Become Strong With Skill Cheat And System

Become Strong With Skill Cheat And System
Heading to Another World



"Ahhhh... Lelahnya ..." Aku menyenderkan kepalaku di kursi Bus


"Gitu aja lelah. Payah ..." Ayung menatapku dengan malas.


"Alah... Noob diam aja!" Ucapku sambil menutupi mataku yang kini sedang puyeng.


"Tcih!" Decak Ayung kesal.


Saat aku sedang tidur, aku merasa kayak badan aku tidak bisa bergerak.


'Apa? Aku ketindihan kah?' Gumamku di tengah tak keberdayaan ku.


<>


'Apa itu, Sera?' Tanyaku yang tiba-tiba menjadi sangat penasaran.


<>


'Apakah aku bisa mencegahnya?' Aku mengarahkan kepalaku ke atas.


<>


'Begitu yah. Baiklah ...' Aku sedikit sedih, tapi aku hanya bisa pasrah.


Saat aku merasa tubuhku semakin aneh, aku memanggil Ayung di sebelahku.


"Yung, Yung bangun!" Aku mendorong tubuh Ayung hingga hampir ke jengkal ke belakang.


"Kenapa Njim?" Ayung menatapku dengan kesal.


"Aku punya pesan kepadamu!" Ucapku tegas.


"Bilang aja, jangan pesan-pesan mulu! Emang kamu kira kita berdua ini Handphone apa!" Ayung berdalih


"Udah dengerin aja!" Aku menarik pipi Ayung.


"Iwyah ajwuhhh ..." Ayung berusaha melepaskan cubitan mautku di pipinya.


"Pertama, jaga Mia dan Sonia. Kedua latih kekuatanmu. Yang terakhir, jika terjadi hal yang sama, temui aku di tempat yang paling tinggi. Oke!" Aku mengedipkan mataku kepada Ayung, sambil mengacungkan jempolku.


"Apa maksudmu?" Ayung menatapku heran.


"Udah dengerin dan terapkan. Jangan sampai Lula!" Aku menatap Ayung serius.


"Iya-iya! Gak jelas!" Ayung membalikkan kepalanya, lalu tidur kembali.


Aku membaringkan kepalaku lagi, lalu tiba-tiba Sonia memegangi tanganku dengan sangt erat.


"Kenapa Sonia?" Aku menatap Sonia heran.


"Ada yang mau aku tanyakan." Sonia menunduk sedih.


"Udah bilang aja, gak apa-apa ..." Aku mengelus kepala Sonia lembut.


"Apakah kita berdua akan terus bisa bersama selamanya?" Sonia menatapku dengan mata merahnya.


"Iya, kita akan terus bersama. Dan tidak akan terpisah, walau oleh apapun." Aku memegangi bahu Sonia dan menatapnya dengan serius.


"Terima kasih, Ryu!" Sonia memelukku dengan sangat erat.


"Iya, sama-sama ..." Aku membalas pelukan Sonia.


Saat aku lagi menikmati pelukan hangat ku, tiba-tiba ada sebuah diagram pemanggilan yang muncul di bawah kakiku tanpa aku sadari.


Aku dan Sonia terbawa ke sebuah lingkaran sambil berpelukan, dan saat aku melepaskan pelukanku, ada seseorang dengan pakaian nyentrik tengah menatapku dan Sonia dengan heran.


"Ehhh apa yang terjadi!" Sonia tiba-tiba menjadi sangat merah dan heran.


"Entah?" Aku mengangkat tanganku keatas seakan aku tidak tau.


"Selamat datang, di kerajaan Magnanstald para Pahlawan!" Raja itu memulai kata-katanya seakan tidak peduli.


Aku kepikiran kejadian Klise yang sering terjadi di Dunia lain dalam Novel. Aku pun menatap Raja itu dengan serius.


"Maafkan aku yang memanggil kalian tiba-tiba, tapi sebenarnya dunia kami sedang terancam oleh Raja Iblis jahat." Raja itu menunduk dengan sangat dalam.


"Aku tidak peduli, tapi apakah kamu bisa mengembalikan kami ke dunia kami?" Aku semakin menatap Raja itu dengan tajam.


"Ryu, kamu gak perlu kayak gitu ..." Sonia menatap Raja itu dengan iba.


"Biarkan saja, agar mereka sadar dengan tindakan mereka." Aku semakin menatap Raja itu dengan tajam.


"Aku mohon, Pahlawan. Aku mohon tolong kami. Saya akan melakukan apapun untuk anda, tapi tolong berikan kami perlindungan Anda!" Raja itu berlutut memohon, seakan-akan sudah putus asa dengan situasinya.


"Apa saja yah?" Aku tersenyum licik kepada Raja.


Para bawahannya hanya sedih melihat Rajanya berlutut kepadaku, karena harapan terakhir mereka juga sama seperti raja mereka.


"Bagaimana jika kamu memberikan Putrimu sebagai jaminan kepadaku!" Aku memegangi daguku sambil menatap Raja itu.


"Ehh?" Raja itu menatapku dengan mata yang putus asa.


"Bagaimana? Apakah kamu sanggup menyetujuinya?" Aku menatap Raja itu dengan tajam.


Raja itu terlihat sedih dan bingung, karena menghadapi pilihan yang tentu saja sangat sulit untuk seorang Raja sekaligus seorang Ayah.


Karena jika dia memang Raja yang menanggung beban kerajaan dan Rakyat di punggungnya, dia suatu hari harus memilih salah satu pilihan terberat.


Disamping tugasnya sebagai Raja, dia juga seorang Ayah yang penyayang, dan tentu saja siapapun pasti akan keberatan memberikan Putrinya secara percuma.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu!" Tiba-tiba ada seorang gadis yang cantiknya hampir menyamai Sonia, Masuk ke Altar pemanggilan.


"Ahhh, Lily kenapa kamu kemari?" Raja itu menatap putrinya dengan sangat sedih dan khawatir.


"Jadi kamu Putri dari Raja ini yah?" Aku menatap Putri itu dengan sangat detail. Dari bawah sampai atas, lalu berhenti di oppainya yang besar.


"Iya. Saya Lilyana Ryuana Magnanstald!" Putri itu menatapku dengan tajam.


"Baiklah, Raja. Saya akan membantumu, dan sampai waktunya tiba aku akan beristirahat dulu. Saya merasa sangat lelah!" Aku menatap Sonia yang sedang menunduk.


"Baiklah, Pahlawan. Aku akan menyuruh pelayan- " Raja


"Tidak! Aku mau kamu yang mengantarkan Aku dan Dia." Aku menyela perkataan Raja lalu menatap Sonia.


"Baiklah. Silahkan ikuti saya." Raja itu berdiri, lalu mulai berjalan.


Aku mengikuti Raja itu, dan akhirnya sampai di sebuah kamar yang sangat besar, dan terlihat sangat mewah menurutku.


"Wah, kamar ini sangat bagus. Terima kasih!" Aku menatap Kamar itu dengan mata yang berbinar.


"Syukurlah, kamu menyukainya. Anda juga, Nona. Saya akan menunjukkan kamar anda." Raja itu menatap Sonia, dengan sangat sayu.


"Ah, Tidak. Sonia akan tidur denganku!" Aku langsung menolak Raja itu dengan tegas.


"Ehhh!?" Sonia menatapku dengan kaget.


"Baiklah, Tuan Pahlawan. Kalau begitu saya undur diri." Raja itu meninggalkan ku.


Saat Raja itu sudah pergi, Sonia langsung menatapku dengan sangat tajam.


"Ryu, kenapa kamu sangat kejam kepada Raja itu?" Sonia menatapku dengan mood yang benar-benar turun drastis.


"Ahhh, aku hanya bercanda. Aku hany. a mau melihat apa dia Raja yang layak atau tidak. Biasanya mereka hanya memanggil pahlawan karena mereka mau memamerkan Kekuatan Kerajaan mereka, lalu memperlakukan Pahlawan sebagai alat perang." Aku menyenderkan kepalaku di atas bantal.


"Aku kira, kamu mau menguasai Raja itu dengan kekerasan. Dan kenapa kamu malah mengambil Putrinya?" Sonia tiba-tiba mengeluarkan Aura hitam.


"I-itu, aku hanya mau melatihnya agar bisa mengalahkan Raja iblis sendiri." Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Ohhhoooi? Benarkah?" Sonia menatapku dengan sangat tajam.


"Be-benar. Aku tidak akan macam-macam!" Aku menyatukan tanganku, sambil menundukkan kepalaku di depan Sonia.


"Baiklah, untuk sementara aku percaya. Awas saja jika kamu Bohong!" Sonia menyentil Daguku, lalu berbaring di tempat tidur.


'Ahhh, Semoga saja besok akan menyenangkan ...' Gumamku, lalu ikut berbaring di samping Sonia.