
Saat Sonia mulai selesai berubah, Kepalanya terbentuk Mahkota yang melingkar indah dengan butiran Permata yang menurutku kalau dijual bisa mencapai Miliaran Rupiah. Pantasan Sonia bisa membeli apa saja di sekolah, ternyata diam-diam malah ngambilin Permata di situ anying. Udah kayak Tambang Pribadi aja...
Sonia mulai menggila, dan aku pun menjadi ragu. Bagaimana cara menyelamatkan Sonia tanpa membunuhnya. Aku pun memegangi kepalaku yang tengah Nyetres gara-gara ulah usil dari para Vampir malah berabe.
*Ding*
Suara yang begitu ngangenin, hingga membuat air mataku hampir jatuh. Yaps itu adalah Suara Sera yang selama ini aku Kangenin. System Super Op yang memberi aku kekuatan Tak terbatas yang bahkan mampu melampaui Dewa.
"Selamat datang kembali Sera. Bagaimana Kabarmu?" Aku dengan suara yang agak bergetar, menanyakan Kabar Sera.
Wahhh.... Udah kayak Dewa aja? Berarti aku bisa menjadi Dewa dong? Ahhh Gak ahhhh nanti merepotkan. Aku pun masih memikirkan dari mana Sera bisa mendapatkan Evolusi sebesar ini?
"Supreme Beings? God Of Arcana? Siapa dan apakah mereka itu?" Aku kebingungan dengan kata-kata Sera.
"Apakah berarti suatu hari aku bisa menjadi Tuhan?" Aku pun kembali bertanya pada Sera.
"Begitu yah? Kalau begitu, apakah kamu mempunyai cara untuk mencegah Sonia berbuat banyak masalah lebih dari ini?" Aku memegangi kepalaku yang saat ini kembali Pusing.
"Wahhh... Susah tuh!!!" Pikiran ku auto Kalut dong. Nyium di depan umum? Malu dong cokkk!!!!!
(Halah Palingan niatnya cuma mau nyuri FisrtKiss Anying dasar Setan berkepala 3)
Diam Luh AHhhh!!!
Aku pun dengan tenang mencoba menarik nafas panjang, karena gugup cok. Astaga Nyium cewe di kiranya cuma kayak hirup lem Kambing apa!
Aku langsung melompat ke arah Sonia yang sedang menghancurkan Bangunan. Padahal yang buat bukan Bapaknya suka-suka hati dia ngancurin Bangunan. Bangsat Memang!
Aku memegang tangannya, dan dengan kuat aku menatap Sonia yang sedang memberontak minta di lepaskan. Saat aku memegang pipinya yang lembutnya udah kayak megang Kue Bakpau. Dan entah kenapa saat Sonia balas menatap mataku, dia berhenti memberontak dan ada Air mata yang mengalir dari pipinya.
Tanpa membuang kesempatan, aku langsung mencium Sonia yang saat itu sedang dalam kondisi sedikit sadar. Seketika, Aura Hitam yang mengelilingi Sonia perlahan menyebar, lalu hilang. Aku dan Sonia turun perlahan, dan Sonia masih menatapku dengan air mata yang mengalir.
Aku memeluk Sonia, lalu mengelus kepala Sonia lembut.
"Tidak apa-apa. Ini karena para Vampir yang masih menyimpan dendam padaku karena membunuh Raja mereka. Kamu gak usah Khawatir, aku akan melindungimu." Aku menenangkan Sonia, agar dia tidak semakin bersalah.
Setelah Sonia tenang, aku pergi menjenguk Mia yang aku tinggalkan di Rumah Sakit. Ayung dan Shiro yang entah hilang kemana, malah berada di kamar Mia yang sedang terbaring sakit.
"Dasar ****** kirain mental ke negara mana, ternyata malah ngendok disini!" Aku langsung memandang Ayung Kesal.
"Kirain kamu udah ngalahin Sonia, jadi aku dan Shiro langsung aja kesini." Ayung membuat alasan yang tidak jelas.
"Au ah" Aku langsung membuang muka dari Ayung, lalu berjalan mendekati Mia.
Aku menyentuh Dahi Sonia, lalu mengeluarkan Skill Penyembuh.tanpa rapalan. Saat Mia bangun, dia langsung menjadi panik, dan langsung memelukku.
"Tenang aja, Mia. Aku udah mengalahkan mereka semua. Kamu tidak usah Khawatir, selama masih ada aku kalian akan aman bersamaku." Aku menenangkan Mia, dan dengan senyuman yang tulus aku mengelap Air mata Mia yang menempel di pipi Chubbynya itu.
Setelah suasana sudah agak tenang, kami pun melanjutkan Tour kami yang tertunda. Dengan Senyuman yang melukis senja, akhirnya Tour kami berjalan Lancar.