereka mulai menampakan diri mereka satu-persatu, dan salah satu dari mereka tersenyum miring kepadaku.


"Sepertinya kamu tak beruntung karena melawan ku!"


"Ehh..? Seharunya itu kata-kata ku." Ucapku sambil memiringkan kepalaku.


"Ahahaha, dasar bocah. Rendahan sepertimu hanya akan menjadi cecenguk di depanku." Pria botak itu tertawa terbahak-bahak di depanku.


"Hummm... Benar juga. Jadi, apakah kita akan bertarung dengan serius atau tertawa saja? A..ha...ha"


Aku memandang pria botak itu, lalu tertawa kering.


"R-Ryu, di-dia adalah penjaga terkuat disini" Sonia langsung gemetar di depan orang itu.


"Ohh, Nona Sonia. Sudah lama tidak ketemu, tapi sepertinya kamu akan mati disini. Tentu saja bersama mereka"


Pria botak itu tersenyum merendahkan Sonia, lalu menunjukku dan Ayung dengan pedang ditangannya.


"Tenang, Ryu. Kita akan melawannya bersama-sama!" Wahyu langsung berdiri di sampingku.


"Tenang saja. Mereka yang hanya cecenguk berani melawan manusia yang bisa lebih kejam dari iblis. Ahahaha, sepertinya mereka akan mati sia-sia!"


Aku menyeringai kepada pria botak itu.


"Kamu yakin Ryu?" Tanya Wahyu khawatir.


"Iya, lebih baik kamu makan keripik sambil menontonku bertarung" aku tersenyum ramah kepada Wahyu.


"Huhhh.... Baiklah. Hati-hati, aibo." Ayung menepuk bahuku, lalu pergi ke samping Sonia yang masih menatap pria botak itu sambil gemetaran.


"Shiro, apakah kamu bisa mengambilkan pedang untukku?" 


"Bisa master, tapi disini hanya ada pedang kayu"


"Tidak apa-apa. Ambilkan itu saja. Dan jangan panggil master, panggil Ryu!"


Shiro dengan sekejap mata mengambil pedang kayu di tempat seperti tempat payung tapi didalam berisi pedang kayu dan tempatnya di rajut dengan bambu.


"Baiklah, botak. Apakah bisa mulai sekarang!" Aku mengejek pria botak itu sambil mengacungkan pedangku kepada nya.


"Sialan. Kalian, lawan maju!"


Pria itu dengan marahnya menyuruh bawahannya melawanku, dan mereka langsung menghilang dan berlari kepadaku.


Aku bisa melihat mereka, karena aku mempunyai skill God Eye. Mata yang bisa melihat segalanya. Saat mereka sudah dekat, aku memutar tubuhku searah jarum jam.


"Breaker Skill" Aku menggumam dengan pelan sambil tertawa miring, dan seketika tubuh mereka langsung terlihat.


Mereka tercengang beberapa saat, tanpa mengulur waktu aku memukul kepala mereka dengan pedang kayu dan langsung pingsan.


"Ap- kenapa bawahanku kalah dengan mudah?!" Pria botak itu membelalakkan matanya menatap bawahannya kalah dengan mudah.


"Humm... Itu karena mereka sangat lemah..." Jawabku dengan datar.


"Aku akan membunuhmu!"


"Coba saja ..."


"Berserk Mode!"


Tubuh pria botak itu bercahaya hitam, dan setelah beberapa saat sosoknya berubah menjadi seperti Belakang dengan sayap, tapi kepalanya masih sama. BOTAK ANJING!!!


"Akan aku bunuh kau' Rendahan!"


Pria botak itu menatapku dengan haus darah. Dia mengeluarkan aura intimidasi, dan hanya Sonia yang terpengaruh.


Aku mendekati Sonia, lalu memegang kepalanya. Sonia pun bisa berdiri sempurna tanpa terintimidasi.


"Baiklah, ayo lawan aku." Aku menodongkan Shinai ku kepada pria itu dengan santai.


"Graaaaa!!!"


Pria botak itu mengeram kepadaku, lalu berlari menuju ke arahku. Dia berusaha menusukku dengan tangan belalangnya, tapi aku hanya memiringkan badanku ke arah kiri, dan serangannya melesat.


Saat dia melakukan hal yang sama, semua serangannya tidak kena. Saat dia melesat dengan cepat ke arahku, aku memutar tubuhku dan memukul kepalanya dengan Shinai.


"Sialan kau!!" Pria botak itu semakin marah.


"Ehh? Apakah aku melakukan kesalahan?"  Aku memiringkan kepalaku kepada pria botak itu


"Tcih... Burn dark skin!"


Tubuh pria itu terbungkus dengan api hitam, dan melesat menyerang ku. Kecepatannya bertambah, tapi tetap tidak bisa mengenaiku.


Berulang kali dia berusaha menyerang ku, tapi aku hanya menghindari serangannya dengan setipis kertas. Pria botak itu pun memiringkan kepalanya menatapku bingung.


Lalu dia berhenti didepan ku, dan mulai menyerang ku dengan tangannya lagi. Dengan cepat dia melayangkan pukulannya, tapi tetap saja tidak kena. Pria itu pun memukulku dengan pelan, dan akhirnya pukulannya kena.


*Plok plok plok*


"Selamat, kamu berhasil mengenaiku. Sekarang, aku dapat mainan!" Aku melompat kesenangan, karena aku bisa membodohi sialan ini lebih dari ini.


Pria itu pun kembali memukulku dengan cepat dengan tangan belalangnya, tapi sama tidak kena. Dia pun kembali memukulku dengan pelan.


Saat pukulannya mengenai wajahku, dia menyentil dahiku.


"Ittai, sialan!" Aku memegang jari telunjuk pria botak itu.


Aku mengangkat jarinya, dan dengan mudahnya dia terangkat bersama badannya. Aku pun membanting tubuhnya ke lantai.


"425"


"568"


"76.. Eh?"


Saat aku tengah menikmati mainanku, tiba-tiba dia sudah tidak bergerak. Aku pun merasa hilang semangat, karena tubuhnya yang sudah seperti Slime. Lembek kek t*i.


"Huhh..." Aku membuang nafasku, lalu duduk di kepala belakang botak itu.


"Kamu kenapa Ryu?" Sonia menatapku dengan bingung.


"Aku kehilangan mainan!"


"Dasar Cheater!" Ayung mencelaku sambil memalingkan wajahnya dariku.


"Ngajak berantem kah hahh!!" Aku menatap Ayung dengan tajam.


"Ayok eyyy... Belum pernah di Gelitikin Ginjalnya yah!" Jawab Ayung yang terpancing.


"Oke!"


Aku berdiri lagi, lalu berjalan ke arah Ayung. Kami pun saling memukul di ruangan itu.


"Oy, kalian hentikan. Ini hampir malam, ritualnya akan dimulai!" Teriak Sonia kepadaku.


"Simatha!" Ucapku, lalu meninggalkan Ayung.


Aku segera melanjutkan perjalanan menuju ke ruang atas. Saat di tangga, aku dihalangi oleh 2 orang gadis kecil.


"Nee, apa Onii-Chan sekalian adalah penyusup?"