Become Strong With Skill Cheat And System

Become Strong With Skill Cheat And System
Bleeding festival (出血祭/Syuketsu Sai) Part 2



Huuuuuuu.... Haahhhhhhhh........


Aku membuang nafas kasar, karena festival sudah semakin dekat. Tinggal 2 hari, dan aku membantu para wanita mengatur kelas, untuk Maid Cafe, dan Rumah hantu.


Aku membuka PlayShop ku, dan membeli 10 set pakaian Maid, dan 7 Pakaian hantu yang paling seram. Mereka bahkan menanyakan baju ini dari mana, dan aku hanya menjawab dengan malas "Rahasia."


Setelah kelas sudah selesai, aku membantu Mia untuk belajar membuat beberapa makanan enak, seperti makanan Khas Jepang Onigiri, Nabe, Omorice, dan Sushie. lalu makanan Khas Indonesia seperti Nasi Padang, Sate, Gorengan, dan Nasi Goreng.


Ada juga makanan penutup mulut seperti kue Tart, Puding dengan Coklat susu di atas,  dan juga minuman seperti beberapa jenis Jus Buah, Kopi, Teh, dan Ice Cream.


Syukurlah ada 4 orang yang bisa memasak dan sudah ku ajari resep nya. Yaitu, Mia, dan Trio L. Lia, Lala, Lily.


Lalu 6 Pelayan Maid, Rina, Ria, Muna, Sarah, Lina, dan Susi. Merekalah yang akan memasak dan melayani pelanggan.


Sedangkan di Rumah hantu, ada 7 orang yang bertugas untuk menakut nakuti orang, yaitu Isra, Firman, Riki, Diki, Odong, Arya, Anca, dan Ilham. Dan 2 orang untuk melayani tamu di depan Iilo dan Ruslan.


Harga makanan kami, bisa dibilang gak terlalu mahal dan tidak terlalu murah. Yaitu,


Makanan :


1.  Onigiri - 20k


2.  Nabe - 25k


3.  Omorice - 22k


4.  Sushie - 15k


5.  Nasi Padang - 13k


6.  Sate - 2k


7.  Gorengan - 1k


8.  Nasi Goreng - 14k


9.  Tart - 32k



Spesial Puding - 16K



Minuman :



Jus Buah (Sesuai Rasa) - 5k


Kopi +Susu (Panas atau Dingin)  - 5k


Teh (Panas atau dingin) 6k


Ice Cream (Sesuai Rasa) - 7K



Aku memang sengaja membuat mereka murah, karena belum tentu ada yang akan membeli dengan harga yang tidak masuk akal. Walaupun harga makanan Jepang lebih mahal dari harga di atas,  tapi gak apa-apa lah, karena semua barang persiapan aku yang stok.


"Baiklah, apa kalian sudah menguasai semua resepnya?" Aku menatap para Chef Kelas yang sedang sibuk membaca resep di kertas sambil mencoba rasa masakan mereka.


"Agak susah sih, tapi sudah selesai, Ryu." Mia menatapku dengan tatapan ragu.


"Baiklah, cepat! Waktunya 15 menit, dan setiap orang bawa masakan kalian ke hadapanku!" Aku bertingkah seperti Chef Juna yang sedang mengintrogasi para calon Chef.


Satu persatu mereka meletakkan makanan di atas meja belajar panjang, lalu aku pergi mencicipi setiap makanan yang mereja buat satu-persatu.


"Ummm, masih ada yang kurang, tapi sepertinya ini sudah 75% sempurna. Sepertinya, kalian perlu melatih bakat masak kalian?" Aku menatap mereka serius.


"Hahhh, Horeeee!!!" Teriak mereka semua dengan sangat Gembira.


"Tapi!" Aku menatap mereka dengan tajam.


"Ke-kenapa Ryu?" Mia bertanya dengan gugup.


Ahahaha entah kenapa melihat tingkahnya, aku malah teringat karakter kawaii di Anime Jepun.


"Kalian kalau belajar masak, cukup sekali sehari. Nanti tidak ada yang bakal memakan makanan ini setiap saat. Yang ada nanti mubazir dan kalian tidak perlu khawatir jika bahan makanan habis karena aku yang akan menyiapkan makanannya."


Aku tersenyum kepada mereka semua. Mereka pun membuang nafas lega, lalu tersenyum lagi.


"Baiklah, sisa makanan ini, lebih baik kita makan bersama. Kasihan para anak cowo sudah kelelahan mengatur kelas."


"Hummm, kamu benar. Lebih baik sisa makanan ini kita kasi ke mereka biar gak rugi"


"Benar, tuh Lia...."


"Mia, ayo kemari ..."


Aku menatap menatap Mia dengan serius lagi.


"Ada apa Ryu?" Tanya Mia.


"Bisa temani aku ketemu sama Sonia?" Aku menatap Mia penuh harap.


"O~Ke~ " Mia mengangguk rendah rada ragu.


Saat aku berjalan menuju ruangan OSIS, sebenarnya aku masih agak jengkel dengan Sonia. Yah, karena si Waketos sialan itu masih sangat-sangat aku benci. Pengen aku tutup mulutnya dengan besi panas rasa es.


Saat tiba di ruang OSIS, aku pun menatap pintu masuk sejenak.


"Mia, apapun yang terjadi kamu ikuti saja, dan jangan kaget yah"  aku memberitahu Mia agar dia tidak membocorkan rencana jahatku. Hahahahaha....


"Kamu mau ngapain Ryu?" Mia menatapku khawatir.


"Udah, ikuti saja ..." Aku tersenyum miring kepada Mia, dan Mia hanya mengangguk setuju.


1...2...3


|Brukkkkk|


"Sonia, ada polisi yang mencarimu, cepat kita pergi dari sini!"


Aku mendobrak pintu tanpa peduli kalau mereka sedang rapat, lalu langsung mendekat ke Sonia yang sedang berada di depan papan tulis.


"Ke-kenapa Ryu, polisi? Ngapain?" Sonia mendadak khawatir dan panik.


"Kata mereka, kamu berbahaya. Dan kamu sudah di ketahui semua publik. Ayo cepat mereka sudah mengepung sekolah!" Aku berakting seolah-olah semua benar, dan Sonia semakin pucat.


"Cepatlah!" Aku menarik tangan Sonia dan Mia lalu berlari ke atap


"Hahhh... Kenapa hahh... Kita kemari? Huhh" Sonia dengan nafas yang memburu bertanya kepadaku.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu ..." Aku menatap Sonia yang sedang kelelahan.


"Terus, polisinya bagaimana. Bukannya kita akan tertangkap, aku takut mereka sudah mengetahui penyamaran ku!"


"Ehhh? Penyamaran?" Mia menatap Sonia sambil memiringkan kepalanya.


"Ahhh, ti-tidak. Jangan dengarkan Sonia, dia itu Chunibyou." Aku berusaha mencari alasan.


"Ummm, Kak ketos, Ryu membohongimu ..."


"A-apa!!!" Sonia langsung menatapku dengan tajam.


"Ehehehe ..." Aku tertawa masam, sambil menaikkan 2 jari piece kepada Sonia.


"Ryu... " Aura Sonia langsung terasa mencekam, dan Sonia menatapku dengan mata iblisnya sambil tersenyum jahat kepadaku.


"Hyaaaa.... Kamu mengganggu rapat kami, dasar Ryu kejam kejam kejam KEJA~M!!!"


Sonia melompat ke arahku, dan mendaratkan pukulan tepat ke arahku. Aku hanya menahan pukulannya dengan memegang kepalaku.


Sedangkan Mia, berusaha melerai kami tapi tidak tau apa yang harus di perbuat.


Setelah beberapa menit, Sonia sudah tenang. Tapi, ada beberapa tanda biru di wajahku. Yah, gampang ilanginnya  tapi biarkan sesaat, agar Sonia tidak tambah marah.


"Sonia.. ?"


"Hmph!" Sonia mengembungkan pipinya, sambil memalingkan wajahnya dariku. Matanya berkaca-kaca hahaha. Kawaii memang..


"Sonia, GEVADA!" Aku menunjuk ke arah langit.


"Mana?" Sonia langsung ke pose siap tempur.


"GEVADA?" Mia menatapku bingung.


"Ahh, bercanda" aku kembali membentuk piece kepada Sonia.


|Plak|


Satu lagi pukulan mendarat di wajahku. Ahhh, stress ku hilang, karena Sonia.


"Maaf ..." Kali ini aku dalam posisi seiza, di depan Sonia. Sedangkan Sonia mempoutkan mulutnya menatapku penuh kebencian.


"Jadi, Ryu apa yang kamu inginkan?" Sonia bertanya tanpa memandangku.


"Sebenarnya  aku ingin menanyakan kalau kamu ingin menjadi pacarku."


"Ehhh?!" Sonia langsung menatapku dengan pipinya yang agak memerah.


Lalu aku menatap Mia, wajahnya menjadi murung, dan sedih.


"Ahhh, bercanda bercanda ..."


Dan sekarang malah Sonia yang murung. Anjing memang.


"Ryu, jangan suka mempermainkan hati wanita, kamu tidak tau sepeti apa isi hati wanita!" Sonia menatapku dengan sedih.


"Maaf, tapi aku kemari ingin bertanya, dan memintamu agar gudang kosong akan kami pakai untuk rumah hantu"


"Oh, itu yah. Gak apa-apa, yang penting kalian turut berpartisipasi dalam festival ini."


"Benarkah, baiklah. Aku sudah puas menjahili Sonia, ayo kembali ke kelas" aku langsung berdiri dan mendekati Sonia.


Kami bertiga pun kembali urusan masing-masing. Dan saat kami sempat berpisah, aku langsung bersikap serius.


"Sonia, jangan turunkan penjagaan, dan jangan lupa kedepan. Jangan lupa tentang rencana kita.." Suasana langsung berbuah serius.


"Hai ..." Sonia juga berubah serius.


"Sore jaa, mata Nee" aku langsung tersenyum dan menuju kelas.


♦♦♦♦


Dua hari sebelum festival, aku sibuk mencari di PlayShop ku, beberapa Cosplay hantu Indonesia, dan aku mengikuti Konsep horor jepang, seperti cahaya biru melayang, dan kabut hitam.


Tapi, aneh ya kalau hantu Indonesia tapi nuansa Seramnya kejepangan. Kayak hantu Indonesia sedang tour ke Jepang. Kan aneh bgst.


Makanan dari chef kelas kami juga sudah baik. Walau belum seperti punyaku, tapi mereka sudah sekitar 85%  dekat dengan rasa masakan ku.


Para Pelayan Maid juga sangat cantik, karena berkat Mia dan juga aku sebagai penilai, mereka sangat cantik dengan cosplay Maid. Dan ada beberapa yang memakai Neko-Mimi. Ahhhhh, rasanya hidungku akan keluar sesuatu.


Dan karena aku juga bertugas sebagai Pemimpin, aku yang mendandani para lelaki seseram mungkin. Dan bagusnya, kami akan menginap di kelas malam ini.


Yaps, sekarang udah sekitar jam 12 malam, dan sekolah masih terang benderang. Itu karena besok adalah hari H festival.


Aku juga beberapa kali melatih Vokal, tapi suaraku hahahaha,  cukup untuk jadi bahan lelucon kelas. Yahh  kita lihat saja siapa yang akan tertawa.


Sudah jam 2, aku memaksa mereka menghentikan kegiatan mereka.


|Plok|


"Baiklah, kalian berhentilah. Ini sudah malam, jangan memaksakan diri ..." Aku menepuk tanganku sekali, dan mereka menatapku.


"Yah, kenapa harus sekarang, masih banyak yang kurang. Sementara besok sudah akan dimulai?" Lia protes kepadaku.


"Iya, tuh. Kamu tau kan Ryu, kita berniat mengejar tingkat pertama" Lala ikut nimbrung.


"Kalau kita kalah gimana? Mau tanggung jawab?" Lily malah geram *****.


"Yaelah, gak usah nge-gas dong! Emang kalian mau makanan besok pada gosong karena kalian tertidur di atas kompor?! Kan masih ada hari esok! Nanti aku bangunin kalian" aku malah kesal sama Trio L, rasanya pengen aku jadiin mereka mie remes!


"Ryu benar. Kita tidak akan fokus kalau kita nanti merasa ngantuk. Kalian juga butuh istirahat. Ayo kita tidur ..." Mia ikut membantuku menasehati mereka. Yah, Nice timing Mia.


"Terus, ini semua gimana?" Lily melihat semua tumpukan dekorasi kelas, dan beberapa dekorasi rumah hantu.


"Tenang saja, kita akan tepat waktu kok" aku mengulas senyum kepada mereka.


"Ehh te-tenang saja, aku yang akan menjaga kalian, aku yang bakal pukul tuh lelaki yang berani mesum kepada kalian" aku berpose kek superhero.


"Huhh, awas kalau kalian berani macam-macam!" Lia pergi ke ujung kelas, dan memakai kantung tidurnya.


Setelah sekitar 10 menit, mereka sudah terlelap.


"Cepatnya ..." Aku bergumam melihat para cewe dan cowo yang tidur agak jauhan.


Bahkan mereka banyak yang berbicara saat tidur. Hahahaha  efek kelelahan.


Baiklah, saatnya menyelesaikan sisanya. Aku mengambil semua hiasan kelas, dan mulai memasang semua hiasan kelas dengan teliti. Dan ehehehe aku juga menggunakan sedikit skill ku.


Saat jam 3 tepat, aku sudah selesai mendekorasi 2 ruangan. Dan aku pun tidur di sebelah Mia. Ahahahaha, kapan lagi bisa tidur di samping loli.  Selamat Malam


Zzzzzzzzzz


"Hei, diam. Ntar ketahuan"


"Tenang aja, aku sudah banyak mengambil gambar"


"Hei-hei, aku gak nyangka mereka sedekat ini?"


"Uwwaahhh, apakah mereka pacaran?"


Aku mendengar bisik bisikan setan dari depan. Aku pun membuka mataku.


"Ummhhh, hoaammmm..." Aku meregangkan otot ku, tapi aku rasa ada yang menahan tubuhku?


"Mi-Mia? Apa yang kamu lakukan?" Aku berteriak melihat Mia yang tidur nyenyak sambil memeluk tubuhku.


"Yah, mereka bangun ..."  Lia memalingkan wajahnya malas.


"Hei, apa yang kalian lakukan?" Aku melihat semua teman kelas berkumpul di depanku.


"Ryu, kalau kamu mainnya kasar aku bisa remuk  .." Mia malah bergumam gak jelas.


"Oy oy Ryu apa yang kamu lakukan semalam?" Lily menatapku tajam..


"Ehhh, aku tidak akan melakukan apapun?" Aku berusaha mengelak. Yah, gak mungkin aku semesum itu sampai mengembat loli. Aku tegaskan AKU BUKAN LOLICON!!!


"Mia bangunnnn!!!" Aku berteriak kepada Mia, dan menarik pipi nya.


"Aduh aduh, sakit Ryu!!!" Mia menatapku dengan kesal. Dan ada air matanya yang jatuh.


"Bangun cepat,  kita akan terlambat!" Aku langsung berdiri, dan meninggalkan Mia yang masih bingung...


Saat ini, semua orang sudah bersiap di tempat mereka masing-masing. Dan akhirnya pengumuman dari ketua OSIS terdengar.


"Baiklah, hari ini adalah hari Spesial. Kita akan menggelar acara festival sekolah selama 1 hari. Kalian semoga berhasil! Dan untuk peserta lomba menyanyi, akan berkumpul di Aula pada jam 12 nanti. Silahkan bersiap!"


Saat Sonia selesai berpidato, kami pun mulai bergerak. Sekolah dari pagi sudah sangat ramai. Banyak dari mereka yang hanya membuka warkop dan lain-lain. Beda dengan kami yang mendesain kelas kami layaknya cafe.


Pelanggan perlahan mulai berdatangan. Mereka menikmati semua interior yang ada di dalam kelas kami. Bukan terlihat seperti kelas, tapi seperti cafe asli.


Banyak juga anak SMA lain yang datang hanya untuk menikmati festival di sekolah kami. Sampai ada 3 berandalan yang datang ke kelas kami.


|Brakkk|


"Hallo, kami mau makan hahahaha!!!" Seorang pria dengan wajah sangar datang ke kelas kami dan mendobrak pintu dengan kasar.


Semua yang ada di kelas sudah bergidik ngeri. Dan hanya aku yang melihat mereka dengan malas.


"Ma-mau pesan apa, Tuan?" Ria bergidik saat di dekat pria itu.


"Wow... Kamu cantik sekali. Aku mau semua makanan yang enak di tempat ini!" Pria itu tersenyum jahat ke Ria


"Ba-baiklah ..." Ria menunduk singkat, dan langsung ke arah dapur dengan cepat.


"Kamu kenapa Ria?" Mia menatap Ria bingung.


"A-aku takut. Ada berandalan diluar sana" Ria menunjuk ke arah 3 orang tadi.


"Oh, apa yang mereka pesan?" Mia bertanya dengan santai


"Semua yang enak kata mereka." Ria masih dengan ekspresi takut menatap pria berandalan tadi.


"Ohh, begitu. Biar aku yang mengantar pesanan mereka." Mia dengan antusias membuat beberapa makanan, lalu mengantarnya ke para pria sangat tadi.


"Ini pesanan kalian, Tuan" Mia dengan tenang meletakkan semua makanan di meja, lalu mundur sedikit.


"Wow, cantik juga. Sini temani kami" pria itu mendekat ke Mia dengan tatapan mesumnya.


Aku sudah sangat marah, tapi aku masih menahan diri. Aku ingin melihat sampai dimana aksi mereka itu berlanjut.


"Maaf, aku harus melayani yang lain" Mia tanpa menatap mereka berjalan meninggalkan mereka.


"Oh, ayolah kita bersenang-senang, Nona ..." Pria itu menahan tangan Mia.


"Tolong lepaskan tangan anda tuan, aku tidak Sudi di pegang oleh kalian!" Mia menatap mereka dengan tajam,  lalu menepis tangan mereka.


"Hooo... Ayolah, sini" pria itu menarik tangan Mia, lalu mencengkeram tangan Mia agak keras.


"Jika kalian berani macam-macam, aku akan berteriak." Mia bersiap untuk berteriak.


"Tcih!" Pria itu melepas tangan Mia  lalu duduk memakan makanan itu.


Setelah mereka makan, mereka menaikkan kaki mereka ke meja, dan mulai bertingkah dengan mejatuhkan beberapa piring hingga pecah.


Mia dengan cepat berlari ke arah mereka, dan memarahi mereka.


"Hei, kalian keterlaluan. Bukan kalian yang memiliki hak atas barang-barang kami!" Mia menatap mereka tajam, bahkan sampai memaki mereka.


Karena hanya perempuan di dalam cafe, para wanita kelasku tidak berani berbuat apa-apa.


"Oh, kamu berani juga. Baiklah  ayo kita main kasar, Nona!" Pria itu mencengkeram Mia dengan kuat, lalu menutup mulut Mia.


Bahkan, mereka sekali-kali mengendus rambut Mia. ******* memang. Aku pergi mendekati mereka.


"Oke, cukupkan sampai situ, sebelum kalian jadi Sup Udon!" Aku berjalan dengan santai ke arah mereka.


"Ryu..." Mia dengan air mata berlinang, menatapku.


Mia mencoba berlari ke arahku, tapi tangannya di tahan oleh pria sialan tadi


"Ayolah, nona. Kita bermain sedikit  hahahaha... Pria lemah ini tidak akan mencegah kami," pria itu menatapku tajam, lalu menarik Mia dan memeluk Mia.


Pria itu lalu mencium punggung Mia. Aku yang sudah naik pitam,  mendekati pria itu dengan kepala tertunduk, dan memegang tangan Mia. Dan langsung melayangkan satu pukulan ke wajah pria itu hingga terlempar ke dinding kelas. Bahkan dinding itu ada tanda retak.


"Jangan sentuh adikku!"  Aku masih tertunduk,  dan memperingati mereka dengan suaraku yang berubah menjadi berat.


"Ryu, aku takut, Ryu ..." Mia menangis di pelukanku


"Sialan kau, beraninya kau menyentuh teman kami!" 2 orang lainnya langsung berlari ke arahku, dan aku langsung mendaratkan pukulan ke perut mereka hingga membuat mereka menabrak dinding juga.  Cuma saja, mereka bertiga  masih sadar.


"Baiklah, saatnya menyelesaikan hidup mereka!" Aku berjalan mendekati mereka dengan senyum miring.


Mereka bertiga bergidik ngeri, hanya saja Mia langsung menahan tanganku. Aku pun balik menatap Mia, dan Mia menggeleng kepadaku dengan tatapan seperti mengatakan 'jangan Ryu' aku pun mengurungkan niatku.


"Baiklah, apa kalian akan membayar makanan ini dengan uang, atau pukulan?" Aku menatap mereka dengan tajam.


Mereka pun dengan cepat mengeluarkan uang, lalu berlari keluar sambil bergumam.


"Sekolah ini seram, aku gak mau kesini lagi!" Dengan wajah ******.


Suasana kembali tenang, dan kelas kami di penuhi pelanggan. Sudah sangat Ramai. Oh iya, nama cafe di kelas kami adalah "Cafe Class Special"


Saat jam 12, lomba menyanyi sudah di buka. Tapi, saat aku akan bersiap-siap untuk menuju Aula,   Sonia berlari dengan nafas terengah-engah ke kelas kami.


"Ryu... Ryu kamu di mana?" Sonia membuka pintu dengan kasar, yang otomatis semua tatapan seisi kelas menghadap ke Sonia.


"Kenapa Sonia?" Aku yang kebetulan ada di samping Sonia menatap wajah pucat Sonia.


"Mereka disini!" Sonia langsung menarik tanganku. Dan aku berlari mengikuti Sonia dan Mia juga malah berlari mengikuti kami. Tapi, kami langsung berbelok ke ruangan lain, dan melompat melalui jendela agar Mia tidak melihat kami.


"Dimana mereka?" Aku dengan posisi siap siaga memperhatikan sekitar ku.


"Aku merasakan kehadiran mereka disini" Sonia juga dalam mode serius nya.


|Syuu-syuuu|


Sebuah sihir api langsung mengarah ke kami. Aku langsung menangkis sihir mereka dengan cepat.


"Hebat juga kau manusia. Baru kamu manusia yang aku temukan sampai sekarang yang bisa menangkis Sihir api dariku ..." Seorang pria dengan Mata merah dan Rambut biru tertawa kepadaku. Bajunya yang seperti ksatria, yaitu baju berwarna hitam putih, dan di balut dengan jubah putih panjang menambah kesan wibawa kepadanya.


"Siapa kamu?" Aku dengan wajah datar bertanya kepadanya.


"Saya Leon Crunch. Seorang Duke dari kerajaan Sentra. Saya kemari untuk mengambil gulungan dari wanita bodoh di sampingmu itu!" Dia menunduk dengan tangan kiri didada, memberi hormat sambil tersenyum kepadaku. Lalu kembali menatap tajam Sonia.


Sonia menjadi sangat pucat sejak kedatangan Leon Cruncy itu. Sepertinya Sonia sangat ketakutan, tapi aku bersyukur karena aku sudah memasang Absolute Barier di sekolah, sehingga mereka tidak  bisa masuk dan mengacau di sekolah.


"Jadi, apakah kalian akan mengambil jalan damai atau kita selesaikan lewat jalan kekerasan?" Leon bertanya dengan senyum smirk nya.


"Aku terserah kamu sih .." aku mengorek telingaku, lalu memandangnya dengan malas..


"Baiklah, kalau itu maumu!"  Leon berlari ke arahku, dan mulai menyerang ku dengan seluruh kekuatannya.


Aku pun membalas menangkis serangan Leon dengan agak santai. Hanya saja, aku tidak bisa bertarung leluasa karena selalu terfokus dengan Sonia yang kesulitan melawan bawahan Leon.


"Ada apa bocah. Ayo kerahkan seluruh kekuatanmu!" Leon berteriak kepadaku, dan dengan cepatnya melayangkan pedang ke arahku.


Aku memutar badanku, dan menghindari tebasan pedang itu setipis kertas. Bahkan rambutku sedikit rontok saat terkena tebasan Leon. Dengan cepat aku menggunakan skill Wind untuk membuat Leon terhempas.


Leon termundur kebelakang, dan menancapkan pedangnya agar berhenti sebelum menabrak pohon besar di belakangnya.


"Kamu kuat juga,  bocah." Leon tersenyum ke arahku, menandakan kalau dia menikmati pertempuran ini.


Saat aku menatap Sonia, aku secara refleks langsung menuju ke arah Sonia dan menebaskan tanganku ke salah satu bawahan Leon, saat sebuah pedang hampir menebas Sonia.


Jika aku tidak mencegah pedang itu, kepala Sonia sudah bergelinding ria di tanah. Kejam memang...


Bawahan Leon langsung mati, karena terkena tebasan ku. Leon menatap bawahannya dengan sendu, lalu menatap ku dengan tajam.


Saat Leon akan maju, Mia tiba-tiba berlari ke arahku.


"Ryu, kamu dari mana?"


"Awas!"  Aku berteriak kepada Mia, namun terlambat karena Leon sudah menangkap Mia duluan.


"Lepaskan Mia dasar sialan!" Aku menatap Leon dengan amarahku yang meningkat, lalu Leon tersenyum kepadaku.


"Jika kamu ingin dia kembali, datanglah ke kerajaan Sentra dan serahkan gulungan itu kepada kami. Jika tidak, sebentar malam saat bulan purnama, kami akan membunuhnya untuk dibuat tumbal!"


Setelah mengatakan itu, Leon beserta bawahannya menghilang. Aku dengan tangan terkepal, menatap tanah dengan amarah yang meningkat.


"Ryu, biar aku saja yang pergi menyelamatkan Mia. Kamu tunggu saja disini"  Sonia menatapku dengan sedih, dan berusaha menenangkan ku.


"Tidak, Sonia. Aku akan pergi memberi mereka siksaan yang paling menyakitkan karena sudah menculik Mia. Akan aku berikan kepada mereka bagaimana wujud dari kematian yang sebenarnya!" Aku menatap Sonia dengan tajam.


Sontak Sonia mundur beberapa kebelakang, dengan wajah yang takut kepadaku.


"Baiklah, Sonia. Ayo kita kembali ke sekolah, dan kita mulai menyusun rencana untuk menyelamatkan Mia ..." Aku kembali tersenyum kepada Sonia  karena Sonia tampak sangat takut kepadaku.


"Ba-baiklah ..." Sonia mengangguk kepadaku, lalu kami pergi ke ruangan OSIS yang kebetulan sepi karena semua anggota OSIS berada di Aula sekolah.


Saat kami di dalam, ada yang berteriak di dalam arena festival.


"Kyaaaaaa....."


Aku dan Sonia berlari menuju ke halaman sekolah. Banyak mayat yang berjatuhan. Mereka mati secara menggemaskan.


Aku dengan tangan mengepal, mulai membuka skill God Eye milikku. Sebenarnya, skill ini adalah Skill Astral Intuition yang malah berevolusi menjadi skill God Eye.


Saat aku melihat sekeliling, ada sekitar 100 vampir berjubah hitam yang berlari ke kerumunan dan menebas dengan asal sepanjang jalur.


Aku menggunakan topeng, dan berlari mengejar mereka. Aku mengeluarkan Demon Sword dari Infinity Storage, dan mulai menebas setiap bayangan yang ada.


Banyak darah berceceran, dan akhirnya tinggal 20 Vampir yang tersisa. Aku pun mengejar mereka, tapi Sonia sudah membunuh sebagian dari mereka. Kini tinggal 10 vampir. Dan aku pun mulai melesat ke arah mereka.


Saat aku mengayunkan pedang, aku menambahkan Skill Light Destruction dan menebaskan Demon Sword ke arah mereka. Dan 9 dari mereka langsung tewas dengan badan terpotong dan hancur. Tapi, ada satu vampir yang berhasil lolos dari sergapan.


Saat kami kembali ke festival, aku melihat banyak sekali genangan darah, perempuan yang berteriak tidak jelas, ada yang mendapatkan luka dalam, dan sekitar 450 orang mati menggenaskan di dalam area festival. Ini karena aku secara tidak sengaja melepas Absolute Barier, dan membuat 100 Vampir itu lolos.


Aku dengan tangan terkepal berjalan di antara genangan darah. Banyak dari mereka yang mengalami Brain Shocking karena kejadian ini. Para wanita terduduk lemas dengan wajah ketakutan, sedangkan para lelaki duduk termenung dengan tatapan kosong kedepan.


Jika di deskripsikan dengan kata-kata, ini adalah Festival pertama yang memakan banyak korban. Nama festival ini adalah festival kematian atau Bleeding Festival. Seiketsu Sai.