
Saat di dalam Rumahku, Sonia duduk di sofa depan tv kamarku. Tapi, dia kayak selalu bergerak, udah kayak ular kebelet kawin. Dan wah ada sambel kental di Sofa.
Aku pun memperhatikan lebih jauh, kek ada bau ****** di seluruh ruangan. Dan Ouch coba saya tanyakan pada yang bersangkutan.
"Ummnnn, Sonia? Kenapa kamu nyimpan sambal di kantung celana? Liat tumpah tuh!" Aku menatap Sonia sambil memicingkan mataku.
"Ehhh? Sambal?" Sonia melihat kebawah.
"Wahhhh!!! Bocor? Aduh, gimana nih Ryu? aduhhh..." Sonia tiba-tiba panik, sambil melihat kiri kanan tapi aku tidak tau harus buat apa.
"Wah! gimana aku tidak tau?" Aku balik sok panik, dengan tampang bodohku.
"Ryu ... Aku minta tolong dong ..." Sonia menatapku dengan mata memohon yang umnnn lumayan sangat imut.
"Gak ah... Gak!" Aku menolak mentah-mentah, permintaan Sonia. Enak aja.
"Aku mohon, Ryu. Beliin pembalut dong. masa kamu rela liat aku jalan kek gini ..." Sonia membuat mata yang lebih imut lagi hingga jantungku rasanya udah kayak mau tancap gas kabur dari kenyataan.
"Zettai Ni iia!" Aku menolak mentah-mentah dan spontan plus tegas kepada Sonia. Enak aja, aku disuruh beli pembalut. Dikira aku cowok melambai kek Lu Love Luna lagi!
"Aku mohon, Ryu. Plea~se" Sonia membuat pose memohon dengan tangan di satukan di hadapanku.
"Huhhh... Iya, baiklah. Tapi lain kali buat persediaan duluan, aku malu tapi demi kamu aku akan pergi!" Aku menghela nafas panjang, dan menyetujuinya. Walaupun dalam hati, Ogah banget bgst!
Aku keluar dari rumah, lalu menekan salah satu tombol di Hpku dan tiba-tiba sebuah mobil sport keluar dari dalam Garasi.
Aku merubah bentuk mobilku, menjadi mobil sedan biasa agar tidak terlalu mencolok. Yah, aku sudah merubah mobilku menjadi lebih canggih Bro!
Di tengah jalan, aku memutar musik dengan Bit di atas rata-rata demi menghilangkan rasa ngantuk.
'Sonia Kampret malah di suruh beli Gorden Kecil ***!'
Aku mengumpat sepanjang jalan, tapi seandainya aku bisa mengatakannya secara langsung... Impossible Brooo!
Aku mencari toko besar yang jauh dari kampung halaman, karena aku malu di tanyain sama opa-opa kepo yang tak tau diri.
Sesampai di toko Maret-April, aku langsung mengambil sekaleng jus Bear brand sama Gorden kecil milik Sonia.
Saat aku meletakkan belanjaanku di meja kasir, entah kenapa ada tatapan jijik dari penjaga kasir yang hanya aku bodi amatin saja. Tapi, dalam hati pengen aku pelintir tuh mata Ampe tembus telinga.
"Om, mesum jan kelebihan. Ampe beli Pembalut wanita! Hahahaha" Suara seorang cewe langsung menghinaku aku pun balik menatapnya.
"Mesum bapak kau makan tempe campur teripang. Ini buat pacarku anying!" Aku membalasnya dengan kesal.
"Emang udah Ampe ronde keberapa?" Tanya cewe itu lagi.
"Ronde-ronde bapak kau bau tawes! Udah lu jan bawel gua pelintir juga lu, kualat lu!" Aku langsung keluar tanpa menghiraukan lagi ejekan mereka dan bersumpah dalam hati.
'Gak lagi-lagi dah aku beli ginian! Harga diriku jatuh Ampe pusat bumi anjing!'
Aku pun langsung menaiki mobilku, ala-ala Dominic Toretto memacu mobil sambil ngedrift, dan akhirnya sampe juga di rumah. Aku masuk ke dalam kamar, aku melihat Sonia yang terduduk lemas di atas sofa.
Aku yang tadinya mau marah, malah menjadi iba, dan berakhir aku menggendongnya menuju ke kamar mandi, lalu Sonia menatapku dengan wajah malu.
"Ryu, kenapa kamu ikut ke kamar mandi?" Sonia menundukkan kepalanya, sekali-kali melirikku tapi dengan pipi yang memerah.
"Ah, aku lupa. maaf. Ini Gordenmu, cepat pakai lalu tidur." Aku langsung keluar dari kamar mandi tanpa memperdulikan Sonia yang masih malu-malu.
Aku langsung berbaring di kasur, dan menutup mataku. Dan akhirnya aku tertidur malam itu dengan sanga~t nyenyak.
Saat aku bangun pagi-pagi sekali, aku melihat Sonia yang tidur di sampingku. Aku merasa gugup, tapi aku segera menarik nafas yang sangaaaattttt panjang hingga aku keselek ludah sendiri. Lalu menghembuskannya dengan kasar. Namanya juga keselek.
"Lebih baik aku mandi saja!" Gumamku pelan, lalu langsung menuju ke kamar mandi. Mandi, pakai sabun, siram badan selesai.setelah selesai memakai seragam dan lain-lain, aku pergi menuju tempat tidur, sambil tersenyum menatap gambar bidadari cacat tanpa sayap di hadapanku.
aku menyolek pipi Sonia dengan pelan, dan pipinya yang kenyal itu kayak ada kandungan zat adiktif yang sangat banyak. Bikin ketagihan terus.
Aku tersenyum menyeringai, dan mulai menyolek, menyolek, menyolek, menyolek terus pipi Sonia dan ...
"Umnhhh, Ryu? apa yang kamu lakukan?" Sonia menatapku yang tengah menyeringai sambil menyolek pipinya.
Aku pun kaget, dan langsung mengangkat tanganku yang susah di angkat sebenarnya. Tapi aku dengan terpaksa mengangkat nya.
"Ehhh, itu? Aku cuma penasaran kenapa pipimu lembek kayak slime? apakah yang lainnya juga kayak slime?" Aku tanpa berpikir mengeluarkan kata-kata tabu, dan seolah sadar aku langsung menutup mulutku.
'Shimatta ...!' Teriakku dalam hati dan menatap Sonia panik
"Massakha?" Sonia menatapku dengan tatapan jijik lalu memeluk dirinya sendiri sambil menjauhi diriku sejauh 5 meter hingga dia tersandar di dinding.
"Ehhh... Tidak, bukan... bukan. Aku hanya ingin membangunkanmu, dan aku malah ketagihan karena wajahmu sangat cantik saat tidur dan pipimu yang tembem itu aku malah menyoleknya." Aku berusaha mencari alasan, dan entah kenapa Sonia malah memerah. Udah kayak tomat diracun.
"Be-benarkah?" Sonia menundukkan kepalanya dengan rona merah di pipinya.
"I-iya, benar. Btw kamu sekolah gak?" Aku mencoba mengalihkan topik.
"Ummnnnn? Iya, soalnya ada acara pergantian ketua OSIS di sekolah." Sonia menatap keatas, dengan jari telunjuknya menyentuh dagunya. Posisi yang sangat Kawaii.
"Baiklah. cepat mandi sana dan pakai seragam. Biar aku yang memasak." Aku menatap Sonia datar padahal perlahan gula darahku naik lagi hingga batas abnormal.
"Emang kamu bisa masak?" Sonia menatapku curiga.
"Heh! Jangan remehkan koki handal seperti ku!" Aku meletakkan tanganku di pinggang dengan mode sombongku.
"Aku tidak percaya!?" Sonia malah menatap aku dengan wajah jijikny.
"Cepat mandi! Gak usah bacot!" Aku langsung kesal dengan Sonia, dan langsung menuju ke dapur untuk memasak.
Akan aku tunjukkan, gimana rasa masakan ala Jepang spesial dan terenak di dunia, yang tidak ada duanya ahahahahaha.....
Saat di dapur, aku mulai mempersiapkan semua bahan yang aku butuhkan melalui Smartphone ajaibku.
Aku membuat beberapa menu Jepang seperti Omelette, Tako Yaki, lalu Kue Tar. Sedangkan minuman, aku membuat Jus Alpokat untukku dan Strawberry untuk Sonia.
Aku membuatnya sesuai dengan rasa yang ada di restoran waktu itu, tapi ini versi sempurnanya. Bahkan, orang Jepang saja akan ketagihan kalau aku buka toko disana.
Sonia datang ke dapur, dan melihat banyak sekali makanan di atas meja. Yah, walau hanya 2 jenis, aku membuat agak banyakan agar bisa untuk bekal kesekolah juga.
"Ini semua masakanmu, Ryu?" Sonia menatapku dengan mata berbinar.
"Yah, akulah. Emang setan pakboy!" Aku menatap Sonia kesal.
"Tapi, apakah ini bisa dimakan?" Sonia menatapku dengan tidak takin.
"Yaudah! Kamu gak usah makan kalau gak mau!" Aku langsung membiarkan Sonia, lalu mulai mengambil makanan di meja untuk sarapan.
"Yaudah, aku makan! Tapi kalau aku mati, kamu tanggung jawab yah!" Sonia menatapku dengan kesal.
"Tcih! Rasain dulu baru protes!" Aku langsung merasa kesal dengan Sonia.
"Hmph!" Sonia membuang muka dariku, dan mulai memakan makanan di atas meja.
Sonia menutup matanya, sambil memasukkan sendok ke mulutnya. Saat sesuap makanan itu menyentuh lidahnya, matanya langsung berbintang-bintang. Dengan cepat dia memakan semua makanan di atas meja.
Untung aku sudah menyiapkan Bekal kami berdua, karena aku tau Sonia bakal melahap semua makanan yang ada di atas meja.
Selesai makan, Sonia menatapku dengan senyuman manis bak Psychopat yang sedang melihat mangsa lagi Mencret.
"Masakanmu enak, Ryu. Tapi aku masih lapar ..." Sonia menjilati bibirnya, sambil menatapku dengan senyuman mengerikan.
"Tunggu, kenapa kamu menjilati bibirmu?" Aku menatap Sonia, udah kayak natap Arwah Banci gentayangan. Menyeremkan Coy.
"Aku lapar!" Sonia mendekatiku, dengan gaya erotis yang sangat menggoda, sambil menjilati Bibirnya.
"Tu-Sonia!!! Aaaarhhhhhhhh!!!" Dan jangan tanya apa yang terjadi Kawan!
Kami sampai disekolah, dan entah kenapa aku merasa kesepian. Biasanya, ada satu lagi Loli yang akan menungguku di depan Pagar.
"Ryu, aku duluan yah! Sampai ketemu saat jam istirahat nanti." Sonia meninggalkanku, karena punya urusan di ruangan OSIS.
Saat didalam, aku melihat Mia sedang bercanda dengan Adrian dengan sangat Mesra.
Tanpa memperdulikan mereka, aku langsung duduk saja di tempatku dengan tampang Bloonku. Sambil bergumam 'Bodo Amat' dan duduk dengan tenang.
Mia sekilas menatapku, tapi aku tidak memperdulikannya. Aku menutupi wajahku dengan buku, dan mulai molor.
Saat jam istirahat, aku langsung mengambil bekalku, lalu pergi ke WC. Jangan salah sangka Bro! Aku tuh, ngambil bekal lalu ke WC lalu Teleport menuju Atap sekolah.
Aku memakan Bekalku habis, Lalu duduk dengan tenang di atas Atap sambil menatap ke arah lapangan Sekolah.
"Entah kenapa, aku merasa sedih?'' Gumamku sambil melihat ke atas.
Saat suara Bell berbunyi, aku tidak masuk ke kelas dan memilih untuk berdiam diri di atas atap hingga jam sekolah berakhir.
Setelah jam 03:30 Jam sekolah berakhir, aku masih duduk di atas atap sekolah. Tapi, pandanganku terfokus pada lelaki dan perempuan yang berjalan ke arah gerbang.
Aku penasaran, karena mereka berjalan ke arah yang sebaliknya. Itu bukan arah ke rumah Mia *****! Mereka pasti mau Kenthu! Kalau benar, bakal aku ledakin nih Negara.
''Create - Fly!'' Ucapku lantang, lalu Skill Fly langsung ada di Statusku. Aku pun mulai mengambang, lalu aku menggunakan God's Eye untuk mengetahui apa saja yang mereka lakukan, dan bicarakan.
"Mia, aku ingin mengatakan sesuatu ..." Adrian memegang tangan Mia sambil menatap matanya.
"A-apa, Rian?" Mia merasa gugup dengan perkataan Adrian.
"Apa kamu mau menjadi Pacarku!" Adrian menatap Mia dengan penuh perasaan, dan itu membuat seketika menjadi bingung dan gugup.
"Ba-baiklah, tapi kamu janji akan setia ..." Mia menundukkan kepalanya, dan wajahnya menjadi merah.
"Makasih, Mia. Aku berjanji!" Adrian memeluk Mia, dan ahhh.... Entah kenapa Hatiku menjadi tidak enak.
Adrian mendekatkan kepalanya ke arah Mia, lalu... Cup!
"AAAAARRRGGGGHHHHHH!!!! SIALANNN!!!!"
*Duarrrrrrrr*
Karena kesal, aku berteriak sekuatnya tanpa menghiraukan orang-orang yang ketakutan. Dan tanpa sengaja menghancurkan Hutan di belakang sekolah hingga terbentuk kawah sepanjang 50 meter kedalam dengan luas 1 KM.
Tentu saja aku kesal, aku belum pernah mencium Mia atau Sonia, pernah dengan Mia tapi itu tidak sengaja Kan!!! Anjirlah...
Karena suasana hatiku memburuk, aku kembali ke atas atap sekolah. Dengan kepala tertunduk, aku menuruni tangga.
Saat aku hampir di depan gerbang, aku melihat Mia dan Adrian yang lewat sambil berpegangan tangan.
Saat melihat mereka, aku pura-pura tersenyum sambil tetap berjalan ke depan pintu Gerbang.
"Yoo! Makin mesrah aja, kayak Pohon mangga Kembar!" Aku berpura-pura melucu, karena mereka kayak Benalu yang numpang hidup sama inangnya. Cari kesempatan Bro!
"Ryu, ada yang ingin aku katakan ..." Mia dengan segera melepas tangan Adrian, lalu menatapku dengan ekspresi takut dan ragu.
"Kalian sudah pacaran yah? Gak apa-apa. Jika itu bisa memberimu bahagia, maka jalankan saja." Aku tersenyum kepada Mia, sambil mengelus kepalanya,
"Umn! Makasih, Ryu" Mia tersenyum manis, dan terlihat jika Mia masih sama seperti dulu. Dia menikmati elusanku.
"Tcih!" Adrian berdecak menatapku, tapi aku tidak menghiraukannya.
"Ryu, apa kamu mau kerumahku?" Mia menatapku setengah berharap.
"Ummm? Bukannya kalian berdua akan pulang bersama-sama?" Aku menatap Mia ragu, karena aku juga merasa tidak enak dengan Adrian.
"Ini Pribadi dari Mama sama Papa. Mereka bilang kamu harus kerumah." Mia menatapku dengan mata memohon, agar aku ikut.
"Baiklah, tapi apakah tidak apa-apa?" Aku menatap sekilas kepada Adrian, lalu menatap Mia kembali.
"Tidak apa-apa, karena Mama yang minta!" Mia meyakinkan aku lagi dengan nada memaksa. Yah, aku tau gimana ekspresi Ibunya Mia saat marah. Bahkan raja iblis saja akan lari kocar-kacir.
"Ba-baiklah, aku akan datang." Aku mengibaskan tanganku di depan Mia, karena aku takut jika Mamanya Mia marah. Bisa-bisa, aku dimutilasi lalu diberikan kepada Buaya darat.
"Ayo!" Mia mengajakku masuk ke mobil Adrian, dan kami pun langsung menuju ke Rumah Mia.
Saat di depan rumah Mia, ekspresi Adrian sama dengan ekspresi ku pertama kali kerumahnya Mia. Yah, sultan mah bebas Boy...
"Ahhh... Ryu! Akhirnya kau datang!" Bapaknya Mia, langsung dengan tampang sok akrab Padahal kesal.
"Ahhh... Ryu! Kenapa kamu jarang kemari!" Ibunya Mia langsung memelukku.
"Aduh sesak Tan- Hiiii... " Aku langsung ketakutan, karena ibunya Mia menatapku dengan mata iblisnya.
"Anu ibu, sesak!" Aku memelas kepada ibu Mia.
"Ara? Maaf. Ayo duduk sini" Ibunya Mia duduk di sofa mereka, lalu mengetuk sofa di sampingnya memberi kode agar aku duduk di sampingnya.
Dengan berat hati udah kayak di tumpah 1000 planet, aku terpaksa dengan paksaan duduk di samping ibunya Mia. Sialan! Aku gak bisa melawan!
"Ini siapa, Ryu? Temanmu?" Ibunya Mia menatap Adrian heran.
"Oh, itu pacarnya Mia ..." Aku menatap ke samping dengan malas.
"APA!!!" Ibunya Mia langsung berteriak kaget sampe rasanya gendang telingaku pecah.
"Ibu, kenapa teriak!" Mia menatap ibunya bingung.
"Kamu! Sini!" Ibunya menunjuk Adrian dengan jari telunjuknya, sambil menggerakkan kebelakang. Udah kayak manggil Cowo belang aja, ahahahaha...
"Ke-kenapa Bu?" Adrian terlihat gugup di depan Mia.
"Jangan panggil Ibu! Tante aja!" Ibunya Mia menatap Adrian dengan tajam.
"Ma-maaf, Tante ..." Adrian langsung ciut di depan ibunya Mia.
"Kamu beneran pacarnya Mia?" Ibu Mia menatap Adrian dengan tatapan yang haus darah. Mode Demonnya keluar cuy...
"I-iya Tante ..."
"Terus?"
"Apa Tante?"
"Apa yang kamu suka dari Mia?"
"Semuanya Tante, terlebih hatinya ..." Adrian tersenyum manis di depan ibunya Mia.
"Hueeeekkkk" Aku dan ayahnya Mia berasa mau muntah, saat mendengar kata-katanya Adrian. Fakboy emang!
"Oke, dan kamu yakin sama anakku?" Tanya ibunya Mia dengan nada tekanan tinggi udah kayak di dasar Palung Mariana terdalam.
"I-iya Tante, saya yakin 100% Tante." Adrian seketika merasa terintimidasi dengan perkataan ibunya Mia.
"Oke, pegang janjimu. Sampe Mia kenapa-napa, siap-siap saja rumahmu kejatuhan peluru mortar rasa atom granat?" Ibunya Mia memegang kerah Adrian hingga hampir membuat Adrian kencing di celana. ahahahahaha dasar payung besi
"Tenang aja, Bu! kalau Mia sampe kenapa-napa, biar aku dan ayah yang pelintir dia Ampe kulit buaya nya!" Aku mengacungkan jempolku kepada Ibunya Mia.
"Aku yang jamin!" Ayahnya Mia mengedipkan matanya sekali sambil mengacungkan jempolnya juga.
"Baiklah, kalian yang atur" Ibunya Mia menganggukkan kepalanya, lalu kembali duduk di sofa sambil meminum tehnya.
"Oh iya. Aku di pesan sama ibuku untuk cepat pulang. Aku duluan yah, ayah, ibu!" Aku segera berdiri, sambil menggendong tas sekolah ku lagi.
"Eh, gak mau makan dulu?" Tanya ibunya Mia.
"Nanti aja, dirumah. Aku duluan yah," Aku segera mencium tangan kedua orang tua keduaku, lalu berjalan ke arah Mia.
"Hati-hati yah ..." Aku mengelus kepala Mia, lalu berjalan keluar rumah.
Aku mencari tempat sepi, lalu tanpa merapalkan mantra dukun atau apalah itu, aku berteleportasi ke kamarku lalu berbaring manja ala-ala santuy kaum rebahan di kasurku.
♦♦♦♦