Become Strong With Skill Cheat And System

Become Strong With Skill Cheat And System
The defeat of Sakura's school and the end of the festival



Hari ini, tepatnya hari yang diulangi lagi dari awal.


Ahhh Repot!


Sudah 3 hari sejak kejadian itu, akhirnya perayaan festival kembali di mulai. Semuanya di mundur karena kejadian yang mungkin akan di kenal dengan insiden Syuketsu Sai (Festival berdarah).


Mereka mengatakan jika ini adalah penyerangan oleh beberapa ******* yang ingin melarikan diri dari polisi, tapi kenyataannya lebih mengerikan dari itu.


Aku ingin menghidupkan mereka semua, tapi tanpa bantuan Sera, aku tidak akan bisa.


Dan 3 hari lalu, aku dijadikan samsak oleh ayahnya Mia, karena mengira aku ngapa-ngapain Mia. ******* memang v_v


Flashback Three days ago


'Hoaaammmm!!'


"Selamat Pagi dunia!!!" Aku langsung bangun, lalu langsung melompat dari tempat tidur sambil berteriak Ria.


"Berisik!" Teriak Sonia tiba-tiba.


"Ehehehe, maaf-maaf..." Aku tertawa garing sambil menatap Sonia.


"Sudahlah, cepatlah mandi lalu bangunkan Mia. Setelah itu, turunlah kebawah, aku akan memasak." Sonia langsung keluar dari kamar setelah mengatakan itu.


"Haii... Ojou-Sama!" Teriakku dari kamar, lalu mengambil handuk dan baju lalu menuju ke kamar mandi.


Selesai mandi, dengan handuk yang masih menempel di kepala aku mendekati Mia yang sedang tertidur pulas dengan wajahnya yang saking polosnya, bikin aku diabetes.


"Mia, ayo bangun. Sudah pagi loh ..." Dengan suara yang pelan nan lembut, aku membangunkan Mia sambil mencolek pipinya yang lembut itu. Saking lembutnya bikin aku Doki-Doki anjirrrr...


(Njirrrr lebay amat lhu!)


"Lu yang nulis Author Bodoh!"


(Kok aku jadi malu sama tulisan sendiri yah? -_-)


"Bodo amat ...!"


Kembali ke topik, Mia perlahan membuka matanya, lalu menatapku.


"Selamat pagi, Ryu ... Hoaammm ..." Mia langsung duduk di kasur, sambil menyapaku dengan wajah setengah mengantuk.


"Selamat pagi. Cepatlah mandi, lalu turun ke bawah yah. Kita akan makan bersama ..." Aku menatap Mia sambil tersenyum hangat,


"Tapi, aku tidak mempunyai pakaian ganti?" Mia menunduk, dengan wajah malu-malu nya.


"Tenang saja, biar aku yang urus. Cepatlah mandi, lalu turunlah kebawah" Aku menatap Mia Serius, lalu mengelus kepalanya.


"Baiklah, Ryu." Mia tersenyum malu, dengan wajahnya yang memerah.


Setelah Mia menuju ke kamar mandi, aku membuka PlayShop ku, lalu mencarikan baju yang cocok dengan Mia. Aku pun menukan sebuah pakaian yang pastinya terlihat cocok dengan Mia.


Setelah meletakkan pakaian Mia di kasur, aku keluar dari kamar lalu turun ke bawah untuk membantu Sonia di bawah.


"Wah, banyak juga yang kau masak yah! Wahhhhhh... Ada ayam goreng sama bakar. Arigatou Sonia!" Aku dengan wajah bahagia, menatap semua makanan yang dibuat Sonia.


"Khukhukhu... Watashi wo Yoku sanbi suru!" Sonia menggunakan bahasa Jepang, dengan sombongnya sambil berkacak pinggang.


"Hai-hai, Sonia-Sama. Ore no Suki Gohan no tabetai ga, Arigatou Gozaimashu!" Aku dengan posisi menunduk kayak ksatria, berterima kasih kepada Sonia dengan sok bangga -_-


(Neko-Note : Watashi wo Yoku sanbi suru : Pujilah aku lebih baik lagi.


Ore no suka Gohan no tabetai ga, Arigatou Gozaimashu : Karena sudah membuatkan makanan kesukaanku, terima kasih banyak.


Ini Translate manual, tanpa google Translate. Jadi, kalau ada yang salah, saya mohon maaf)


Saat aku tengah terpaku dengan masakan yang ada di atas meja, Mia dengan wajah memerah dan menunduk, turun ke bawah sambil menatapku malu-malu.


"Ryu, bagaimana?" Mia menatapku dengan malu-malu.


Rasanya, saat melihat Mia aku pengen sekali bilang 'Moe-Moe Kyun' tapi tidak aku lakukan karena itu sangat memalukan. Tapi, aku menatap Mia dengan mata yang berbinar-binar. Saking imutnya., hampir melampaui kecantikkan dari sonia sebesar 30%.


"ka-kamu benar-benar imut!" Aku langsung menyodorkan jari jempolku, dengan mata yang berbintang-bintang....


"Be-benarkah?" Mia dengan ekspresi malu-malu menatapku.


"Oy, cepat makan atau gua bunuh kau!" Sonia langsung menatapku dengan Aura yang kian memekat. Njirrr menakutkan nih cewek


"I-Iya ..." Aku dan Mia menunduk pelan dengan wajah takut, lalu duduk dengan tenang di meja makan.


"Oke, selamat makan ...!"


"Se-selamat makan ..." Sonia mulai memulai makannya, dan aku dan mia juga tapi dengan pelan karena Aura Sonia makin kuat


Setelah makan, kami langsung bersiap dan berdiri di depan Rumah.


"Ryu, kamu harus mengantar Mia ke rumahnya. Kasihan orang tuanya pasti mencari Mia dari semalam." Sonia menatap Mia dengan Khawatir.


"Ehhh... Aku!?" Aku langsung menatap Sonia tidak percaya.


"Iyalah, emang siapa lagi?!" Sonia langsung membentakku, dengan mata membunuh.


"Ah, tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri ..." Mia langsung memotong perdebatanku dengan Sonia, dengan wajah khawatir.


"Tidak. Ryu itu laki-laki, dia harus bertanggung jawab!" Sonia kembali memarahi Mia, dan saat itu juga Mia terdiam seribu bahasa.


15 menit berlalu, tidak ada yang memulai percakapan, hingga suasana mencekam kek di kuburan tercipta di antara kami. Aku pun, langsung berpikir jika harus memulai percakapan.


"Oke, biar aku yang mengantar Mia, lalu bagaimana denganmu?" Aku langsung membuka percakapan, lalu menatap Sonia penasaran.


"Aku mau belanja sebentar. Sampai jumpa! " Sonia tersenyum manis, lalu pergi meninggalkan kami berdua.


"Baiklah, Mia ayo kita pergi. " Aku tersenyum di hadapan Mia.


"Umn, ayo... " Mia mengangguk sambil tersenyum manja, Eya.


Kami berjalan menuju rumah Mia, dan sesuatu yang membuatku tidak bisa berkedip.


ITU RUMAH APA GEDUNG PUTIH? BESAR BET ANJING!


"Ryu, kamu mau masuk? " Mia menatapku.


"Ahh... Gak deh. Nanti aja aku mampir, aku juga masih punya urusan lain. " Aku berusaha mengelak, karena aku takut di Smackdown sama ayahnya.


"Yaudah, aku masuk dulu yah. Sampai jumpa, Ryu... " Mia melambai ke arahku.


"Yaudah, aku pergi dulu yah. Dahh, " aku membalas lambaian Mia, lalu melangkah pergi dari rumah Mia.


Saat aku sudah hampir jauh dari rumah Mia, ada seorang petani yang menghampiri aku.


"Kamu siapa?" Tanyanya sambil menatapku penasaran.


"Aku Ryu, ada perlu apa pak?" Aku bertanya seramah mungkin, agar dia tidak gusar.


"Apa kamu temannya Mia?" Tanyanya lagi.


"Iya, ada apa yah pak? Aku jadi bingung." Aku menggaruk kepalaku bingung.


"Jadi, apa yang Kalian lakukan sampai pulang jam segini? " Tanyanya Serious.


"Oh, semalam Mia tidur di rumahku, dan-" *Jduk* Pak tua itu memukulku lalu menarikku menuju ke dalam rumah.


"Beraninya, kamu menyentuh anakku dasar bocah sialan! "


*Bugh*


*Pletak*


*Dugh*


*Duarrr*


Badanku udah kayak lempem bakar, karena dipukuli oleh pak tua itu. Jujur saja, jika aku mau aku bisa membunuhnya dengan cepat tapi tidak aku lakukan.


"Anata, apa yang kamu lakukan? " Aku mendengar suara wanita yang menurutku, sangat menyeramkan.


Suara yang bisa membuat bulu kuduk para lelaki berdiri, bahkan mampu menghancurkan mental mereka hanya dengan kata-kata. Satu lagi, matanya kayak iblis.


"Ah itu, anu dia membawa Mia lalu memperkosanya! " Pak tua itu menatapku marah, tapi keringat terlihat berjatuhan dari Wajahnya.


"Hei! Aku tidak pernah melakukan itu! " Aku berteriak, karena merasa di fitnah. Iyalah jika benar, aku pasti akan menikahinya tapi aku aja belum dapat jatah!


"Anata, kamu akan aku hukum 10X malam ini! " Dengan senyum miringnya.


Aku dan pak tua itu, langsung bergidik, tapi aku menatap pak tua itu sambil tersenyum puas. Hukuman apapun itu, selamat menjalani neraka kalian.


"Dan kau, anak muda. Kamu Siapanya Mia?" Wanita itu menatapku dengan mata yang menyeramkan.


"Ah-Hai!?" Aku menjawab dengan gugup.


"Jawab dengan singkat dan padat!" Ancam wanita itu.


"Emang mau pidato apa harus ringkas dan rinci ..." Jawabku ketus.


"Hoho.... Kamu berani juga yah, bocah ..." Tatapannya langsung menjadi tajam dengan senyum miring.


"Eh, ah tidak. Itu aku pacarnya!" Aku menjawab dengan panik sampai aku menjadi gugup Pucat.


'Sialan, salah ucap bgst!' teriakku dalam hati.


"Apa!" Wanita itu langsung terbelalak.


"Eh, tidak! Itu, anu? Umnnn?" Kata-kata ku menjadi tidak jelas.


"Mia! Kemari sekarang!" Teriak wanita itu, dengan sangat kuat.


"Iya Bu!" Balas Mia cepat, dan langsung menuju ke mari.


"Kenapa Bu? Eh, Ryu?" Mia menatapku heran.


"Yoo ..." Jawabku mengangkat tangan, sambil tersenyum kecut.


"Ryu, kenapa wajahmu?" Mia langsung mendekat sambil menyentuh wajahku.


"Sakit Mia, Aduhh ..." Ringisku pelan.


"Maaf!" Mia langsung menarik tangannya.


"Mia, apa kalian beneran pacaran?" Tanya ibunya tiba-tiba.


"Eh..??" Mia menatap ibunya heran.


"Eh..?!" Ibunya balik bingung sambil memiringkan kepalanya.


"Ayayayayayyy ..." Aku dan ayahnya Mia sama-sama menggeleng-gelengkan kepala Pasrah.


"Itu, Anu ..." Mia menjadi bingung bagaimana menjawab.


"Oh, begitu yah? Apa kalian sudah sudah ... uWu?" Tanya ibunya Mia dengan wajah yang berubah menggoda.


"Gak mungkin begitulah!" Jawabku dan Mia bersamaan dengan kesal.


"Baiklah, kalau kalian gak mau jujur. Ryu mulai sekarang panggil aku Ibu .." 


Ucap Ibunya Mia dengan bangga.


"Gak mungkin, lah. Aku kan masih punya ibu ..." Jawabku sambil mengibaskan tanganku.


"Dasar bocah. Aku akan menjadi mertuamu, jadi mulai sekarang panggil aku Ibu! Titik!" Wajah ibu Mia menjadi gelap.


"Tapi ...?" Aku menatap Mia, dan hanya dibalas dengan gelengan.


Aku lalu menatap ayahnya Mia.


"Ryu, yang tabah yah. Aku sebagai ayah mertuamu, akan mendukungmu ..." Ayah Mia mengelus punggungku.


"Hahhh, baiklah. Mohon bantuannya" aku membungkuk dengan wajah sedih dan pasrah.


Back to today.


Sekarang, anak-anak siswa siswi SMA Garuda dan Sakura sedang berbelanja di sebuah warung kecil yang di buat oleh siswa Garuda.


Ada juga beberapa Dari murid SMA Sakura yang membuka lapak, hanya untuk mencari uang jajan tambahan, atau setidaknya cari muka di depan murid cewe dan Gurunya.


『Kepada Hikaru Ryu, silahkan menuju ke Panggung untuk lomba menyanyi』


Aku langsung menuju ke Panggung utama di tengah sekolah, dan menatap Seorang lelaki yang agak pendek, dan wajahnya hampir tak punya ekspresi.


Lomba menyanyi di mulai, dan kami mulai mengeluarkan suara emas ku.


Sudah banyak murid yang gagal, dan tersisa aku sama lelaki itu.


『Baiklah, tersisa 2 peserta lagi. Yaitu, Arya Paputungan dari SMA Sakura, dan Hikaru Ryu dari SMA Garuda Elite. Baiklah finalnya akan di mulai dari sekarang, dan Arya tunjukkan Bakamu』


6 menit kemudian, Arya mendapatkan nilai 9 dari ke lima juri yang berarti 45 Poin.


Dan sekarang giliran ku, aku menyanyikan sebuah lagu yang sangat disukai ku dan sahabatku Ayung.


Sodetake ga obotsukanai natsu no owari


Akegata no densha ni yurarete omoidashita


Natsukashii ano fuukei


Takusan no toomawari wo kurikaeshite


Onaji you na machinami ga tada toori sugita


Mado ni boku ga utsutteru


Kimi wa ima mo ano koro mitai ni iru no darou ka


Hishagete magatta ano jitensha de hashirimawatta


Bakabakashii tsunawatari hiza ni nijinda chi


Ima wa nandaka hidoku munashii


Dore dake setake ga kawarou tomo


Kawaranai nanika ga arimasu you ni


Kudaranai omokage ni hagemasare


Ima mo utau ima mo utau ima mo utau


Sewashinaku machi wo hashiru takushii ni


Bonyari to seoware ta mama kushami wo shita


Mado no soto wo nagameru


Kokoro kara furueta ano shunkan ni


Mou ichido deaetara ii to tsuyoku omou


Wasureru koto wa nai nda


Dore dake setake ga kawarou tomo


Kawaranai nanika ga arimasu you ni


Kudaranai omokage ni hagemasare


Ima mo utau ima mo utau ima mo utau.


Selesai bernyanyi, para juri dan anak murid sekolah kami langsung berdiri dan memberikan tepuk tangan yang sangat meriah.


『Menurut dari penilaian juri, peserta Hikaru Ryu berhasil mendapatkan poin terbanyak dengan selisih 5 poin. Maka, pemenang dari Festival music master adalah Hikaru Ryu!』


"Wooooo!!!" Semua orang bersorak dengan bangga, dan aku di berikan uang 20 juta sebagai pemenang Festival Music Master.


『Dan untuk pemenang kelas paling bergengsi di Festival, dengan Kelas terindah dan pelayanan terbaik di dapatkan oleh... Selamat untuk Kelas 1-2 Garuda...!! 』


"Woooi yuhuuhujuhu!!!" Berbagai sorakan terdengar selama festival, dan kami mendapatkan Uang 30 juta dan juga pemasukkan dari pelanggan sebesar 10 juta menjadi milik kami semua.


........................................................................


Selesai acara, kami berkumpul kembali di Ruangan kelas kami. Kami membersihkan kembali kelas kami, dan mengatur tempat duduk sambil mengumpulkan semua barang-barang sisa festival ke gudang.


Selesai semuanya, aku duduk di tempat duduk guru.


"Baiklah, semuanya tolong duduk di tempat masing-masing, karena ada yang ingin aku katakan kepada kalian semua!" Aku menatap mereka dengan wajah datar, dan mereka mulai duduk dengan Rapi di tempat masing-masing.


"Apakah semua murid lengkap, atau ada yang sudah pulang?" Tanyaku dengan datar.


"Lengkap semua ketua!" Jawab si pria kekar Gentle sialan.


"Ahh, syukurlah. Jika ada yang pulang, mereka tidak akan mendapatkan imbalan" Jawabku sambil menghela nafas lega.


Para murid langsung menunjukkan wajah bersyukur, sambil mengelus dada mereka Lega.


"Baiklah, siapa yang menjadi Bendahara?" Aku menatap mereka 1 per-1.


"Saya, ketua ..." Lily mengangkat tangannya dengan kepala tertunduk.


"Oh, dan satu lagi. Siapapun yang mengurangi atau mengkorupsi uang pemasukkan, maka tidak akan aku berikan imbalan juga ...!" Aku langsung menyela Lily.


"Anu?" Lily menjadi bingung harus menjawab apa.


"Baiklah, Lily. Beritahu berapa pemasukkan kas di kelas kita, dan beritahu sisa dari makanan dan detail nya." Aku menatap Lily malas.


"Baik. Jumlah pemasukkan, sebesar 10 juta. Dan sisa makanan dan bahan masakan, masih tersisa 2 box. Dan semuanya tidak ada pengurangan." Jelas Lily lengkap.


"Baiklah, Berarti, kelas kita hanya berjumlah 20 orang di dalam kelas, berarti kita akan membagikan uangnya kepada 20 orang." Kelasku singkat namun padat.


"Ketua, bukannya di kelas kita ada 21 orang termasuk ketua?" Tanya Lilo tiba-tiba.


"Ah, aku tidak perlu. Itu semua usaha kalian ..." Aku tersenyum kepada mereka.


"Terima kasih, ketua." Ucap mereka bersama.


"Baiklah, Mia ayo maju kedepan!" Aku memanggil Mia untuk menceritakan detail pendapatan semua.


"Baik, Ryu." Mia mengiyakan panggilan ku, lalu menuju ke depan papan.


"Kamu jelaskan semua penda-"


"Permisi!"


Sonia tiba-tiba masuk bersama dengan Waketos kampret di belakangnya.


"Kamu ngapain, Ketos kampret?" Tanyaku kesal.


"Apa kamu bilang!" Waketos itu langsung memegang kerahku.


"Kamu berani mukul aku? Hah! Pukul aku dapat duit aku!" Ucapku dengan lantang.


"Sialan!" *Jduk* Waketos itu memukuliku, hingga termundur kebelakang.


"Oy, sialan! Beraninya kau menyentuhku!" Aku menundukkan kepalaku, tanpa sadar Aura gelap mulai terpancar dari badanku.


"Ryu, sudah hentikan Ryu." Sonia langsung memelukku dengan erat.


"Ketua, kenapa malah dia yang kamu peluk?" Tanya Waketos sialan itu dengan wajah sedih.


"Diam kau! Kau dalam masalah besar!" Sonia langsung menatap Waketos itu dengan tajam.


"Dasar murid sialan!" *Plak* Waketos itu menampar wajahku, lalu ditahan oleh teman sekelas ku.


Aku kembali terhuyung, kali ini wajahku tertunduk. Aku menggertakkan gigiku, lalu berjalan perlahan menuju ke arah Waketos itu.


"Ryu hentikan Ryu. Mia tolong tahan Ryu, cepat!" Sonia berteriak meminta bantuan kepada Mia, karena tubuhnya perlahan terdorong kebelakang.


"Ah, baik!" Mia tidak tau mau berbuat apa, lalu Mia memelukku dari belakang juga.


"Ryu, tolong tahan emosimu, kita selesaikan baik-baik saja, oke?" Sonia berusaha membujukku.


"Iya, Ryu. Tolong jangan terbawa emosi. Nanti kamu hanya mendapatkan kerugian!" Mia juga berusaha membujukku.


'huhhhhh....hahhhhh.....'


Aku menarik panjang nafasku, lalu menatap kembali Mia dan Sonia dengan lembut.


"Baiklah, Waketos sialan, kali ini aku akan membiarkanmu. Tapi ingat! Jika kamu berani menyentuhku dan juga kedua wanitaku, akan kubuat kau menyesal di neraka!" Ucapku dengan tatapan tajam ala Psychopath.


"Sudah-sudah. Jangan di perpanjang lagi." Sela Sonia.


"Oi, bgst. Ayo kita selesaikan urusan kita di luar!" Ucap Waketos itu tidak terima.


"Gak usah, aku takut ..." Ucapku sambil mengeluarkan ekspresi remeh.


"Halah takut, Cemen kau jadi laki-laki!" Waketos itu mencoba memprovokasi ku.


"Gak apa-apa, aku Cemen. Aku memang takut, karena kamu cuma sendirian ..." Jawabku simple.


"Ahahaha... Aku sendiri saja sudah cukup." Waketos itu meremehkan orang OP rupanya dasar anak didikan monyet.


"Alah, sudahlah. Malas aku ..." Aku membuang wajah malas.


"Apa kamu lupa tugasnya, wakil ketua OSIS?" Tanya Sonia dengan wajah dingin.


"Maafkan saya, ketua" Waketos itu meminta maaf.


"Baiklah, kita kembali ke tujuan, yang pertama terima kasih karena sudah berhasil mengharumkan nama SMA Garuda, dan Ryu selamat atas kemenangannya" Sonia menatapku penuh arti.


"Sama-sama, Sonia." Aku membalas senyuman Sonia.


"Baiklah, Ryu. Silahkan lanjutkan pidatomu." Sonia mempersilahkan aku.


"Mia, lanjutkan yang tadi jelaskan total pendapatan dari Lomba kelas dan Menyanyi, di tambah dengan pemasukkan uang kas kita." Perintahku.


"Baiklah, pendapatan dari juara 1 lomba Vokalia, berjumlah 20 juta. Lalu desain dan pelayanan kelas terbaik, juga juara 1 berhasil mendapatkan 30 juta. Dan terakhir pemasukkan dari hasil penjualan, kurang lebih 10 juta. Jadi total dari kesemuanya adalah 60 juta" Jelas Mia.


"Baiklah, untuk pembagiannya, saya Ryu akan mendedikasikan 10 juta untuk OSIS, atas kerja keras mereka dalam festival untuk menjaga keamanan. Dan sisanya akan kita bagi Rata." Aku membentuk Piece di depan mereka.


"Wayyyyy!" Teriak seisi kelas dengan gembira.


"Terima kasih, Ryu. Tapi, cukup bagikan saja kepada anggota OSIS, aku gak usah"


"Aku juga gak usah. Aku masih punya uang banyak ..." Waketos kampret itu juga sok-sokan ikut.


"Hoho... Kamu dermawan juga ..." Aku tertawa hina di depannya.


"Diam kau!" Ancam Waketos itu.


"Kenapa Sonia gak ambil bagian juga?" Tanyaku penasaran.


"Kan ada Ryu hehehe..." Sonia tertawa cekikikan di depanku.


"Ah, ini nih... Tapi sudahlah" aku dengan malas mengalihkan pandanganku.


"Baiklah, berarti masing-masing akan mendapatkan 2,5jt untuk 1 orang. Pergunakan uangnya baik-baik, dan jangan buat hura-hura aja. Kalian dengar!?"


"Baik ketua!" Jawab mereka serempak, lalu aku mulai membagikan uangnya.


Selesai membagikan uang kepada seluruh murid, aku dan Mia langsung mengambil tas kami untuk pulang sekolah bersama.


"Sonia, apa kamu akan pulang bersama atau gimana?" Aku menatap Mia.


"Ah, iya. Aku akan mengambil tasku sebentar di ruangan OSIS, lalu akan menyusul kalian berdua. Kalian tunggu aja di depan pagar." Jawab Sonia, lalu berlari ke ruang OSIS untuk mengambil Tas.


Aku dan Mia menunggu di depan pagar, dan tak berapa lama Sonia menyusul aku dan Mia di depan. Kami pun pulang bersama-sama dengan tentu saja Sonia pulang ke rumahku. Hadehhh.... Apes... Apes...