Become Strong With Skill Cheat And System

Become Strong With Skill Cheat And System
Temanku juga bereinkarnasi? Benarkah?



Setelah insiden yang terjadi kepada Sonia, kini posisi 10 Penyihir dunia menjadi kosong. Aku pun berencana mengisi kekosongan itu, dan tentu saja aku yang akan menjadi Ketua.


Tapi, jangan salah paham. Aku bermaksud untuk mengisi kekosongan itu dengan mencari 10 orang yang mempunyai kapasitas sihir yang bagus kemudian melatihnya sendiri.


Lalu aku juga berencana untuk membangun organisasi yang lebih di atas 10 Penyihir. Yaitu 5 Penyihir Supreme. Yaps, karena menurut ku itu bakalan seru hehehe ...


Saat aku sedang memikirkan rencana kedepannya, Sonia bangun dari tempat tidur.


"Hoamm ... Ohayou Ryu-Kun ..." Sonia dengan anggunnya menggosok matanya yang mungkin sedang silau.


"Ohayou matamu berduri. Ini sudah tengah hari kocak!" Aku reflex menjawab Sonia yang dengan santainya mengucapkan ohayou di tengah hari.


"Ehehe ..." Sonia tersenyum imut.


"Ehehe bapak kau gay!"


"Ihhh Ryu!" Sonia menatapku dengan pipinya yang mengembung.


"Oh iya, Sonia. Kamu sudah gak apa-apa?" Aku masih menatap Sonia khawatir, walau aku masih bingung kenapa Sonia bisa kalah semudah itu.


"Ahhh ... Aku gak apa-apa. Sebenarnya, aku ngebet pengen eek jadi gak bisa fokus bertarung hehehe..." Sonia dengan alasan konyolnya tertawa manis padaku.


*Bukkk*


Aku memukul kepala Sonia, lalu pergi berjalan keluar dari kamar dengan ekspresi yang sangat kesal.


"Ryu, kamu mau kemana?" Luna menatapku yang sedang kesal.


"Nyari sebat!" Jawabku ketus


"Sebat?" Luna menatapku heran.


"bodo ahhh ..."


Tanpa memperdulikan Luna, aku berjalan keluar dari kamarku.


Saat ini, aku berada di kerajaan Manusia tempat aku di panggil. Aku pun kembali berteleportasi. ke kerajaan Elf, dan mulai membangun kembali tempat yang ku rusak.


Di dalam kerajaan Elf, aku melihat keadaan Kerajaan yang memang sudah membusuk sampai ke akarnya.


Aku pun berfikir bagaimana agar aku bisa mengubah Kerajaan ini menjadi lebih baik lagi. Akhirnya, aku mendapatkan satu ide yang sangat bagus. Yaitu menjadikan Luna sebagai Ratu sementara di kerajaan Elf.


Tapi, yang akhirnya aku pikirkan lagi adalah bagaimana cara agar aku bisa meyakinkan Luna? Hmmm? Okelah Markicob mari kita Coblos!


Aku kembali ke kerajaan manusia, lalu mengajak Sonia dan Luna serta Lily dan raja Berdiskusi di Ruangan Rapat kerajaan.


"Jadi, Ryu. Apa tujuanmu mengumpulkan kami disini?" Sonia menatapku serius.


"Aku mempunyai tujuan untuk menjadikan kerajaan Elf sebagai Teritorial pertahanan Terkuat jika saja Iblis kembali menyerang." Aku langsung to the poin aja.


"Hmmm, tapi sangatlah susah menguasai kerajaan Elf jika Bukan Elf sendiri yang melakukannya. Proses nya pun akan sangat rumit!" Luna menatapku dengan sangat serius.


"Tenang saja, kita mempunyai 1 Elf disini, dan juga satu support yang sangat kuat. Dan aku juga berencana untuk mengisi kekosongan tahta Kerajaan."


"Oh iya, aku mendapatkan kabar jika Raja dan 10 Penyihir Dunia mati secara menggemaskan di Ruangan Rahasia kerajaan Elf ..." Raja dengan tatapan sedih menatap kami semua.


Luna seketika melebarkan matanya, karena teringat lagi Tragedi yang telah ku perbuat. Lily juga hanya menunduk sedih atas hilangnya Bangsawan yang menyandang 10 Penyihir terkuat di kerajaan Magnanstald. Sedangkan Sonia hanya Plonga Plongo gak jelas menatap kami.


"Kenapa kalian diam saja?" Sonia dengan bodohnya membuyarkan suasana Berkabung di ruang rapat.


"Jadi bagaimana rencananya, Ryu?" Raja langsung mengganti Topik berat menjadi makin bikin sakit kepala.


"Baiklah, akan ku jelaskan dengan Rinci."


"Umn" Semua langsung terpaku kepadaku.


"Aku berencana untuk mengalihkan Tahta ke-"


"Gak!" Luna dengan cepat langsung menolak.


"Ehhhhh! kan belum selesai anjir!"


"Gak pokoknya Nggak!!!!" Luna dengan keras menolak.


"Hmmm kalau begitu ..." Aku menatap Lily dengan seksama.


"e-eh ke-kenapa?" Lily dengan khawatir menatapku.


"Kamu harus menjadi Ratu di kerajaan Elf!" Aku menatap Lily dengan tatapan tajam.


"t-tapi aku bukan Elf ..." Lily masih takut.


"Gampang hehehe ..." Aku mengacungkan jempol ke Arah Lily.


"Lalu Sonia, karena kamulah yang di akui sebagai Pahlawan, maka kamu harus menjadi penengah antara Lily dan kerajaan Elf oke ..."


"Baiklah, akan ku coba ..." Sonia mengangkat kepalanya Ragu.


"Tenanglah, kamu kan ketua OSIS. Seharusnya masalah Pidato adalah keahlian mu kan?" Aku mencoba menghilangkan keraguan Sonia


"Hmmm, Oke deh aku akan berusaha sebaik mungkin." Sonia dengan yakin menatap ku.


"Baiklah, aku punya sesuatu buat Lily" Aku mengeluarkan sebuah Bando telinga ajaib dari Inventaris ku.


"Apa ini, Ryu?" Lily melihat sebuah Bando putih di tangan ku."


"Ini adalah Bando telinga ajaib yang jika di pakai, akan menyesuaikan dengan keinginan pemilik. Misalkan Jika Lily ingin menggunakan telinga Elf maka akan muncul telinga Elf di kepala Lily."


"Dan juga ada bonus kemampuan dari masing-masing Ras, khususnya untuk Elf keahlian memanah akan meningkat hingga tahap akhir" Jelasku.


"Woah hebat!" Lily menatap Bando itu dengan tatapan yang sangat senang.


"Coba pakai, dan pikirkan jika kamu adalah Elf." Aku memberikan Bando itu kepada Lily.


"Baiklah" Lily memakai Bando itu, dan seketika cahaya menyelimuti tubuh Lily. Sebuah telinga panjang muncul di kepala Lily dan kecantikan Lily bertambah lagi.


'Guhhh' tiba tiba darah muncrat dari hidungku, dan akupun langsung menutupi hidungku yang terus merembes darah.


"RYU~!!!" Sonia menatapku dengan tatapan tajam.


"Ryu kamu gak apa-apa?" Lily dengan cepat langsung memegang tanganku.


"Guhhh ..." Darah semakin memancar dari hidungku.


*Bughhh*


Sebuah pukulan mendarat di perutku, hingga membuat ku pingsan.


"Kalau begitu, Rapat ini selesai. kita akan menjalankan rencana ini Besok, selamat malam!" Sonia dengan auranya yang merembes keluar membubarkan rapat lalu menyeret ku ke dalam kamar.


Keesokan harinya, aku Sonia dan Lily berangkat ke kerajaan menggunakan Kereta biasa agar tidak mencolok.


Di perjalanan, seperti biasa Sonia yang membereskan Monster dan Bandit Yang menghadang kami di perjalanan. Hingga akhirnya kami bermalam di sebuah Tempat yang menurutku suasananya sangat mencekam.


'Sera, apa kamu mendeteksi sesuatu?'


[Iya, Master. Sepertinya ada 100 bandit yang mendekati kita]


'Ahhh begitu yah. Aku akan keluar untuk memeriksa'


Saat aku keluar, aku melihat Lily yang meringkuk ketakutan. Aku segera mendekati Lily, dan seketika Lily langsung memelukku dengan kencang.


"Kamu kenapa, Lily?" Aku langsung mengelus kepala Lily untuk menenangkannya.


"A-ada Va-Va-Vampire ..." Lily dengan suara yang sayup karena ketakutan menunjuk ke arah Sonia yang membunuh Para bandit lalu menyedot semua darahnya dan mengumpulkan darah itu di udara.


"Kamu tau darimana jika itu Vampir?" Aku penasaran dengan Lily. Aku gak tau jika Vampir ada di dunia ini.


"Mereka adalah Ras yang paling di Takuti di dunia ini. Mereka bahkan bisa membantai Iblis dengan mudah, tapi seharusnya mereka sudah di musnahkan oleh Raja Iblis 5 tahun yang lalu ..." Jelas Lily ketakutan.


"Ahh aku lupa bilang jika Sonia itu sebenarnya Reinkarnasi dari Dewi Vampir terdahulu. Tapi tenang saja, dia itu Vampir baik. Karena Dia berasal dari dunia yang sama denganku." Jelasku kepada Lily.


"Ehh benarkah? Tapi, kenapa dia membunuh orang-orang itu tanpa ragu?" Lily masih menatap Sonia dengan ngeri.


"Itu karena mereka yang mengusik ketenangan nya. jadi tentu saja itu salah. Bahkan jika itu aku, aku juga akan melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan." Jelasku lagi


"Wrahhhhh~"


Suara Sonia terdengar sangat kuat, hingga membuatku dan Lily kaget. Lily semakin menatap Sonia dengan takut.


"Sepertinya Sonia lepas kendali. Sebentar aku ingin menenangkan dia dulu," ucapku sambil beranjak dari tempat dudukku.


Aku terhenti saat Lily memegang tanganku, dan saat aku menatapnya Lily menggelengkan kepalanya sambil menatapku dengan khawatir.


Aku hanya tersenyum menatap Lily, lalu terus berjalan di depan Sonia.


Saat sudah di depan Sonia, aku hanya menatapnya sambil tersenyum.


"Sonia, apa kamu lepas kendali lagi? Ayo sadarlah ..." Aku mencoba untuk menyadarkan Sonia.


"Wrahhhhh~"


Dengan secepat kilat, Sonia menembus perutku dengan tangan nya. Aku pun hanya memeluk Sonia sambil mengelus kepalanya.


"Sudah yah, sepertinya kamu masih kesal dengan kekalahan yang sebelumnya. Tapi tenanglah karena aku akan selalu melindungi mu kapanpun itu." Tegasku kepada Sonia.


Perlahan Mata Sonia kembali seperti semula, lalu tertidur di pelukanku. Aku langsung mengangkat tubuh Sonia lalu menidurkannya di dalam Tenda.


"Ryu~!! Kamu gak apa-apa?" Lily langsung berlari ke arahku dengan panik.


"Ahh tidak apa-apa. Ini sudah sering terjadi, tapi tenang saja, Sonia bukanlah musuh kita,"Ucapku meyakinkan Lily.


"Baiklah, kalau begitu. Aku juga mau tidur" Lily pun tidur di tenda milikku.


Tuh anak, udah di beri tempat khusus cewe malah nimbrung di tempatku. Huhh entahlah besok aja di pikirkan.


Keesokan harinya, kami kembali melanjutkan perjalanan hingga akhirnya kami sampai di Kerajaan Elf. Disana tatapan mereka masih sama kepadaku, tapi mereka dengan antusias Menyambut Sonia dengan penuh semangat.


Kami pun bertemu dengan Dewan kerajaan yang sekarang sedang memimpin kerajaan untuk sementara. Karena Raja Elf sebelumnya udah mokad, Maka kerajaan Elf tidak memiliki Pemimpin sama sekali.


"Ahh selamat datang, Para Pahlawan. Terima kasih kalian sudah mau datang ke Kerajaan ini." Sambut Dewan itu.


"Ahhh, tidak apa-apa. Kami juga datang kesini untuk melakukan perubahan terhadap Kerajaan Elf agar semakin maju dan pertahanan nya semakin Kuat lagi." Jelas Sonia.


"Baiklah, ayo kita menuju ke Ruangan singgasana kerajaan" Ajak Dewan itu.


"Ahh maaf saya telat memperkenalkan diri. Saya Varie, Dewan sekaligus Pemimpin sementara kerajaan ini. Izinkan saya untuk memandu kalian" Varie menundukkan badan sebentar lalu mempersilahkan kami lewat.


"Saya Sonia, Pahlawan." Jawab Sonia singkat lalu mengikuti Varie.


Setelah sampai di ruang singgasana, kami langsung menuju ke Ruang rapat di belakang singgasana Kerajaan.


"Baiklah, ayo segera kita mulai. Tujuan saya datang kesini adalah untuk mengganti Raja yang sebelumnya sudah mati." Jelas Sonia ke intinya.


"Ahhh, Tapi itu ..." Salah satu seorang Dewan berusaha untuk menyela tapi takut dengan pandangan Sonia kepadanya.


"Maaf sebelumnya Nona Sonia, tapi yang berhak menjadi Raja di kerajaan Elf haruslah Elf itu sendiri. Itu sudah menjadi Tradisi turun temurun dari Kerajaan kami." Jelas Varie.


"Tentu saja yang akan menjadi Raja ialah Elf." Sonia tersenyum miring ke arah mereka.


"Apakah dia pantas untuk menjadi Raja?" Salah satu Dewan lainnya berusaha untuk mendominasi.


"Pantas tidaknya saya yang menentukan. Tapi tenang saja, dia sudah terlatih untuk meneruskan kepemimpinan Raja sebelumnya. Bahkan akan lebih baik lagi." Sonia menjawabnya dengan tegas.


"Benarkah, lalu siapakah dia?" Tanya Dewan yang lainnya.


"Dia ada di depan kalian sekarang." Jawab Sonia sambil menatap Lily.


"Hahh? Aku baru melihat nya hari ini, dan tiba-tiba dia menjadi Raja? Tidak mungkin." Dewan ke dua pun langsung menunjukkan aura permusuhan.


"Apakah kamu meragukan perkataan ku!?" Sonia menatapnya dengan tajam.


"Ahh maksud-"


"Iya aku tidak percaya dengan dia, apalagi dengan kalian!" Dewan kedua itu langsung berdiri dan menghunuskan pedang di depan Sonia.


"Dasar orang bodoh ..." Sonia menatapnya dengan sangat dingin, lalu dengan sekejap mata Kepala Dewan kedua itu menggelinding mesra di bawah meja tanpa darah.


"A-apa yang terjadi!" Dewan yang lainnya seketika Panik.


"Hahhh ... sepertinya dia berusaha memonopoli Kerajaan ini. Padahal ini demi masyarakat juga tapi dia hanya memikirkan dirinya sendiri ..." Sonia menggelengkan kepalanya pasrah.


"Da-dasar monster!!" Dewan yang lainnya menatap Sonia dengan tatapan yang sangat takut."


"Aku? Monster? Jangan bercanda! Lalu bagaimana dengan kalian yang membunuh, dan menyiksa masyarakat yang hanya berusaha bertahan hidup? Bagaimana!" Sonia memperlihatkan Aura membunuh yang sangat besar.


"Sonia tenanglah, biar aku saja yang mengurusnya ..." Selaku sambil mengelus kepala Sonia.


"Baiklah, salam. Aku Ryu, aku juga pahlawan mungkin tapi aku tidaklah berada di Pihak siapapun. Intinya aku memilih netral. Tapi, untuk kali ini aku akan memihak Seluruh Ras di Dunia."


"Kamu kan si pahlawan yang gagal? Apa gunanya kamu berbicara seperti itu?" Dewan utama menatapku dengan jengkel.


"Aku memang lemah, tapi percayalah. Walaupun kalian beraliansi dengan seluruh dunia termasuk Iblis, kalian tidak akan bisa mengalahkan ku!" Aku menatap mereka dengan mataku yang berubah menjadi merah darah.


Dewan itu seketika bergidik, tapi dia masih menatapku dengan jengkel.


"Baiklah, kembali ke topik utama. Aku memberikan kalian 2 Pilihan. Memberikan Tahta kerajaan kepada Lily? Atau kalian akan mati dan kami akan mengambil Tahta dengan paksa?" Ucapku singkat.


"Ahahaha kami tidak takut dengan ancaman kalian!" Dewan Utama lainnya Masih tetap melawan.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan memberikan contoh sebagai bukti kalau aku tak bercanda!"


Aku langsung menaikan satu jariku, dan tubuh dewan itu hancur lebur. Semua yang ada di dalam terdiam membeku, lalu dengan santainya aku mengayunkan jariku lagi tubuh dewan itu kembali menyatu dan hidup lagi.


"Ap-apa Yang terjadi? K-kenapa?" Dewan itu menatapku ngeri."


"Bagaimana? Mau lagi? kalau begitu..."


"Tunggu!"


Saat aku akan mengangkat tanganku, Dewan yang pertama tadi langsung menghentikan ku.


"Kami akan memberikan Tahta kepada kalian, asalkan tetap harus Elf yang menjadi Raja di kerajaan ini. Asal kalian mengikuti Tradisi, kami tidak akan keberatan."


"Keputusan yang bagus." Ucapku lalu keluar dari Ruangan Rapat.


Setelah itu, aku duduk di kursi Tahta untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi Raja. Dan ternyata ini sangat nyaman, sampai tak kusangka Aku tertidur.


"Salam kenal Paduka!"


Sebuah suara membuatku terbangun, Dan aku pun berusaha membuka mataku yang jujur masih ngantuk parah.


Saat aku berhasil membuka mata, aku melihat seorang wanita dengan setelan Jas Hitam lengkap dengan dasi, Lalu 2 Pria di belakangnya. Yang satunya rambut hampir Botak, mempunyai 2 tanduk panjang dengan badan yang kekar dan empat tangan.


Yang satunya Pria tampan dengan rambut panjang plus Tanduk pendek. Satu lagi, dia membawa Reapper.


Untuk cewe itu cukup mencurigakan karena Dia juga memiliki tanduk.


"Siapa kalian?" Ucapku malas sambil menatap mereka.


"Kami adalah perwakilan dari Raja Iblis. Kami datang untuk menguasai Kerajaan ini ..." Jawab si Pria tampan.


"Menguasai? Berarti dengan kata lain kalian ingin mengambil alih kerajaan ini? Apa kalian bodoh?" Jawabku sambil menepuk jidat.


"Ahahaa ... Kalian tidak akan bisa mengalahkan kami. Kami akan menjadikan kalian Budak setia untuk Raja Iblis kami!" Ancam Botol (Botak Tolol)


"Benarkah? Baiklah, aku akan memberikan Tahta ini asal kalian bisa bertahan dari Auraku. Jika tidak, pertemukan aku dengan raja kalian. Bagaimana!?" Aku menatap mereka sambil menyeringai.


"Sepertinya anda meremehkan kami, Paduka. Tapi baiklah, Jika kami menang kami akan membunuhmu berserta keluargamu ahahahaha .." Ancam lagi si Botol


"Coba saj jika kalian bisa!" Aku langsung menatap Botol dengan tajam.


"Ayo kita mulai!'" Wanita iblis itu menatapku dengan remeh.


"Baiklah, aku akan berjalan ke arah kalian." Aku berdiri dari kursi Tahta sambil mengeluarkan Aura ku sedikit demi sedikit.


Aku berjalan ke arah mereka dengan perlahan, dan tak kusangka mereka Pingsan begitu cepat. Padahal belum 1 meter dari Tahta.


Huhhhh merepotkan sekali!


Aku mengangkat mereka semua, lalu meletakkan mereka di kamar Tamu Kerajaan. Setelah itu, aku juga pergi tidur lagi.


Keesokan harinya, aku bangun agak cepat. Tak kusangka mereka sudah bangun semua. Setelah itu aku menyapa mereka semua.


"Selamat pagi, semua. Apa kalian tidur dengan nyenyak?" Aku menatap mereka semua.


"Salam Paduka, sepertinya kami sudah kalah?" Wanita itu balik menyapaku.


Tapi, sepertinya Si Botol gak terima kalah dariku begitu juga di Tampan. Mereka berdua memberikan kode mereka masing-masing, dan bersiap untuk menyerang ku.


Saat aku berhadapan dengan wanita itu langsung, mereka berdua langsung menyerang ku dari belakang. Tapi, Usaha mereka gagal saat aku melihat mereka berdua.


"Apa yang kalian lakukan? Cosplay patung?" Aku menatap mereka berdua yang membeku dengan Pose Aneh.


"Dasar orang bodoh!" Ucap wanita itu sambil menatap bawahannya.


"jadi bagaimana? Apa kalian akan mempertemukan ku dengan Raja Iblis kalian?" Aku menatap Wanita itu sambil tersenyum.


"Baiklah, Kami akan mempertemukan anda, Paduka. Tapi, anda harus bertemu Raja Iblis Di kerajaan Iblis.


"Kalau begitu, kita akan berangkat hari ini. Ahh tapi saya akan membawa 2 orang sebagai Bawahan ku." Jawabku kepada Wanita itu.


"Baiklah, Silahkan anda membawa bawahan Anda" Wanita itu membungkuk sebentar, lalu berjalan keluar.


"Mau kemana?" Aku menatapnya bersama bawahannya yang berjalan keluar.


"Ahh ... Kami akan menunggu di luar saja." Wanita itu memutar badannya sebentar.


"Peraturan ku disini adalah Tamu harus menerima jamuan kami. Ayo kita makan bersama-sama..." Aku tersenyum menatap wanita itu.


"Baiklah, terima kasih atas tawarannya. Akan kami terima dengan senang hati." Wanita itu membungkuk, lalu berjalan lagi keluar.


Aku keluar juga dari kamar, lalu menyuruh pelayan menyiapkan makanan.


Setelah makanan sudah siap, kami bertujuh makan bersama. Tapi Sonia, Luna dan Lily menatap 3 orang itu dengan tatapan yang beragam. Sonia yang heran, Luna yang kebingungan dan Lily yang ketakutan.


"Kalian kenapa?" Tanyaku kepada mereka bertiga.


"Ahh tidak tapi ..." Lily hanya menunduk.


"Mereka Iblis kan?" Sonia dengan santainya menjawab sambil makan dengan lahap.


"I-Iblis!!!!" Luna seketika menjadi Pucat.


"Tenang aja mereka baik kok ..." Jawabku santai.


"Ehh tapi ..." Lily masih Ragu


"Cepat habiskan makanannya! Kita akan berangkat setelah ini!" Aku menatap mereka kesal lalu lanjut makan.


Setelah kami makan, aku menyuruh mereka bersiap untuk berangkat. Tapi, Luna dan Lily datang mendekat kepadaku.


"Ryu, kita mau kemana?" Lily menatapku penasaran.


"Kita akan ke negara Iblis. Lagian sepertinya menghadapi Raja Iblis tak sesulit apa yang mereka bilang?"


"Ehhh Ne-negara Iblis? Bukannya itu berbahaya?" Lily menatapku dengan ngeri.


"Iya, dan lebih baik jangan banyak tanya dan segera ganti pakaian kalian. Ahh tenang saja, aku akan melindungi kalian berdua ..." Aku pun berlalu meninggalkan mereka berdua yang masih tengah kebingungan.


Setelah semua persediaan siap, aku memberikan sebuah Topeng Kitsune kepada Sonia. Aku juga memakai Topeng Kitsune ku, dengan Demon Sword di belakangku.


3 Iblis itu sudah menunggu kami di depan Gerbang, sambil merapalkan sihir perpindahan.


"Ayo kita menuju ke Negara Iblis. Kita akan berpindah ke depan Kerajaan Iblis secara langsung." Ucap wanita itu.


Kami masuk ke sebuah Lingkaran Pentagram, dan tubuh kami diselimuti cahaya lalu saat aku membuka mata, kami sudah berada di Sebuah Kastil megah yang di baluti oleh Beton Hitam dan Putih.


Tampilannya tidak seperti di Novel atau manga, tapi lebih ke Khas Fantasi yang kental dengan warna dan pancaran yang elegan. Sungguh ini membuatku sangat terpukau. Rasanya seperti pengen ku kantongin dan ku bawah pulang buat koleksi.


Saat kami di depan gerbang, Kami langsung dihadang oleh ribuan Iblis dan ada juga pasukan bersayap dengan tampang yang sangat mengerikan.


"Kalian telah masuk ke dalam perangkap kami! Tapi, sebagai perjanjian aku akan membawa kalian ke hadapan Raja Iblis." Ucap wanita itu dengan senyum kejamnya.


Sonia masih tetap tenang, tapi Luna dan Lily sudah ketakutan setengah mati hingga air mata mereka keluar tapi tidak berani untuk menangis.


Kami di bawa ke ruangan Tahta, dan aku pun melihat seseorang berjubah duduk di tahta.


"Pffffftttttt!" Aku berusaha untuk menahan tawa.


Dua juga memakai Topeng, tapi Topengnya adalah topeng dari starwars.


"Pffffftttttt!"


Aku mendengar jika dia juga hampir tertawa. Itu membuatku sediki heran dengan kelakuan si raja iblis itu.


"Apa yang kamu ketawa kan!" Aku menatap Raja Iblis itu.


"Ahhh maaf-maaf. Kamu pasti pahlawan kan?" Tanya Raja Iblis itu.


"Iya begitulah mereka menyebutku. Walaupun aku gak suka jadi Pahlawan." Jawabku simple.