
Saat sekitar jam 8 malam, aku terbangun karena rasa lapar yang tersamar dari dalam perutku.
Aku turun ke dapur, dan ternyata ada makanan di atas meja.
"Apa ibu sudah pulang yah?" Aku bergumam, sambil melihat makanan di atas meja.
"Ryu kamu sudah bangun?" Sonia dari Kamar mandi keluar dengan rambut yang basah, dan masih berbalut Handuk.
"Oh, iya tadinya. Tapi sekarang udah gak ..."
"Apaan sih!"
"Gak. Tapi, kamu cuma memakai handuk kek gitu, udah kayak istri aku aja?" Aku menatap Sonia dari bawah sampe atas.
"Kamu mesum dah, Ryu!" Sonia menutupi badannya, sambil menatapku jijik.
"Emang kamu gak mau jadi istri aku?" Aku tersenyum menggoda kepada Sonia.
"Ummnnn? Mau sih, tapi ...?" Sonia menjadi sangat merah, dan menutupi wajahnya dengan tangannya. Ahahaa... Sampe badannya yang merah, cewe bening emang beda..
"Udah, cepat ganti pakaian lalu makan ..." Aku tersenyum manis kepada Sonia, dan itu membuat Sonia salah tingkah.
Tanpa menghiraukan Sonia, aku melanjutkan acara makanku, lalu tak berapa lama Sonia ikut makan.
Sambil menunggu Sonia selesai makan, aku membuka hp ajaibku, lalu melihat PlayShop di Smartphone ku.
Dan akhirnya, aku melihat sebuah barang bagus yang sangat cocok denganku. Yaitu sarung tangan berwarna hitam, dan ada sebuah hiasan seperti batu hitam.
Sarung tangan itu, mempunyai tambahan atribut seperti angin dan air, dan jika digabung bisa membuat Es. Memang ajib nih sarung tangan.
Ada juga penambahan AGI 60+ dan STR 120+ jadi, tanpa menggunakan Atribut tambahan 1 pukulan bisa membuat seseorang terlempar sejauh 5 meter. Mata auto melek tuh Ahahaha...
Aku membeli sarung tangan itu, dan barang yang aku beli langsung masuk ke Storage ku. Aku mengeluarkan sarung tangan itu, lalu memakainya.
"Ryu, kenapa mobilmu tidak kamu pakai?" Sonia menatapku heran.
"Aku tidak mau terlalu mencolok di kalangan para wanita. Kenapa, apa kamu mau memakainya?" Aku menatap Sonia penasaran.
"Ummm? Boleh?" Sonia menatapku dengan sedikit menunduk malu.
"Kenapa tidak? Hehehehe..." Aku tertawa di depan Sonia sambil menggaruk kepalaku.
"Benarkah! terima kasih, Ryu!" Sonia langsung melompat kesenangan, dan dengan segera dia menghabiskan makanan di atas meja.
Selesai makan, aku mengajak Sonia menuju Garasi mobil. Di depan garasi yang mulai terbuka, Sonia terbelalak saat melihat bagaimana Garasi mobil kayak di film-film menjadi kenyataan.
Dan, Setelah 15 menit, lampu mobilku mulai terlihat. Dan mobil ku terparkir secara vertikal bukan berdiri. Dan hal yang paling konyol adalah, saat Sonia bertanya kepadaku.
"Ryu, mana kunci mobilnya?" Sonia mengulurkan tangan ke arahku.
"Kamu melihat pintu mobil ini rata, dan kamu meminta kunci mobil kepadaku? Kamu hidup di tahun berapa sih?" Aku menatap Sonia tidak percaya.
"Ih! kamu kok ngatain aku sih?!" Sonia menatapku jengkel, dan kenapa aku yang dimarahin?
"Yaudah, maaf. Sini deh dekat aku. Aku akan mengajarkan caranya." Aku menarik tangan Sonia, lalu mensejajarkan diri denganku.
"Auto Scan, On!" Ucapku sedikit kuat, lalu scan otomatis mulai meng-Scan seluruh badan Sonia.
[Auto Scan, Turns On.
Processing ... - Process complete.
To start the final scan, put your hand to scan fingerprint.]
"Sonia, letakkan jarimu disitu." Aku menunjuk jendela kaca mobil, lalu Sonia mengangguk dan meletakkan tangannya di Jendela mobil."
[Starting Fingerprint scan - Success.
Adding self data to storage, Success.
Welcome, Master Sonia. Enjoy your trip, with all the conveniences I provide.]
"Baiklah, silahkan naik" Aku mempersilahkan Sonia naik, dan dia terkagum saat duduk di kursi supir. Secara otomatis, mobil beserta isinya menyesuaikan diri dengan sonia.
Sonia memilih mengendara manual, dan mulai menjalankan mobil dengan senang. Saat sampai di sekolah, banyak sekali Orang yang terbelalak dengan mobil yang memasuki area sekolah.
Mereka mulai berkerumun melihat siapa di balik mobil termewah ini, dan saat Sonia keluar semua orang terbelalak dan terpaku dengan Sonia.
Tapi kenapa, mereka menatapku dengan tatapan jijik dan jengkel yah? Tapi ya sudahlah. Aku juga gak peduli.
"Sonia, jangan pernah bilang ke siapapun jika ini mobilku. Aku tidak mau aku menjadi perhatian siapapun. Ingat!"
"Umn ..."
Aku menekankan kata-kataku kepada Sonia, lalu setelah Sonia mengangguk aku meninggalkan Sonia yang masih di kerumunan banyak siswa udik.
Saat masuk kelas, semua murid lelaki menatapku dengan wajah yang agak jengkel. Tapi, aku hanya menunjukkan wajah datar dan menuju ke tempat duduk.
Tak berapa lama, guru masuk ke kelas, dan aku mulai bersiap menyiapkan.
"Kiritsu!" Semua murid berdiri serentak menghadap guru.
"Rei!" Semua murid membungkukkan badan di depan guru, lalu kembali mengangkat badan mereka.
"Chakuseki!" Setelah itu, semua murid duduk kembali dengan sangat hening. Dan dimulailah pelajaran yang sangat membosankan ini.
Setelah jam istirahat pertama dimulai, aku langsung membaringkan kepalaku di meja tempat dudukku. Karena jujur saja, aku sangat benci plus marah jika Mia bersama dengan si Pakboy sialan itu. Itu membuatku gelap mata bro!
Karena bosan, aku langsung saja keluar dari kelas lalu berjalan menuju kantin. Tapi, saat aku sampai ternyata rame banget. Jadi aku langsung saja berjalan keluar sekolah menuju ke Warkop depan sekolah untuk makan gorengan.
Saat di depan, aku melihat ada beberapa orang yang berkumpul di sebuah Gang belakang tempat aku bertemu Sonia dulu. Disitu sangat sepi, karena di sekitarnya sudah dibangun bangunan baru. Jadi jarang orang yang lewat disitu.
"Mau kemana bro?" Pria itu tersenyum jahat di depanku.
"Aku mau pergi makan, kenapa?" Aku balik menatap pria itu dengan sedikit kesal.
"Hoho... Kamu lumayan berani juga. Ayo, ikut aku!" Pria itu menarik tanganku, lalu membawaku menuju ke gang paling belakang.
"Kita mau kemana, sih? Ini sudah jam belajar!" Aku menghempaskan tanganku, lalu kembali menatap pria itu dengan kesal.
*Duak!*
Tiba-tiba, sebuah pukulan mendarat ke wajahku dan membuatku terlempar. Aku sedikit kesal, tapi aku sedang tidak ingin membalas.
Pria itu memanggil teman-temannya, dan mereka mulai memukuliku hingga seluruh badan penuh luka memar dan lebam.
"Hello, Ryu ..." Tiba-tiba Adrian keluar dari antara para sekumpulan geng kampret itu sambil tersenyum puas.
"Adrian!" Aku menatap Adrian dengan marah, lalu Adrian mendekatiku sambil menatapku dengan tajam.
"Jangan pernah mendekati Mia lagi, atau aku akan menghabisimu!" Adrian memegang rambutku, lalu membenturkan kepalaku ke dinding.
Adrian menendangku sekali, lalu berjalan meninggalkan aku. Aku yang hanya lewat kena gampar, rasanya pengen ku jadikan pupuk sawah mereka, tapi masih ku tahan.
Aku berjalan menuju kelas dengan beberapa luka lebam di sekujur badan, dan sampai disana seperti biasa Mia dan Adrian bermesraan ria di dalam kelas.
Tanpa memperdulikan mereka, aku duduk di tempat dudukku, sambil menutupi kepalaku dengan buku seperti biasanya.
"Ryu! Kamu kenapa? Berkelahi lagi!?" Mia dengan segera mendekatiku, lalu memegangi bahuku dengan penuh perhatian dan hati-hati.
"Gak apa-apa, hehehehe ..." Aku tertawa garing saat di depan Mia.
"Tcih!" Adrian berdecik, tapi tak aku hiraukan.
"Mia, sudah makan?" Aku bertanya kepada Mia, dan Mia hanya mengangguk dengan wajah khawatir.
"Jangan terlalu di pikirkan, inilah lelaki. Jika tidak bisa dengan kata-kata, maka Baku hantam kita!" Aku mengepalkan tanganku, lalu berpose ala ala superhero.
"Jangan bercanda dah!" Mia menatapku kesal, tapi tak lama kemudian dia kembali tersenyum.
Adrian yang melihatku dengan Mia sangat dekat dan mesra melebihi semua cowok di dunia ini, langsung naik darah.
"Mia, ayo kita keluar!" Adrian memegang tangan Mia agak kuat.
"Tapi, Ryu kasihan ..." Mia menatap Adrian yang tengah melotot kepada Mia dan kepadaku
"Tidak, ayo ikut!" Adrian menarik paksa tangan Mia, dan aku pun juga hampir terpancing emosi.
"Oy! Jangan kasar sama cewe!" Aku memegangi tangan Adrian, lalu menatap Adrian dengan tajam.
"Mau apa? HAHHH!!!"
*Bugh*
Adrian memukul tepat di depanku, hingga aku terduduk di samping mejaku.
"jangan berkelahi!" Mia berusaha memisahkan aku dan Adrian.
"Yah, dia mukulin Ryu ..."
"Belum pernah di cincang tuh anak ..."
"Lebih baik kamu berkelahi sama tentara, dari pada sama Ryu ...."
"Wah, seru. Tapi tu bocah pengen di transfer ke liang lahat kali yah? Dia belum tau jika one punch boy aja cium kakinya di Ryu ...!"
"Kalian bilang apa hah! Anak lemah kek gini apa yang ditakutin!?" Adrian berteriak di dalam kelas, karena Adrian mengira jika semua teman kelas mengoloknya. Padahal benar saja, jika bukan karena menahan diri, udah kupahat wajahnya di atas Monas samping kantinnya ibu Mukhlis.
"Adrian!" Mia berteriak sangat kencang, hingga Adrian tersentak kaget.
Mia menatap Adrian dengan air mata berlinang, lalu dengan tatapan yang dalam dia menunjuk Adrian penuh emosi.
"Jika kamu begini terus, lebih baik kita putus!!!" Mia dengan segera meninggalkan Adrian, tapi Adrian dengan cepat menahan Mia.
"Mia, tolong jangan pergi Mia!" Adrian berusaha menahan Mia, tapi Mia memberontak.
"Aku sudah gak tahan, lebih baik kita tidak pernah bersama!" Mia berusaha melepaskan pegangan Adrian, tapi Adrian semakin mencengkram tangan Mia dengan sangat erat.
"Apa kamu lebih membela sialan ini daripada aku pacarmu? HAH!!!" Adrian lebih mengeratkan pegangannya, dan aku melihat Mia semakin menahan rasa sakit di tangannya.
Aku yang tidak tahan melihat Mia di kasari seperti itu, langsung memegang tangan Adrian dan menghempaskan tangan Adrian dari Mia.
"Jangan pernah menyakiti Mia, jika tidak mau hidupmu lebih menyakitkan dari pada di Neraka!" Aku menatap Adrian dengan tajam, lalu dengan santai aku mendorong Adrian pelan.
Adrian terlempar sampai menabrak dinding, lalu sedikit memuntahkan darah dari mulutnya.
Aku yang mungkin sudah merasakan amarah, mendekati Adrian dengan pelan. Tapi, tiba-tiba Mia memelukku dari belakang.
"Hentikan, Ryu. Aku gak mau melihatmu seperti ini ..." Mia berlinangan air mata, dan melihatku dengan sendu.
"Sedikit saja, hanya ujung jari kok aku ingin mematahkannya sedikit boleh yah ..." Aku menatap Mia dengan tatapan memohon, tapi yang ada malah Mia menjadi cemberut.
"Gak boleh! Pokoknya gak boleh!" Mia memalingkan wajahnya dariku, sambil mengembungkan pipinya.
"Ahahaha... Baiklah, ayo tuan putri kita pergi bersama ..." Aku menarik tangan Mia, lalu berlari di sepanjang koridor.
Saat aku yakin sepi, aku langsung berteleportasi dan muncul di atas sekolah sambil melihat Mia. Mia langsung memelukku dengan erat, tapi aku hanya tertawa lalu kami terbang menuju rumahku.
Aku tidak lagi menyembunyikan kekuatanku dari Mia, karena dia sudah mengetahui kekuatanku waktu dia di culik bulan lalu. Yah, merepotkan tapi baguslah sudah lewat.........
♦♦♦♦