Become Strong With Skill Cheat And System

Become Strong With Skill Cheat And System
Fuck new student



Seminggu setelah hari festival, aku merasa sangat malas untuk pergi ke sekolah. Tapi, karena Sonia dan Mia terus memaksaku hingga membuat tubuhku merah karena cubitan mesra namun menyakitkan, aku memaksakan untuk pergi.


"Ryu! Cepetan nanti kita terlambat!" Sonia menarik paksa tanganku, hingga membuatku terjungkang dengan kepala mendarat sempurna di aspal dingin pagi.


"Oy! Sakit Oy!" Aku menatap Sonia kesal dengan kepala yang masih di atas aspal.


"Ahh... Itu salahmu. Cepatlah, sebelum Bell sekolah berbunyi!" Sonia kembali menarik tanganku, kini Mia yang ikutan menarik.


"Cepetan, Ryu!" Teriak Mia buru-buru.


"Oy Sabar!" Aku langsung menahan tangan mereka hingga membuat mereka terhenti tiba-tiba.


"Kenapa?" Tanya mereka berdua bersamaan dengan wajah bodoh mereka.


"Teleportation ..." Kami langsung berpindah di atap sekolah, hingga membuat mereka terkejoet kayak di setrum oleh listrik 700 V mines 1000.


"Uwah ... Aku lupa jika kamu ternyata bisa sihir unik ini ..." Sonia menatapku kesal.


"Makanya, santai aja kita tidak akan terlambat anjirr!" Aku berteriak kesal, lalu pergi meninggalkan mereka sendiri yang sedang menatapku tidak percaya.


"Etto... Mia?" Panggil Sonia tanpa menatap Mia.


"Kenapa, Kak Sonia?" Jawab Mia tanpa menatap Sonia.


"Apa barusan Ryu marah kepada kita?" Sonia menatap Mia tidak percaya.


"Aku juga merasa dia sedang marah?" Mia juga menatap Sonia tidak percaya.


"Aku kira dia tidak bisa marah, karena biasanya dia selembut Sutra?" Sonia kembali menatap kedepan dengan mata yang tidak percaya.


"Iya, aku mengiranya juga begitu. Tapi ternyata dia kek Fiesta!" Mia membalas kata Sonia dengan menatap juga kedepan tidak percaya.


"Ehh...? Fiesta? Apa?"


"Ehh? Kenapa?"


Mia menatap juga Sonia dengan bingung, karena Sonia menatapnya tiba-tiba. Dan Sonia malah menatap Mia heran karena menyamakan Ryu dengan merek K**dOm.


*Ting-Tang-Tung*


Tak di sangka, ternyata suara Bell masuk berbunyi di tengah lamunan mereka. Mereka tiba-tiba panik, lalu berlari menuju ke kelas mereka masing-masing.


♦♦♦♦


Di dalam kelasku, aku duduk di tempatku seperti biasa. Menutupi kepalaku dengan buku, dan mulai molor dengan kenikmatan tiada tara.


"Selamat pagi anak-anak!" Wali kelas kami masuk, dengan wajah bahagianya.


Aku yakin ada sesuatu yang membuatnya bahagia. Tapi, aku tetap dalam mode Rebahanku.


"Hari ini, kita kedatangan murid baru lho" (Ibu Guru)


"Wah... Semoga cowok Tampan!"


"Kalau Ikemen bakal aku tampol"


"Semoga dia laki-laki cucok."


"Palingan Cupu ..."


Berbagai kata-kata tidak jelas terdengar di dalam kelas, dan itu membuat kepalaku pusing 100 keliling. Bahkan keliling dunia.


"Baiklah, Adrian silahkan masuk ..." Ucap ibu guru mempersilahkan si murid masuk.


Tak berapa lama, seorang Lelaki Ikemen sialan, masuk ke dalam kelas dengan cara berjalan sombong yang mampu membuat hati para wanita bergetar.


Bahkan ada yang merasa bahagia hingga Rahimnya terasa hangat udah kayak di isi Seblak level 100. Dasar Mesum Girl!


"Perkenalkan, namaku Adrian S Crowell. Jangan macam-macam denganku, jika tidak mau dapat masalah!" Adrian menatap seisi kelas hingga membuat mereka menelan Saliva mereka kasar. Tapi itu tidak berlaku bagiku yang hanya menatapnya dengan malas.


"Perkenalan yang cukup Creepy yah. Ahahaha... Silahkan duduk di kursi yang kosong disana." Ibu guru terlihat sedikit takut, lalu mempersilahkan Adrian duduk di kursi kosong samping kanan Mia.


"Bolehkah aku duduk disini, nona cantik?" Adrian menatap Mia sambil tersenyum.


"Wah, kamu Pria yang sopan. Silahkan duduk," Mia menyanjung Adrian, lalu tersenyum manis kepadanya. Itu jujur saja membuatku sangat kesal.


Saat Bell Istirahat pertama berbunyi, Mia menatapku dengan mata memohon. Lalu mendekatkan dirinya ke arahku. Dia pasti ada maunya kalau begini.


'' Ryu, apa aku boleh ke kantin bersamanya?" Mia menatapku penuh harap.


"Tapi, bukannya kita akan pergi ke kantin bersama?" Aku menatap Mia tidak percaya.


"Tapi kan. Kita sudah setiap hari pergi kekantin, aku cuma mau ganti suasana ..." Mia menunduk sedih, dan itu membuatku tidak tega melihatnya.


'Dasar Adrian Kampretttttt!!!' Umpatku dalam hati, sambil menatapnya dengan penuh kebencian. Sedangkan. Adrian hanya tersenyum sombong di depanku.


"Huhhh... Baiklah, lakukan sesukamu" Aku dengan kesal mengizinkan Mia, tanpa menatap Mia.


Mia menunduk, lalu berjalan bersama Adrian ke Kantin. Aku menatap kesamping, dan membodo amatkan Mia dan Adrian. Tapi di sisi lain aku sangat Khawatir Plus Penasaran dengan si Kampret Adrian.


Aku pun memutuskan untuk mengikuti mereka secara diam-diam, lalu duduk di tempat yang paling jauh dari mereka. Aku menggunakan Skill God's Eye, agar bisa melihat dan mendengar mereka.


Dan saat aku serius menatap mereka, Adrian memegang tangan Mia. Dan entah karena Iblisku kebelet Pipis, aku menggerbrak meja lalu keluar dari kantin.


Otomatis semua pandangan tertuju ke arahku, dan Mia yang menyedari itu langsung melepaskan tangannya dari genggaman Adrian.


Tanpa memikirkan apapun, aku langsung naik ke atas atap sekolah, dan langsung berteleportasi ke rumahku, tepatnya di bawa selimutku dan Auto tutup mata.


Tak berapa lama, aku terbangun dari kasur ajaibku, lalu melihat jam. Aku tidak menyangka, jika tertidur selama 6 jam lamanya.


*Ting Tong*


Suara Bell rumah berbunyi, aku segera keluar dari rumah, dan ternyata ada Mia dan? Ehhh... kenapa ada Adrian juga? Aku menatapnya dengan mata permusuhan.


"Ryu, aku mau meminta izinmu." Mia langsung mengeluarkan permintaannya dan membuatku menatapnya serius.


"Izin apa, Mia?" Aku menatap Mia dengan halus.


"Aku mau pergi bersama Adrian malam ini. Apa boleh?" Mia menatapku tapi kali ini dia agak takut.


Pertanyaannya membuatku membeku, karena Mia sepertinya di ajak kencan oleh si Kampret itu. Tapi, demi menyembunyikan rasa sakit hatiku, aku tersenyum kepada Mia dan lalu mengangguk singkat.


"Terima kasih, Ryu!" Mia tersenyum senang, lalu tersenyum saat menatap Adrian.


Aku melihat senyuman miring Adrian, dan aku yakin dia mempunyai tujuan yang tidak baik.


"Tapi!" Aku langsung memotong kesenangan Mia, dan sukses membuat Mia berhenti dari kesenangannya, lalu kembali menatapku dengan khawatir


"Aku akan ikut." Aku menutup mataku dengan pose sombong, dan itu sukses membuat Adrian emosi.


"Kenapa kau harus ikut! Ini adalah urusan pria dan wanita!" Adrian bersuara kasar di hadapanku, lalu aku kembali menatapnya dengan malas.


"Tenang saja, aku tidak akan menganggu kalian, hanya akan memperhatikan kalian ..." (Ryu)


"Tapi, kamu nanti hanya akan menjadi nyamuk! Kenapa kita harus memiliki izin dari orang seperti ini sih?" Adrian dengan kesal terus menunjukku seakan tidak suka dengan kehadiran ku.


..."Karena dia kakak ku, aku membutuhkan izinnya ..." Mia merasa bersalah kepada Adrian, tapi bagaimana pun Mia tetap akan mendengarkan kata-kataku meskipun itu berat untuk dia lakukan....


"Dengar kata Mia, dan tenang saja. Aku tidak sendirian kok" Aku tersenyum kepada Mia, lalu Mia menyipitkan matanya.


"Apakah itu Sonia?" Mia langsung mengintrogasi ku.


"Iya, itu Sonia. Kenapa Mia? Apakah aku salah?" Aku menatap Mia dengan heran, dan Mia hanya menunduk.


"Baiklah, kita akan ketemu di depan Rumahku malam ini, jadi kalian cepatlah datang. Tepatnya jam 07:00 kalian sudah di tempatku." Aku langsung memberi mereka kode agar cepat pergi.


"Baiklah, kami akan datang. Ayo kita pergi, Mia!" Adrian dengan kesal langsung menuju ke mobil sportnya yang bakal membuat para wanita bersorak di depannya.


"Mia, tunggu!" Aku langsung menunduk di depan Mia.


"Kenapa, Ryu?" Mia menatapku dengan heran.


"Jangan lupakan apa yang terjadi padamu sebelum kamu bertemu denganku. Ingat, aku tidak mau ada hal berbahaya yang terjadi padamu, dan jika terjadi maka orang itu akan merasakan penderitaan 2 kali lipat dari apa yang kamu rasakan" Aku langsung mengatakan isi hatiku, lalu kembali ke dalam rumah dan menutup pintu.


"Terima kasih kakakku tersayang, aku akan mengingat itu." Mia tersenyum menatapku dari belakang, lalu melangkah masuk ke dalam mobil Adrian.


Saat didalam rumah, aku memegang kepalaku mencari bagaimana caranya agar bisa membujuk Sonia.


Aku mengambil Handphone ku, lalu mulai mencari nomor Sonia dan menelpon nya.


"Hallo?" Aku berharap dia mau.


"Hello, Ryu? kenapa?"


"Apa kamu punya waktu malam ini?"


"Emangnya kenapa?"


"Kamu mau gak jalan sama aku malam ini?"


"Ehhh, jalan. Aku mau tapi... Maaf yah, tugasku numpuk. Nanti aja yah,"


"Tapi, aku mau jalan sama kamu. Nanti aku belikan makanan sama Pakaian deh ..."


"Aduh, Ryu. Maaf, tapi aku harus menyelesaikan tugas Biologi sama Fisika. Tugasnya susah lagi, dasar guru kampret!"


"Ntar aku bantuin selesain deh. Iya yah, mau yah ..." Aku semakin susah membujuknya, karena si guru killer kampret di sekolah kami.


"Emang kamu bisa?" Sonia meremehkan ku. Dia gak tau kalau aku ini super jenius.


"Ahahaha... Kamu meremehkan orang terjenius di sekolah!" Aku tersenyum dengan nada sombong.


"Hahhh... Terserah kamulah!" Sonia membuang nafas kasar.


"Ayolah, Sonia. Aku mohon demi aku sekali ini saja. Aku akan memberikan kamu hadiah apa pun." Aku tetap berusaha membujuk Sonia dengan sangat tulus EA.


"Baiklah, iya aku akan datang." Sonia mengiyakan permintaanku dengan terpaksa. Dan aku pun bersorak dalam hati.


"Terima kasih, Sonia. Btw kamu ada dimana?" Aku balik mengganti topik.


"Aku masih di sekolah. Aku masih mengerjakan tugas. Oh dan jam berapa kita bertemu?" Sonia bertanya kepadaku.


"Oh, kita akan bertemu jam 07:00 malam ini di Rumahku. Aku akan segera menjemputmu di sekolah, tunggu saja" Aku langsung menutup telepon tanpa memperdulikan Sonia.


Aku langsung mandi, dan membawa 2 Kartu Kredit berwarna Gold untuk pergi membeli mobil Sport Ferrari yang ada hanya 4 di dunia.


Aku masuk ke dalam toko, lalu menanyakan harganya. Harganya mampu membuat jiwa para konglomerat melarat. Tapi, itu tidak berlaku bagiku, aku menyerahkan kartu kredit berwarna Gold itu, dan resepsionis itu langsung terkejut. Mobil seharga 5 triliun lebih itu, akhirnya resmi menjadi milikku.


Aku dengan hati mantap, membawa mobil itu menuju ke sekolah untuk menjemput Sonia. tidak lupa aku memakai Topi dengan dengan masker, agar tidak ada yang mengenaliku.


Untung saja depan sekolah sepi, aku pun melepaskan topi dan masker ku, dan menuju ke kelas Sonia.


Saat aku sampai di kelasnya Sonia, aku melihat Sonia sedang serius menatap buku. Aku tersenyum, lalu mendekati Sonia dengan perlahan.


"Hai, Sonia ..." Aku menyapa Sonia dengan halus agar dia tidak merasa terganggu.


"Oh, hallo Ryu. kenapa kamu bisa disini?" Sonia menatapku penasaran.


"Ehhh, kampret. Aku datang untuk menjemput kamu tau!" Aku memeluk tanganku, lalu menatap Sonia kesal.


"Oh, begitu yah. Sebentar yah, aku menyelesaikan tugasku dulu ..." Sonia kembali terfokus pada buku di depannya.


'Tidak biasanya Sonia menjadi halus kek gini? apa kepalanya terbentur?' Gumamku sambil menatap Sonia heran.


Aku berjalan ke arah Sonia, lalu mendekatkan kursiku di samping Sonia. Aku menatap buku fisika dan Biologi yang bisa-bisanya membuat Sonia kesusahan.


"Emang soalnya sesusah itu yah?" Aku menatap Sonia yang sedari tadi berpikir keras.


"Susah lah! Si guru kampret itu memberikan soal tanpa menjelaskan soalnya!" Sonia tiba-tiba berteriak kepadaku dengan sangat kesal. Padahal aku hanya bertanya dengan halus. Sepertinya ada yang aneh sama Sonia?


"Baiklah, aku akan menjelaskan soalnya, tapi kamu yang harus mencari jawabannya sendiri ..." Aku mengambil buku Sonia, lalu mulai menuliskan soal yang sama persis di buku, tapi beda soal. Hanya rumusnya yang sama.


"Umn ..." Sonia hanya mengangguk pelan, lalu menatap buku itu kembali.


sejam lebih aku menjelaskan soal itu, lalu menaruh polpen itu kembali, lalu menatap Sonia.


"Apa kamu sudah mengerti?" Aku menatap Sonia dengan halus.


"Iya, aku sudah mengerti. Terima kasih, Ryu aku akan menyelesaikan tugasku dengan cepat ..." Sonia mulai menyelesaikan tugasnya. Dan tak kusangka hanya dalam 10 menit semunya sudah selesai. Aku bertanya-tanya sejenius apa Sonia hingga hampir menyamai IQ nya Shiro?


"Sudah selesai, ayo kita pergi." Sonia membereskan tasnya lalu berjalan meninggalkan aku. Kampret memang.


"Sonia tunggu!" Aku berlari menyusul Sonia, dan akhirnya terkejar walau dengan nafas yang ngos-ngosan.


Saat kami diluar, aku dan Sonia terheran-heran karena ada banyak sekali kerumunan di depan sekolah.


Aku dan Sonia mendekat, lalu berusaha menerobos kerumunan yang ada di depan sekolah. Ternyata mereka sedang memfoto mobilku yang aku parkir di depan gerbang masuk tadi.


Sonia menatap mobil itu dengan mata berbinar-binar, dan berusaha menyentuh mobil itu, tapi tangannya langsung di Tepis oleh salah satu orang yang memegang kamera dengan wajah marah.


"Jangan di sentuh, kamu hanya akan membuat mobil ini lecet!" Orang itu langsung membentak Sonia, dan Sonia langsung menunduk malu plus sedih karena di permalukan oleh orang itu.


"Maaf ..." Sonia menunduk sedih, dengan mata yang berkaca-kaca.


"Oy, pak kau berlebihan ..." Aku mendekati orang itu sambil menatapnya marah lalu memegangi tangan Sonia.


"Emang kenapa hah?! kalian pikir berapa harga mobil ini hah! orang tua kalian tidak akan sanggup membelinya kalian tau!" Orang itu malah balik membentak ku, dan itu membuatku sangat kesal, dan tak kusangka Sonia menitikkan air mata.


Aku menatap Sonia dengan aneh dan kasihan. Aneh karena biasanya Sonia akan balik membentak orang itu, dan kasihan karena Sonia menangis.


Aku menarik tangan Sonia menuju mobil itu, lalu membuka pintu mobil lalu menyuruh Sonia masuk ke dalam mobil. Sonia menatapku tidak percaya, tapi tak aku perduli kan. Aku pun membuka pintu mobil sebelahnya, lalu menatap orang itu yang tengah terbelalak.


"Aku tau harganya, karena aku yang membelinya!" Aku menatap orang itu dengan tatapan tajam, lalu langsung membanting pintu mobil lalu menginjak Gas dengan kecepatan penuh, meninggalkan pria botak yang masih ternganga menatapku mengendarai mobil legend ini.


"Ryu, apa ini beneran mobilmu?" Tanya Sonia dengan mata yang masih berantakan.


(Emang barang berantakan?)


"Iya, aku membelinya untuk menjemputmu di sekolah tadi." Aku langsung menjawabnya dengan jujur.


"Ehhh? Kamu membeli mobil ini hanya dengan alasan seperti itu? Menjempu ku? kamu pasti bercanda!" Sonia tertawa mendengar alasan ku.


"Yasudah kalau gak percaya, tapi aku emang niatnya akan menggoda mu dengan mobil ini agar kamu mau ikut." Aku dengan nada kesal menjawab Sonia. Dasar cewe.


"Ehhh, beneran? Kamu membeli mobil ini hanya karena aku?" Sonia berubah menjadi serius plus gak percaya.


"Emang apa lagi alasannya?" Aku melepaskan setir mobil ini, dan mobil itu berjalan sendiri.


"Awas Ryu pegang setirnya!" Sonia berteriak panik, tapi mobil ini hanya berjalan seperti biasa dan setirnya bergerak sendiri. Ini nih, kalau orang desa yang gak pernah liat Mobil yang bisa auto awake.


"Tenang aja, dia tau kok rumahku ..." Aku langsung menurunkan tempat dudukku hingga menjadi datar dan aku menutup mataku.


"Ryu! kok malah tidur sih! Btw gimana caranya agar bisa tidur sepertimu, aku lelah!" Sonia menatapku sambil mengembangkan pipinya, dan aku pun mencoba menjahilinya dan menekan tombol merah di samping tempat duduk.


Sonia langsung panik saat tempat duduk itu perlahan turun kebelakang, dan menjadi datar katak punyaku.


"Sudah, tidur aja." Aku menggelengkan kepalaku menatap cewe desa kampret ini, dan dia hanya mengangguk lalu mulai rebahan di sampingku.


"Kamu pasti lelah, yah? Sini aku peluk ..." Aku langsung memeluk badan Sonia.


"R-Ryu? Apa yang kamu lakukan?" Wajah Sonia memerah, lalu menatapku tidak percaya.


"Aku tau kamu lelah, aku akan mengembalikan tenagamu. Tenang saja, aku akan membuatmu nyaman." Aku meyakinkan Sonia, dan mulai menyalurkan manaku ke tubuh Sonia.


Untuk tipe Vampir seperti Sonia, ada 2 cara untuk memulihkan tenaga Mereka. Yang pertama darah manusia, dan juga mana. Tapi, karena Sonia tidak mau meminum darah manusia secara langsung, dia hanya membeli kantung darah yang sudah ada lalu meminumnya.


Tapi, karena harga perkantung darah manusia itu mahal, Sonia hanya bisa membelinya setiap bulan bahkan pertahun hanya untuk sekantung darah. Makanya Sonia selalu terlihat lesuh saat di sekolah.


Jika lewat mana, itu terdengar sangat mudah, tapi sangat susah. Karena mencari orang dengan mana yang besar itu sangat susah. Dan tidak bisa memulihkan tenaga secara langsung. Bisa di bilang tidak terlalu efektif.


Saat aku rasa mobil berhenti, aku bangun dan melihat Sonia yang tertidur pulas sambil tersenyum dalam pelukanku.


Aku tersenyum kepada Sonia, lalu mulai menusuk-nusuk wajah Sonia dengan jariku. Kalian jangan mesum kampret.


Aku dengan pelan menyentuh wajah Sonia yang lembutnya bukan main itu, dan Sonia perlahan terbangun. Tak kusangka darah keluar dari hidungku. Aku langsung kena darah tinggi Cok....


"Sonia, ayo segera bersiap. Ini sudah jam 6 lho, apa kamu lupa?"


"Oh iya, astaga. Aku akan segera mandi, tunggu sebentar yah!" Sonia langsung berlari menuju kamarku, dan masuk ke dalam Kamar mandi. Yah, itu wajar karena di samping lemari pakaian ku ada lemari pakaian milik Sonia.


Aku memakai skill Bubble Wash untuk membersihkan badanku dengan instan, lalu duduk di kursi tamu untuk menunggu sonia.


Setelah 30 menit kemudian, Sonia keluar dengan memakai Gaun One Piece berwana merah muda agak transparan, dan memancarkan kecantikan Sonia dan kecocokkan setinggi 100% karena kebeningan kulit Sonia.


Aku merasa darahku mendidih karena tidak tahan tetap berada didalam tubuhku. Bisa-bisa darahku langsung keluar semua hingga aku mati kehabisan darah.


"Gimana, Ryu? Apakah cocok?" Sonia memutar tubuhnya, dan aku merasa kakiku menjadi kaku karena tidak tahan. Bisa-bisa aku lumpuh karena kelakuan Sonia.


"Ka-kamu sangat cantik, Sonia..." Aku menjawabnya tergagap karena tidak tahan.


"Wahh, terima kasih, Ryu!" Sonia bersorak senang, lalu berjalan menuju ke arahku dan duduk di sampingku.


Aku meletakkan mobilku di Garasi Rahasia buatan ku, yaitu garasi yang berada di bawah tanah. Aku tidak mau menjadi sorotan media.


Tak berapa lama, suara Bell rumah berbunyi yang menandakan Mia sudah datang. Aku dan Sonia berjalan ke depan menemui mereka.


"Hai, semuanya ..." Aku menyapa mereka, dan Mia menunduk saat melihat Sonia di belakangku.


"Hallo, Ryu. Eh, tunggu? Siapa anak kecil ini? Jangan bilang kamu akan membawa anak SD ini kencan!?" Adrian langsung mengolok Sonia, dan Sonia langsung mengeluarkan Aura membunuhnya sambil menatap Adrian.


Sonia mengepalkan tangannya, lalu berjalan perlahan ke arah Adrian yang sudah mengeluarkan keringat dingin.


"Sonia, tahan emosimu. Kamu tidak perlu meladeni Pria kampret sialan ini!" Aku menahan Sonia, karena jika Adrian terkena pukulan Sonia yang sudah di lapisi aura hitam Adrian akan langsung ko'it katak Kecoa di tendang ular.


"Adrian kamu berlebihan!" Mia menatap Adrian dengan kesal, dan Adrian langsung tertunduk karena ucapan Mia.


"Kakak, maafkan Adrian." Mia meminta maaf, sambil menunduk dengan rasa menyesal yang memasuki hatinya.


"Baiklah, ayo kita jalan. Nanti kita kemalaman!" Aku langsung mengajak mereka, dan untunglah Adrian membawa mobil Sport Elite yang mampu memuat 4 orang di dalamnya.


Kami langsung menuju ke Restoran bintang 6 untuk makan. Untung saja, aku membawa kartu Kredit Gold ku. Aku selalu membawa keduanya, karena aku berencana untuk memberikan yang satunya kepada ibuku.


Saat sampai, kami keluar dan di depan kami ada Restoran yang sangat megah dengan ada 6 bintang di depannya yang bersinar terang.


Tapi, entah kenapa aku langsung membeku menatap Restoran itu. Mereka berjalan menuju restoran itu, tapi aku hanya diam saja tanpa bisa melangkahkan kakiku.


"Kenapa Ryu? kenapa tidak masuk?" Sonia menatapku heran.


"Ah, apa tidak bisa kita pergi ke Restoran yang lain?" Aku menatap mereka penuh harap.


"Alah, bilang aja kamu gak ada uang kan? Tenang, aku yang bayar!" Adrian dengan sombongnya berkata jika aku tidak punya uang. Lucnut dasar kacang berkulit domba!


"Oy! Kamu kira aku se kere itu hah! Baiklah, ayo kita masuk!" Dengan langkah berat aku melangkah ke dalam Restoran itu, karena aku tidak mau mengecewakan Sonia.


Saat di dalam, kami duduk di kursi VVIP yang berada di atas. Aku berharap ibuku tidak melihatku, dan akhirnya aku akan kena semprotan maut dari ibuku.


"Anda mau pesan apa tuan?" Pelayan langsung memberikan buku menu, dengan buku kecil di tangannya dan pena kecil.


"Kalian silahkan memilih " Adrian menyuruh kami memilih pesanan mereka, dan aku pun mempunyai pikiran jahat untuk membuat si Adrian Kampret itu Kualat.


"Mba, aku pesan Kue Cake Flafour Coklat Big Golden, Omorice, Sushi, sama Fish Monkey Albinet yah. Minumannya Cappucino Spesial Big Choco" Ucapku sambil tersenyum kepada Pelayan cantik itu.


"Baik Tuan" Pelayan itu mencatat pesanan ku, dan aku tidak melihat menu untuk memesannya karena ini adalah menu termahal di Restoran ini. Harga makanan ini adalah 167 juta. Dan kenapa aku tau, karena ini adalah menu faforitku dan ibuku juga bekerja disini Ahahaha...


Mereka juga memesan menu mereka sesuai nama makanan yang tertulis di dalam buku. Pelayan menulis mereka, lalu menunduk sebentar dan akhirnya menuju ke belakang untuk membuatkan pesanan kami.


Sekitar 25 menit menunggu, akhirnya pesanan kami datang. Dan aku langsung menjadi gugup karena yang mengantarkan pesanan kami adalah ibuku.


"Silahkan nikmati makanannya Tuan ..." Ibuku dengan anggun meletakkan makanan di atas meja. Walaupun ibuku sudah tau, tapi kemampuannya dalam make up tidak bisa di remehkan karena dia terlihat layaknya seorang wanita berumur 23 tahun. Padahal udah 30 lebih. Dan juga ibuku keturunan Jepang asli.


"Wah, Mba sangat cantik yah, bisa-bisa aku kena kutukan cinta ..." Adrian Langsung menggoda ibuku.


"Oy!" Aku dan Mia bersamaan langsung menatap Adrian dengan tajam.


"Kenapa, Ryu?" Sonia langsung memanggil namaku, dan itu auto membuatku panik.


"Ryu?" Ibuku langsung menatapku serius.


"Ehhh? Apakah Mba mengenalnya?" Mia menatap ibuku penasaran. Aku lupa jika mereka belum pernah bertemu dengan ibuku.


"Siapa nama panjangnya?" Ibuku menatap Mia penasaran.


'Sialan Mati aku. Ibu kampret main tanya lagi!' Gumamku kesal dan langsung pasrah di tempat dudukku.


"Hikaru Ryu." Mia langsung memberitahukan nama panjangku kepada ibuku secara blak-blakan.


"Ehhh...? Hummm?" Ibuku memegang daguku, lalu mengangkat kepalaku hingga berhadapan langsung dengan wajah ibuku.


"Ehehehe ..." Aku tertawa masam saat ibuku menatapku dengan tajam.


*Klak*


Ibuku menggetok dahiku lalu berkacak pinggang.


"Aduh, ibu sakit!" Aku mengelus dahiku dengan nada kesal.


"Ibu?!" Semua menatapku tak percaya.


"Masih kecil udah main perempuan yah? Udah berani pacaran!" Suara ibuku tiba-tiba menjadi kuat, dan semua pandangan tertuju kepada kami.


"Ibu, jangan teriak Napa. Liat mereka pada natap kita kan!" Aku langsung menatap ibuku khawatir.


"Shimatta ..." Ibuku menutup mulutnya, lalu menunduk kepada mereka lalu kembali menatapku.


"Dee, nande Koko ni? (Jadi, kenapa ada disini?)" Ibuku bertanya menggunakan bahasa Jepang.


"Ummm? Iie ore wa? ummm Nande darou ka?(Ummm? Tidak, aku? Ummm kenapa sih?)" Aku balik menatap ibuku kesal.


"Hoho... Anata Ne!" Ibuku menatapku dengan tatapan menggoda.


"Iie, Kore wa ore no tomodachi desu!(Tidak, ini adalah temanku.)" Aku langsung menghempaskan pertanyaan ibuku agar tidak menuju ke arah yang lebih berbahaya.


"Konichiwa, Watashi wa Sonia Kranata Desu(salam kenal, Aku Sonia Kranata)" Sonia memperkenalkan dirinya kepada ibuku.


"Oh, Konichiwa, Watashi wa Ryu no Oka-San Desu. Oka-San wo yonde kudasai!(Oh, salam kenal. Aku ibunya Ryu. Tolong panggil ibu)" Ibuku menggoda Sonia, dan wajah Sonia langsung memerah.


"Kireii Na! Anata no Bishoujo.(Cantiknya! Gadismu.)" Ibuku menatapku dengan nada menggoda.


"Oka-San, Onegai. Hazukashii Da Yo!(Ibu Tolong. Memalukan tau!)" Aku memohon kepada ibuku, dan ibuku hanya tertawa melihatku.


"Saa, Douzo(Jadi, silahkan)" Ibuku mempersilakan kami makan, lalu menunduk singkat setelah itu langsung menuju ke belakang lagi.


"Ahhh, akhirnya. Ayo makan!" Aku mengelus dadaku, lalu mulai menikmati makananku membiarkan mereka yang masih berusaha mencerna kejadian barusan.


"Oy, makan cepat agar kita tidak kemalaman." Aku menatap Mia dan Adrian yang masih melamun.


"Ah, iya. Ayo Mia makan." Adrian langsung menyambut makanan di depannya.


"Umn" Mia juga mengambil sendok dan memakan makanannya.


Aku dan Sonia sudah start duluan, dan aku sudah tidak kaget lagi dengan Porsinya Sonia yang Absurd itu.


Selesai makan, aku duduk dengan tenang di meja sambil memainkan hpku, dan Sonia sibuk melihatku yang sedang memainkan Hpku.


"Ini tagihannya." Ibuku datang secara tiba-tiba hingga membuatku dan lainnya kaget.


"Ibu, jangan membuatku kaget toh!" Aku menatap ibuku kesal.


"Ahahah, maaf. Ini tagihannya." Ibuku memberikan sebuah Nota kepadaku. Saat aku mengambil Nota itu, tiba-tiba Nota itu jatuh bergelinding sampai ke hadapan Adrian.


'Panjangnya Cok! Kualat Luh Adrian Kampret karena sudah sombong kepadaku!' Umpat ku dalam hati.


"Yaudah, gih bayar!" Aku menyerahkan tagihan neraka itu kepada Adrian.


Adrian mengambil nota itu, dan tiba-tiba matanya terbelalak.


"Uwah, ini harga makanan udah kayak harga rumah konglomerat *****!" Adrian menatap harga makanan itu dengan tidak percaya.


"Kenapa?" Mia menatap Adrian heran.


"Ah, tidak apa-apa." Adrian tersenyum kepada Mia berusaha menyembunyikan ketidakpercayaan nya.


"Ryu, coba deketin kepalamu?" Adrian menatap ku.


"Lah, kenapa? Aku masih normal oy!" Aku menatap Adrian jijik.


"Bukan itu ******! Sini Bentaran!" Adrian menarik kepalaku paksa.


"Ada apaan sih?" Aku merasa kesal kepada Adrian.


"Uangku tidak cukup, aku cuma bawa 200 juta di rekening ku. Kita patungan yah ..." Adrian berbisik kepadaku agar tidak kedengeran Mia sama Sonia.


"Apa! Uangmu tidak cukup?!" Aku berteriak cukup kuat, hingga membuat Mia dan Sonia juga ibuku kaget. Aku emang sengaja. Hahahaha kualat Luh! Dasar Telor dadar bermata sapi!


"Jangan teriak Gblok aduhhh!" Adrian langsung panik, dan Mia langsung menatap Adrian tidak percaya.


"Gimana nih? Aku cuma bawa uang sedikit?" Mia juga langsung merasa panik.


"Aku juga gak bawa uang, karena Ryu yang mengajakku." Sonia terlihat tenang, tapi dalam hati dia juga merasa panik.


"Terus gimana?" Aku tambah membuat Adrian panik.


"Aduh, 500 juta. Gimana nih? Ini semua karena dia. Dia makan terlalu banyak hingga membuat tagihannya menjadi besar begini. Kamu harus tanggungjawab!" Adrian balik menyalahkan Sonia, dan Sonia langsung menunduk sedih.


"Oy, kenapa kamu menyalahkannya? Bukannya kau yang mengatakan akan membayarnya?" Aku balik memarahi Adrian yang melemparkan masalahnya kepada orang lain.


"Aku memang bilang begitu, tapi pake ukuran dong! Cewe kok makannya udah kayak Kebo!" Adrian terus menyalahkan Sonia, dan tak kusangka Sonia menangis untuk kedua kalinya.


Aku langsung naik darah, karena melihat Sonia yang semakin tertunduk dalam tangisnya.


*Plak*


Aku menampar pipi Adrian sangat keras, hingga membuatnya terdiam tak bersuara sama sekali.


"Kamu jangan menyalahkan orang lain atas kesalahanmu dong! Jadi Cowo yang Gentle lah, jangan kek banci! Kalau gak bisa bayar bilang saja. Kamu dengar yah, Adrian! Jika kamu mau dihormati orang lain, maka cobalah untuk menghormati orang lain!" Aku memarahi Adrian dengan tatapan tajam yang sangat menusuk dan kata-kata yang membuat hatinya pasti sakit.


"Tapi, kan." Adrian berusaha mengelak.


"Tapi apa! Apa kamu masih mau menyalahkan Sonia!? Huhhh... Makanya aku tidak pernah setuju Mia bersamamu. Aku tidak tega jika melihat Gadisku hanya di buat sakit hati seperti ini ..." Aku memegangi kepalaku yang Pusing, karena Adrian yang sombong dan berbuat sesuai kemauan nya.


"Terserahlah, biar aku saja yang membayarnya ..." Aku mengeluarkan Kartu Kredit Gold milikku, lalu memberikan kepada ibuku. Tapi, ibuku tidak merespon, karena matanya terbelalak melihat kartu kredit Gold milikku yang sangat jarang dimiliki oleh para orang kaya di dunia ini.


"Ibu?" Aku memanggilnya sekali lagi, dan dia langsung tersadar dari lamunannya.


"Iya, sebentar." Ibuku mengambil kartu itu, lalu menggesekkan ke sebuah kotak yang yang bisa untuk menarik uang dari dalam ATM.


(Aku tidak tau namanya Cok)


Ibuku memberikan kartu itu kembali kepadaku, tapi aku memegang tangan ibuku dengan lembut.


"Ibu, kartu ATM ini untuk ibu. Ibu berhentilah bekerja, dan buatlah cafe milik ibu sendiri. Ibu sudah cukup untuk merasakan lelah. Ibu menyemangatiku saat aku terpuruk, menjagaku saat aku koma, dan merawatku dengan penuh bahagia walaupun hidup dalam duka karena ayah sudah tiada. Maka istirahatlah, ibu. Aku tau ibu lelah!" Aku mengelus tangan ibuku dengan lembut, dan ibuku menatapku dengan haru.


"Ryu...Hiks... Ryu, ibu tidak merasa lelah, ibu akan terus menjaga Ryu hingga Ryu menemukan kebahagian Ryu. Hiks... Ibu sangat bahagia karena Ryu lahir kedunia ini. Hiks... Ryu akan selalu menjadi kebanggan dan Prioritas ibu. Walaupun Ayah tidak ada, ibu akan berusaha semaksimal mungkin demi Ryu... Hiks..." Ibuku menangis sesenggukan, dan tak kusangka aku juga menangis aku pun memeluk ibuku dengan hangat.


"Ryu juga bahagia, karena ibu selalu menjaga Ryu. Hiks... Ibu Ryu sayang ibu!" Aku menangis kencang di pelukan ibuku, dan suasana haru tercipta di dalam cafe itu.


Mereka menatap kami dengan sedih, bahkan ada yang menangis juga. Mia dan Sonia ikut menangis, melihatku dan ibuku.


"Ryu sayang ibu!" Aku bersujud kepada ibuku, lalu mencium kaki ibuku sambil menangis.


"Ryu, Hiks... Ibu akan selalu, selalu menyayangi Ryu selamanya." Ibuku berlutut lalu memelukku, dan kami pun kembali berpelukan dalam tangis.


Aku melihat Sonia menangis, aku pun refleks memeluk Sonia.


"Ini pasti berat bagimu yah, Sonia?" Aku membisikkan kata-kata itu kepada Sonia sambil tersenyum.


"Ryu, aku... Hiks... aku rindu ayah dan ibuku ..." Sonia menangis kencang di pelukanku, lalu ibuku juga ikutan memeluk Sonia.


"Sonia, mereka pasti menyayangimu." Ibuku berusaha menenangkan Sonia.


"Orang tuaku. Mereka tidak menyayangiku. Mereka membuang ku, hanya karena aku berbeda. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang mereka!" Sonia menjelaskannya kepada ibuku dengan suara sesenggukan di pelukanku. Ibuku merasa sedih kepada Sonia, lalu memeluk Sonia lebih erat.


"Aku akan menggantikan posisi kedua orang tuamu. Maka jangan segan untuk memanggilku Ibu, Sonia" Ibuku tersenyum kepada Sonia, dan suara tangis Sonia menjadi lebih kencang dari sebelumnya.


Sekitar 15 menit Sonia menangis, perlahan Sonia mulai tenang. Aku pun berpamitan kepada ibuku. Aku mencium pipi ibuku, lalu berjalan keluar dari Restoran.


Sonia juga berpelukan dengan ibuku, dan terlihat wajah bahagia di wajah mereka. Kami pun keluar dari Restoran lalu naik ke mobil Adrian.


"Oh, iya. Adrian, aku minta maaf karena menamparmu dan membentakmu tadi" Aku menunduk di depan Adrian.


"Tidak apa-apa, aku yang salah. Maafkan aku juga yang sudah menghina Kekasihmu." Adrian juga balik meminta maaf kepadaku. Tapi, ada nada tidak ikhlas dalam kata maafnya. Tapi aku hanya diam sambil tersenyum.


"Baiklah, kita mau kemana sekarang?" Aku merubah topik, agar tidak tegang dan canggung di dalam mobil.


"Hummm, iya. Aku juga bingung, kita mau kemana. Gimana kalau kita tanya saja pendapat para cewe?" Adrian juga ikut merubah suasana.


"Aku Sih terserah saja," Mia juga terlihat bingung.


"Aku sama dengan Mia." Sonia dengan datar menjawab.


"Gimana jika kita ke taman hiburan saja?" Aku langsung mengeluarkan pendapat.


"Boleh tuh, aku juga kangen sama suasana dulu!" Adrian ikut menyetujui pikiranku.


"Baiklah, ayo kesana!" Mia langsung menyetujuinya.


"Baiklah, berangkat!" Adrian langsung memacu mobilnya menuju ke Taman bermain Ancarna.


♦♦♦♦


Saat Sampai di Taman bermain, Kami langsung membayar tiketnya lalu masuk ke area bermain.


Mia dan Adrian langsung memisahkan diri dari aku dan Sonia. Sedangkan Sonia, hanya berdiri di tempat dengan badan yang bergetar.


Aku mendekati Sonia, lalu menatapnya khawatir.


"Sonia, kamu kenapa?" Aku memegangi bahu Sonia.


Sonia menutup matanya, badannya bergetar hebat dan gigi taring keluar dari mulutnya. Secara tiba-tiba, Sonia memelukku.


"Ryu, aku takut. Aku sudah makan banyak makanan, tapi aku tetap merasa lapar. Aku mencium bau darah manusia, dan aku merasa jika aku ingin meminum darah mereka. Aku tidak mau!" Sonia memelukku sangat erat, dan air matanya perlahan mulai mengalir.


"Ayo kita pindah tempat!" Aku berteleportasi ke dalam hutan bersama Sonia, lalu aku dan Sonia duduk di depan sebuah pondok yang ada di hutan itu.


"Ryu, aku takut aku akan melukai manusia lagi. Aku tidak mau melukai manusia." Sonia mengalirkan air mata yang banyak, dengan badan bergetar karena menahan nafsunya.


"Baiklah, aku akan membantumu." Aku mengelus kepala Sonia lembut.


"Bagaimana caranya Ryu?" Sonia menatapku dengan mata sendunya.


"Kamu hisaplah darahku, minumlah hingga kamu merasa puas dan tidak lagi merasakan haus darah. Aku akan memberikan darahku sebanyak yang kamu mau." Aku tersenyum kepada Sonia dengan hangat.


"Ehhh, tapi kamu akan mati loh?" Sonia menatapku tidak percaya.


"Aku rela mati demi dirimu, tapi aku tidak akan mati semudah itu." Aku menatap Sonia tulus.


"MOU! jangan bercanda, Ryu!" Sonia mengembangkan pipinya.


"Ahahaha... Saa Ore no tabete ..." Aku membuka tanganku ke arah Sonia.


"Baiklah," Walaupun dengan ragu, Sonia menatapku dengan yakin.


Sonia naik ke pangkuanku, dan aku merasa aneh dengan posisi ini. Saat aku sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba Sonia menyambar bibirku dan menciumnya dengan penuh nafsu.


Aku membelalakkan mataku karena tidak percaya Sonia akan langsung menciumku dengan kasar.


"Ugh!" Aku melenguh sedikit saat Sonia menancapkan taringnya di leherku, saat aku sedang mencerna kejadian barusan.


Jujur saja jika ada yang melihat posisi kami, aku akan langsung di tangkap dan dihukum pancung seumur hidup karena sudah menodai seorang Loli Imut. Bisa saja bahkan aku akan di hina oleh Para Wibu internasional.


Aku menahan rasa sakit, saat taringnya menancap. Aku merasa jika darahku di sedot oleh Sonia. Rasanya seperti di Patuk oleh Seribu ular berbisa secara bersamaan. sakit sekali. Tapi, aku berusaha tersenyum untuk menahan rasa sakit ku.


Sekitar 10 menit kami dalam posisi ini, Sonia mencabut taringnya, lalu menatapku sambil menjilati bibirnya.


"Darahmu sangat manis, Ryu ..." Sonia menjilati bibirnya, lalu menjilati jarinya.


"Ehhh, Sonia?" Aku menatap Sonia heran.


"Kenapa?" Sonia menatapku dengan wajah imutnya.


"Ah, tidak apa-apa. Ayo kita kembali" Aku membatalkan pertanyaan ku, lalu menurunkan Sonia dari pangkuanku


Kami kembali berteleportasi ke Taman bermain, lalu berkeliling mencari Mia dan Adrian.


Aku melihat Mia dan Adrian sedang mengantri di depan pos untuk membeli tiket masuk ke Bianglala, lalu aku menarin tangan Sonia menuju ke arah mereka.


"Hei, kalian mau naik bianglala yah? Kami ikut juga dong!" Aku langsung menepuk bahu Adrian.


"Oh, kalian. Ayo, kita naik bersama. " Adrian menyambut kami dengan hangat, dan saat tiba giliran Adrian dia membeli 4 tiket sekaligus.


Kami menyerahkan tiket itu, lalu kami duduk berhadapan di dalam bianglala super besar itu. Pemandangan kota terlihat semuanya dari dalam Bianglala, dan kami asik berfoto di dalam.


Kami bermain bersama di Bianglala, dan tak terasa jika sudah hampir telat malam. Kami pun memutuskan untuk pulang karena nanti Mia akan dimarahi ibunya. Dan itu akan sangat menyeramkan!


Di dalam mobil, aku merasa Gabut sekali, karena Mia adik mengobrol dengan Adrian, sedangkan Sonia tertidur di Pangkuanku. Dia tidur sangat lelap, hingga membuatku tidak tega membangunkannya.


Karena Gabut, aku membuka statusku kembali, karena sudah lama aku tidak membukanya.


Name : Hikaru Ryu


Age : 16th Years


Race : Human


Blood : B


EXP : 51+


Level : 2


Char. : 21+


HP : ~


MP. : ~


STR : ~


VIT : ~


INT : ~


DEX : ~


Skill : Imagine Create, Instant Master, Teleportation, Infinity Booster, Haste, Quick, High Observer, Instant Dead, NPC Create, Sword Create, Eternal Barier, Control Memories, Magic Control, Psycho Attack, Elements Control, Soul Transfer, Time Leap, Recovery, Hypnosis, Caceller, Bubble Wash.


Tittle : Creator, Mana Controller, Martial Art.


'Uwahhh OP sekali Cokkkk...' Gumamku dalam hati.


Tak berapa lama kami sampai di depan rumahku, aku membangunkan Sonia. Saat Sonia bangun, Adrian lanjut mengantarkan Mia kerumah.


♦♦♦♦