
Sudah 3 bulan sejak pertemuanku dengan Ayung, hari-hariku menjadi semakin Ramai.
Shiro juga ikut bersekolah, dan tentang Ayung, dia mendapatkan hukuman selama seminggu gak di beri jajan. Jadi, dia selalu meminta uang kepadaku.
Ahhh, dan tentang Shiro, dia sebenarnya sudah cukup baik karena dia sudah menggunakan Skill penghilang tubuh, tapi karena kebodohan Ayung yang tersangad, ibunya menemukan Shiro ada di kamar Ayung.
Untunglah Shiro selalu tersambung dengan telepatiku, maka Ayung masih selamat dari Neraka Rumah.
Shiro bersekolah di sekolahku, dan hanya Shiro yang di beri jajan. Dan juga, Shiro sangat patuh kepada orang tua Ayung.
Bahkan ya, saat ibunya menasehati Shiro agar tidak memberikan uang jajannya kepada Ayung, dengan segala cara Ayung gagal mendapatkan uang jajan milik Shiro.
Setiap kali Ayung membujuk Shiro untuk memberikan uang jajannya kepada Ayung, Shiro pasti menanyakannya kepadaku dan ku jawab dengan tegas TIDAK! Jadi Shiro tidak akan memberikan uang jajannya.
Yah, bagaimanapun Shiro lebih patuh terhadap perintahku dari pada Ayung, karena bagaimanapun Shiro itu ciptaanku.
Jadi, bahkan jika aku menyuruh Shiro membantai seluruh keluarga Ayung, dia dengan mudah akan melaksanakan perintahku tanpa kesalahan dan keraguan sedikit pun. Tapi tenang saja, tidak akan aku lakukan hal sekeji itu.
Saat ini, aku, Shiro, Ayung dan Mia sedang makan di atap sekolah. Dan tentu saja, Ayung menjadi Babu kami agar dia juga bisa makan.
Kami menyuruhnya membeli makanan ataupun minuman. Dan yah, sebagai imbalan, kami memberikan uang 2000 kepada Ayung sebagai ongkos jalan. Hahahaha, sungguh menyenangkan menjadikan orang terkuat di sekolah sebagai Babu.
Tapi, hari ini ekspresi Ayung sangat lusuh. Bahkan, saking lusuhnya udah kayak kain kusut yang habis terlindas truk.
"Yung, kamu kenapa? Mukanya kusut amat udah kayak karung Beras habis di pelintir aja?" Aku bertanya setengah mengejek, dan juga penasaran sih.
Coba kalian pikir, Ayung adalah orang yang sangat Hiperaktif, dan selalu ceria, anaknya juga bersemangat dan suka teriak. Tapi, tiba-tiba dia menjadi pendiam plus dingin. Bukannya aneh?
"Sebenarnya, besok aku akan pindah sekolah di Amerika. Ayahku pindah kerja disana, dan akan menetap di sana." Ayung memulai ceritanya dengan sangat pelan hampir tidak terdengar. Ayung menunduk sedih di depan kami semua.
Aku yang mendengar itu, langsung menghentikan acara makanku. Bukan karena apa, tapi karena makanan yang aku telan udah kayak nelan batu. Rasa minuman juga udah kayak minuman basi.
"Benarkah...! Hore!!!" Teriak Mia senang, namun langsung di tatap dengan tajam oleh Shiro. Itu karena Shiro melihatku yang tiba-tiba menjadi murung.
"Ah, maaf bercanda hehehe..." Mia langsung tersenyum hambar karena merasa takut di tatap oleh Shiro.
"Terus?" Tanyaku pelan, tanpa menatap Ayung.
"Terus, setelah kita makan ini, aku akan langsung pergi. Supirku sudah menjemputkku di depan. Dan ibuku sedang mengurusi surat pindahku." Ayung semakin menunduk sedih
Tanpa sadar, air mataku tiba-tiba jatuh. Bagaimanapun, kehilangan Sahabat satu-satunya itu adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupku.
"Ryu, maaf yah, aku ingin tinggal, tapi aku dilarang ayahku. Bagaimanapun, ayah dan ibuku sudah tua. Gak mungkin aku melawan mereka, kalau mereka drop gimana?" Aku masih gak bergeming dengan pernyataan dan pertanyaan dari Ayung.
Aku mengerti dengan kondisi Ayung sekarang, karena sejak kecelakaan berapa tahun lalu, orang tua kami bertambah tua tidak seperti aku dan Ayung. Jadi, mau tidak mau aku harus mau.
"Maaf Ryu, aku janji bakal sering kemari. Mungkin ..." Ayung memegang bahuku, dan Shiro hanya menatap sedih kearah kami. Mia hanya sibuk makan dengan wajah penuh kemenangan.
"Ba.. baiklah. Gak apa-apa ..." Aku berbicara dengan terbata-bata, demi menahan agar aku tidak menangis. Aku berusaha menahan perasaanku, karena itu memalukan.
Setelah kami selesai makan, kami berempat membereskan bekas makanan kami masing-masing.
"Mia, kamu tunggulah kami dibawah, ada yang ingin aku katakan kepada Shiro dan Ayung untuk terakhir kali!" Aku menyuruh Mia agar dia pergi duluan. Aku tidak mau dia mendengar rahasia kami.
"Ummm, baiklah ..." Mia berjalan turun dari tangga, lalu Shiro menutup pintu jalan masuk ke atap sekolah, agar tidak di ketahui orang lain.
"Yung, terima kasih sudah bersamaku selama ini. Aku sangat senang bisa kenal denganmu ..." Air mataku kembali berlinang, karena teringat tentang kenangan kami dari awal kami bertemu hingga sekarang sudah seperti saudara kembar.
"Iya, Ryu. Aku juga sangat senang kenal denganmu terima kasih untuk selama ini selalu disampingku." Ayung memelukku, lalu kami berdua menangis bersama. Yah, aneh sih anak berusia 26 Tahun berpelukan sambil menangis kek anak kecil. KAN ******!!!
Setelah kami berpelukan, aku membuka PlayShop ku, lalu membeli sebuah kalung berwarna hitam dengan tulisan Believer dua buah untuk aku dan Ayung.
Di kalung itu, sudah ada Skill 'Shield Protection' dan Elemen Api yang akan melindungi Ayung secara otomatis. Kalung Ayung mempunyai tulisan yang berwarna kuning kemerahan yang berarti api,
Sedangkan punyaku juga sama dengan tulisan Believer. Tapi, punyaku mempunyai Elemen Air dengan warna Biru langit dan campuran Biru Terang yang menandakan Api surga.
Aku memberikan Ayung sambil berjanji
"Kami adalah sahabat selamanya, dan dengan kalung ini kami berjanji tidak akan pernah saling melupakan dan akan tetap berteman hingga ajal menjemput. Mungkin" lalu kami berdua melakukan Tos Khas buatan kami sendiri, lalu kami memakai kalung kamu bersamaan.
Setelah itu, aku ingin agar Shiro bisa menjaga Ayung dari bahaya.
"Shiro, tolong kemarilah..." Aku memanggil Shiro, dan secara cepat dia langsung menuju ke arahku.
"Duduklah, ada yang ingin ku berikan kepadamu." Shiro langsung duduk bersila, dan aku pun juga duduk bersila saling berhadapan dengan Shiro.
'Sera, berikan Skill yang bisa membantu Shiro melindungi sahabatku'
«Baiklah, Ryu. Tolong peganglah tangan Shiro»
Aku langsung memegang kedua tangan Shiro, dan Shiro menutup matanya.
«Start the procedure for transferring the skill.
Transfer high martial arts -Transfer finished.
Transfer Skill, Shield, Magic Shield, Deadly Blow, Water Cutter, Wind Blind, Ilusion - Transfer Selesai.
Transfer elements Wind, Water, Fire - transfer failed. Cannot transfer because there will be a dangerous anomaly in the body of the character.
Ryu, nonaktifkan Shiro agar Transfernya berhasil.»
"Hummm, Baiklah. 1.6.1.1.0.2." Tubuh Shiro tiba-tiba jatuh, dan Ayung langsung berlari ke arah Shiro.
"Ryu, Shiro kenapa?!" Wahyu seketika menjadi panik.
"Tenang saja, dia tidak apa-apa" Aku menenangkan Ayung, lalu aku kembali memegang tangan Shiro.
«Scan the character's body ... scanning is complete.
Fixing problems, increasing the ratio of success - complete.
Send Ellements, Wind, Water, Fire - Succed.
There is no anomaly in the body of the character. Successful»
"Baiklah, 1.6.1.1.0.2. Ayo bangun Shiro" Aku kembali membangunkan Shiro, lalu Shiro kembali duduk.
"Shiro, tolong jaga sahabatku dengan baik. Aku serahkan tugas ini padamu. Jika ada sesuatu yang menurutmu tidak bisa kau selesaikan, hubungi aku oke..." Aku memberikan senyuman termanis ku seperti waktu awal aku bertemu dengan Shiro.
Shiro tiba-tiba menangis, lalu memelukku. Shiro menangis sesenggukan, dan Ayung hanya menatap kami dengan sedih. Bahkan ada beberapa tetes dari air mata Ayung yang jatuh.
Aku mengelus kepala Shiro, dan berusaha menenangkan Shiro. Yah, bagaimana pun Shiro masih ciptaanku, setiap hari, setiap malam, Shiro selalu berbicara denganku lewat telepatiku. Dan Shiro juga mempunyai emosi layaknya manusia. Karena dia di desain dengan sangat canggih, bahkan tubuhnya juga bisa bereproduksi layaknya wanita pada umumnya. Dan Shiro sangat patuh kepadaku layaknya Ayah dan anak.
Setelah beberapa menit kemudian, Shiro sudah berhenti menangis. Dapat di lihat dari atas atap ini, kalau mobil pribadi milik keluarga Ayung, sudah menunggu didepan gerbang sekolah.
"Shiro, ayo kita pergi Ibu sudah menunggu di depan." Ayung mengajak Shiro dengan halus.
"Umn," Shiro mengangguk pelan, lalu kembali menatapku.
Aku mengelus kepala Shiro dengan lembut, lalu menatapnya dengan Bangga.
"Aku bangga kepadamu, Shiro. Aku bahagia bisa menciptakanmu. Sampai jumpa, jaga dirimu baik-baik. Dan ingatlah misi terakhirmu dariku adalah jagalah sahabatku." Aku mengelus kepala Shiro dengan lembut, dan aku juga menahan perasaanku, karena menangis didepan gadis itu MEMALUKAN!
" ... *Cup* selamat tinggal Ayah!" Shiro mencium pipiku, lalu tersenyum manis kepadaku dan berjalan keluar dari Atap. Walau aku lihat masih ada air mata Shiro yang keluar.
"Good Bye, teman brengsek!" Ucapku kepada Ayung.
"Sampai jumpa Teman Biadab!" Ayung membalas ejekanku, lalu berjalan turun dari atap.
Saat aku melihat Ayung dan Shiro masuk ke mobil, Ayung dan Shiro masih sempat-sempatnya melambaikan tangan mereka untuk terakhir kali. Saat itu juga, aku membalas lambaian mereka dengan perasaan yang benar-benar hancur.
Perasaan sedih yang belum pernah aku rasakan. Semuanya langsung melebur menjadi satu, dan keluarlah air mataku yang sudah aku tahan. Akhirnya, air bah jebol dari matamu.
Aku duduk di bangku tempat kami duduk makan dan mengobrol, dan mulailah air mataku menjadi seperti Tsunami yang melanda kota Aceh
Setelah aku merasa agak tenang, aku turun kebawah. Dan ternyata Mia benar-benar menungguku.
"Mia, kenapa kamu tidak kembali ke kelas?" Tanyaku penasaran dengan Mia.
"Aku menunggu kalian kesini, tapi yang turun hanya Shiro dan dan Wahyu. Jadi, aku tetap menunggumu disini" Mia menjelaskan tentang keadaannya.
Kami pun kembali ke kelas.
Jam pelajaran kali ini kosong, karena guru mapel sedang sakit. Jadi, selama 3 jam kedepan kami bebas.
Aku duduk termenung, karena biasanya Ayung akan datang ke kelasku jika ada jam kosong. Tiba-tiba, salah satu murid lelaki berdiri dan berteriak.
"Hei!!! Kalian tau, si Monster Wahyu sudah pergi!" Dia berteriak dengan semangat, sambil bersorak ria.
Semua orang mulai ramai, ada yang berpose seperti Ayung, ada yang menghina Ayung, bahkan sampai berlagak seperti Wahyu dan berpose dengan jelek.
Aku pun semakin emosi, dan akhirnya kemarahan ku sampai di puncak.
|Brakkk|
"Diam! Beraninya kalian menghina sahabatku, akan kubunuh kalian!!" Aku menendang meja di depanku, lalu berteriak dengan penuh emosi kepada seluruh teman sekelasku. Aku menatap mereka dengan tatapan haus darah, dan seketika kelas jadi hening.
"Sialan!!! Beraninya kalian, kalian hanya tau merendahkan tapi tidak tau sifat aslinya bagaimana dasar Rendahan!!!" Aku semakin menggila, dan aku menendang kembali meja dan kursi yang ada di dekatku.
Kaca di kelas pecah, Meja dan kursi kelas banyak yang patah. Bahkan, hampir ada yang kena meja dan kursi yang kulayangkan layaknya UFO.
Sampai Mia mendorongku, lalu memelukku. Mia terus mendorongku, hingga aku tersandar di dinding kelas, dan terduduk lemas di lantai.
Mia berusaha menenangkan aku, bahkan air matanya sudah mengucur deras. Kakiku berdarah, dan juga tanganku. Itu karena aku memukul kaca, dan menendang Properti sekolah.
Aku sudah berhenti memberontak, dan memandang kosong kedepan. Pikiranku hancur. Itu semua, bukan karena kepergian Sahabatku, tapi itu semua karena mereka menjelek-jelekkan Shiro dan Ayung hanya karena sifat luarnya. Mereka tidak tau kebaikan Ayung yang sebenarnya.
Emosuku memuncak saat mereka Ayung masokis, dan Shiro itu *******. Bukannya itu sudah keterlaluan!
Setelah aku sudah agak tenang, Mia membawaku ke UKS, dengan tetap memegang lenganku. Saat sampai di UKS, dia membersihkan lukaku, dan beberapa luka Robek, dia jahit kembali.
Mia adalah ketua dari Club kesehatan, makanya dia sedikit tau tentang medis. Di tambah, ibunya adalah Dokter jenius satu-satunya di Amerika.
Sementara Mia menjahit, aku tidak merasakan sakit atau perih dari tangan dan kakiku. Mungkin karena Status tubuhku yang tinggi, atau karena lebih sakit Hatiku.
BODO AMAT!!!
Setelah selesai, Mia mengambil tas milikku dan miliknya, lalu mengajakku bolos sekolah. Dan kami pun berjalan layaknya sedang kencan.
Aku sudah bisa sedikit tersenyum karena tingkah laku Mia, dan kadang aku juga membalas candaannya. Hingga saat sudah sore, Mia mengantarku ke rumahku.
Aku tidak melarangnya, karena ibuku masih berada di Cafe, dia hanya pulang seminggu sekali, itu pun hanya untuk mengantar jajanku, lalu pergi lagi.
...Misanaria POV...
Saat ini, aku sedang membuatkan makanan untuk Ryu. Rumahnya cukup besar, walau gak sebesar dan semewah rumahku sih.
Walau sifatku mengesalkan gini, aku juga bisa masak loh, memang istri idaman banget. Tapi, rasanya aku mulai suka sama Ryu.
Setelah aku selesai membuat makanan, aku meletakkan semua makanan di meja makan.
Lalu, aku menghampiri Ryu yang sedang tertidur di sofa Ruang depan sambil menonton.
"Ryu, ayo makan ..." Aku mengajak Ryu dengan halus, sambil menarik tangannya menuju ke meja makan.
Aku tau Ryu sangat terpukul, karena bagaimanapun kehilangan Sahabat satu-satunya akan sangat menyakitkan. Apalagi , dia pergi jauh.
Ryu makan dengan pelan, matanya seperti kehilangan cahaya, dan aku pun berinisiatif untuk membuatnya tersenyum lagi.
Setelah Ryu selesai makan, aku segera membersihkan meja makan, dan mencuci piring lalu kembali ke ruang depan bersama Ryu.
"Ryu, coba lihat deh ..." Aku memakai baju cosplayer kucing, lalu bersikap seperti kucing.
"Nyaa..." Aku merasa malu, dan wajahku menjadi merah. Saat aku melihat Ryu, matanya seperti bintang menatapku dengan serius, lalu ahhh dia mimisan.
Aku mengambil tisu, lalu membersihkan Darah dari hidung Ryu. Setelah itu, Ryu kembali melihatku dengan serius.
"MOU...! Jangan menatapku seperti itu dong, aku sangat malu..." Aku berteriak kepada Ryu, dan rasanya wajahku sangat panas. Aku pun memalingkan wajahku dari Ryu.
"Hahahahahahahaha.... Habisnya, kamu sangat imut dengan pakaian itu... Hahahahahahahaha..." Ryu tertawa terbahak-bahak, dan itu semakin membuatku malu. Aku pun menjadi kesal, laku mengembungkan pipiku karena sangat kesal dengan Ryu yang sedang mentertawakan ku.
Kami bercanda di ruang depan, sampai tak terasa sudah jam 11:00
"Sial, sudah jam segini, gimana aku pulang?" Aku menjadi panik, karena tak kusangka malam sudah sangat larut.
"Udah, tidur disini aja. Lagian bahaya anak gadis sepertimu pulang jam segini. Di embat om Mesum tau rasa kamu..!" Ryu berbicara dengan nada mengejekku. Tapi, kalimat terakhir membuatku merinding. Siapa coba yang gak takut sama om cabul diluar sana hadehhhh.....
"Apa kamu tidak akan macam-macam denganku?" Aku bertanya kepada Ryu dengan ragu.
"Tenang saja, aku gak semesum itu. Aku juga gak bakal kale nyentuh wanita yang belum sah denganku" Ryu sedikit menggodaku, dan sukses membuatku sangat malu.
"Ba..baiklah, janji yah.." aku masih merasa malu, dan berbicaraku agak terbata.
"Iya, janji. Baiklah, kamu tidur di kamar tamu yah!"Ryu berbalik meninggalkan aku.
"Ryu, tunggu...." Aku mengejar Ryu karena dia tidak memperdulikan panggilanku, dan terus berjalan ke depan.
Aku pun masuk ke kamar Ryu tanpa permisi. Kulihat, Ryu sudah tertidur di kasurnya.
'cepatnya!' gumamku sambil melihat Ryu yang sedang tertidur pulas.
Aku mencoba menggoyang badan Ryu, tapi tidak ada respons. Sepertinya dia kelelahan. Aku pun berbaring di samping Ryu, sambil tersenyum melihat Wajah tidur Ryu.
Dan tanpa sadar aku juga tertidur di Samping Ryu.
...End POV Mia...