
"R..Ryu, Kenapa kamu kembali?" Sonia bertanya kepadaku, dengan wajah khawatir.
Yaelah khawatir gak ada gunanya juga, yang ada malah Khukhukhu....
"Lebih baik aku mati, dari pada ninggalin cewe yang sedang sekarat!"
Aku menatap Sonia dengan tatapan 'Uwahh' pokoknya itu.
"Siapa yang sekarat!? Dasar gak sopan!" Sonia berteriak kepadaku dengan wajahnya yang memerah.
"Oy, bocah kalau gak mau mati menyingkirlah!" Si bayangan kampret itu mengeluarkan aura hitam ke arahku.
Aku merasa terintimidasi, lalu tiba-tiba suara pemberitahuan dari Sera mulai berbunyi di kepalaku.
「Efek buruk terdeteksi. Mulai menghilangkan efek buruk.
Menciptakan Aura Resistance - Selesai.
Menciptakan Absolute Barier - Selesai
Meningkatkan Seluruh Ability - Selesai.
Sekarang Master bisa berdiri dengan sempurna, dan saya telah membuat master bisa mengalahkan mereka dengan mudah.」
'owhhh, makasih Sera. Oke sekarang, Create Demon Sword.'
Sebuah pedang hitam dengan aura kental muncul di tanganku. Aku pun menatap orang-orang itu dengan datar.
"Ti..tidak mungkin. Pedang apa itu?!" Pemimpin bayangan itu merinding melihat pedang di tanganku.
Aku mendekati mereka dengan santai. Mereka mulai menyerang secara bersamaan denganku.
Hanya dengan 1 tebasan, 5 orang langsung terbelah dua, dan menguap seperti terbakar. Selanjutnya, 4 orang lainnya mulai melancarkan berbagai serangan sihir kepadaku. Tapi, karena Resistansi dan Absolute Barier yang sangat tipis di tubuhku, serangan mereka langsung lenyap di hadapanku.
Aku pun melompat ke arah mereka berempat, dan menebas secara vertikal ke arah mereka. Akhirnya mereka menguap dan tersisah si pemimpin bayangan.
"Kamu hebat juga, bocah. Akan aku tunjukkan kekuatanku yang sesungguhnya. Limited Breaker!"
Tubuh pemimpun bayangan itu bersinar terang, dan membuatku memalingkan mataku. Setelah cahayanya menghilang, pemimpin bayangan itu sudah tidak memakai jubah, tapi ada 2 tanduk di kepalanya dengan matanya yang sangat merah.
"Ryu, cepat lari. Kamu tidak akan bisa melawannya, dia adalah vampir bangsawan!" Sonia berteriak kepadaku dengan ekspresi Takut.
"Ohohoho!!! Akhirnya kamu berubah yah? Ayo hibur aku ..." Aku menatap pemimpin bayangan itu dengan senyum miring di wajahku.
Aku pun menunjuk pemimpin bayangan itu dengan pedangku. Si pemimpin bayangan itu melesat dengan kecepatan cahaya ke arahku.
Kami mulai beradu pedang. Sebuah pedang yang tiba-tiba muncul dari bayangan mereka adalah senjata bayangan yang bisa menembus pedang ku, tapi itu tidak berlaku bagi pedang Demon Sword.
Saat pemimpin itu memutar badannya, aku langsung mundur dan menendang perut si pemimpin bayangan itu hingga termundur beberapa meter.
"Kenapa, ayo maju. Jangan mundur aja, ini nih kebanyakan **** akhirnya kelelahan!" Aku menatap pemimpin bayangan itu dengan tatapan merendahkan.
Warna mata orang itu menjadi lebih terang. Dan kekuatannya bertambah. Aku kesusahan, tapi karena Sera juga menambahkan Skill Art Sword Mode, aku bisa menangkis dan memblokir seluruh pergerakan Pria ******* itu dengan mudah.
|Swing|swing|swing...
Suara pedang beradu menjadi lebih sering terdengar. Aku ingin menyelesaikan ini secepatnya, karena Sonia terlihat semakin sekarat.
"Selamat tinggal bayangan sialan!" Aku tersenyum miring kepada bayangan itu, lalu melapisi pedang Demon Sword dengan Absolute Fire, atau api Neraka api hitam.
Seketika, badan bayangan itu terbakar tanpa sisa hingga menjadi abu. Aku pun mendekati Sonia dan duduk berjongkok di sampingnya sambil mengangkat tangan kananku.
"Yoo, masih hidup?" Aku menatap Sonia yang perlahan membuka matanya.
"Sialan kau Ryu, aku belum mati. Tapi, kamu hebat juga Ryu bisa mengalahkan Vampir Bangsawan." Sonia memaksakan senyumannya kepadaku.
Aku pun langsung mengangkat badan Sonia layaknya tuan Putri.
"Ry...Ryu, apa yang kamu lakukan" Sonia mendadak panik, dengan wajahnya yang memerah. Ea, heran aku kek gak ada warna lain selain merah? Hijau kek...
(Yaelah, kalau hijau muntah dong. Berarti dia jijik mah kamu, hahahaha)
Sialan kau Thor. Aku membawa Sonia ke rumahku.
"Ryu, kita ngapain disini?" Sonia bertanya dengan khawatir saat aku membawa Sonia ke rumahku dan membaringkannya ke sofa.
"Buat anak!" Aku dengan polosnya menjawab perkataan Sonia hingga membuat Sonia makin memerah.
"Ti..tidak. A...ak..aku belum siap Ryu, ka..kalau kita melakukannya di..disini, kita... Kita... Uhhhhh ..." Kepala Sonia malah mengeluarkan asap kek knalpot bocor njirrr, aku pun cekikian menahan tawa sambil menatap Sonia.
"Dasar Bodoh!" Aku meletakkan Sonia yang masih menatapku dengan tatapan khawatir.
Kalau Ayung yang di situasi ini, pada langsung di embat dah ni cewe. Apalagi tampilan loli, gak kalah cantik sama Shiro. Yah, aku heran apa dunia ini sudah di dominasi oleh para loli?
Setelah itu, aku mengambil kotak P3K, lalu mulai mengobati badan Sonia. Hanya tangan dan kakinya sih, bagian lain gak bakalan lah.
Setelah itu Sonia tertidur.
Huhhhh.... Sungguh gadis yang merepotkan.
♦♦♦
Keesokan harinya, Sonia terbangun. Aku tidur di sofa, sedangkan Sonia semalam aku pindahkan ke kasurku. Sonia beranjak dari kasur, lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah sekitar 1 jam, dia pun keluar dari kamar mandi. Aku membuka mataku setengah sadar.
"Selamat pagi ..." Aku menggosok mataku, lalu menatap Sonia di tempat tidur.
Dia gak ada di tempat tidur, aku memperhatikan sekeliling, dan malah mendapati Fun Service di pagi hari. Yaps, tubuh Sonia yang tidak memakai apapun terpampang jelas di hadapanku.
Mataku melotot. Udah berapa kali kejadian, tapi kali ini aku tidak bisa mengendalikan mataku.
"Jangan lihat dasar MESUM!!!"
|Syuuuuuhhhhh| Prraaaanggggg|
Yaps, sebuah sepatu mendarat sempurna di kepalaku. Aku terhuyung ke belakang, dan membentur dinding.
"Ughh!!! Ada apa denganmu Nona?!" Aku Berteriak kepada Sonia, dengan kesal.
Ganggu Halu orang aja.
"R.. Ryu, boleh aku pinjam bajumu?" Sonia dengan mata memohon memandangku.
"Dasar mesum, mau kau apakan bajuku?!" Aku menatap Sonia yang wajahnya semakin memerah.
Sonia menarik nafas panjang, lalu menghembuskan kembali. Lalu mulai memandangku dengan serius.
"Baju seragamku kemarin kotor, jadi aku mohon Nee Ryu-kun ..."
Sonia menatapku dengan mata memohon. Dan, She's so Beautiful, Dude...
"Ka-kawaii!" Aku merasa gula darahku naik, gak lama bakal kena Diabetes nih. Mulai besok aku bakal beli Diabetasol nih.
"One..Gai!" Sonia dengan posisi menunduk kepadaku, semakin membuatku doki-doki anjing,.....
"Anying lu... Anying-Anying-Anying.... Ambil aja ada di lemari. Kalau mau bahkan aku belikan yang baru ..." Aku langsung jadi salting dengan tingkah Sonia yang... Ah sudahlah.
"Benarkah, kita akan beli yang baru!" Sonia menatapku dengan mata yang berbinar-binar.
"Iya, tapi aku sekolah. Te-He!" Aku berpose kek kucing molek sambil mengetuk kepalaku pelan.
"Ryu sialan. Onegai Ryu-Kun, satu hari ini aja," Sonia memegang tanganku dengan mata yang, ah sudahlah.
"Ahhhhh, baiklah-baiklah!" Aku mengacak rambutku depresi.
Akhirnya, aku tidak sekolah dan malah jalan-jalan ke Sebuah Mall besar. Sambil berjalan, kami mengobrol dan juga adakalanya bercanda.
Kami pun berbelanja di sebuah Mall besar. Aku tidak akan bilang tentang apa yang dia coba, pakai, dan beli karena untuk orang secantik Sonia apa saja pasti cocok.
Tapi, bagian terburuknya adalah menunggu Sonia mencari pakaian. Hahhh, hanya pakaiannya saja sudah menghabiskan 5 juta. Untung aku punya ATM berjalan di kantongku.
"Sonia, ayo kita singgah ke restoran!"
Aku menatap Sonia yang masih senang melihat barang belanjaannya yang berada di tangan kanan dan kiri ku.
Sialan nih cewe, cuma minta dibeliin, aku malah jadi tukang angkat barang. Dasar, cewe.
Kami pun singga di restoran mewah Resort yang katanya hanya khusus orang kaya. Yah, walau kami awalnya di tolak, dengan uang yang ada di dompetku mereka mengizinkan aku masuk.
Dan sekali lagi aku di kejutkan dengan Sonia yang makan udah kek anjing kelaparan. Banyak dan cepat. Bahkan superhero flash saja pasti kalah cepat makan dengan Sonia.
Selesai makan, Ada seorang cewe datang kepada kami memberikan tagihan di sebuah papan kecil dengan tulisan kecil tapi menjurus ke bawah hingga hampir penuh.
"Uwwaaahhhh, be-berapa harganya mba?" Aku menatap semua makanan yang dihabiskan oleh Sonia dengan gugup.
"Semuanya 3,500 Rupiah!" Resepsionis itu menatapku dengan datar.
"Ti-tiga juta lebih!" Aku tiba-tiba berteriak, saking kagetnya karena aku tidak mengira nafsu makan Sonia sebesar itu. Itu bukan lagi Perut Goa, tapi lambungnya bocor!
"Kenapa Ryu?" Sonia menatapku dengan heran.
"Kenapa matamu, kamu makan semua ini tanpa rasa bersalah!? O my lord," aku memegang kepalaku bukan karena kaget dengan jumlah tagihannya, tapi kenapa cewe kek loli ini makannya Ampe segitu? Hilang kemana tuh makanan coba?
"Apakah uangmu tidak cukup? A-aku juga tidak membawa uang!" Sonia menunduk sedih, lalu menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Ahhh, Nih, Mba uangnya. Kembaliannya ambil aja. Dan Sonia ayo pulang!" Aku memberikan 4 juta kepada resepsionis itu, lalu mengangkat barang belanjaan Sonia.
"Pulang kemana Ryu?" Sonia bertanya dengan polosnya kepadaku.
Njirrr kenapa nih cewe **** banget yak. Pengen pukul tapi sayang, masih sayang ea.
"Pulang ke gurun. Buat beli peramal kemana arah makanan tadi hilang?!" Setelah mengatakan itu, aku langsung berjalan keluar meninggalkan Sonia yang sedang menatapku heran.
Nih, cewe aneh bet dah. Akhirnya Sonia menyusulku dengan terburu-buru.
Saat kami sampai di rumah, aku meletakkan barang belanjaan Sonia di sofa, lalu aku duduk di sampingnya sambil membuang nafas lega.
"MOU, Ryu kejam. Kenapa meninggalkan aku sendirian di restoran tadi?!" Sonia menatapku dengan kesal sambil mengembungkan pipinya.
"Salah kamu sendiri, udah bilang ayo pulang malah ngelindur. Di seruduk siluman ular tau rasa kamu!?" Aku menatap Sonia dengan tajam.
"Oh, iya. Makasih, udah beliin aku pakaian. Aku janji akan mengganti semua uangmu ..." Sonia tersenyum lembut kepadaku, dengan keimutan yang benar-benar membuatku naik gula.
"Ahh, gak apa-apa. Aku ikhlas, yang penting kamu puas dengan apa yang kamu beli ..." Aku membalas senyuman Sonia, dan entah kenapa Sonia terlihat sangat bahagia lalu berlari memelukku.
"Makasih, Ryu kamu baik banget. Jadi sayang," Sonia dengan senyum manisnya memelukku sambil menggosokkan kepalanya di perutku.
Ahhh, aku jadi serba salah, kalau aku balas pelukannya, yang ada aku di tangkap Polisi. Kalau aku diam aja, kesempatan berharga gak datang dua kali. Terpaksa aku hanya membiarkan Sonia seperti itu.
"Ehhh!?" Sonia tiba-tiba membuka matanya, dan wajahnya menjadi merah.
"Kenapa?" Aku menatap Sonia heran.
"Ma-maafkan aku. Tadi refleks aja. Jangan di pikirkan!" Sonia berbalik sambil menutupi wajahnya yang sudah memerah kek tomat masak yang belum di petik. Ahahaha, cewe bening emang sesuatu banget.
"Oh, iya gak apa-apa." Aku lalu menyenderkan kembali kepalaku di sandaran sofa.
"Ka-kalau begitu, aku akan menyiapkan makanan ..." Sonia dengan segera menuju dapur.
Refleks aku langsung mengangkat kepalaku, lalu menatap Sonia gak percaya.
"Bu-bukannya kamu barusan udah makan banyak ...?" Aku semakin gak percaya sama nih cewe loli nafsu makannya sebesar apa?
"Ehhh, ahahaha... Aku akan pergi mandi saja..." Sonia dengan senyum kecutnya menuju dapur.
"A-ahh, maaf ehehehe..." Wajah Sonia semakin memerah, lalu naik ke lantai dua rumah ku.
Aku pun menyenderkan kepalaku dan tak kusangka aku malah terbangun di sebuah hutan penuh dengan monster Ganas dengan penuh Sialan sedang Anuan.
Yaps, aku tertidur dan berakhir di hutan mimpi aneh yang di dalamnya ada monster mengerikan sedang *****....
………………………………………………...
Saat aku sedang berusaha lari dari mimpi buruk itu, ada putri duyung di sebuah lautan yang dari belakang memang sangat menggoda.
Aku pun seperti berbunga-bunga mendekati putri duyung itu. Yah, dia telanjang njirrr. Hummu dia telanjang.
Saat aku sudah sampai di dekat putri duyung itu, aku perlahan mendekatkan tanganku memegang putri duyung itu. Saat dia membalikkan wajahnya ke arahku, dan..
"Uwwaaahhhh!!!" Aku berteriak berusaha berlari tapi dia menahan tanganku dengan suara menggoda.
Anjirrrr suaranya imut tapi wajahnya kek ancur jelek sumpah. Bahkan kalau di bandingkan dengan anjing, masih wajah anjing betina lebih baik di pandang.
Saat dia menempelkan tubuhnya itu kepadaku, aku pun berteriak sekuat tenaga..
WAAAHHHHHH!!!!
KHA!
"Huuuu, untung cuma mimpi!!" Aku terbangun dari sofa, dan mengelus dadaku dengan cepat sambil bernafas lega.
Aku memutuskan untuk kembali ke kamarku, lalu mandi. Tapi, saat sampai di kamar, aku melihat Sonia yang tertidur dengan sebuah gaun biru yang sangat indah. Beberapa hiasan berenda di sekitar nya, semakin mempertegas kecantikan Sonia.
Tak sampai di situ, Sonia tampak bermimpi sambil bergumam. Aku membiarkannya, lalu mengambil pakaianku lalu pergi ke dalam Kamar mandi.
Setelah selesai mandi, aku pun duduk di seberang tempat tidur. Aku tidak ingin mengganggu tidur Sonia, karena aku tau dia kelelahan.
Di luar sepertinya sudah malam, aku duduk bersila dengan tangan di atas paha, dan jari membentuk huruf 'O' lalu menutup mataku. Yaps, aku sedang berkultivasi.
Tanpa memikirkan apapun, aku fokus untuk meningkatkan sejumlah mana dalam tubuhku. Setelah satu jam, aku tersadar saat Sonia perlahan mulai bangun.
"Ummhhh, huaaaaaa...."
Sonia meregangkan seluruh ototnya, sambil menguap. Lalu menggaruk kepalanya.
"Ohayou ..." Sonia menatapku yang sedang berkultivasi.
Aku pun menyudahi kegiatanku, lalu menatap Sonia dengan datar.
"Ohayou ..." Sonia mengulangi kata-kata nya sambil tersenyum kepadaku.
"Ohayou palamu, Ini sudah malam ****!" Aku menatap Sonia dengan penuh amarah
Bukan amarah sih, lebih tepatnya kesal aja. Dengan wajahnya seperti tak berdosa menatapku dengan heran.
"Sudah malam yah ...?" Sonia berjalan ke arah jendela dengan tampang bodohnya.
"Sialan aku dikacangin ..." Aku memicingkan mataku kepada Sonia.
"Ryu, sepertinya malam ini auranya sangat dingin. Apakah kamu tidak merasa aneh?" Sonia menatapku dengan serius.
"Emang sejak kapan kamu tau kalau malam itu panas?" Aku menatap kembali Sonia dengan kesal. Sampai ada persimpangan yang berkedut di kepalaku.
"Iya, aku tau. Tapi, malam ini sangat aneh, aku ingin mengecek keluar!" Sonia langsung melompat setelah menatapku singkat. Yaps dia melompat dari jendela.
Ini lantai 3 lho, kalau orang melihat Sonia melompat, yang ada para tetangga salah paham kepadaku.
Yang ada mereka mengira aku mencabuli Sonia hingga dia bunuh diri karena sudah ternoda.
KAN ANJINGGG!!!!
Aku terpaksa mengikuti Sonia karena arogansinya. Dan aku pun mencoba untuk mendeteksi keberadaan Sonia.
'Sera, apakah kamu disana?' aku berbicara di kepalaku.
「Saya disini Ryu, Nyaa~」
'ehhh ternyata kamu masih memakai gaya bicara Koneko yah. Hentikan itu memalukan walau hanya aku yang mendengarnya.'
Aku merasa itu sangat menjijikkan. Yah, aku merasa malu sendiri setiap ada kata 'Nyaa' di akhir kata. Itu membuat tubuhku merinding geli.
「Baik Ryu. Jadi apakah ada yang kamu butuhkan?」
'Tolong kamu deteksi keberadaan Sonia'
「Baik master, Sonia saat ini sedang bertarung dengan Organisasi GEVADA. Dia berada di dalam hutan tak jauh dari rumah Ryu. Anda bisa melihatnya melalui Hp anda yang hampir sama denganku」
'begitu yah, terima kasih Sera'
「Sama-sama master, dan saya akan mati selama waktu yang tidak ditentukan untuk melakukan upgrade sistem. Selamat berjuang Ryu」
'Ehhhh, terus siapa yang akan membantuku?'
Aku merasa tertekan saat Sera berkata akan pergi. Tapi, aku berusaha untuk tidak memperlihatkan kekhawatiran ku.
「Semua yang anda perlukan, ada di dalam hp anda. Dan sebagai jaga-jaga, saya telah membuat seluruh ability Ryu menjadi max. Mulai sekarang, tidak ada yang bisa mengalahkan anda, kecuali Tuhan」
'Terima kasih, Sera. Dan cepatlah kembali'
「Baik, Ryu. Sampai jumpa lagi, Nyaa~」
Setelah itu, Sera langsung masuk ke mode hibernasi, untuk waktu yang tidak ditentukan. Aku hanya bisa berharap tidak akan lama, karena dialah yang memberiku kekuatan ini.
"Aku akan menunggumu Sera ..." Aku menatap ke atas sambil bergumam dengan nada sedih.
Lalu aku langsung mengambil hpku, dan mengikuti MAP di hpku.
Saat aku sampai, Sonia sedang kewalahan melawan para Vampir itu. Dan aku melihat seorang vampir yang pakaiannya sangat mencolok, dengan gigi taring di mulutnya.
Dia sedang menatap Sonia sambil menyeringai. Saat sebuah pedang mendekat kepada Sonia, aku segera berlari ke arah Sonia lalu menghempaskan pedang itu.
"Ahhh, siapa kamu?"
Lelaki dengan pakaian nyentrik itu menatapku dengan marah.
"Aku adalah teman Sonia, hehhh kalian beraninya menyentuh Sonia, maka akan kubunuh kalian!" Aku sambil menyeringai menatap lelaki itu
"R-Ryu, kenapa kamu ada disini?" Sonia menatapku tidak percaya.
"Aku merasakan firasat buruk, lalu aku berkeliling mencarimu, dan aku menemukan kamu sedang bertempur." Aku berbohong, hahahaha.
"Hummm!" Sonia hanya berdehem, lalu aku pun kembali menatap Vampir itu.
"Maaf meganggu bunga anda Nona, tapi ada baiknya jika anda segera memberikan gulungan itu kepada kami!" Pria itu menyodorkan tangannya kepada Sonia dengan mata yang menjadi merah terang.
"Tidak! Aku tidak akan memberikan gulungan ini kepada para biadab seperti kalian!" Sonia berteriak sambil menatap pria itu penuh amarah.
"Ehhh!? Gulungan apa?" Aku menatap Sonia penasaran.
"Bocah, apa kamu penasaran itu gulungan apa?" Pria itu menatapku dalam-dalam seolah dia sedang membaca isi hatiku.
"Hummm, yah aku hanya sdi~kit penasaran!" Aku sedikit mengangkat jari telunjuk dan ibu jariku dan hampir menyentuh ibu jari.
"Hummm, baiklah. Akan kuberitanu seberapa pentingnya gulungan itu bagi kaum vampir." Pria itu memandang ke atas seolah dia sedang berfikir.
"Jadi, kamu Bocah. Gulungan itu adalah gulungan dari mantra sihir pembangkit. Dan anak setengah vampir itu mencurinya dari kami. Huhhh... Dasar anak gak tau di untung!" Pria itu menunjukku, lalu berganti menunjuk Sonia dengan mata tajam lalu menghela nafas berat.
"Aku bingung, lanjutkan ceritanya!" Aku menatap pria itu semakin penasaran.
"Jadi begini, bocah. Gulungan pembangkit bertujuan untuk membangkitkan anak raja vampir yang mati akibat perbuatan manusia 100 tahun yang lalu. Dan karena badan vampir tidak akan hancur, maka raja mengawetkan badan anaknya itu di sebuah peti berwarna emas dengan lilin di sekitarnya agar arwah pangeran tidak meninggalkan tubuhnya.
Bulan purnama pertama terlewatkan karena dia mencuri gulungan itu. Bulan yang hanya terjadi 50 tahun sekali, atau disebut dengan Purnama berdarah. Dan bulan purnama berdarah akan muncul seminggu lagi. Dan kami membutuhkan gulungan itu" Pria itu menunjukkan wajah seolah sedih dan marah. Tapi, aku tidak akan tertipu trik murahan.
'bagaimana jika aku permainkan saja mereka?' aku bergumam dalam pikiranku, sambil tersenyum jahat.
"Sonia, bolehkan aku melihat gulungan itu?" Aku menatap Sonia serius.
"Boleh saja tapi ...?" Sonia mengigit bibirnya khawatir.
"Tenang saja. Ya ..." Aku mengerlingkan mata kananku kepada Sonia.
"Baiklah, jangan sampai mereka mengambilnya." Sonia mengeluarkan gulungan itu dari sakunya, lalu aku mengambilnya sambil membukanya.
"Hoho~ gambarnya bagus juga. Aku juga gak mengerti ini bahasa apa?" Aku menatap gulungan itu dengan senyum miring.
Di gulungan itu, ada gambar pentagram berwarna Biru, dan tulisan di bagian bawahnya. Aku memasukkan gulungan itu ke saku celanaku, lalu meneleportasikan gulungan itu ke dalam lemari bajuku.
Yaps, aku mempunyai banyak koleksi gulungan seperti ini karena aku juga pencinta fantasy. Hanya saja aku mempunyai gambar yang sangat indah di dalam gulungan itu.
"Apa sebegitu inginnya kalian dengan gulungan itu?" Aku menatap pria itu dengan tatapan sombong sambil tersenyum miring.
"Hummm, tentu saja itu sangat berarti bagi kami." Pria itu mengangguk serius kepadaku.
"Oke, ambillah itu punya kalian ..." Aku melempar gulungan itu dengan malas ke arah pria itu.
"Jangan Ryu, nanti semua umat manusia akan binasa!" Sonia berteriak kepadaku. Sonia menatapku dengan marah sambil menatap pria itu dengan tatapan ahawatir.
"Ahahaha... Kamu bodoh Bocah. Sangat bodoh. Aku gak menyangka akan memberikan gulungan itu kepada kami. Kami akan pergi selamat tinggal bocah dan tunggu kematian kalian!" Pria itu mencemooh ku, lalu tertawa puas. Aku hanya mengorek telingaku dengan jari kelingking, lalu menatap pria itu dengan malas.
"Ya... Ya... Ya... Cepatlah pergi dari sini!" Aku mengebaskan tanganku mengusir para vampir sialan itu.
"Ayo kita pulang ..." Aku berjalan meninggalkan Sonia yang masih menatap tak percaya kepadaku.
"RYUUUU!! Apa kamu gak tau gulungan itu sangat berbahaya, dia mengarang cerita itu dan kamu percaya? Apa kamu gak peduli dengan semua umat manusia?!" Sonia menatapku dengan penuh dendam. Tidak ada ekspresi menyenangkan di wajahnya. Aku hanya berjalan tanpa memperdulikan Sonia.
"Ryu~ kamu dengar gak!?" Sonia berteriak kepadaku dengan air mata yang mengalir deras.
"Hoho~ ternyata masih ada vampir yang peduli kepada manusia." Aku menatap Sonia sebentar, lalu melanjutkan lagi berjalan dengan wajah datar.
"Aku benci sama kamu, Ryu. Aku benci ..." Sonia mengatakan itu sambil menunduk. Dia diam sambil menunduk. Sepanjang jalan rasanya sangat canggung.
Saat sampai di rumah, aku langsung menuju ke kamar tanpa memperdulikan Sonia di belakangku.
Saat sudah di dalam kamar, Sonia duduk di pinggiran kasurku sambil menangis. Aku sebenarnya gak tega, tapi aku akan melihat Sonia sampai akhir. Ini adalah hukuman karena memasuki mimpiku tanpa izin.
Aku menuju kamar mandi, lalu langsung membasuh seluruh tubuhku. Semakin bersih, semakin bersih. Setelah itu, aku menuju ke lemari baju tanpa memperdulikan Sonia lalu mengganti bajuku disana. Sonia bahkan tidak menyadari keberadaan ku dan tetap menangis.
"Sampai kapan kamu menangis begitu?" Aku bertanya tanpa menatap Sonia.
"Aku benci, aku benci sama kamu Ryu. Tak kusangka kamu sekejam ini membiarkan para manusia musnah. Walau aku vampir, aku juga manusia. Aku juga manusia aku mempunyai kekuatan vampir tapi tak merubah fakta aku juga manusia!" Sonia semakin lirih menangis.
Aku mengambil gulungan yang ada di bajuku, lalu melempar ke arah Sonia. Sonia pun menatap gulungan itu dengan tidak percaya.
"R-Ryu, kenapa gulungan itu ada disini? Padahal tadi?" Sonia menatap gulungan itu, lalu menatapku tak percaya.
"Oh, itu. Aku gak sebodoh yang kamu pikirkan. Aku sudah mendengar darimu kalau itu bisa memusnahkan umat manusia, jadi aku mengandalkan sulapku untuk mengganti gulungan itu .." aku menatap Sonia sambil menjelaskan tentang sulapku hehehe. Sulap. Percaya aja si anying.
"Tapi, kenapa bisa?" Sonia masih tidak mengerti dengan apa yang ada di depannya.
"Aku tidak yakin bisa menang jika berkelahi dengan mereka, dan bagiku dirimu lebih penting dari gulungan itu. Jadi, aku memalsukan gulungan itu" aku menggaruk belakang telingaku, karena agak merasa malu hehehe.
"Ehhh?!" Sonia memiringkan kepalanya sambil menatapku dengan bingung.
"Arrrggghhhh.... Aku mau tidur" Aku mengacak rambutku frustasi, lalu melemparkan diriku di kasur tanpa memperdulikan Sonia.
"R-Ryu... " Sonia menatapku tak percaya, aku pun tidak memperdulikan Sonia lalu memejamkan mataku. Aku pun tertidur.